
Sekarang telah 5 bulan berlalu dan Boy pun sudah diangkat menjadi Wakil Direktur begitu pun dengan Sinta dia tetap ikut dengan sebagai sekretaris Wakil Direktur.
****
Pukul 01.24 dini hari masuklah seorang gadis ke rumahnya yang besar bak istana dengan sempoyongan setengah sadar karna terlalu banyak meminum alkohol.
Saat ingin menaiki anak tangga terdengar suara dari arah ruang tamu.
"Dari mana saja kamu jam segini baru pulang?" Ujarnya sambil melangkah ke arah Rani yang tak lain adalah Putri tunggal nya.
Rani yang tadinya ingin menaiki tangga refleks berhenti dan menengok ke arah sumber suara.
"Papa apaan sih udah ah Rani ngantuk pengen tidur." Ujarnya malas ingin beranjak kembali menaiki tangga.
PLAK
Wibowo yang sudah dikuasai emosi pun sudah tak tahan lagi langsung menampar pipi putrinya dengan keras, sedangkan Rani yang tadinya juga ingin menaiki tangga tidak jadi.
"Papa apa-apaan sih kenapa malah nampar Rani, emangnya Rani salah apa?!" Membentak Wibowo.
"Salah apa kamu bilang? kamu itu harusnya mikir tidak seharusnya anak gadis pulang sampai selarut ini." Sahut Wibowo berteriak hingga suara nya menggema di seluruh ruangan sampai semua orang jadi terbangun.
"Kenapa? apa salahnya? biasanya juga aku pulang jam segini papa gak pernah permasalahin kenapa sekarang papa malah protes?!" Tak ingin kalah meneriaki sang papa.
PLAK
Wibowo yang semakin murka kembali menampar pipi Rani sangat keras hingga tersungkur ke lantai.
Sahara yang baru saja keluar kamar dan melihat putri nya terduduk di lantai langsung mendekatinya.
"Sayang kamu gak apa-apa kan? ayo sini Mama bantu berdiri." Ujar Sahara lembut namun di tepis Rani dengan kasar lalu langsung berdiri menatap Wibowo sinis dan beranjak keluar rumah.
"Mau kemana lagi kamu?!" Bentak Wibowo namun tak digubris Rani. Dia langsung keluar rumah dan kembali menaiki mobil sport nya yang baru saja di parkir kan beberapa menit yang lalu kini kembali melaju lagi.
Dia melajukan mobilnya ke jalan raya dengan kecepatan diatas rata- rata dengan keadaan emosi sekaligus masih setengah sadar.
Hingga dia tak sadar ada mobil truk dari samping yang juga melaju dengan kencang karena sang sopir sedang mengantuk dia pun tak melihat ada mobil yang akan melintas dan akhirnya tabrakan pun terjadi.
BRUKK...
Mobil Rani pun terguling l-guling ke samping, dia pun juga ikut berguling- guling di dalam mobil. Dan seketika mobilnya pun meledak dan terbakar yang di ikut membakar hanguskan seorang gadis.
***
Di kediaman Wibowo..
Wibowo dan Istrinya sedang duduk di ruang tamu.
Wibowo duduk di sofa sambil mengatur emosinya yang sempat memuncak, sedangkan Sahara terus mondar- mandir menghawatirkan Putrinya yang pergi dengan keadaan emosi.
Hingga suara telpon rumah membuyarkan kegiatan mereka, dengan cepat Sahar langsung menerima panggilan.
__ADS_1
"Halo." Ucap Sahara.
"Dengan kediaman Rani Putri Wibowo?" Tanya sang penelpon.
"Iya benar saya Mama nya, ada apa ya?" Tanya Sahara mulai was- was.
"Maaf Bu saya dari rumah sakit Kasih Bunda ingin memberitahukan bahwa Anak Ibu mengalami kecelakaan dan kami mohon maaf anak Ibu tidak dapat di selamatkan di karenakan meninggal di tempat, dan tubuhnya sudah hampir hangus terbakar." Ujar sang penelpon refleks membuat Sahara terjatuh lemas ke lantai sambil menangis.
Wibowo yang melihatnya pun menghampiri sang Istri dan mengambil alih telpon tetapi sabungannya sudah mati.
"Ada apa Ma? Mama kenapa?" Tanya Wibowo cemas melihat Istrinya.
"Rani Pa.. Rani." Ucapnya sambil terisak.
"Rani kenapa Ma?" Tanya nya semakin cemas.
"Rani kecelakaan dan..." Belum sempat dia melanjutkannya dia sudah tak sadarkan diri.
Wibowo pun panik dan langsung mengangkat tubuh Istrinya ke sofa dan membaringkannya.
"Bi! Bibi! tolong bawakan minyak angin!." Serunya pada pembantunya.
"Ini Tuan." Sambil menyerahkan botol minyak angin.
Wibowo pun mengambilnya lalu menggosok gosokkan ke hidung Sahara, dan tak berapa lama Sahara pun bangun dan kembali menangis.
"Rani.. Putriku.. hiks..hiks." Ucapnya si sela isakannya
"Rani kenapa Ma, bicara yang jelas." Ujar Wibowo.
Wibowo yang mendengar pernyataan Istrinya pun bagai di sambar petir dan merasa sesak di bagian dadanya dan ikut tak sadarkan diri.
Pembantu Wibowo pun panik dan berusaha keluar rumah mencari bantuan.
____
Akhirnya akibat kecelakaan tragis Rani membuat Ayahnya, Wibowo meninggal dunia karna serangan jantung sementara Sahara Ibunya mengalami depresi berat karna di tinggal dua orang yang disayanginya sekaligus.
Boy yang mendengar kabar ini pun juga merasa di sambar petir karna menurutnya Wibowo adalah orang yang sangat baik.
Sudah 3 hari semenjak kejadian itu dan sekarang Boy sedang berada di kediaman Wibowo ingin menjenguk Sahara yang mengalami depresi berat.
"Ibu sudah makan Bi?" Tanya Boy pada sang Pembantu.
"Belum Pak," Jawabnya.
"Ibu.. Ibu makan dulu ya biar Boy suapin gimana?" Sambil mengambil mangkuk berisi bubur di atas meja samping ranjang.
"Papa.. Rani..." ucap Sahara sambil terisak, Boy yang mendengarnya pun merasa iba.
"Nih Ibu makan dulu ya sedikit saja .." Sambil menyodorkan sendok berisi bubur.
__ADS_1
Sahara pun menerima nya dan memakannya dengan tatapan kosong.
Setelah selesai memberi makan Boy pun membaringkan Sahara dan menyuruhnya untuk tidur dan tak berapa lama Sahara pun terlelap.
Getaran ponsel nya membuyarkan lamunan nya dan dia pun mengernyitkan dahinya saat melihat nomor tak dikenal, akhirnya dia pun menjauh dari Sahara dan menerima telponnya.
"Halo?" Ucapnya dahulu.
"Dengan Boy?" Tanya sang penelpon.
"Iya betul saya sendiri, ini dengan Siapa?" Jawab nya seraya bertanya.
"Saya dari pengacaranya almarhum bapak Wibowo, bisa kita bertemu sebentar?" Sang penelpon kembali bertanya.
Boy pun semakin bingung dan pada akhirnya dia pun mengiyakan.
***
Di sebuah restoran Boy mencari-cari orang yang ingin di temuinya dan setelah melihatnya dia langsung menghampiri nya.
"Maaf membuat Anda menunggu." Ucapnya mengagetkan pengacara.
"Ah iya tidak masalah mari silahkan duduk." Mempersilahkan untuk duduk.
"Terima kasih." Sambil mendudukkan dirinya.
"Sebelumnya perkenalkan nama saya Rido Susena pengacara dari almarhum Bapak Wibowo." Seraya mengulurkan tangannya.
"Saya Boy." Menerima uluran Rido.
"Baiklah, maksud saya meminta Anda menemui Saya adalah karna ada pesan dari almarhum Bapak Wibowo sebelum dia meninggal dunia, ini silahkan di baca." Sambil menyodorkan sebuah map coklat yang berisi amplop dan di dalam amplop ada sebuah surat.
Dengan ragu-ragu Boy pun menerimanya dan mulai membaca isi dari surat tersebut yang berisi :
Assalamualaikum wr wb
Hai Nak Boy..
Jika kamu sudah membaca surat ini berarti saya sudah meninggal dunia.
Saya membuat surat ini hari ini karna merasa cemas tapi saya tidak tau apa yang saya cemaskan hanya saja saya merasa akan pergi meninggalkan dunia ini.
Saya sangat bangga pada Nak Boy karna semangat yang tinggi pada dirimu, Maka dari itu saya ingin memberikan seluruh harta yang saya punya kepada nak Boy.
Karna saya cuman punya seorang Putri tetapi saya yakin Putri saya tidak akan bisa mengelola perusahaan dengan baik maka dari itu saya ingin memberikan amanah ini pada Nak Boy.
Ingat! saya tidak menerima penolakan!
Jika saya nanti sudah pergi saya mohon tolong jaga Istri dan Putri saya karna hanya Nak Boy lah orang yang saya percayai.
Wassalamualaikum wr wb
__ADS_1
Yang terhormat,
Wibowo