
"Dasar anak maling!, kau sama saja dengan ayahmu. Memang buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, bapaknya maling, ya sudah pasti anaknya akan jadi maling!!" seru Sukiyem ketika mengetahui bahwa Uma Dewi ketahuan mencopet di terminal bus dan sempat dihakimi oleh warga
"Sampai kapan kau akan membuat aku terus menanggung malu karena perbuatan kamu itu, hari ini aku masih bisa menebus mu dikantor Polisi. Bagaimana kalau aku tidak punya uang dan tidak bisa menebus mu, kau pasti akan mati membusuk di penjara sama seperti ayahmu yang mati didalam penjara karena dianiyaya, apa kau mau seperti itu, jawab!!" hardik Sukiyem sambil menjambak rambut Uma
"Masih untung ada yang mau melamar kamu, menjadikan kamu istrinya eeh malah kamu tolak, sudah berapa kali kamu menolak setiap lamaran pria yang akan meminang kamu. Kamu pikir wanita yang paling cantik di desa ini, sehingga kamu selalu menolak setiap pria yang datang melamar. Ingat Uma hutang Bu Lik sudah terlalu banyak untuk biaya sekolah kamu dan juga untuk biaya menebus kamu di polisi sebanyak tiga kali. Kalau tidak segera dibayar mungkin sebentar lagi kita akan di usir dari gubuk ini. Karena aku sudah tidak punya apa-apa lagi untuk membayar hutang-hutang itu yang makin lama makin bertambah!" ucap Sukiyem semakin kesal
"Kenapa kamu diam saja hah!!, jawab jangan diam saja!" hardik Sukiyem
"Iya Lik, nanti aku pasti akan mencari uang untuk membayar hutang-hutang Bu Lik," jawab Uma
"Lagian uang yang kamu dapatkan dari hasil nyopet selama ini kemana, bahkan satu rupiah pun kau tidak memberiku uang hasil kerja kamu itu," balas Sukiyem
"Maaf Bu Lik, semua uang hasil aku nyopet selalu aku berikan kepada orang-orang yang tidak mampu," jawab Uma Dewi lirih
"Aish, lagaknya sudah kaya orang kaya saja bagi-bagi duit sama orang gak mampu, padahal sendirinya kere!, makan aja harus ngutang dulu baru bisa makan. Jadi orang itu jangan sok Uma, sebelum kau memperhatikan orang lain perhatikan dulu keluargamu, sebelum kau sedekah kepada orang lain sedekah dulu pada keluargamu, jangan sampai kau sedekah pada orang lain tapi keluarga kamu sendiri kelaparan,"
"Maafkan Uma Bu Lik, Insya Allah besok aku mau cari kerja yang halal buat melunasi hutang-hutang kita," jawab Uma
"Maaf saja tidak akan bisa untuk melunasi semua hutang-hutang kita, lagian kamu mau kerja apa yang bisa mengumpulkan uang sebanyak lima puluh juta dalam waktu sebulan, kecuali kamu jual diri baru bisa!" cibir Sukiyem
"Astaghfirullah Bu Lik, jangan ngomong seperti itu, tentu saja aku tidak akan mungkin melakukan pekerjaan haram itu, lebih baik aku jadi kuli kasar daripada harus jadi *****, " jawab Uma
"Terserah kamu sajalah, aku sudah pusing menghadapi rentenir yang selalu datang menagih hutang itu, pokoknya kalau dia datang lagi aku tidak mau menemuinya dan kamu yang harus menemui orang itu," Sukiyem langsung masuk kedalam kamarnya
"Ya Allah kenapa cobaan hidup aku berat sekali, bagaimana aku bisa membayar hutang sebanyak itu, andai saja aku bisa seperti bapak yang bisa menjadi perampok profesional, mungkin utang itu akan langsung lunas hanya dengan sekali rampok," Uma langsung menuju ke kamarnya dan menatap dompet hasil rampokannya.
"Sepertinya aku harus mengembalikan dompet ini kepada pemiliknya, kasian juga dia kalau harus mengurus semua dokumen-dokumen ini!" Uma kemudian merebahkan tubuhnya diatas ranjangnya yang sudah reot.
*Tok, tok, tok!!!
Tiba-tiba terdengar suara orang mengetuk pintu rumah dengan kerasnya, membuat Uma langsung keluar untuk membukakan pintu.
"Oh, ternyata di gubuk reyot ini ada seorang bidadari!" ucap lelaki tua itu sembari menyentuh pipi Uma membuat gadis itu segera menepisnya
"Kalau mau bertamu itu yang sopan atau aku akan mematahkan tanganmu!" ancam Uma membuat lelaki itu terkekeh mendengarnya
__ADS_1
"Kau tidak akan berani menyentuhku cah ayu!!" jawab lelaki itu
"Siapa bilang!" jawab Uma
**Buugghh!!
Uma langsung melayangkan tinjunya membuat lelaki itu meringis kesakaitan
"Sukiyem!!, keluar kamu, jangan sembunyi atau aku bakar rumah kamu!!" teriak lelaki itu
"Iya Ndoro ada apa," jawab Sukiyem langsung keluar dari kamarnya
"Siapa gadis itu, kenapa dia lancang sekali sampai berai memukulku!" tutur lelaki itu sembari memegangi pipinya
"Dia keponakanku Ndoro, maafkan dia ya, maklum dia kan belum kenal sama Ndoro, jadi seperti pepatah bilang tak kenal maka tak gampar eeh salah maksudnya tak sayang," jawab Sukiyem
"Baiklah, untung kau cantik jadi aku akan maafkan kamu," jawab lelaki itu
"Silahkan masuk Ndoro Parjiman," ajak Sukiyem
"Maaf Ndoro, saya belum punya uang untuk melunasinya, lagian hasil panen jagung kemarin kan sudah saya kasihkan Ndoro semua, kasih saya waktu satu bulan lagi, mudah-mudahan saya bisa mengumpulkan uang untuk membayar sisanya," jawab Sukiyem
"Kamu tidak akan bisa membayar hutang-hutang kamu itu Sukiyem, sudah beberapa kali aku memberikan kelonggaran pada kamu, tapi tetap saja kau tidak pernah melunasinya, begini saja aku punya solusi terbaik agar kamu bisa melunasi hutang-hutang kamu itu!" ucap Parjiman
"Apa itu Ndoro?" tanya Sukiyem
"Hutangmu akan aku anggap lunas asalkan keponakan kamu itu mau jadi istri aku yang ke tiga," ucap lelaki itu tersenyum kearah Uma
"Bagaimana?" tanya Parjiman
"Oh tentu saja kalau masalah itu harus saya bicarakan dulu dengan Uma, soalnya kan sudah gak jaman yang namanya kawin paksa itu Ndoro, nanti bisa dilaporkan ke Komnas perlindungan Perempuan," jawab Sukiyem
"Terserah, yang jelas kalau dalam waktu satu bulan kalian tidak bisa melunasi hutang-hutang itu maka Uma harus bersedia jadi istriku!" Parjiman kemudian langsung pergi meninggalkan kediaman Sukiyem bersama anak buahnya.
"Tuh kan kamu dengar sendiri Uma, kalau kita tidak bisa melunasi hutang-hutang kita maka kamu akan jadi istri ketiganya Parjiman, apa kamu mau?" tanya Sukiyem
__ADS_1
"Tentu saja aku tidak mau Bu Lik, andai saja saya bisa menemukan Mas Gilang, pasti dia akan menolong kita,"
"Gilang si rampok itu, sudahlah dia mungkin sudah mati, sudah hampir delapan tahun dia tidak pernah menjenguk kamu bukan. Lagipula kamu mending gak usah ketemu sama dia, nanti kamu malah diajarin jadi rampok sama dia!" Sukiyem langsung masuk lagi ke kamarnya
"Kamu dimana Mas, katanya kamu mau jagain aku, mau melindungi aku tapi kamu saja tidak pernah menemui aku. Uma butuh bantuan kamu Mas, " ucap Uma sambil terisak di kamarnya
***********
Sementara itu Gilang sedang menikmati makan malamnya bersama Ken Umang disebuah warung tenda.
**Uhukk!!!
"Kamu kenapa si honey?" tanya Umang sembari memberikan air putih pada Gilang
"Modus itu, biar bisa diperhatikan sama si Umang!!" celetuk Barra.
"Makanya kalau makan itu dikunyah Bambang, jangan langsung ditelan jadi kesel kan!" tambah Barra
"Berisik lo Bar, nyamber aja kaya kompor!" sahut Gilang
"Kamu ngomong sama siapa Kanda?" tanya Umang
"Sama si Barra, tuh yang ada disebelah kamu, emangnya kamu gak lihat?" tanya Gilang
"Oh, makhluk hitam berbulu kaya monyet itu!" jawab Umang
"Sembarangan kalau ngomong, orang ganteng gini dibilang mahluk hitam berbulu kaya monyet lagi benar-benar gak ada akhlak nih maklum jadi-jadian!" cibir Barra
"Kamu tuh yang mahluk jadi-jadian, aku ini manusia sungguhan!" jawab Umang tidak mau kalah
"Mana ada makhluk dari jaman purbakala masuk ke dunia modern, Lo itu gak jauh beda sama gue Umang, lo itu bukan manusia tapi arwah penasaran. Kalau lo manusia lo gak bakalan bisa lihat gue!" delik Barra
"Aku itu manusia normal, buktinya orang-orang pada bisa lihat wujud asli gue. Kalau pun aku bisa melihat kamu itu karena aku memiliki kekuatan supranatural sama seperti Kanda Gilang," sahut Umang dengan nada tinggi
"Stop jangan berantem, gue gak mau kalian berantem terus saling benci, karen benci itu sama dengan benih-benih cinta. Dan gue gak mau tumbuh benih-benih cinta diantara kalian, karena kalau itu sampai terjadi berarti lo udah nikung gue bar, gue gak rela sumpah. Jadi stop berantem sekarang maaf-maafan!" ujarku menyuruh Umang dan Barra bersalaman.
__ADS_1