
"Kau baru saja menerima tamu seorang dukun sakti dari Jakarta dan seorang rampok sakti yang tidak pernah gagal dalam menjalankan aksinya," ucap Ki Jarot membuat Parjiman dan Gardapati tercengang
"Jadi maksud Aki lelaki yang membayar hutang kepadaku tadi seorang rampok dan seorang dukun?" tanya Parjiman penasaran
Lelaki itu hanya mengangguk kemudian duduk di sebuah karpet yang sudah dipersiapkan untuknya.
"Apa kau sudah mempersiapkan sesaji untukku?" tanya Ki Jarot
Parjiman segera masuk kedalam kamarnya dan membawa sesaji yang sudah ia siapkan sebelumnya.
Lelaki tua itu kemudian membakar kemenyan, sembari tangannya menaburkan bunga setaman ke sebuah baskom yang sudah terisi air.
"Sekarang lihatlah!!" serunya membuat Parjiman dan Gardapati segera melihat kearah baskom itu. Keduanya langsung membelalakkan matanya ketika melihat aksi Gilang yang sedang merampok rumah Sundari istri kedua Parjiman.
"Bangs*t! ternyata dia membayar hutang-hutang Lik Suki dari hasil merampok rumahku!" Parjiman mengeratkan tangannya menahan amarah yang kini membuncah didadanya
"Apa yang merampok rumahku juga dia guru?" tanya Gardapati
Lelaki tua itu hanya mengangguk dan meneguk kopi hitam yang ada didepannya.
"Janc*k!, sebenarnya siapa dia kenapa dia mempunyai keberanian untuk merampok dirumahku!" ujar Gardapati tidak kalah kesalnya dengan Parjiman
"Dia adalah seorang yang tidak bisa diremehkan karena ia memiliki ajian sirep Megananda yang sangat langka, dan keahlian dalam merampok dia dapatkan dari leluhurnya. Bahkan lelaki itu juga memiliki ajian Waringin Sungsang sama sepertimu Gardapati. Memang secara ilmu kanuragan kau lebih unggul dari dia, tapi untuk ilmu kebatinan dia tidak bisa diremehkan, karena dia adalah murid dari Petapa sakti Aki Janitra," tutur Ki Jarot
"Pantas saja dia sangat sakti, tapi bukankah yang memiliki ajian sirep Megananda itu hanya Dhanu Waseso seorang garing legendaris yang mati secara misterius didalam penjara?" tanya Gardapati
"Benar, dan pemuda itu adalah anak angkatnya, Dhanu menurunkan semua ilmu garongnya kepada pemuda itu, sehingga jangan ditanya lagi keahliannya dalam merampok,"
"Sekarang aku minta padamu Aki, tolong bunuh dia. Berapapun biayanya pasti akan aku bayar!" ujar Parjiman
"Aku yakin kau bisa melawannya, apalagi guru adalah dukun tersakiti di Gunung Kawi, dan aku percaya Aki bisa mengalahkan pemuda itu." tambah Parjiman
Ki Jarot menghisap rokok linting ditangannya dan mengepulkan asapnya ke udara.
"Baiklah, aku akan membantu kalian membunuh anak itu, dan aku juga sedang mengincar kalung yang dimiliki olehnya!" jawab Ki Jarot
"Jadi apa saja yang Aki perlukan untuk menghadapi pemuda itu?" tanya Parjiman
"Siapkan saja kamar khusus untukku dan taruhlah sesaji disana!" perintah Ki Jarot
Parjiman kemudian mengosongkan sebuah kamar dan mengisinya dengan sesaji.
__ADS_1
"Kamarnya sudah siap Aki," ucap Parjiman
Ki Jarot kemudian mengajak keduanya untuk masuk kedalam kamar itu. Bau kemenyan mulai menyeruak ketika lelaki itu mulai membakar dupa dan membaca mantera untuk mengirimkan santet kelabang sewu ke rumah Gilang.
Sementara itu di kediaman Gilang.
"Kamu tidak tidur Ran?" tanyaku ketika Rangga menghampiriku di ruang tengah
"Aku tidak bisa tidur malam ini, suara burung gagak seakan memberikan pertanda tidak baik hingga membuat aku susah tidur," jawab Rangga
"Kok kita sama sih Ran, jangan-jangan kita jodoh," godaku membuat Rangga langsung menjauh dariku
"Jangan bercanda Lang, aku bisa merasakan kalau ada seseorang yang ingin mencelakakan kita," ucap Rangga serius
"Iya, aku juga tahu, bahkan suara hembusan angin dan rumput tetangga yang bergoyang sudah memberi isyarat padaku untuk berhati-hati malam ini. Aku harap tidak akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan malam ini,"
Hembusan angin malam dan suara burung gagak membuat suasana malam yang hening berubah mencekam.
"Sepertinya kita harus bersiap-siap menyambut tamu tak diundang yang sedang mengarah kesini!" Rangga langsung memejamkan matanya dan duduk bersila di depan pintu, tentu saja aku yang sudah mencium kedatangan ilmu hitam yang akan menyerang kami langsung duduk sila di samping Rangga.
*Wuushhh!!
Seseorang sepertinya sengaja mengirim santet kelabang sewu untuk memusnakan seisi rumah ini. Beruntungnya Rangga dengan sigap langsung mengembalikan santet itu kepada pemiliknya.
"Mamp*s lo!" teriak Rangga setelah melepaskan tenaga dalamnya untuk mengembalikkan santet itu kepada pemiliknya
Tidak berselang lama ubin lantai langsung terangkat semua seperti ada pergerakan lempengan bumi sehingga kontur tanah ikut bergerak seperti gempa.
"Lekaslah berkidung Gilang!" seru Rangga yang terlihat menahan sesuatu yang hendak menyerang kami.
Ku tarik nafas dalam-dalam mengumpulkan segenap tenaga dan memusatkan konsentrasi untuk mengalunkan kidung untuk mengusir segala makhluk gaib dan juga ilmu hitam bukanlah semudah yang dibayangkan.
Karena tingkat keberhasilan kidung ini tergantung lelaku dan niat orang yang berkidung tersebut.
🎵Ana kidung rumeksa ing wengi,
teguh ayu luputa ing lelara,
luputa bilahi kabeh,
jin setan datan purun,
__ADS_1
peneluhan tan ana wani,
miwah panggawe ala,
gunaning wong luput,
geni atemahan tirta,
maling adoh tan ana ngarah mring mami,
guna duduk pan sirna...🎵
Entah kenapa kali ini suaraku lebih nyaring dan merdu saat berkidung, biasanya terlalu berat untuk memulai menyanyikan bait pertama kidung ini, tapi kenapa malam ini terasa mudah dan ringan seperti semuanya dipermudah oleh Gusti Allah.
*Duarr!!!
Tiba-tiba saja Ki Jarot, Parjiman dan juga Gardapati merasa kaget dan terpental ketika terdengar suara letupan dari baki kemenyan yang menyembur mengeluarkan api.
Ki Jarot segara menggerakkan tangannya untuk menanggal santet kirimannya yang kini menyerangnya.
Lelaki itu berkali-kali berputar sembari menggerakkan tangannya seperti sedang melawan mahluk gaib.
Setelah cukup lama berduel dengan khodamnya sendiri akhirnya Ki Jarot berhasil juga mengalahkan mahluk gaib itu.
"Benar-benar tidak bisa dipercaya, dia malah mengembalikan santet Brojo dan juga kelabang sewu yang ku kirim," keluh Ki Karot sembari meneguk kopinya
"Sekarang aku minta satukan tenaga kalian, karena kita akan menyerang mereka sekali lagi, tapi bukan dengan santet," perintah Ki Jaroy
"Baik Aki," keduanya kemudian duduk bersila dan segera memejamkan matanya
Ki Jarot mengeluarkan suara keris dan menancapkannya ke diatas baki sesaji.
"Selama ini belum pernah ada yang mengalahkan diriku, jadi jangan salahkan aku jika harus menghabisi nyawa kalian malam ini juga!" seru Ki Jarot yang kemudian menyiramkan darah ayam cemani keatas keris pusakanya.
Tiba-tiba puluhan makhluk penunggu keris tersebut keluar memenuhi ruangan itu.
"Sekarang pergilah ke rumah Aki Janitra, dan bunuh semua orang yang ada disana!" titah Ki Jarot kepada puluhan lelembut itu.
"Bersiap-siaplah Gilang, serangan yang lebih dahsyat akan datang!" seru Rangga, ia berjalan keluar menuju halaman rumah.
"Sepertinya disini cukup luas untuk melawan para demit itu!" tambah Rangga
__ADS_1