
Pukul 16.20 Sinta sudah menunggu Boy di sofa ruang tamu mereka ditemani Putri adiknya sambil curhat tentang sekolahnya pada Sinta.
"Kak tau gak hampir tiap minggu itu pasti ada aja cowok yang nembak Putri." Curhat Putri sambil tiduran di sofa single dengan kepalanya di tumpuan lengan sofa.
"Oh ya? berarti kamu cantik dong ya kalo gitu." Ucap Sinta secara tak sengaja memuji Putri yang merasa sangat senang.
"Ya iya dong aku cantik," Ujarnya menyombongkan diri.
"Trus kamu gimana respon nya?" Tanya Sinta.
"Aku gantungin aja." Jawabnya enteng.
"Gantungin gimana?" Tanya Sinta bingung.
"Ya aku gak nerima tapi aku gantungin sampe dia cape sendiri nah pergi sendiri dah tu." Jelas Putri membuat Sinta terkekeh.
"Kenapa Kak?" Tanya Putri yang heran karna Sinta terkekeh.
"Kasihan dong Dek digantungin emangnya jemuran." Jawab Sinta masih dengan kekehan nya.
"Kok kasihan sih Kak, justru bagus dong dengan begitu aku bisa liat mana yang tulus dan yang cuman modus doang." Ujar Putri menjelaskan.
"Pinter banget adik nya Kakak, trus udah nemu yang tulus belum?" Tanya Sinta lagi.
"Banyak sih yang mau digantungin malahan ada juga yang bilang dia udah cinta mati sama aku Kak, kan lebay banget tuh kak jijik tau gak pas dia ngomong kayak gitu." Ujar Putri sambil mengendikkan bahunya yang jijim mengingat kejadian itu.
"Ya menurut Kakak sih baiknya jangan pacaran dulu lah sekolah aja yang bener nanti juga kalo udah sukses pasti lebih banyak yang ngantri udah gitu yang mapan- mapan lagi." Sinta mengkultum sang adik.
"Kayak Kakak kan." Ucapnya menggoda sambil menaik turunkan alisnya dan membuat Sinta tertawa geli.
"Oh ya Kak menurut aku nih ya Kakak itu kayaknya jodoh tau sama Bang Boy." Ujar Putri dengan wajah yang dibuat serius.
"Kamu tau darimana soal jodoh? jodoh itu udah ada yang nentuin Dek."
"Iya tau Kak, cuman kan Kakak liat aja udah 6 tahun lebih Kakak sama Bang Boy di pisahkan dan sekarang dipertemukan lagi secara tidak sengaja."
__ADS_1
"Cuman kebetulan aja kali." Elak Sinta.
"Kebetulan jodoh." Celetuk Putri, Sinta hanya memutar bola matanya malas dan tak ada niatan untuk membalas perkataan adiknya.
Selang 15 menit terdengar suara mobil yang menandakan bahwa Boy telah datang.
"Eh Bang Boy udah dateng tuh Kak, tapi... dia kayak bawa cowok deh Kak." Ujar Putri sambil mengintip di jendela.
"Itu adiknya." Jawab Sinta singkat lalu beranjak ke halaman belakang memanggil ayah ibunya.
"Assalamualaikum." Ucap Boy saat sudah di depan pintu yang memang terbuka.
"Waalaikumsalam Bang Boy sini-sini." Panggil Putri sambil memperbaiki posisi nya.
Boy pun menurutinya dan diikuti Arif yang duduk di sebelah Boy dengan gaya sok cool nya.
'Apaan dah sok cool amat, cool an juga Bang Boy.' Batin Putri yang melihat Arif dengan tatapan tak suka.
"Gue tau kok gue itu ganteng plus cool tapi liatin nya biasa aja dong." Celetuk Arif yang menyadari tatapan tak suka dari Putri, Putri yang mendengarnya pun mencibirkan bibirnya merasa jijik.
"Lo itu udah jelek dan lo gituin bibir lo makin jelek tau gak sih." Ujar Arif meledek. Putri yang mendengarnya pun melototinya merasa tak terima.
"Heh gini-gini banyak yang naksir ya sama gue, emang nya elo tampang nya aja yang sok cool padahal ni ya kalo dibandingin sama Bang Boy lo itu kalah jauh kecool an nya tau." Cerocos Putri, sontak perkataan Putri pun mengundang tawa bagi Boy, sedangkan Arif berdecak kesal.
"Ehh ada apa ini ribut-ribut?" Tanya Ayah Sinta saat sudah berada di ruang tamu diikuti Ibu dan juga Sinta di belakang nya.
"Tau ah Yah disini gerah banget sumpah Putri kebelakang aja deh lebih adem." Ujar Putri menyindir lalu langsung beranjak pergi, Ayah dan Ibu Sinta pun merasa heran tapi tidak dengan Boy dan Sinta mereka sudah bisa menduga apa yang terjadi dengan Putri.
"Ini adikmu yang kamu ceritain tadi Boy?" Tanya Ibu Sinta yang menyadari keberadaan Arif.
"Iya Bu namanya Arif." Ujar Boy seraya menatap Arif memberi kode, Arif pun mengerti langsung menyalami Ayah dan Ibu Sinta.
"Arif Wijaya biasa dipanggil Arif Om Tante, dan ya adik dari Boy Putra Wijaya." Ucap Arif detail sambil mengulurkan tangannya yang membuat Ayah dan Ibu Sinta terkekeh dan membalas uluran tangan nya.
"Ayah Ibu Sinta." Ujar ibu Sinta tersenyum.
__ADS_1
"Eh tunggu- tunggu ini siapa yang pake tutup muka dan dimana Sinta? bukannya lo bilang tadi mau jemput dia ya." Ujar Arif heran.
Mereka yang di ruangan itu pun tersenyum.
"Itu Sinta Rif." Ucap Boy berbisik ke telinga Arif.
"Ha lo beneran? astaga sorry-sorry gue gak ngenalin tadi." Ujarnya merasa malu karna tidak tau.
"Gapapa kok." Jawab Sinta.
"Jadi kalian mau langsung berangkat?" Tanya Ayah Sinta.
"Iya Yah takut nanti pulangnya kemaleman." Jawab Boy melirik jam tangannya.
"Yaudah kalian yang hati-hati ya kalau ada apa- apa jangan lupa kabarin." Ujar Ayah Sinta lagi.
"Iya Yah.. kalo gitu kita berangkat sekarang ya Yah Bu." Ujar Boy sambil berdiri diikuti Arif dan Sinta. Mereka pun menyalami Ayah dan Ibu Sinta lalu bergegas berangkat.
***
Pukul 11 malam mereka baru sampai di kos'an nya Sinta, Sinta bergegas turun tapi sebelumnya dia berterima kasih pada Boy.
"Makasih ya Kak." Ujarnya saat sudah membuka pintu mobil sambil tersenyum walaupun tak terlihat. Sekilas dia melihat kearah Arif yang sudah tertidur pulas di kursi penumpang dengan posisi terlentang. Dia memang sengaja duduk di kursi penumpang agar lebih leluasa.
"Sama-sama, udah malem gitu siapa yang bukain pintu?" Tanya Boy karna memang kos'an Sinta terlihat sudah sangat sepi.
"Ohh itu tadi Sinta udah ngabari temen Sinta kok Kak."
"Ohh yaudah kalau gitu."
"Yaudah aku turun ya Kak makasih sekali lagi udah ngerepotin."
"Iya gapapa santai aja, kamu langsung masuk ya." Ujar Boy sambil tersenyum yang membuat Sinta deg-degan.
"Iya.. Kakak hati-hati ya." Ujar Sinta malu- malu setelahnya langsung keluar mobil. Lagi-lagi Boy pun merasa senang dengan perhatian kecil yang Sinta berikan.
__ADS_1