Bukan Cinta Pertama

Bukan Cinta Pertama
Cerita sang Direktur utama


__ADS_3

Sudah satu bulan Sinta bekerja di perusahaan PT. Wibowo Group sebagai Sekretaris manajer yang tak lain adalah Boy sang mantan kekasih sewaktu SMA dulu. Mereka bekerja dengan profesional sebagaimana layaknya atasan dan bawahan.


Saat ini Sinta sedang mengerjakan pekerjaan nya di mejanya yang terletak di depan ruangan Boy (manajernya).


Tlilit.. tlilit.. tlilit..


Bunyi telpon di atas mejanya membuyarkan konsentrasinya, dengan cepat dia mengangkatnya.


"Assalamualaikum.." Sapanya.


"Waalaikumsalam.. Pak Boy nya ada?" Tanya seorang wanita yang menelpon dari sebrang sana.


"Ada Bu.. ada yang bisa saya bantu?" Sinta menjawab sambil bertanya.


"Tolong beritahukan pada manajer Boy bahwa Direktur Utama sedang menunggunya di ruangannya." Pesan orang yang di sebrang sana yang tak lain adalah Sekretaris Direktur Utama.


"Baik Bu akan saya sampaikan, ada lagi Bu?" Tanya Sinta lagi.


"Tidak hanya itu saja, kalau begitu saya tutup." Ujar sang penelpon sambil ingin mematikan sambungan namun tak jadi.


"Assalamualaikum Bu." Ucap Sinta mengingatkan.


"Eh iya waalaikumsalam." Jawab nya agak gelagapan.


Setelah sambungan mati Sinta langsung menuju ruangan Boy.


Tok.. tok.. tok..


"Masuk!" Seru orang dari dalam yang tak lain adalah Boy.


"Assalamualaikum pak.." Ucap Sinta seraya menunduk.

__ADS_1


"Waalaikumsalam Sinta, ada apa?" Tanyanya langsung to the point sambil menatap Sinta.


"Bapak sudah di tunggu Pak Direktur di ruangan nya." Sambil terus menunduk.


"Baik terimakasih, kamu boleh keluar." Ujarnya sambil menyimpan file yang tadi dikerjakannya di layar komputernya tadi.


"Assalamualaikum Pak.." Seraya mengangguk kan kepalanya tanda hormat.


"Waalaikumsalam." Jawab Boy tanpa melihat Sinta.


Sinta pun keluar dari ruangan Boy lalu kembali mengerjakan pekerjaannya.


Yah begitulah hari-hari yang mereka lewati selama sebulan ini. Namun di balik sifat cuek Boy itu ada perasaan lain yang di rasakan saat sedang sendirian atau sedang melamun.


Setelah selesai menyimpan file nya Boy langsung bergegas ke ruangan Direktur Utama.


Sesampainya di depan ruangan Direktur, Sekretaris Direktur langsung berdiri dan menyapa Boy.


"Permisi Pak.. manajer Boy sudah datang." Ujar sang Sekretaris pada sang Direktur yang sedang duduk di kursi kebesarannya membelakangi pintu.


"Kamu boleh keluar." Ujar Wibowo sang Direktur sambil membalikkan kursinya menghadap pintu.


"Baik Pak.. permisi." Sekretaris tersebut membungkukkan badannya dan di balas anggukan dari sang Direktur.


Seperginya Sekretaris nya Wibowo pun berdiri dan berjalan menuju sofa dekat meja kerjanya.


"Silahkan duduk Manajer Boy." Ujarnya mempersilahkan.


"Terimakasih Pak." Sambil mendudukkan pantatnya ke kursi yang bersebrangan dengan Wibowo.


"Jangan terlalu formal." Ucap Wibowa sambil tersenyum dan dibalas Boy dengan senyuman pula.

__ADS_1


"Ah iya.. saya memanggil kamu kesini karna saya ingin mengangkat kamu menjadi Wakil Direktur Nak Boy." Jelas Wibowo tentang maksud tujuannya memanggil Boy.


"Em.. maaf Pak sebelumnya tapi kan masih ada Ibu Sahara Istri Bapak selaku Wakil Direktur Pak." Jawab Boy dengan hati-hati.


Wibowo pun menghembuskan nafas panjangnya membuat Boy mengernyitkan dahinya bingung.


"Istri saya sudah saya suruh berhenti." Ujarnya kemudian terdiam.


"Maaf kalo boleh tau alasannya apa Pak?" Tanya Boy ingin tahu kenapa Sahara di suruh berhenti.


"Saya ingin dia mengurus putri kami satu- satunya.." Berhenti sejenak sambil menatap Boy yang semakin kebingungan, "Kamu pasti belum pernah bertemu dengannya karna memang dia selama ini belajar di Negeri orang yaitu di Amerika, saya pikir dengan dia belajar di Negeri orang dia akan menjadi anak kebanggaan saya dan saya sudah pernah berfikir untuk menjadikan dia sebagai pengganti saya mengurus perusahaan, namun.." Wibowo merasa sudah tak sanggup melanjutkan ceritanya.


"Kenapa Pak?" Tanya Boy terheran sambil menunggu cerita selanjutnya.


"Namun kini dia sudah menyelesaikan pendidikannya di Amerika dan telah kembali pulang ke rumah kami minggu lalu." Sambil menghembuskan nafas beratnya.


"Lalu apa Bapak akan menjadikan dia sebagai Direktur Utama selaku pengganti Bapak dan seperti yang Bapak bilang sebelumnya akan mengangkat saya sebagai Wakil Direktur tapi bagaimana dengan Bapak?" Tanya Boy mengeluarkan semua yang ada di otaknya.


"Awalnya saya akan menjadikan dia sebagai pengganti saya dan kamu sebagai wakilnya karna menurut saya umur saya sudah terlalu tua untuk mengurus perusahaan ini.." Berhenti sejenak, ".. namun dia menolak mentah-mentah permintaan saya." Lanjutnya lagi.


"Alasannya apa Pak?" Tanya Boy lagi.


"Alasannya dia bilang dia masih terlalu muda padahal dia itu seusia dengan Sekretaris barumu itu siapa namanya?" Tanya nya sambil mengingat-ngingat.


"Sinta Pak." Jawab Boy membantu mengingatkan.


"Iya itu.. malahan dia menyuruh saya memberikan kedudukan saya sama kekasihnya, ya jelas lah saya menolak karna saya sudah tau semua tentang kekasihnya itu, berulang kali saya meminta dia memutuskannya namun dia sama sekali tak mau mendengarkan saya..." Membuang nafas beratnya, "Saya bingung Nak Boy harus bagaimana lagi, maka dari itu saya meminta Istri saya berhenti bekerja agar fokus mengurus putri saya dan kamu bersedia kan menggantikan posisinya?" Tanya Wibowa serius.


"Tapi Pak.." Belum sempat Boy Melanjutkan.


"Saya tidak menerima penolakan." Potong Wibowo tegas.

__ADS_1


"Baiklah Pak saya bersedia." Pasrah Boy akhirnya dan dibalas senyuman oleh Wibowo.


__ADS_2