Bukan Cinta Pertama

Bukan Cinta Pertama
70


__ADS_3

6 tahun kemudian...


"Yanggg!!"


"Sayangggg!!!"


Sinta yang sedang membuatkan sarapan di dapur tiba-tiba mendengar teriakan Boy dari lantai atas, dia menghela nafas kemudian mematikan kompornya lalu beranjak ke sumber suara.


"Yanggg!!!"


Sinta tiba di depan pintu kamar putranya dan melihat Boy yang sedang berdiri berkacak pinggang di samping tempat tidur sambil memegang seragam sekolah.


Dan di sebrang nya ada seorang pria kecil tampan yang tertawa terbahak-bahak meledek Ayahnya.


Mereka tidak menyadari keberadaan Sinta karna Boy yang membelakangi Sinta dan Sinta juga tertutupi oleh Boy jadi putranya juga tak melihatnya.


"Sayangggg!!" Teriak Boy lagi. Sinta yang sudah berada di belakangnya pun lantas menutup telinganya. Sedangkan putranya tertawa puas melihat wajah kesal Ayahnya.


"Abi kenapa teriak-teriak sih?" Tanya Sinta kesal masih berdiri di pintu. Boy melihat Sinta di belakangnya sekilas lalu kembali ke putranya.


"Liat tuh Putra Umi bandel, disuruh pake seragam malah lari." Adu Boy pada Sinta tetapi tatapannya tajam ke arah Putranya, namun Putranya malah meledek Boy dengan menjulurkan lidahnya.


Boy yang melihatnya pun merasa kesal lalu berputar menghampiri Putranya, Pria kecil itu pun langsung naik ke tempat tidur berusaha melarikan diri dari sang Ayah. Sinta dibuat pusing oleh mereka.


"Rafa.." Panggil Sinta datar. Rafa yang dipanggil pun menoleh ke sang Ibu. Sinta menggerakkan telunjuknya ke kanan dan ke kiri sambil menggelengkan kepalanya.


Rafa pun langsung menurut kemudian menundukkan kepalanya.


Rafa Wijaya Syahputra, adalah buah cinta dari Sinta dan Boy, sekarang usianya 5 tahun lebih, dia lebih menurut pada Ibunya dibandingkan Ayahnya, kenapa bis begitu? saya juga tidak tau hanya Rafa dan Tuhan lah yang tau.


Sekarang adalah hari pertamanya masuk sekolah kanak-kanak, namun karna Boy yang membantunya bersiap-siap jadinya dia tidak mau, maka terjadilah kejar-kejaran di kamarnya.


Sinta menghampiri Putranya kemudian berjongkok di depannya dan memegang kedua bahunya.


"Rafa kan hari ini baru masuk sekolah itu tandanya Rafa udah gedek dong ya, jadi jangan bandel harus nurut sama apa kata Abi Umi, Rafa ngerti kan?" Sinta memberikan wejengan pada sang putra.


Rafa mengangkat kepalanya menatap sang Ibu lalu mengangguk, "Ngerti Umi." Jawabnya. Kemudian dia melihat Boy yang sedang tersenyum meledeknya. Dia memicingkan matanya lalu mengepalkan tangan kanan nya dan mengangkatnya mengancam sang Ayah.


Sinta yang melihat Putranya pun lantas melihat ke arah Boy yang sedang mengangkat bahunya acuh.


"Rafa.. gak boleh gitu sama Abi sayang, Abi itu atyahnya Rafa, jadi Rafa harus hormat sama Abi." Sinta kembali menasehati.


"Tapi Abi yang suka ledekin Rafa Umi." Ujarnya membela diri.


Sinta melihat Boy.


"Apa?" Tanya Boy polos.


"Abi.. plis deh jangan kayak anak kecil, ngapain juga Abi ledekin Rafa." Ucapnya pada sang Suami.


Rafa yang mendengar Abinya di ceramahi pun meledeknya dengan meletakkan kedua tangannya di kanan dan kiri telinga lalu menggerakkan nya seperti sayap burung.


Boy yang melihatnya pun melototi Putranya tanpa menanggapi Istrinya, Sinta mengikuti pandangan Boy ke arah Putranya, namun dengan cepat Rafa menurunkan tangannya seperti semula.


Sinta menghela nafas berat, dia pusing selalu mendengarkan perdebatan antara Ayah dan Anaknya setiap hari.


"Yasudah Rafa pake seragam nya ya biar Umi bantu, Abi mandi aja kan Abi juga harus berangkat kerja." Pinta Sinta, Boy pun mengangguk dan berjalan keluar kamar putranya menuju kamarnya dan Sinta yang tepat di bersebelahan dengan kamar putranya.


Sinta membatu Rafa bersiap-siap, setelah itu mereka turun bersama ke meja makan.


"Rafa duduk disini dulu ya, Umi mau lanjutin masak." Perintah Sinta.


"Iya Umi." Jawab Rafa nurut.


Sinta kembali memasang kompor dan melanjutkan masakannya. Setelah sudah matang dia mengambil wadah dan ingin memindahkan nasi goreng nya ke wadah.


Tiba-tiba tangan kekar datang memeluknya dari belakang sambil menciumi lehernya, Dia terkejut sekaligus merasa geli. Kemudian melanjutkan aktifitasnya.


"Abi.. ada Rafa." Bisiknya namun tak digubris oleh Boy, dia tetap menciumi leher Sinta.


Tiba-tiba tangan kecil menarik-narik celana Boy. Boy yang merasa terganggu pun menunduk ke bawah dan melihat Rafa sedang manarik-narik celananya.


"Apa?" Tanya Boy ketus.


"Abi lepasin Umi." Ujarnya.


"Kalo Abi gak mau gimana?" Tanyanya menantang.


"Abi.." Panggil Sinta memperingati, namun tak digubris olehnya dia tetap pada posisinya.


"Umi Rafa laper." Ujarnya pada Sinta tanpa mengindahkan pertanyaan Boy.


"Oh Anak Umi laper ya?" Tanya Sinta lembut, Rafa mengangguk, "Abii lepasin, Rafa udao laper." Ujar Sinta pada Boy, namun Boy tak mendengar kan nya dia terus memeluk Sinta.


"Abi.." Panggil Sinta lagi.


"Baiklah, tapi ada syaratnya." Balas Boy sambil menunjuk-nunjuk pipinya. Sinta melototi nya namun Boy sama sekali tidak merasa terancam.


"Ada Rafa." Bisiknya, namun Boy malah mengangkat bahunya acuh.


Sinta pun pasrah lalu mencium pipi kanan Boy. Boy tersenyum puas, lalu melihat Rafa dengan tatapan meremehkan.


"Umi.. Umi cium Abi? Rafa juga mau di cium sama Umi." Ucap Rafa manja.


"Aa.. anak Umi juga mau di cium? tentu saja dengan senang hati." Ucapnya lalu berjongkok mencium pipi kanan, pipi kiri serta kening Rafa. Kemudian Sinta menggendong nya membawanya ke meja makan.


Rafa melihat Boy ke belakang dengan tatapan meremehkan dan mengangkat kedua tangannya yang tangan kanan menunjukkan angka 1 dan tangan kiri angka 3 yang artinya dia menang 2 kali lebih unggul dibanding Boy.


Boy berdecak kesal kemudian mengikuti mereka dari belakang dengan tangan kanannya terkepal di udara membuat Rafa tertawa tanpa suara.


Sesampainya di meja makan Sinta mendudukkan Rafa di kursi makan, kemudian duduk bersebrangan dengan Rafa sedangkan Boy duduk di ujung meja, diantara Sinta dan Rafa.


Sinta mengambilkan nasi goreng dan telur ceplok pada Boy kemudian mengambilkan pada Rafa dan terakhir untuknya. Ya begitulah tugasnya setiap hari saat makan. Mereka makan dengan khidmat, sesekali Rafa dan Boy beradu pandang menunjukkan peperangan.


"Ehem..." Sinta yang menyadari itu pun berdehem, sontak mengalihkan pandangan mereka ke arah Sinta.


Ya memang begitulah mereka Ayah dan Putra jika sudah bertemu makan Sinta lah yang akan menjadi wasitnya, jika tidak ada Sinta entah akan jadi apa mereka.


Setelah sarapan Sinta mengantar Boy ke depan pintu sambil membawa tas kerja Boy, sebelum pergi Sinta selalu mencium tangan Boy dan tak lupa Boy mencium kening Sinta, begitulah rutinitas mereka setiap pagi.


Sinta sudah tidak bekerja lagi karna memutuskan untuk mengurus Suami dan Anaknya beserta Ibu angkat nya Boy yang sedang terbaring lemah di tempat tidur.


Setelah Mobil Boy benar-benar sudah tak terlihat, dia kembali ke meja makan yang disana masih ada Rafa.


"Rafa.. Umi mau siap-siap dulu ya biar nganterin kamu ke sekolah baru kamu." Ucap Sinta.


"Iya Umi, Rafa nunggu di kamar Oma ya Umi." Pintanya kemudian Sinta pun mengangguk.


Setelah selesai bersiap-siap, Sinta menghampiri Putranya di kamar mertua angkatnya sekaligus ingin pamit.


"Assalamualaikum." Ucap Sinta.


"Waalaikumsalam." Jawab Mertuanya, Rafa beserta perawat yang menjaga Sahara.


"Ibu.. bagaimana keadaan Ibu? apa sudah lebih baik?" Tanya Sinta seraya duduk di tepi ranjang Sahara. Sahara tersenyum lalu mengangguk.


"Sudah Nak, apalagi saat melihat kalian bahagia, Ibu jadi merasa lebih bersemangat." Jawabnya.


"Syukur Alhamdulillah kalau begitu Bu." Ucap Sinta, "Oh ya Bu, Sinta mau nganterin Rafa dulu ke sekolah barunya, Ibu gapapa kan disini sama Mbak Mita (perawat)." Ucap Sinta meminta ijin.


"Tentu saja Nak, cucu Oma yang rajin ya belajar nya supaya bisa jadi anak yang pintar dan bisa banggain Abi Umi." Sambil mengelus lembut kepala Rafa yang duduk di sebelah kirinya di atas ranjang.


"Iya Oma, Rafa akan belajar yang rajin supaya jadi seperti Abi." Jawabnya lantang membuat yang di ruangan itu terkekeh.


"Yasudah kalau gitu kami berangkat dulu Bu, Mbak Mita titip Ibu bentar ya." Sambil menyalami tangan Sahara dan diikuti Rafa.


"Baik Nyonya." Jawabnya.


Sinta sampai di sekolah Rafa, dia tidak langsung pulang, dia berniat menunggu sampai Rafa pulang, sambil menunggu Rafa dia duduk di cafe yang kebetulan ada di depan sekolahan Rafa.

__ADS_1


Pukul 11 sekolah Rafa bubar, Sinta langsung keluar cafe dan beranjak menjemput Rafa.


"Umii." Teriak Rafa sambil berlari, Sinta berjongkok kemudian Rafa langsung memeluknya.


"Assalamualaikum jagoan Umi." Sapa Sinta.


"Waalaikumsalam Kesayangan nya Rafa " Jawab Rafa.


"Gimana sekolah barunya?" Tanya Sinta setelah melepaskan pelukannya.


"Rafa suka Umi, Gurunya baik, temen- temen juga baik sama Rafa." Ujar Rafa membuat Sinta gemas lalu mencubit pipinya lembut.


"Wahh bagus sekali dong, yasudah kita pulang sekarang?"


"Ayo!" Ucapnya semangat.


Mereka sampai di halaman Rumah yang terlihat megah, Mereka turun dari mobil kemudian masuk ke rumah dengan Sinta menggandeng tangan Rafa.


Sesampainya di ruang tamu ternyata sudah ada Tria dan putrinya yang umurnya satu tahun dibawah Rafa. Namanya Viola Andriani Wijaya.


Mereka memang tidak tinggal di kediaman Wibowo, Arif mengajak Tria agar tinggal di rumah yang sudah dibelinya dengan jerih payahnya sendiri dan memutuskan agar Tria berhenti bekerja.


"Halo Kak Rafa." Sapa Tria.


"Bunda!" Teriak Rafa kemudian berlari ke arah Tria ingin memeluknya.


"Hati- hati Nak." Ujar Sinta namun tak digubris oleh Rafa.


"Halo princes." Sapa Sinta sambil berjongkok di hadapan Viola.


" Halo juga Umi." Balas gadis kecil itu sambil memeluk Sinta.


Setelah adegan pelukan selesai Sinta menyuruh Rafa pergi ke kamarnya untuk berganti pakaian. Setelah selesai berganti pakaian Rafa kembali dan mengajak Viola bermain di ruang tv. Tinggallah Sinta dan Tria di ruang tamu.


"Kamu mau jenguk Ibu?" Tanya Sinta.


"Iya, tapi sudah tadi." Jawab Tria. Sinta pun mengangguk.


"Aku ingin memasak untuk makan siang sekalian mau mengantarnya ke kantor, lagian udah lama juga gak kesana, kamu mau ikut?" Ajak Sinta.


"Ide bagus, baiklah ayo kita mulai memasaknya." Ucap Tria setuju.


Mereka akhirnya berkutat di dapur sambil sesekali bercanda ria.


Setelah selesai memasak, Sinta mengambilkan makanan untuk dibawanya ke kamar Sahara. Sedangkan Tria, dia memasukkan makanan ke rantang yang akan di bawanya dan juga yang Sinta bawa.


Setelah selesai mereka segera berangkat menuju PT. Wibowo Group. Mereka berangkat menggunakan mobil Tria dan Rafa beserta Viola juga ikut tentunya.


Sesampainya disana mereka disambut dengan ramah oleh semua karyawan, mereka membalasnya juga dengan ramah. Mereka masuk lift bersama, Tria berhenti di lantai 4 karna ruangan Arif ada di lantai itu, jawabat Arif sekarang adalah sebagai wakil direktur.


Sedangkan Sinta tetap di dalam lift dan kemudian sampai di lantai 5 pintu lift pun terbuka.


Sinta melihat sekertaris Boy sedang fokus bekerja di mejanya.


"Assalamualaikum Sekertaris An?" Sapa Sinta setelah sampai di hadapan Andi (sekertaris Boy), Andi yang tadinya fokus pun terkejut, kemudian dia segera berdiri tanda hormat.


"Waalaikumsalam Bu, Rafa." Balasnya sambil membungkuk.


"Pak Boy nya ada?" Tanya Sinta, detik berikutnya Andi tampak khawatir mendengar pertanyaan Sinta.


"Halo sekertaris An? Anda mendengar saya?" Tanya Sinta lagi karna tak kunjung mendapatkan jawaban Andi.


"Ah iya Bu ada, Bapak ada di dalam." Jawab Andi gelagapan. Sinta pun mengangguk lalu berjalan membuka pintu ruangan Boy dengan tangan kanan menjinjing rantang dan tangan kirinya menggandeng Rafa.


"Assalamualaikum Abi.." Sapa Sinta Saat pintu terbuka, betapa terkejutnya Sinta dengan apa yang dilihatnya sekarang ini. Kemudian dia berusaha menormalkan posisinya seperti biasa karna di sampingnya juga masih ada Rafa.


"Sinta!?" Seru Boy saat melihat Sinta yang berdiri di ambang pintu. Kemudian dengan cepat dia menyingkirkan tangan yang menyilang di leher nya.


"Keluar kamu!" Usir Boy pada perempuan itu.


"Kenap— " Belum sempat wanita itu melanjutkan kalimat nya Boy menatapnya tajam.


"Baiklah-baiklah aku keluar." Lanjut nya lagi.


Boy berdiri kemudian berlari menghampiri Sinta dan Putranya yang masih berdiri di pintu.


"Sayang aku bisa jelasin." Ucap Boy was-was saat sudah tepat di hadapan Sinta.


"Assalamualaikum Abi." Sambil menyalami tangan Boy tanpa menanggapi perkataan Boy.


"Waalaikumsalam, Ini tidak seperti yang kamu pikirkan." Ucap Boy lagi.


"Ah iya sampai lupa kita kesini bawain makan siang buat Abi, Abi pasti belum makan kan? yuk kita duduk dulu!" Ajaknya tanpa menghiraukan perkataan Boy dan menarik tangan Rafa ke arah sofa meninggalkan Boy yang mengacak- acak rambutnya frustasi.


"Abi.. ayo sini , kenapa malah berdiri disitu?" Panggil Sinta berusaha selembut mungkin merasa tidak terjadi apa-apa, Boy tau sekali dari mata Sinta kalau dia sedang marah namun dia berusaha menutupi nya karna ada Rafa diantara mereka.


Akhirnya dia menghampiri Sinta dan Rafa di sofa dan duduk di samping Sinta, mereka duduk berjejer di kursi panjang dengan Sinta yang berada di tengah.


"Sayang aku bisa jelaskan." Bisik Boy di telinga Sinta namun Sinta tak menanggapi nya.


"Ini untuk Abi, tadi Umi masakin spesial loh dimakan ya Bi." Ucapnya berusaha sesantai mungkin. Boy yang melihatnya pun semakin frustasi.


"Rafa sayang makan yang banyak ya supaya cepat besar dan bisa jagain Umi." Ucap Sinta sambil menyuapi Rafa.


"Iya Umi, Rafa pasti jagain Umi, Rafa sayangg banget sama Umi, Rafa gak bakalan biarin ada orang yang jahatin Umi." Cerocos Rafa saat mulutnya sudah kosong, kemudian Sinta tersenyum dan terus menyuapi Rafa.


"Umi yakin kok Rafa bisa jagain Umi, kamu kan jagoan nya Umi." Balas Sinta tanpa menghiraukan Boy yang sedang frustasi, makanan nya pun tidak di sentuh sama sekali.


Sinta ingin mengambil minum di meja untuk Rafa dan melihat makanan Boy belum tersentuh sedikit pun.


"Abi.. kenapa tidak makan, masakan Umi gak enak ya?" Ucapnya sedih yang dibuat- buat.


"Ah tidak ini sangat lezat, masakan Umi selalu lezat." Jawab Boy spontan langsung nmengambil makanan nya dan memakan nya dengan lahap, sampai dia tersedak. Sinta langsung memberikan minum bekas Rafa, Boy pun meminumnya dengan cepat.


"Hati hati dong bi makannya." Ucap Sinta.


"Umi Rafa mau pipis." Adu Rafa.


"Ah anak Umi mau pipis? ayo biar Umi antar." Sambil berdiri.


"Rafa mau pipis ya? biar Om An saja yang mengantar nya bagaimana?" tanya Andi yang tiba-tiba sudah ada di dalam ruangan Boy dengan membawa berkas di tangannya.


"Umi Rafa sama Om An saja ya, Om An mau kan ajak Rafa beli es krim." Ucap Rafa.


"Tentu saja mau jagoan." Jawab Andi.


"Horee.." Teriaknya semangat.


"Boleh ya Umi?" Dengan wajah memelas. Sinta pun hanya mengangguk.


"Yeee makasih Umi!" Teriaknya lagi sambil mencium pipi Sinta yang terbalut cadar.


"Ah ini Pak berkas yang perlu Bapak tanda tangani." Ucap Andi sebelum pergi.


"Letakkan di meja kerja saya." Jawab Boy datar.


"Ayo jagoan." Sambil menggandeng Rafa keluar ruangan.


Setelah kepergian Andi dan Rafa, Boy akhirnya bernafas lega karna bisa bicara berdua dengan Sinta.


"Yang?" Panggil Boy menaikkan kaki kanan nya ke sofa dan menghadap Sinta.


"Hm." Jawab Sinta cuek tanpa melihat Boy, dia sedang membereskan bekas makan mereka tadi.


"Aku bisa jelaskan." Ucap Boy namun tak digubris oleh Sinta, dia hanya diam.


"Apa yang kamu lihat tidak seperti yang kamu pikirkan." Lanjutnya lagi frustasi.


"Memangnya apa yang aku pikirkan?" Tanya Sinta santai tanpa menatap Boy.

__ADS_1


"Aku tidak tau apa yang saat ini kau pikirkan, tapi aku tau kau sedang salah paham." Jawabnya hati hati.


"Siapa yang salah paham?" Tanyanya kemudian menatap Boy yang sedang menatapnya di sebelahnya. Boy yang mendengarnya pun semakin frustasi melihat sorotan mata Sinta, dia mengacak-acak rambutnya bingung harus menjawab apa.


Karna merasa tidak ada jawaban dari Boy, Sinta pun berdiri hendak keluar namun dengan cepat Boy menarik tangannya hingga kembali terduduk ke sofa.


"Sayang.. ayolah tolong dengarkan aku." Ucap Boy dengan wajah memelas.


"Katakan!" Ucapnya Singkat datar.


"Monik ah maksud ku wanita yang tadi itu sepupu dari almarhumah Rani putri Ibu Sahara, perusahaan kita dan perusahaan Ayahnya bekerja sama dan dia yang memegang alih perusahaan Ayahnya. Tadi dia datang untuk membicarakan masalah kerja sama yang akan kami tetapkan --"


"Benarkah?" Tanya Sinta memotong cerita Boy sambil menatap kedua mata Boy.


"Aku belum selesai sayang." Protes Boy.


"Ada lagi ya?" Tanya Sinta santai lagi sambil menatap Boy tajam.


"Sayang.. ayolah jangan menatap ku Seperti itu aku takut, kau seperti ingin memakan ku hidup- hidup" Ucap Boy.


"Katanya belum selesai, ayo lanjutkan." Ucap Sinta tanpa menanggapi perkataan Boy. Boy menghembuskan nafas nya sebelum membuka suara.


"Setelah kami selesai membicarakan masalah kerja sama aku menyuruh nya pergi tapi dia mau, dia malah menggoda ku, aku sudah berusaha menghindar tapi dia tetap saja mengganggu ku dan malah memelukku dari arah belakang dan disaat yang bersamaan kau dan Rafa masuk dan melihat ke salah pahaman itu." Ujar Boy panjang lebar.


"Sudah?" Tanya Sinta singkat masih terus menatap Boy, Boy yang mendengarnya pun melongo tak percaya, dia sudah susah payah menjelaskan dengan hati-hati agar Sinta tidak salah paham dengannya dan respon nya malah seperti itu.


Sinta pun berdiri dan berjalan ingin keluar, saat tangannya membuka pintu tangan Boy dengan cepat menutup kembali pintu itu dan menguncinya kemudian memasukkan kuncinya ke dalam sakunya.


"Apa yang Abi lakukan? Umi ingin keluar berikan kuncinya." Pinta Sinta kesal namun berusaha setenang mungkin.


"Tidak, tidak akan sampai Umi percaya kalau Abi gak macem-macem." Ucap Boy tegas. Sinta semakin kesal, dia memejamkan matanya mencoba menahan emosinya.


"Sayang percalah padaku aku tidak mungkin berbuat yang aneh-aneh di belakangmu." Sambil menggenggam kedua tangan Sinta erat sampai meremasnya.


Sinta meringis karna kesakitan masih dengan mata terpejam. Detik kemudian dia membuka matanya.


"Abi lepaskan, Abi menyakiti Umi." Ucapnya lirih menahan air matanya, Boy yang mendengarnya pun spontan melepaskannya.


"Maaf Abi gak sengaja." Sambil mengambil kembali tangan Sinta dan mengelusnya.


Boy asik mengelus tangan Sinta sampai tak menyadari Sinta menangis, Sinta ingin menghapus air matanya tapi tangannya masih digenggam Boy.


Setelah merasa agak baikan Boy melihat Sinta dan betapa terkejutnya dia saat melihat Sinta yang sedang menangis. Spontan dia pun langsung memeluknya dan mengusap-usap punggung nya lembut.


"Sayang jangan menangis, Abi minta maaf Abi mengaku salah, Abi janji gak akan mengulangi nya lagi tapi tolong berhentilah menangis." Sambil terus mengelus- elus punggungnya.


Sinta tak membalas pelukan Boy dia hanya menangis sampai badan nya bergetar, Boy bisa merasakan itu, dia tidak tahan melihat Sinta menangis dia pun ikut menitikkan air matanya.


Sinta merasakan tubuh Boy bergetar, dan melepaskan pelukan Boy padanya dan terkejut saat melihat Boy menangis.


"Abi.. kenapa Abi menangis?" Tanya Sinta sambil mengusap pipi Boy lembut.


"Abi minta maaf Abi salah Abi juga udah buat Umi sampai menangis Abi minta maaf Umi Abi minta maaf tolong berhentilah menangis." Ucapnya menunduk.


Sinta mengalihkan tangannya sekarang menggenggam kedua tangan Boy.


"Abi.. Abi gak salah, mungkin Umi nya aja yang terlalu cengeng dan juga terlalu cemburuan." Ujar Sinta sambil tangannya menggenggam kedua tangan Boy.


"Enggak sayang.. Abi yang salah, wajar kalau Umi itu cemburu. Abi yang salah harusnya tadi Abi panggil Andi buat ikut tapi karna kecerobohan Abi Umi jadi menangis seperti ini, sudah ya jangan menangis lagi Abi sungguh- sungguh minta maaf." Ucap Boy lemah lembut.


Sinta tak tau harus berkata apa lagi, dia langsung memeluk Boy dan menangis sejadi- jadinya. Boy yang mendengarnya pun semakin frustasi. Dia mencoba mengusap-usap kapala Sinta agar lebih tenang.


"Sayang.. ku mohon berhenti lah menangis, Abi tidak sanggup melihat Umi menangis seperti ini gara-gara Abi." Ucap Boy dengan nada frustasi. Sinta berhenti menangis tetapi tubuhnya masih bergetar.


"Abi?" Panggil Sinta lirih masih dengan pelukannya.


"Iya sayang?" Jawab Boy selembut mungkin.


"Abi tidak akan mungkin melakukan nya kan?" Tanya Sinta lirih.


"Tentu saja tidak akan, kecuali..." Boy sengaja menggantung ucapannya.


"Kecuali apa?" Tanya Sinta sinis yang langsung melepaskan pelukannya.


"Kecuali kalau Abi khilaf." Jawab Boy lalu terkekeh geli.


"Abi..." Rengek Sinta manja.


"Iya-iya Abi hanya bercanda, mana mungkin Abi bisa macam- macam dengan wanita lain, satu saja sudah membuat Abi sefrustasi ini." Ujar Boy menyindir.


"Siapa yang membuat Abi frustasi?" Tanya Sinta tajam.


"Siapa lagi kalau bukan Istri Abi yang paling cantik, baik, sholehah pula, mana bisa Abi hidup tanpa dia." Jawab Boy.


"Memangnya Istri Abi siapa?" Tanya Sinta lagi.


"Hah? siapa ya? Abi kayaknya tiba-tiba amnesia." Jawabnya asal.


"Abi.." Rengeknya manja.


"Apa?" Tanya Boy pura-pura.


"Abi ngeselin ihh." Ucapnya lalu berbalik membelakangi Boy. Boy yang melihat Sinta kesal pun tersenyum puas karna berhasil mengembalikan Istrinya seperti semula.


Tiba-tiba Boy memeluk Sinta dari belakang dengan tangannya dilingkarkan di perut Sinta dan kepalanya di sembunyikan nya di Punggung Sinta. Sinta berusaha melepaskan diri namun sia- sia malah Boy semakin memeluk nya erat.


Cukup lama mereka berpelukan, Boy melepaskan pelukan nya dan membalik tubuh Sinta ke arahnya, Dibukanya cadar Sinta perlahan, kemudian mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Sinta sampai akhirnya bibirnya mendarat di bibir Sinta.


Dia mencium serta ******* bibir istrianya dengan lembut, Sinta membalasnya dengan mata terpejam. Setelah lama berciuman akhirnya Boy melepaskan ciuman nya.


"Abi berjanji tidak akan pernah mengecewakan Umi dan Rafa, Abi sayang sama kalian, Abi tidak bisa kalau pun harus kahilangan kalian karna nyawa Abi ada pada kalian." Kemudian mengecup kening Sinta lama.


Tok.. tok.. tok..


"Umiii Abii..!!" Panggil Rafa dari arah luar.


Boy melepaskan kecupannya kemudian menggandeng tangan Sinta menuju pintu.


"Abi cadar nya Umi." Ujar Sinta, Boy pun lupa dan dengan cepat dia langsung memakaikan kembali cadar Sinta yang sedari tadi dipegangnya.


"Kenapa lama sekali sih." Ucap Rafa saat pintu terbuka oleh Boy. Lalu langsung masuk menghampiri Sinta di sofa.


"Umi.. Abi gak macem- macem kan sama Umi?" Tanya Rafa saat berada di hadapan Sinta sambil memegang pipi Sinta.


"Hei jagoannya Abi.. kenapa menuduh Abi begitu, memangnya pernah Abi jahatin kalian?" Protes Boy sebelum Sinta menjawab.


"Pernah, bahkan sering, Abi selalu jahatin Rafa. Buktinya sekarang juga mata Umi merah kayak habis nangis, Umi kan disini cuman sama Abi berarti Abi yang udah buat Umi nya Rafa nangis." Kemudian mengecup kedua mata Sinta. Boy terdiam karna sudah kalah telak.


"Sayang.. sayangnya Umi.. Abi gak jahat sama Umi, Umi nangis justru karna Abi itu baik." Ujar Sinta.


"Benarkah?" Tanyanya. Sinta pun mengangguk.


"Abi maafin Rafa karna udah nuduh Abi jahatin Umi." Ucapnya sambil menunduk.


Boy pun menghampiri mereka kemudian berjongkok di hadapan putranya memegang kedua bahunya.


"Hei jagoan Abi.. kenapa sedih seperti ini? dasar cengeng! huh." Ucap Boy kemudian membuat tangan nya yang menunjukkan 1-0. Rafa pun tertawa lalu memeluk Ayahnya.


"Umi tidak di ajak berpelukan nih?" Tanya Sinta pura-pura cemberut dengan melipat tangannya di dada.


Kemudian Rafa melepaskan pelukan nya lalu menarik tangan Sinta untuk berpelukan.


"Rafa sayang Abi Umi." Ucapnya.


Mereka bertiga pun berpelukan.


_END_


Uhuyy udah tamat nih😁

__ADS_1


Kalau ada yang nanya kenapa saya namatin cerita ini? Jawabannya karna tidak ada yang mau menghargainya hiks..


Ah sudahlah, lagian juga ceritanya sudah berakhir😂😂


__ADS_2