Bukan Cinta Pertama

Bukan Cinta Pertama
Pertengkaran


__ADS_3

Setelah 3 jam lebih mereka tempuh akhirnya sampai juga di kos'an lama Boy. Boy dan Ayahnya langsung masuk ke dalam untuk menemui Ibu kos dan meminta izin untuk Boy yang ingin pindah kos dengan alasan ingin fokus ujian.


Wijaya dan Ibu kos tampak berbincang- bincang sedangkan Boy sibuk mengemasi barang-barang nya.


"Yah uda nih." Sahut Boy yang telah selesai mengemasi barangnya.


"Oh kalau begitu kami pamit Bu, seandainya Boy punya salah sama Ibu saya mewakilinya mohon maaf." Ucap Wijaya sambil berdiri.


"Tidak pak, Boy tidak pernah menyakiti hati saya, dia anak yang baik dan juga rajin bahkan saya sangat suka sekali dengannya jadi bapak tidak perlu meminta maaf." Jawab Ibu kos itu.


"Baguslah kalau begitu.."


Mereka pun beranjak pergi dari kos'an lama Boy menuju kos yang baru yang letaknya tepat di depan sekolahan Boy.


Sesampainya disana Boy pun membereskan barang-barang yang dia bawanya dari kos'an lamanya. Di kos'an baru nya sudah ada Sandi yang lebih dulu pindah kesitu kemarin, ya mereka memang sama-sama berencana untuk pindah.


"Kalau begitu Ayah pulang nak,, kamu baik- baik disini ya." Ucap Wijaya sambil berjalan menuju motor nya.


"Iya Ayah hati- hati." Seru Boy dan Wijaya hanya tersenyum lalu mengangguk.


Setelah selesai beres- beres Boy pun keluar ke teras untuk duduk karna merasa lelah, dia melihat jam yang ada di pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul 16.15, tidak lama kemudian terlihat olehnya Sandi pulang.


"Wahh.. bro lo udah nyampek?" Ucap Sandi turun dari motornha dan mengangkat tangannya ke udara ingin bertos dengan Boy tapi Boy malah mengalihkan pandangan nya pura-pura tidak melihat dan tidak mendengar bahwa Sandi sedang mengajaknha berbicara.


"Brengsek lo!" Umpat Sandi kesal dan Boy hanya terkekeh.


"Oh ya kenapa baru ini lo nyampeknya dan tadi lo juga gak masuk sekolah kan? lo dicari kekasih lo tadi." Sandi bercerita.


"Kekasih?" Tanya Boy memastikan dan tiba-tiba saja teringat dengan Sinta sontak membuat nya masuk ke dalam mencari ponsel nya yang sedari pagi dia matikan dan meninggalkan Sandi sendirian di teras.


"Cihh.. dasar! gue kan belum selesai ngomong." Sandi mendecih kesal.


Saat telah mendapatkan ponsel nya dia segera menghidupkannya dan duduk di tepi ranjang. Saat ponsel nya sudah menyala dia kaget melihat panggilan tak terjawab hampir ratusan dari Sinta dan Tria yang hanya 2 kali dan Ayah nya serta beberapa pesan.


Pertama-tama dia membuka pesan dari Sinta yang berisi..


"Kak dimana?"


"Angkat telpon aku pliss"

__ADS_1


"Apa aku ada salah?"


"Kak kenapa gak ngangkat telpon ku?"


"Kak kalo aku ada salah aku minta maaf tapi tolong angkat telpon ku." Pesan dari Sinta.


Setelah membaca pesan Sinta dia langsung menghubungi nomornya tapi hasilnya nihil, nomor Sinta Tidak aktif. Dia beralih ke pesan lagi.


Dia melihat pesan dari Ayahnya yang berisi..


"Boy nak kamu dimana kenapa tidak pulang?"


"Ibumu mencemaskanmu"


"Angkat telpon Ayah Boy!"


"Boy kamu ini dimana dan sedang apa? maghrib saja pun kamu tak pulang nak jangan buat kami orang tua mu khawatir." Isi pesan dari Wijaya .


Setelah membaca pesan Wijaya dia melihat pesan dari Tria dan membuka nya serta membacanya.


Setelah membaca pesan dari Tria dia sangat merasa bersalah dan badan nya juga tiba-tiba gemetaran, dia memcoba memberanikan diri menghubungi nomor Tria.


Drrtt..drrtt..drrtt..


Dia yang sedang tidur siang meraba-raba tempat tidur di sampingnya mencari-cari keberadaan ponselnya itu dengan malas, awalnya dia berniat tidak mengangkat tapi telpon itu terus berbunyi dan terpaksa Tria harus mengangkatnya.


"Halo.. hoampp..." Ucap Tria meletakkan ponsel nya ke telinganya tanpa melihat siapa yang menelponnya


"Halo Tria maafin Kak Boy ya, Kak Boy gak bermaksud buat Sinta kecewa tapi Kakak punya alasann..."


"Apa? Kakak mau apa lagi? Udah cukup ya Kak Kakak buat Sinta nangis." Tria yang menyadari kalau itu Boy dengan cepat marah-marah dan memotong ucapan Boy.


"Tri.. Kakak minta maaf tapi Kakak punya alasannya." Pinta Boy.


"Gak ada lagi yang perlu Kakak jelasin semuanya udah jelas dan ingat jangan ganggu Sinta lagi!" Dengan amarahnya Tria langsung mematikan sambungan telpon nya.


Boy frustasi dan mengacak-acak rambutnya bingung harus melakukan apa, dia melihat jam yang melingkar dipergelangan tangannya yang menunjukkan pukul 16.23 setelah itu dia keluar dan langsung melajukan motornya tanpa menghiraukan Sandi yang memanggilnya.


Setelah 15 menit dia melajukan motor nya dengan kecepatan diatas rata-rata sampailah dia di depan sebuah rumah yang tidak terlalu kecil dan di depan nya ada beberapa tanaman bunga dan disamping nya ada tanaman sayuran.

__ADS_1


Tanpa pikir panjang Boy langsung mengetuk pintu itu sambil mengucapkan salam.


tok.. tok..tok..


"Assalamualaikum" Ucap Boy beberapa kali namun tidak ada jawaban dari dalam yang terlihat sepi.


Sinta yang sedang menonton tv eh bukan tv yang menonton dia yang sedang melamun, tiba- tiba mendengar suara pintu di ketuk, dia berjalan menuju pintu depan dan membuka pintu melihat siapa yang datang bertamu padahal kan Ayah dan Ibunya semua ada di rumah Neneknya.


"Waalaikumsa.." Ucapnya terputus karna melihat sosok yang sedang berdiri di hadapannya, dia terkejut dan langsung menutup pintu kembali.


"Sin.. buka pintu nya aku mau ngomong penting sama kamu plis bukain pintunya." Boy mencoba menggedor- gedor pintu yang audah tertutup rapat itu.


".. Sin aku mohon buka pintunya aku mau bicara sama kamu." Lanjut Boy lagi dengan nada memelasnya.


"Udah gak ada yang perlu dibicakan lagi Kak, Kakak memang gak pernah nganggap Sinta jadi lebih baik Kakak pergi sekarang karna Sinta gak mau ketemu sama Kakak." Usir Sinta yang kini telah meneteskan air matanya.


"Sin.. Kakak mohon jangan gini kamu harus dengerin penjelasan dari aku, aku bukan bermaksud menghindari kamu tapi aku punya alasan lain Sin.. Plis buka pintu nya Sin aku mohon aku cinta sama kamu Sin." Ucap Boy melemah karna menahan air matanya agar tidak jatuh namun tidak ada jawaban dari dalam sana.


"Aku gak akan pulang sampai kapanpun sebelum kamu bukain pintunya." Lanjut Boy dan terduduk menyandarkan badannya ke daun pintu.


"Boy?" Panggil seseorang yang heran melihat Boy ada di depan rumahnya yang terlihat kacau.


"Eh Ibu.." Boy berdiri langsung menyalami orang tua itu yang tak lain adalah Ibu Sinta.


"Ada apa? dan kenapa duduk diluar? Mana Sinta?" Beberapa pertanyaan Afni lontarkan karna keheranan.


"Emm.. Sin.. Sinta a.. ada di dalam Bu." Ucap Boy gugup.


"Kenapa?" Tanya nya lagi dan Boy hanya menunduk tidak berani menjawab.


Karna tidak mendengar penjelas Boy akhirnya Afni memutuskan mengetuk pintu.


"Sin.. Sinta nak ini Ibu tolong bukakan pintunya." Seru Afni.


Sinta yang mendengar suara Ibunya langsung menyeka air matanya dan mencoba membukakan pintu.


_


_

__ADS_1


_


Happy reading💪


__ADS_2