Bukan Cinta Pertama

Bukan Cinta Pertama
Khawatir plus kesal


__ADS_3

Setelah Boy benar-benar masuk ke dalam kamarnya, Wijaya lantas membawa Istrinya itu masuk ke dalam kamar lalu menenangkan nya. Sedangkan Boy yang masih dalam pengaruh alkohol langsung tidur setelah sempat ribut dengan Ayah dan Ibunya.


__________


Sedangkan Sinta masih saja menunggu kabar dari Boy dan sesekali menghubungi Boy namun tidak diangkat malahan sekarang nomornya sudah tidak aktif, dan itu justru menambah kekhawatiran nya.


"Ih.. kenapa sih ini orang tadi gak diangkat dan sekarang malah gak aktif, apa dia sengaja mematikan nomornya agar aku tidak bisa menghubunginya? apa dia sudah balik ke kos nya? atau masih di rumahnya? ah tapi tidak mungkin besokkan sekolah jadi dia pasti sudah pulang dan kelelahan lalu ketiduran." Gerutu Sinta Kesal, dia kesal karna berasumsi sendiri mengetahui kebenarannya tapi dia sangat juga khawatir dengan keadaan Boy.


"... tapi kan seharusnya dia menghubungi ku dulu supaya aku tidak kesal plus khawatir gini,, lihat saja besok aku akan memberinya pelajaran." Sambung Sinta lalu membaringkan tubuhnya atas ke ranjang.


Sampai akhirnya dia tertidur karna kelelahan menunggu kabar dari Boy.


*****


Pagi telah tiba, Sinta sudah menyeselesaikan sholat subuhnya dan sekarang ingin bersiap- siap untuk pergi ke sekolah namun sebelum bersiap- siap, dia menyempatkan diri untuk mengecek ponselnya terlebih dahulu namun ternyata masih belum ada kabar dari Boy. Sinta hanya menghela nafas panjang lalu beranjak untuk bersiap-siap.


Setelah selesai bersiap-siap, Sinta berpamitan kepada orang tuanya saat Tria sudah datang menjemput nyadan mereka pun segera berangkat ke Sekolah.


________


Sedangkan di rumah Boy, matahari sudah lama mmuncul namun dia baru saja bangun.


Perlahan dia membuka matanya lalu memijat pelipisnya kasar karna merasa sedikit berdenyut dan pusing juga menjadi satu.


"Aih.. sakit sekali kepalaku.. mungkin karna terlalu banyak minum semalam." Keluh nya lalu ingin beranjak ke kamar mandi namun terhenti karna seseorang masuk ke dalam kamarnya.


"Boy sudah bangun nak?" tatnya seorang perempuan paruh baya yang tak lain adalah Ibunya.

__ADS_1


Boy hanya diam tidak ingin menanggapi nya bahkan enggan melihat ke arah Ibunya yang sedang berjalan ke arahnya.


"Gimana tidur mu? nyenyak?" Tanya Enni sambil duduk ke ranjang di samping Boy.


"Hmm." Hanya itulah yang keluar dari mulut Boy, dia sangat malas berbicara dengan Ibunya namun dia masih berusaha bersikap sopan, bagaimana pun wanita di sebelahnya itu adalah Wanita yang sudah melahirkan nya ke dunia ini.


"Oh iya nanti siang Ayah akan mengantarmu dan mencari kos'an yang baru.." Ucap Enni dengan raut wajah sedikit sedihnya, bukan karna Boy akan pindah kos'an namun karna Boy yang tak ingin melirik nya, seketika Boy langsung menatap Ibunya dengan tatapan seolah meminta penjelasan.


"Iya.. Ibu sudah memikirkannya dan Ibu gak mau kamu mabuk lagi seperti semalam." Jawab Enni yang seakan mengerti dengan tatapan Boy Sambil mengusap kepala Boy lembut.


"Udalah Bu, aku tidak ingin lagi kembali kesana besok aku akan mengambil barang- barangku dan.." Ucapan Boy terpotong karna Enni meletakkan telunjuknya di bibir Boy.


"Nak.. Tibu hanya ingin yang terbaik untukmu, dan Ibu ingin kali ini kamu jangan membantah." Ucap Enni lalu berdiri, sedangkan Boy dia hanya diam menatap Ibunya datar.


"... Kalau gitu kamu mandilah dulu ini sudah jam 10 lebih setelah itu kamu makan lalu berangkat dengan Ayahmu." Ujar Enni Sambil beranjak pergi keluar dari kamar Boy.


"Boy minta maaf ya Bu, Boy udah banyak salah sama Ibu Boy bener-beber nyesel Bu maafin Boy ya Bu." Ucapnya sambil memeluk erat Ibunya.


"Iya nak Ibu sudah maafin kamu kok sayang." Ucap Enni tersenyum lalu melepaskan pelukan Boy.


".. Sekarang kamu mandi gih." Suruh Enni yang langsung diangguki Boy.


Setelah Ibunya keluar dari kamarnya dia pun beranjak ke kamar mandi namun dia mengingat akan sesuatu hal.


"Astaga.. aku melupakannya pasti dia mengkhawatirkan ku. Ahh.. bodohnya." Ucapnya sambil mencari-cari keberadaan ponsel nya dan ternyata ada di atas ranjang, dia pun segera mengambilnya dan ingin menghidupkan nya, namn ternyata ponsel nya mati karna lobet.


"Aihh.. lobet lagi, gimana mau ngabari nya." Ucapnya lagi kesal.

__ADS_1


"Aku cas sajalah dulu nanti aku akan menghubunginya setelah mandi." Lanjut nya lagi.


Setelah selesai dengan mandinya Boy langsung keluar kamar menuju dapur karna merasa sangat lapar.


"Boy sudah siap?" Tanya Wijaya yang tiba- tiba muncul di meja makan saat Boy ingin memasukkan nasi ke mulutnya.


"Loh.. Ayah gak kerja? " Tanya Boy sambil melanjutkan makannya.


"Gaklah.. kan mau ngantar kamu." Jawab Wijaya sambil tersenyum dan duduk di kursi sebelah Boy.


Boy hanya manggut-manggut.


"Sudah selesai?" Tanya wijaya karna melihat piring Boy yang sudah bersih.


Boy pun mengangguk.


"... kita berangkat sekarang?" Tanya Wijaya lagi.


"Bentar Yah, Boy mau pamit dulu sama Ibu." Ucapnya lalu berdiri dan mencari Ibunya untuk berpamitan.


Setelah selesai berpamitan, Ibu Boy ikut mengantarkan Suami dan Anaknya ke depan rumah.


_


_


**Like, komen, vote😭

__ADS_1


Happy reading👂**


__ADS_2