
Sudah setahun semenjak tragedi menghancurkan keluarga Wibowo,.
Sekarang Boy telah menjadi Direktur Utama dan sekarang dia juga tinggal di rumah Wibowo untuk merawat Sahara yang sudah dianggap nya sebagai Ibu nya sendiri. Dia juga pernah membawa Sahara ke kampung halamannya dan memperkenalkannya ke keluarga, ya walaupun Sahara masih belum sembuh dari depresi nya namun Boy selalu memperhatikannya dengan teliti.
****
Saat sedang fokus bekerja tiba-tiba pintu Boy diketuk
Tok.. tok.. tok..
"Masuk!" Tanpa mengalihkan pandangannya.
"Assalamualaikum Pak maaf mengganggu." Ujar Sinta.
"Waalaikumsalam.. ada apa Sinta?" Tanya nya masih belum mengalihkan pandangannya.
"Saya ingin meminta ijin Pak." Ujar Sinta hati- hati.
"Tunggu sebentar.. kamu duduk saja dulu ." Mempersilahkan duduk tanpa mengalihkan pandangannya.
"Terimakasih Pak." Sambil mendudukkan dirinya ke kursi yang bersebrangan dengan Boy.
"Baik kamu ingin bicara apa." Ucapnya setelah menyelesaikan ketikannya dan kini menatap wajah Sinta yang menundukdan ditutupi cadar.
"Saya ingin meminta ijin untuk cuti sekitar 2 hari Pak." Ujar Sinta mengutarakan maksudnya.
"Alasannya?" Tanya Boy singkat.
"Ayah saya sedang sakit Pak, saya ingin menjenguknya sebentar."
Ayah sakit? Sakit apa? ucap Boy dalam hati.
"Baiklah saya ijinkan." Ucapnya cepat sambil tersenyum.
Sinta yang mendengar pun langsung mendongak menatap Boy dan sempat melihat senyum manis Boy yang dulu sempat dikaguminya, sesaat kemudian dia kembali menundukkan kepalanya.
"Terimakasih banyak Pak, saya mohon undur diri." Ujarnya seraya berdiri dan membungkuk dan beranjak keluar.
"Sinta!." Panggil Boy sebelum Sinta membuka Pintu.
"Iya Pak?" Membalikkan badan.
"Emm.. kamu pergi naik apa?" Tanya nya agak ragu.
"Naik bus Pak."
__ADS_1
"Gimana kalo kamu diantar supir saya saja." Boy menawarkan.
"Emm tidak perlu Pak saya tidak mau merepotkan."
Oiya yah mana mungkin dia mau berduaan di dalam mobil sama laki-laki yang bukan marhomnya. Batin Boy.
"Emm baiklah." Ucap Boy akhirnya.
"Ada lagi Pak?" Tanya Sinta.
"Tidak, tidak ada kamu boleh pergi."
"Terimakasih Pak Assalamualaikum.."
"Waalaikumsalam."
Seperginya Sinta, Boy tidak kembali bekerja dia kepikiran tentang ayah Sinta yang sakit.
Ayah sakit apa ya?
Parah gak ya?
Jadi pengen jenguk
Gapapa gak ya kalo jenguk
Eh tapi kan niat nya baik buat jengukin calon mertua. Batin Boy lalu senyum-senyum sendiri.
Ya, dia memang masih menyimpan rasa pada Sinta namun dia tidak menunjukkan nya karna takut Sinta terganggu, dia hanya menunggu waktu yang tepat sekaligus memantapkan hati nya untuk melamar Sinta.
"Yaudah deh besok jengukin aja kali ya." Gumamnya, lalu beranjak keluar menuju rumah ingin mengecek keadaan Sahara.
____
Pukul 03.00 dini hari, Setelah menempuh 6 jam perjalanan akhirnya Sinta sampai di rumahnya yang sedarhana.
Karna masih sangat gelap dia tidak mengetok pintu rumahnya dan mencoba menghubungi Putri Adiknya yang sekarang duduk di bangku 2 SMA.
Sudah hampir ke 10 kalinya dia menelpon barulah diangkat.
"Halo." Suara serak khas bangun tidur dari sebrang telpon.
"Halo Put.. Kakak udah di depan nih bukain pintu dong."
"Ha iya-iya bentar." Sambil beranjak keluar.
__ADS_1
"Assalamualaikum Adek Kakak yang cantik." Sapa Sinta saat pintu dibuka.
"Waalaikumsalam." Jawab Putri cuek.
"Aduh duh.. jutek amat neng." Menggoda sang Adik.
"Bodo ah pengen bobok lagi, kunciin pintunya ya." Sambil menguap dan langsung masuk ke kamar, Sinta hanya menggeleng dan menutup pintu dan bergegas menuju kamarnya sendiri karna dia juga merasa lelah.
____
Sinta sedang menyuapi ayahnya makan siang di kamar sang Ayah bersama Putri namun Putri hanya sibuk dengan dunianya sendiri bermain Android nya.
"Makasih ya Nak, udah mau nyempatin pulang buat Ayah, Ayah kangen banget sama Sinta." Pinta sang Ayah setelah selesai makan.
"Sama- sama Yah lagian ini juga kewajiban Sinta sama Ayah Sinta juga kangenn
banget sama Ayah." Sambil tersenyum.
Putri yang sempat mendengar menatap sekilas dan mengendikkan bahu nya acuh dan kembali sibuk pada ponselnya.
"Oh iya gimana kerjaan kamu Nak?" Tanya sang Ayah.
"Alhamdulillah lancar Yah ini semua juga berkat doa Ayah sama Ibu."
"Syukurlah kalo gitu, Oiya kamu emangnya gak dimarahin ijin sama atasanmu?"
"Emm nggak kok yah Sinta uda dikasih ijin 2 hari sama atasan nya Sinta."
"Atasan kamu baik ya." Ucap sang Ayah yang memang tidak tahu siapa atasan anaknya.
Sinta tidak lagi menjawab ucapan Ayahnya dia hanya tersenyum menanggapinya.
"Yaudah Sinta antar ini ke dapur duku ya Yah." pinPta Sinta dan di balas anggukan Ayah nya.
Saat selesai mencuci piring Sinta ingin kembali ke kamar Ayahnya namun dia merasa agak ramai.
Dia mengernyitkan dahinya saat melihat ada seorang lelaki memakai baju kantoran duduk di samping ranjang ayahnya membelakangi pintu, dan di sampingnya sudah ada Ibunya Afni berdiri.
Saat Ibunya keluar dia bertanya.
"Itu siapa Bu yang datang?" Tanya Sinta penasaran
"Boy." Ujar Afni yang sontak membuat Sinta terpaku seketika tanpa berkedip.
Dia datang? batinnya
__ADS_1
"Hei.. kok malah bengong, udah sana buatin minum sama Nak Boy." Pinta Afni dan hanya diangguki Sinta dan langsung kembali menuju dapur tapi masih dengan keadaan heran.
Ngapain dia datang? Batinnya.