Bukan Cinta Pertama

Bukan Cinta Pertama
61


__ADS_3

Keesokan harinya..


Sudah setengah jam lebih Tria berdiri mondar- mandir di depan pintu ruangan Arif. Dia mau masuk tapi bimbang. Berulang kali dia hembuskan nafas agar bisa menghilangkan rasa gugupnya.


Ceklek..


Tiba-tiba Arif keluar ruangannya, dia melihat Tria yang berdiri terpaku melihatnya, sedangkan Tria terkejut karna Arif tiba-tiba keluar.


"Ngapain kamu berdiri disini, saya udah nunggu kamu dari tadi." Ujar Arif datar tapi sedang menahan senyum nya karna melihat ekspresi Tria.


"Masuk!" Perintahnya lagi lalu langsung masuk kembali ke ruangan nya, tadinya dia memang ingin menjemput Tria langsung namun ternyata Tria sudah di depan ruangannya.


Tria menghembuskan nafasnya berulanga kali lalu masuk mengikuti Arif dari belakang.


Arif sudah duduk di kursi kebesarannya.


"Duduk." Pinta nya, tanpa menjawab Tria langsung duduk.


"Kamu sudah tau.."


"Sudah." Potong Tria spontan yang membuat Arif melototinya.


"Maaf." Ujarnya lalu menunduk, Arif yang melihatnya pun tersenyum sekejap dan kembali ke ekspresi datar.


"Jadi kamu sudah mengerti maksud tujuan kamu kemari?"Tanyanya datar.


"Sudah." Jawabnya Singkat masih menunduk.


"Bagus. Ah iya sebelumnya karna saya sekarang sudah jadi atasan kamu panggil saya Bapak, mengerti?" Tanyanya dengan nada memerintah.


"Mengerti Pak." jawab Tria cepat.


'Sinta benar, dia benar- benar mengerjai ku


Kalau sudah begini mana bisa aku berkutik lagi di depannya akh sialan.' Batin Tria.

__ADS_1


"Ini." Ucap Arif sambil menyodorkan berkas.


Tria yang melihatnya pun mengernyitkan dahinya.


"Kamu pelajari secepatnya." lanjuTtnya lagi. Tria belum menjawab, dia mencoba mambaca berkas yang diberikan Arif. Setelah membaca dia menghela nafas lega. Karna awalnya dia pikir itu bagian dari rencana Arif yang ingin mengerjainya.


"Baik Pak." Jawabnya kemudiaan sambil tersenyum manis ke Arif, Arif yang baru pertama kali ini melihat senyum manis itu terhipnotis seketika.


"Em.. maaf Pak, ada lagi yang ingin disampaikan?" Tanya Tria karna Arif melihatnya tanpa berkedip, seketika Arif pun tersadar dan merasa salah tingkah.


"Aa.. tidak ada, kamu bisa bekerja sekarang." Jawab Arif gelagapan.


"Baiklah saya permisi Pak." Ujarnya seraya menunduk lalu beranjak keluar.


----


Sudah 3 bulan Tria menjadi sekretaris nya tapi Arif malah merasa bosan, entah kenapa dia lebih nyaman bertengkar dari pada seperti sekarang. Dia juga merasakan sesuatu yang aneh jika berdekatan dengan Tria.


Satu bulan lagi adalah hari ulang tahun perusahaan, Boy sengaja menempatkan hari ulang tahun perusahaan di hari kepergian Almarhum Wibowo dan putrinya.


"Sinta menurut kamu bagaimana?" Bertanya pendapat Sinta.


"Ini sangat indah Pak."Jawab Sinta sambil melihat-lihat dekorasi.


"Ya saya juga merasa seperti itu,."


Tiba-tiba datang ketua dekorasi menyapa Boy dan Sinta, "Siang Tuan, bagaimana hasil dekorasi kami menurut pendapat Tuan?" Tanya nya.


"Lumayan." Ujar Boy singkat.


"Ah.. terima kasih Tuan kami akan mendekor nya supaya terlihat lebih indah lagi, saya permisi Tuan." seraya menunduk dan hanya dibalas anggukan oleh Boy.


"Sinta tugas kamu hari ini menghendel pekerjaan mereka semua, saya harus pergi ada urusan." Pintanya.


"Baik Pak." jawab Sinta.

__ADS_1


Setelah mengatakan itu Boy langsung pergi, tujuannya sekarang adalah pulang ke rumah untuk mengecek keadaan Istri almarhum Wibowo yang sudah dianggapnya sebagai Ibu nya.


Sesampainya di rumah dia langsung bergegas masuk ke kamar Sahara.


Saat dia masuk dia melihat Sahara yang sedang duduk di ranjang bersandar di tempat tidur menatap kosong ke depan, dan perawat yang sedang memegang obat.


"Assalamualaikum.. maaf Sus biar saya saja yang membantu memberi obatnya." Pinta Boy.


"Waalaikumsalam ah iya ini Pak." Sambil menyerahkan obat tersebut.


"Suster boleh pergi." Perintahnya, suster itupun menurut dan meninggalkan Boy dengan Sahara.


"Bu.. Ibu minum obat dulu ya, nih biar Boy bantu." Sambil mengambil gelas berisi air diatas meja. Sahara menerima nya namun tanpa bicara dan tatapannya kosong.


"Ibu mau jalan-jalan?" Tanya Boy setelah selesai memberikan obat, Sahara menatapnya sebentar lalu kembali menatap lurus ke depan.


"Boy pengen jalan-jalan nih, Ibu temenin Boy ya." Pinta Boy lagi namun tak ada balasan dari Sahara. Memang selama hampir 2 tahun ini Sahara tidak pernah bicara. Boy selalu mengajaknya bicara berharap Sahara mau meresponnya namun Usahanya selalu sia-sia.


Boy mengambil kursi roda dan membantu mendudukkan Sahara dan tidak ada penolakan bahkan jika ada yang ingin membunuhnya dia hanya diam saja.


Boy membawanya ke taman halaman rumah yang memang sangat luas. Dia duduk di kursi panjang dan Sahara duduk di depannya dengan kursi roda.


"Oh ya Bu satu bulan lagi adalah hari ulang tahun perusahaan sekaligus memperingati hari kepergian Almarhum Pak Wibowa Suami Ibu dan juga Putri Ibu, Ibu mau ikut tidak ke acara nya?" Boy mengajak Sahara berbicara berharap kali ini Sahara mau meresponnya. Namun hasilnya nihil.


"... dan setelah itu Boy udah punya rencana buat lanjutin usaha ke luar negeri setelah acara selesai Bu, menurut Ibu gimana?" Dia terus berbicara walaupun tak dibalas.


"Oh ya Bu, Ibu tau Boy lagi nunggu waktu yang tepat buat ngelamar Sinta, Boy udah pernah ceritakan soal Sinta sama Ibu, Boy bingung Bu gimana buat menangin hatinya dia, selama ini juga kita kerjanya selayaknya atasan dan bawahan..."


"... Boy gak berani bicara sesuatu yang diluar pekerjaan sama dia bu, Boy takut dia kecewa dan akhirnya ninggalin Boy, Boy gak mau sampai dia ninggalin Boy." Dia selalu bercerita walaupun tak pernah ada balasan dari Sahara.


"Sudah sore, lebih baik kita masuk ya Bu." Ujarnya kemudian mendorong kursi roda Sahara menuju ke kamarnya.


Setelah sampai di kamar Sahara, Boy langsung memindahkan nya ke ranjang lalu menyelimutinya.


"Ibu istirahat ya, Boy ke kamar dulu." Ucapnya kemudiaan mencium kening Sahara. Lalu beranjak keluar menuju kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2