
Waktu begitu cepat berlalu, sudah hampir 4 tahun setelah Sinta lulus dari SMA, dan kini dia juga sudah menyelesaikan pendidikannya dan telah mendapat gelas S.E (Sarjana Ekonomi).
Pagi yang cerah sekaligus penyemangat bagi Sinta. Sudah cukup untuknya bermalas- malasan. Jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi, namun dia masih belum selesai mengemasi pakaian yang akan dia bawa ke kota.
Sudah satu jam lebih dia mengemas tetapi belum juga selesai.
Bagaimana mau selesai wong dia ngemasinya sambil menangis. Entah apa yang membuatnya sesedih itu, apa karna harus meninggalkan rumah lagi? atau karna keluarganya? ah entahlah hanya dia dan Tuhan yang tau.
Tok.. tok.. tok..
"Sinta ini Ibu nak.. boleh Ibu masuk?" Tanya sang Ibu yang berada didepan kamar Sinta.
Mendengar suara sang Ibu Sinta langsung menyeka air matanya.
"Iya Bu masuk aja gak di kunci kok." Serunya dari dalam kamar.
"Loh belum selesai mengemasi nya?" Tanya sang Ibu terheran.
"Kamu nangis? kenapa menangis nak? ada apa? apa ada yang menyakitimu?" Lanjutnya lagi karna melihat mata Sinta yang sembab.
"Emm.. gak tau kenapa Sinta berat banget ninggalin Ibu, Ayah sama Adik-adik padahal dulu juga kan Sinta kuliahnya pisah sama kalian." Tak terasa air matanya pun meluncur lagi.
"Kalo memang kamu gak bisa gak perlu dipaksakan, disini kan juga pasti ada pekerjaan yang cocok buat kamu nak ya walaupun tidak seberapa." Sambil menghapus air mata Sinta.
"Eng.. enggak Bu.. apa gunanya Sarjana Ekonomi itu kalo Sinta masih netap disini."
"Sinta cuman sedih aja kok lagi-lagi harus terpisah dari Ibu Sinta yang cantik ini." Lanjutnya sambil tersenyum.
"Kamu ini ya paling bisa." Sambil menepuk- nepuk pelan kepala Sinta.
"Emm.. karna ini hari terakhir Sinta di rumah gimana kalo Sinta bantuin Ibu masak?" Tawarnya pada sang Ibu.
"Cuman bantuin ni?" Goda sang Ibu pada Sinta yang memang tak pandai memasak sambil terkekeh.
"Ehehe Sinta janji nanti kalo udah mahir masaknya baru masak sendiri, janji." Ucapnya cengengesan sambil mengangkat jadi telunjuk dan tengah menjadikan nya huruf V.
Sang Ibu pun tersenyum, "Yaudah yuk.. eh emang udah selesai ngemas nya?" Tanya Ibunya lagi.
"Belum sih tapi nanti aja deh Sinta lanjutin, sekarang waktunya kita masak go." Serunya dengan semangat sambil merangkul bahu sang Ibu menuju ke dapur.
****
Di suatu perusahaan seorang wanita dengan pakaian kerjanya sopan sedang berdiri di depan ruangan manajer sambil mondar- mandir dengan memegang sebuah surat, namanya adalah Calista sekretaris sang manajer.
"Aduh gugup banget nih, gimana cara ngomong nya ya." Gumam nya masih setia mondar- mandir.
"Ah tapi ini harus aku katakan, haruss! Calista ayo kamu bisa!" Ujarnya menyemangati dirinya sendiri.
Tok.. tok.. tok..
__ADS_1
"Masuk!" Seru seorang pria dari dalam tanpa menatap ke arah pintu, matanya fokus ke arah komputer.
"Eng.. M.. maaf pak b.. bisa bicara sebentar?" Tanya nya gugup.
Sang manajer menghentikan aktifitasnya dan menatap nya sekilas Sekretaris nya lalu mengembalikan posisi nya agar terlihat lebih santai.
"Silahkan duduk Calista." Sambil mengarahkan tangannya ke kursi yang bersebrangan dengan nya.
"Terima kasih pak." Ujar Calista lalu langsung mendudukkan pantatnya ke kursi tersebut.
"Langsung saja kamu ingin berbicara mengenai apa?" Tanya Boy langsung to the point.
"Sebelum nya saya minta maaf karna mengganggu waktu kerja bapak tapi saya kesini ingin memberikan ini." Sambil menyodorkan sebuah surat.
Sang manajer pun mengernyitkan keningnya bingung.
"Surat apa ini?" Tanyanya sebelum membukanya.
Calista menunduk, "Silahkan dibaca dulu pak."
Sang manajer perlahan membuka surat tersebut dan dia mengernyitkan keningnya semakin bingung.
"Kamu mau resign?" Tanyanya dengan raut serius dan dibalas anggukan oleh Calista.
"Alasannya?" Tanyanya lagi.
"Ibu saya sedang sakit di kampung pak jadi karna hanya saya anak Ibu yang lajang maka saya putuskan saya yang akan merawat Ibu saya." Ucapnya dengan raut yang bisa dibilang sedih.
"Saya bangga sama kamu Calista.. jaman sekarang sangat jarang bahkan bisa dibilang sudah punah ada wanita sepertimu.. baiklah karna alasannya masuk akal saya terima keputusan kamu." Ucapnya sambil tersenyum.
"Terima kasih pak Boy terima kasih banyak." ujarnya lega.
"Iya sama-sama Calista, semoga Ibumu segera sembuh." Sambil tersenyum.
"Aminn.. Kalau begitu saya undur diri Pak." Sambil berdiri dan membungkukkan kepalanya lalu beranjak pergi dengan perasaan lega.
Setelah kepergian Calista, Boy pun kembali berkutat pada komputer di depannya sambil memeriksa beberapa file. Ya sang manajer tersebut adalah Boy, Boy Putra Wijaya. Boy sudah menjabat sebagai manajer selama 3 tahun lebih di perusahaan itu tanpa syarat.
Kenapa bisa Boy menjadi manajer di perusahaan itu? jawaban nya adalah...
flashback on
Pada suatu malam tepatnya pukul setengah 12 malam, saat Boy duduk di halte sambil merapi nasib nya karna belum juga mendapatkan pekerjaan, dan itu sudah hampir 6 bulan lamanya. Dia tidak jadi ke kota dimana Abangnya bekerja karna tidak ingin menyusahkan, jadi dia memutuskan untuk pergi ke kota Jakarta untuk mengubah nasibnya dengan tangannya sendiri, namun hingga setengah tahun dia menetap disana belum juga mendapatkan pekerjaan.
Tiba-tiba tak jauh dari tempatnya duduk dia melihat ada seorang pria yang tidak terlalu tua sekitaran 45 tahunan yang sedang di hadang oleh dua orang preman.
Preman itu mencoba merampas barang-barang berharga sang Pria namun sang Pria mencoba memberontak tapi dia malah dihajar para preman tersebut.
"Lepaskan Bapak itu!" Bentak seorang lelaki yang tak lain adalah Boy.
__ADS_1
"Siapa lo?! gak usah ikut campur urusan kita!" Bentak salah satu preman murka karna ada yang berani mengganggunya.
"Heh.. gue siapa itu gak perlu dan lo juga gak berhak merampas barang orang sembarangan." Ujar Boy sambil terkekeh meremehkan.
"Banyakan bacot lo!" Ucap preman semakin murka dan dengan cepat mendaratkan pukulan di pipi kanan Boy sampai tersungkur ke aspal.
Boy tersenyum licik dan kembali berdiri
"Boleh juga pukulan lo."
Bugh
Bugh
Bugh
Tiga kali pukulan Boy daratkan ke salah satu preman membuat sang preman tak berdaya.
"Ngapain lo bengong cepat lawan!" Bentaknya pada temannya yang hanya diam menontoninya. Temannya pun tersadar dan mengangguk langsung menyerang Boy.
Bugh
Bugh
Lagi-lagi hanya dua kali pukulan lawannya langsung tepar dan mereka memutuskan lari dengan terbirit-birit.
"Bapak tidak apa-apa?" Tanya Boh menghampiri sang pria.
"Tidak Nak, terima kasih karna telah menolong Bapak,, emm tolong terima ini nak sebagai tanda terima kasih Bapak." Ujarnya sambil menyodorkan beberapa lembar uang ratusan.
"Ah tidak Pak.. tidak perlu saya membantu Bapak dengan ikhlas." Jawabnya tulus.
"Emm tapi Nak saya akan merasa bersedih.. ah setidaknya kamu menolong saya secara tidak cuma- cuma." Ucapnya dengan raut sedihnya.
"Emm sebenarnya saya lagi nyari kerja pak tapi gak dapet- dapet." Ucap Boy merasa tak enak.
Sang Bapak pun tersenyum merekah, "Baiklah kamu butuh pekerjaan bukan? kalau begitu besok kamu datang ke alamat perusahaan ini." Sambil memberikan sebuah kartu.
Boy mengernyitkan keningnya lantas menerima kartu tersebut, "Maksud Bapak?" Tanyanya lagi.
"Saya akan memberikan kamu pekerjaan,, baiklah saya harus segera pulang karna ini juga sudah larut kamu juga harus pulang dan jangan lupa besok datang ke alamat perusahaan saya."
"Baik pak saya pasti akan datang, sekali lagi terima kasih."
"Kalau begitu saya duluan Nak, Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam Pak hati-hati."
Bapak itu pun tersenyum laku masuk ke dalam mobilnya dan langsung bergegas pulang sedangkan Boy masih pada tempatnya tersenyum bahagia.
__ADS_1
Dia pun tersadar dan bergegas pulang untuk mengistirahatkan tubuhnya supaya lebih bertenaga menyambut hari esok.
flashback off