BUKAN KEN AROK

BUKAN KEN AROK
Drama di Mall


__ADS_3

Malam ini terlihat begitu indah, bumi Singosari diterangi purnama yang bersinar terang ditambah kelap-kelip bintang menambah syahdunya malam.


Aku masih tidak bisa tidur walaupun sudah pukul satu dini hari, mungkin ini kebiasaan ku yang hanya bisa tidur menjelang pagi hari.


Ku lihat Umang yang tertidur pulas dengan menggunakan baju kebesarannya, yang sudah bertahun-tahun tidak ganti baju membuat hatiku trenyuh dan ingin membelikannya baju untuknya. Tapi uang darimana, dompetku saja di copet orang, padahal semua uang dan kartu kredit dan juga atm ada disana semua.


Apa aku harus menjadi perampok lagi, ya sudahlah terpaksa sepertinya emang itu jalan satu-satunya agar aku bisa membelikan baju Umang. Lagian cuma sekali ini saja, abis itu aku langsung tobat lagi deh.


Aku langsung bersiap-siap untuk melakukan operasi pekat malam, yang sudah lama aku tinggalkan.


Ku ambil sarung bertuah peninggalan ayah, dan aku langsung menghitung hari pasaran. Benar saja, sepertinya Dewi Fortuna sedang berpihak padaku, hari ini adalah hari baik untuk melakukan aksiku.


"Mau kemana Lang?" tanya Barra


"Biasalah mau cari duit," jawabku lirih


"Jangan bilang mau merampok lagi," delik Barra


"Lo kan tahu Bar, gue gak punya keahlian lagi selain merampok. Lagipula gue gak punya uang seperakpun, terus buat makan besok pakai apa, kasian kan Umang, masa dia datang jauh-jauh dari abad 12 ke abad 20 harus kelaparan dimari," keluhku


"Cari kerja yang halal dong, masa balik lagi jadi rampok, ingat-ingat pesan Ustadz Yahya, jangan sampai kamu kena adzab!" sahut Barra


"Gue gak bisa kerja yang lain Bar, lagian susah hari gini cari kerjaan halal. Lagipula cuma sekali ini doang kok, habis itu aku langsung tobat dan mencari kerja part time sambil kuliah," jawabku mengerlingkan mataku


"Terserah lo sajalah, tapi gue gak mau ikutan, aku jaga rumah saja." jawab Bara


"Ok Bar-bar, jagain Umang ya, jangan biarkan seekor nyamuk pun menggigitnya," ucapku sambil terkekeh


"Diih lebay!!" sahut Barra


Aku langsung pergi meningalkan rumah, dan segera mencari mangsa yang sesuai dengan petunjuk hari pasaran.


Janc*k!, kenapa rumah yang sesuai dengan perhitunganku adalah rumah Intan, pasti ada yang gak beres dengan Intan dan suaminya makanya langkah kakiku terhenti disini.


Tapi masa iya sih gue harus maling di rumah mantan gebetan gue sendiri, Astaghfirullah salah apa gue kenapa harus disini.

__ADS_1


Tapi walaupun dengan berat hati gue akhirnya tetap merampok rumah Intan juga dan yang paling membuat gue terkejut bukan kekayaan yang Intan miliki sekarang tapi suaminya.


Ketika aku melihat wajah suaminya yang terpasang di dinding tembok saat berpose dengan Intan, ia seperti seorang malaikat atau seorang ahli ibadah yang tidak lepas dari peci dan juga sorbannya.


Tapi begitu melihat ia yang terlelap di ruang tamu, aku seperti melihat aura seorang bandit kampung yang suka memeras anak-anak jalanan. Entahlah kenapa sekarang aku jadi seperti seorang dukun yang bisa membaca karakter seseorang hanya dengan melihat aura wajahnya saja.


Aku segera masuk kedalam kamar Intan dan mengambil uang serta perhiasan secukupnya. Setelah selesai aku langsung bergegas keluar dari kamar itu, tapi seseorang langsung menarikku, membuat aku kaget disertai denyut jantungku yang berdetak kencang.


"Pah, jangan pergi, jangan tinggalkan Bima, " ucap lelaki kecil itu dengan mata yang masih terpejam.


Aku sedikit lega ketika yang menarikku bukan Intan atau suaminya tapi Bima anak mereka yang sedang mengigau karena kangen dengan papahnya.


"Iya sayang papah akan temenin kamu bobo," aku langsung menggendong anak itu dan merebahkannya dikamarnya.


Kurang lebih tiga puluh menit aku menemaninya tidur, bahkan aku bisa merasakan pelukan anak itu yang begitu rindu dengan sosok ayahnya.


Setelah memastikan dia sudah terlelap aku langsung melepaskan pelukannya dan meninggalkan rumah itu.


Pagi harinya seperti biasa aku langsung membagikan separuh hasil rampokan ku kepada warga sekitar yang tidak mampu.


Dan aku berniat mengajak Umang ke sebuah Mall untuk membeli pakaian untuknya.


"Kamu pakai baju itu dulu sementara, nanti setelah kita beli pakaian baru kamu langsung buang aja tuh baju,"


"Baik Kanda," Umang langsung membuka bajunya didepanku


"Hadeeh, jangan ganti baju disini dong honey, kamu jangan memancing harimau yang sedang tertidur ya, bisa bahaya nanti," ucapku sembari keluar dari kamar dan menutup pintunya rapat-rapat.


"Dasar Umang selebor main buka-bukaan di depan gue, untung iman aku kuat, coba kalau gak bisa terjadi hal-hal yang diinginkan,"


"Tara, aku sudah selesai Kanda," ucap Umang keluar dengan menggunakan baju kasual membuatnya semakin terlihat cantik walaupun tanpa make up.


"Oh iya, Btw kamu jangan panggil aku Kanda lagi ya, gak enak banget dengernya, jadi kita tuh kesannya kaya pasangan era delapan puluhan padahal sekarang kan kita sudah ada di era milenial." pintaku lirih


"Bagaimana kalau aku panggil Kanda Honey saja," jawab Umang

__ADS_1


"That's good idea baby!" jawabku membuat Umang mengerutkan keningnya


"Kanda ngomong apa sih, aku gak ngerti," sahut Umang kebingungan


"Ups lupa kalau kamu itu dari abad ke 12 jadi tidak tahu bahasa Inggris," ledekku sambil terkekeh


"Itu artinya tidak masalah honey," jawabku lirih


"Ok honey, ayo jalan!" ucap Umang membuat aku terkekeh karena ia sekarang sudah bisa bahasa gaul.


"Kuy!" Aku menggandeng lengannya keluar meninggalkan ruangan itu.


Setibanya di mall aku langsung mengajaknya menuju stand baju wanita.


"Kau pilih saja baju mana yang kau suka, nanti biar babang Gilang yang bayarin," ucapku dengan sombongnya


Umang segera berlari menuju ke both gaun wanita, dan mencobanya.


"Bajunya kok aneh Kanda," ucap Umang


"Aneh gimana, kalau baju wanita jaman sekarang ya gitu honey, kecuali kalau kamu mau jadi penari ronggeng ya bajunya kaya baju kamu itu, sudah daripada lama mending aku saja yang pilihin baju buat kamu," aku langsung memilihkan beberapa baju untuk Umang coba di kamar ganti


"Sekarang kamu coba di kamar itu ya!" aku menunjuk ke arah kamar ganti yang ada disudut ruangan.


Umang segera menuju ke ruang itu sedangkan aku langsung kembali ke ruang tunggu.


Aku langsung terperanjat ketika mendengar suara gaduh di ruang ganti, perasaanku mulai gak tenang. Sepertinya terjadi sesuatu dengan Umang, benar saja ketika aku melongok ke arah ruang ganti Umang sedang melakukan adegan Jambak menjambak dengan perempuan lain disana. Aku langsung menerobos kerumunan pengunjung yang hanya melihat saja tanpa ada yang mau memisahkan mereka bahkan ada yang lebih parah lagi, yaitu memvideokan adegan itu untuk di upload ke sosmed, dasar warga 62 emang kebangetan nj*r.


"Stop, hentikan Umang!!" teriakku membuat keduanya langsung berhenti


"Ada apa sih, kenapa kalian berkelahi?" tanyaku sambil memegangi Umang yang ingin menghajar wanita itu.


"Hey Mas, ajarin pacar Mas itu budaya antri, jangan main masuk aja ke kamar ganti. Sudah tahu di dalam ada orang, malah main jambak mengusir aku keluar. Sudah jelas aku dulu yang ada di dalam, ehh malah dia datang sok jagoan lagi!!" cibir wanita itu


"Maaf ya Mbak, sekali lagi maaf. Mungkin karena pacar saya ini baru keluar dari karantina Pemilihan Putri Rimba, jadi maklumin saja kalau ia sedikit bar-bar," jawabku tersenyum simpul

__ADS_1


"Honey ayo minta maaf," bisikku membuat Umang langsung meminta maaf pada wanita itu.


"Good girl, jangan diulangi lagi ya Honey malu-maluin babang Gilang aja, udah ganteng gini jadi tontonan warga!!"


__ADS_2