
Selesai sarapan, Ayah dan Ibu Sinta beserta Boy menuju halaman belakang untuk berbincang- bincang, sedangkan Sinta mencuci piring- piring kotor bekas sarapan mereka.
"Oh ya Nak Boy gimana ceritanya Sinta bisa jadi atasan nya Nak Boy?." Tanya Ayah Sinta sambil memakan cemilan yang sempat dibuatkan Sinta tadi.
"Ohh itu Yah ceritanya, waktu itu Sinta ngelamar pekerjaan di kantor tempat Boy kerja dan saat itu Boy yang jadi menejernya dan kebetulan juga sekertaris nya boy baru aja ngundurin diri, makanya wakil direktur langsung nerima Sinta sebagai sekertaris nya Boy Yah, awalnya Boy juga kaget saat Sinta gak sengaja ngucapin namanya Boy karna Boy memang gak tau awalnya kalau yang ada di depan Boy itu Sinta Yah." Cerita Boy panjang lebar.
"Kayaknya jodoh ni." Goda Afni. Boy pun tersenyum malu sedangkan Ayah Sinta terkekeh.
"Jadi jabatan Nak Boy di perusahaan itu sebagai menejer?" Tanya Ayah Sinta lagi.
"Dulu nya sih Yah tapi sekarang Boy yang udah jadi pemilik perusahaan itu." Jawab Boy. Ayah Sinta pun mengernyit kan keningnya bingung begitu pun dengan Ibu Sinta.
"Jadi ceritanya pemilik perusahaan itu namanya pak Wibowo dan dia sudah meninggal karna serangan jantung gara-gara putri satu-satunya meninggal karna kecelakaan, dan dia pesan sama Boy buat lanjutin perusahaan nya dan juga menjaga Istrinya yang sekarang sedang sakit karna depresi berat akibat musibah yang menimpah keluarganya." jelTas Boy yang seakan mengerti kebingungan Ayah dan Ibu Sinta.
"Ohh jadi begitu ya,, berarti Nak Boy ini menurut Pak Wibowo itu sangatlah baik buktinya dia mau memberikan semua yang dia punya." Ujar Ibu Sinta dan hanya dibalas senyuman oleh Boy.
"Em.. sebenarnya Ayah Ibu, Boy mau nyampein sesuatu sama Ayah dan juga Ibu." Ucap Boy pelan sambil menunduk.
"Apa itu Nak Boy? katakan saja kita bakalan dengerin kok iyakan Yah?" Tanya Ibu Sinta sekaligus menghilangkan gugup Boy yang sangat jelas terlihatnya.
"Jadi Ayah Ibu sebenarnya Boy ada rencana buat lamar Sinta tapi Boy takut Sinta nolak Boy, menurut Ayah Ibu gimana?" Jelas Boy sekaligus bertanya saran. Ayah dan Ibu Sinta pun tersenyum mendengar pernyataan Boy.
"Kenapa kamu takut dia nolak kamu bukan kah kalian sudah lama kenal?" Tanya Ayah Sinta yang membuat Boy semakin gugup.
'Gimana ngasih tau nya ya?
Nanti kalo jujur takut Sinta marah
Tapi kalo nggak jujur juga dosa.' Boy membatin sambil melamun.
"Nak Boy kenapa malah melamun?" Ucap Ibu Sinta membuyarkan lamunan Boy.
"Em.. sebenarnya Ayah Ibu, Boy sama Sinta itu udah lama putus semenjak Boy pergi kita udah memutuskan hubungan dan mulai dari saat itu juga Boy sama Sinta gak pernah kontek'an sama sekali sampai akhirnya kami dipertemukan saat ini." Jelas Boy terpaksa jujur.
"Jadi selama ini Sinta bohong sama Ibu?" Tanya Ibu Sinta tak percaya dan dibalas anggukan perlahan oleh Boy.
"Jadi kenapa sekarang Nak Boy pengen nikahin Sinta?" Tanya Ayah Sinta to the point yang membuat Boy semakin gugup.
"Saya gak tau kenapa Ayah, tapi saya merasa ada kehangatan dalam diri Sinta saat saya menatapnya ya walaupun saya gak tau apakah Sinta masih punya perasaan sama saya atau malah sebaliknya dia benci sama saya." Jelas Boy panjang lebar.
"Saya kenal putri saya, dia tidak mau membenci orang lain tapi saya juga tidak tau apakah Sinta mau dilamar oleh Nak Boy." Ujar Ayah Sinta membuat Boy merasa semakin kecil.
"Iya Nak Boy karna semenjak Nak Boy pergi Sinta udah jarang curhat sama Ibu, dia semakin pendiam dan tertutup." Ibu Sinta menimpali.
__ADS_1
"Tapi menurut Ayah, kalau Nak Boy memang mencintai nya perjuangkan lah hatinya dengan tidak pernah mengecewakan nya dan Ayah yakin kalau dia sudah merasa kamu laki-laki yang baik dia akan menerima lamaran mu." Saran Ayah Sinta.
"Saya janji Ayah Ibu daya tidak akan mengecewakan nya dan insyaallah saya akan memperjuangkan hatinya untuk saya, tapi..i.. apakah dengan ini saya sudah mendapat restu dari Ayah dan Ibu?" Tanya Boy ragu-ragu. Ayah dan Ibu Sinta pun tersenyum.
"Kami akan merestui nya jika Sinta juga menerima nya." Jawab Ayah Sinta enteng sedangkan Boy dia bernafas lega.
Sinta telah selesai mencuci Piring, dia berdiri di pintu sambil mmemandangi Ayah Ibu nya dan Boy sedang berbicara serius tapi dia tidak mendengarnya karna jaraknya yang lumayan jauh.
"Sinta!" Panggil Ibunya yang ternyata melihatnya.
Sinta pun bergegas menemui Ibunya yang disitu masih ada Ayah dan Boy juga.
"Ada apa Ibu?" Tanya Sinta saat sudah sampai di depan Ibunya.
"Tidak ada, kamu sudah siap cuci piring nya Nak?" Tanya Ibu Sinta basa- basi.
"Sudah Bu." Jawab Sinta singkat.
"Nanti kamu balik nya bareng Nak Boy aja ya, gapapa kan Nak Boy?" Ujar Ibu Sinta sambil bertanya pada Boy, dia sengaja ingin mempermudah niat baik Boy.
Tlilit.. Tlilit.. Tlilit..
Ponsel Boy berdering sebelum dia menjawab pertanyaan Ibu Sinta. Di lihatnya nama yang tertera di ponselnya 'Arif' Adik bungsunya.
"Assalamualaikum Rif ada apa?" Tanya Boy to the point.
"Lo dimana?" Bukannya menjawab dia malah balik bertanya dan salam Boy pun tak dibalasnya membuat Boy berdecih kesal. Sinta dan Ayah Ibunya pun bingung melihatnya.
"Memang nya kenapa?" Bukannya menjawab Boy malah balik bertanya juga.
"Lo apa-apaan sih gue nanya lo malah balik nanya." Ujar Arif kesal.
"Gue di rumah nya Sinta, kenapa?" Jawab Boy sekaligus bertanya, Sinta yang mendengar nama disebut pun menatap ke arah Boy namun hanya sebentar di langsung kembali menunduk.
"Sinta mantan lo yang waktu SMA dulu, iya?" Tanya Arif memastikan.
"Hmm." Jawab Boy berdehem.
"Kok bisa?" Tanya Arif heran.
"Ya bisalah, lo mau ngapain nelpon?" Tanyanya langsung malas berbasa basi dengan adiknya.
"Temen gue kemaren liat lo --" Ucapan Arif terpotong
__ADS_1
"Trus?" Tanya Boy memotong.
"Dengerin dulu kenapa sih." Arif berdecak kesal.
"Hm." Balas Boy singkat.
"Gue ikut lo dong Bang, kasih gue kerjaan gue males disini di ceramahin mulu saya BoNyok." Keluh Arif sudah memakai panggilan 'Abang' yang menurut Boy itu sangat langka.
"Lo yakin mau ikut gue?" Tanya Boy memastikan.
"Iya gue yakin." Jawab Arif mantap.
"Oke kalo gitu lo tunggu di rumah biar gue yang jemput." finish Boy tak mau berlama-lama.
"Oke Bang gue tunggu." Ucap Arif lalu langsung memutuskan panggilan tanpa mau mendengar jawaban Boy.
Setelah selesai menerima telpon dia kembali meletakkan ponselnya diatas meja lalu mengingat pembahas terakhir mereka.
"Oh iya tadi Ibu bilang Sinta gapapa balik bareng saya? Kalau saya sih gapapa Bu, saya takutnya Sinta nya yang gak mau." Jawab Boy.
"Oh iya Sinta lagian kita gak berdua kok, ada Arif yang bakal ikut, kamu masih ingat Arif kan?" lanjut Boy lagi.
"Iya Kak aku ingat." Jawab Sinta seadanya.
"Sinta.. Ibu lebih tenang kalau kamu perginya sama Boy daripada harus naik bus Nak." Ujar Ibu Sinta seraya memegang bahu putrinya.
"Baiklah Bu, Sinta akan balik bareng Kak Boy." Pasrah Sinta karna jika dia menolak pun pasti tidak bisa.
"Oh ya Ayah Ibu, Boy kayaknya makan siang di rumah Boy aja deh karna sekalian mau jemput Arif dulu." Ucap Boy seraya berdiri.
"Kamu mau pergi sekarang?" Tanya Ibu Sinta melihat pergerakan Boy.
"Iya Bu, soalnya kan dari sini ke rumah lumayan jauh makanya saya berangkat dari sekarang biar cepet." Jelas Boy.
"Baik, hati-hati Nak Boy." Ujar Ayah Sinta.
"Iya Ayah kalau gitu saya pamit." Seraya menyalami tangan Ayah dan Ibu Sinta.
"Sinta saya pamit dulu nanti saya akan balik lagi." Ujarnya pada Sinta.
"Iya Kak hati-hati." Seraya menunduk Boy pun merasa senang jika diperhatikan oleh Sinta.
Setelah berpamitan dia pun bergegas ke rumah nya menjemput Arif sekalian mengunjungi orang tuanya.
__ADS_1