Bukan Cinta Pertama

Bukan Cinta Pertama
Tria dan Arif


__ADS_3

Setelah memakai jilbab yang diberikan Sinta dan tak lupa juga Sinta memakai cadarnya, mereka langsung menuju keluar ingin melihat siapa yang datang. Saat mereka sampai di depan pintu terlihat seorang lelaki sedang membelakangi mereka.


"Siapa Sin?" Tanya Tria berbisik.


"Kak Boy?" Tebak Sinta dan betul saja lalaki itu langsung berbalik setelah mendengar namanya disebut.


'Kak Boy?' Batin Tria.


"Assalamualaikum." Sapa nya setelah berbalik menatap Sinta dan tatapannya mengarah ke Tria merasa tidak asing.


"Waalaikumsalam." Jawab mereka serempak.


"Tria?" Tanya Boy memastikan.


"I.. iya.. ini Bang Boy? Bang Boy mantan nya Sinta waktu SMA bukan?" Dia menjawab sambil bertanya balik. Boy yang mendengar nya pun tertawa kecil sedangkan Sinta dia menunduk malu.


"Udah lama gak ketemu ya Tri makin cantik aja." Ujar Boy memuji Tria dan membuat Tria sok-sok malu-malu.


"Biasa aja kok Bang dari dulu sampe sekarang mah." Jawabnya merendah.


"Emm maaf sebelum nya Kak Boy dateng kesini mau nyari Sinta bukan?" Tanya Sinta mengalihkan pembicaraan.


"Ah iya sampai lupa saya kesini karna tadi pas saya sampai rumah saya liat ponsel kamu terjatuh di mobil saya, ini.." Ucap nya menjelaskan sambil menyodorkan ponsel Sinta.


"Asataga aku sampai tidak ingat.." Sambil menepuk jidat nya, "Makasih ya Kak maaf udah ngerepotin lagi." Lanjutnya sambil menerima ponselnya.


"Kamu selalu saja merasa merepotkan padahal sama sekali tidak." Jawab Boy sambil tersenyum.


"Ehemm." Tria berdehem karna merasa didiamkan. Sontak Boy dan Sinta sama-sama menatapnya.


"Ah iya saya cuman mau nganterin aja, saya pikir kamu akan membutuhkan nya, kalau begitu saya pamit." Ujar Boy berpamitan.


"Iya sekali lagi makasih ya Kak." Ujar Sinta.


"Sama-sama." Balas Boy dengan senyuman nya sambil beranjak pergi.


"Hati-hati." Seru Sinta saat Boy sudah agak jauh namun masih mendengar ucapan Sinta, dia pun berbalik dan tersenyum.


Seperginya Boy, Tria langsung menarik tangan Sinta untuk duduk di kursi yang tersedia di teras.


"Aduhh ada apa sih Tri kok main tarik- tarik." Tanya Sinta heran.


"Jelasin!" Pintanya. Sinta pun langsung mengerti maksudnya.


"Dia atasan aku di kantor." Jawab Sinta santai.


"Trus?" Tanya Tria ingin mendengarkan cerita selanjutnya.


"Udah itu doang." Jawab Sinta enteng sedangkan Tria memutar bola matanya malas.


"Maksudnya kenapa bisa kalian ketemu lagi? dan tadi lo juga manggilnya pake embel Kak? apa kalian.." Ucap Tria ragu- ragu.


"Gak! kita cuman sebatas atasan sama bawahan gak lebih, lagian cuman kebetulan aja aku ngelamar di kantor tempat dia kerja." Ucap Sinta cepat mencoba menjelaskan sebelum pikiran Tria jauh.


"Bisa kebetulan gitu ya." Ucap Tria pelan namun masih di dengar Sinta. Dia pun tersenyum penuh arti yang membuat Sinta heran, "Lo bilang tadi dia atasan lo?" Tanya nya lagi.


"Iya." Jawab Sinta singkat.


"Jabatannya apa?" Tanyanya lagi.


"Direktur utama." Jawab Sinta lagi singkat, sontak membuat Tria kaget.


"Hah! ah lo jangan ngasal deh Sin gue serius ini nanya nya." Ucapnya tak percaya.

__ADS_1


"Yaudah kalo gak percaya." Jawab Sinta cuek.


"Yaudah gue percaya, tapi kok bisa sih?" Tanyanya lagi yang membuat Sinta jengah.


"Ceritanya panjang." Jawab Sinta lagi-lagi singkat, "Lagian kenapa sih emangnya?" Lanjutnya lagi bertanya.


"Kalo emang bener gitu makin mudah dong gue masuk ke perusahaan nya." Ujarnya.


"Hah?" Tanya Sinta heran.


"Ahh kenapa sok kaget gitu sih kan dari pada capek-capek ngelamar kerja yang belum jelas mending langsung ke Boy aja."


"Emangnya dia udah jelas mau nerima kamu?" Tanya Sinta polos.


"Bagi nomornya dong." Ucapnya merebut ponsel Sinta tanpa menghiraukan pertanyaan Sinta.


Setelah dapat nomornya dia langsung menelpon nya. Awalnya dia menelpon tidak diangkat namun sampai ketiga kalinya barulah diangkat.


"Assalamualaikum." Sapa Boy dari sebrang telpon.


"Waalaikumsalam." Balas Tria.


"Siapa ya?" Tanya Boy to the point.


"Ini Tria Bang." Jawab Tria.


"Oh Tria,, ada apa Tri?" Tanyanya kembali.


"Abang bisa bantuin Tria gak?" Tanyanya sambil menatap Sinta yang juga menatap nya.


"Selagi bisa pasti aku bantu." Jawabnya seadanya.


"Jadi ku baru dateng kesini Bang mau nyari kerja, Abang bisa bantuin aku gak?" Tanya nya dengan nada memelas.


"Emm sebelum nya manggil saya pake Kak aja ya soalnya agak risih kamu manggilnya gitu, dan masalah kerjaan ya.. kamu dateng aja besok ke kantor bareng Sinta." Jelas Boy.


"Udah kamu datang seperti pegawai biasa saja." Jawab Boy santai.


"Maksudnya aku udah langsung keterima sebelum ngelamar gitu Kak?" tanyanya memastikan.


"Iya." Jawab Boy singkat.


"Ahh makasih banyak Kak, besok aku pasti dateng bareng Sinta." jawabnya.


"Iya,, masih ada lagi?"


"Em tidak ada Kak, kalau begitu maaf sudah mengganggu waktunya Assalamualaikum." Ucap Tria akhirnya.


"Waalaikumsalam." Jawab Boy lalu langsung memutuskan sambungan telpon.


"Sinnn!! gue langsung diterima loh astaga gak nyangka gue sumpah padahal baru beberapa jam gue disini, emang deh lo itu pembawa keberuntungan banget." Cerocos nya senang.


"Alhamdulillah kalo gitu kamu bisa langsung kerja, oh ya kamu mau ngekos disini aja gak? kalo iya biar kita temuin Ibu kos nya."


"Iyalah gue ngekos disini aja bareng lo, tapi emang masih ada kamar kosong?"


"Ada, itu yang paling sudut di sebelah kamar aku baru kosong kok."


"Benarkah? uhh memang keberuntungan selalu berpihak ke gue, yaudah yuk ke rumah Ibu kosnya, jauh gak?"


"Tuh." Sambil menunjuk rumah yang agak lumayan besar di samping kos'an Sinta.


"Yaudah yuk." Lanjutnya sambil menarik tangan Tria.

__ADS_1


Setelah mendapat ijin dari ibu kos Tria dan Sinta langsung kembali ke kos'an mereka.


Mereka pun membereskan kamar yang akan ditempati Tria. Setelah selesai Sinta langsung pamit kembali ke kamarnya karna belum melaksanakan sholat isya.


____


Keesokan harinya...


Tok.. tok.. tok..


"Masuk!" Seru Boy dari dalam ruangan nya.


"Assalamualaikum Pak." Sapa Sinta setelah masuk ruangan Boy, Boy yang sedang menatap Arif pun mengalihkan tatapan nya kearah Sinta.


"Waalaikumsalam.. ah Tria sudah datang." Balasnya yang melihat Tria di samping Sinta.


"Elo?!" Seru Arif.


"Elo?!" Seru Tria.


"Kalian saling kenal?" Tanya Boy heran, namun tak satupun dari mereka yang menjawab.


"Ngapain lo disini?" Tanya Arif dan Tria bersamaan yang semakin membuat Sinta dan Boy bingung.


"Kamu kenal Arif Tri?" Tanya Sinta akhirnya.


"Heh.. siapa juga yang gak kenal sama playboy cap kakap kayak dia." jawaYb Tria sambil menatap Arif sinis.


"Heh! lo ngatain gue playboy? lo ga sadar lo itu Udah jutek judes gak ada manis-manisnya sama sekali jadi cewek tau!" Balas Arif tak kalah sinis.


"Maksud lo apa!" Bentak Tria tak terima.


"Lo yang apa!" Balas Arif tak ingin kalah.


Boy dan Sinta pun dibuat semakin frustasi.


"Gini.. gini.. kalian tenang dulu oke, kita bicara bagus-bagus mari kalian duduk dulu." Ucap Boy berusaha melerai perkelahian tersebut. Sinta pun menuntun Tria agar duduk di sofa, sedangkan Boy sudah duduk bersama Arif sejak sebelum Sinta dan Tria masuk.


"Jadi menejer Arif.. ini Tria dia baru di kantor ini, dan Tria ini manajer Arif." Ujar Boy mencoba menenangkan keduanya yang masih saling bertatapan tajam.


'Hah! jadi dia menejer disini?' Batin Tria merasa tak percaya.


Arif yang mendengar ucapan Boy yang memperkenalkannya sebagai manajer pun menegakkan badannya sok menyombongkan diri di hadapan Tria.


"Jadi dia baru?" Tanya Arif meremehkan, dan diangguki oleh Boy.


"Oh ya Tria kamu sudah mulai bisa bekerja hari ini nanti Sinta yang akan menyampaikan tempat kamu dibagian mana dan nanti disana sudah ada yang akan menuntun kamu." Boy menjelaskan yang langsung diangguki Tria.


"Oh ya tadi kayak nya kalian berantem, kalian udah saling kenal?" Tanya Boy penasaran pada keduanya.


"Kita satu tempat kuliahan dulu Pak, dia adik kelas saya." Ucap Tria sopan.


"Oh ya? tapi kenapa reaksi kalian seperti sedang bertemu musuh?" Tanya Boy lagi.


"Dia cemburu karna gue selalu direbutin cewek- cewek di kampus " Jawab Arif sok cool.


"Hah? gue gak salah denger? gue cemburu sama lo? hello sorry ya.. bukannya elo yang suka godain gue dulu? dan saat gue bilang gak suka di deketin adik kelas? dan sejak saat itu lo suka ngerjain gue, lupa lo ha?! pake ngebalikin fakta lagi, sialan." Cerocos Tria emosi.


"Ha..ha.. ya gue emang seneng ngerjain lokarna lo itu cewek yang suka tebar pesona tapi sok jual mahal udah gitu judes lagi ihh amit- amit deh gue punya cewek kayak lo." Balas Arif tak kalah sengit sampai mengetok kepalanya dan meja sofa.


"Heh! lo pikir gue mau punya cowok kayak elo? sorry ya lo bukan tipe gue banget." Sambil melipat kedua tangannya di dada lalu mengalihkan wajahnya ke samping.


"Lo juga bukan tipe gue banget kali!" Balas Arif yang juga mengalihkan wajahnya ke samping.

__ADS_1


Hening..


Boy menatap Sinta menaikkan kedua alisnya seakan meminta penjelasan namun Sinta dengan cepat mengggeleng sambil mengangkat bahu nya pertanda dia juga tidak tau menau soal ini.


__ADS_2