BUKAN KEN AROK

BUKAN KEN AROK
Operasi Tengah Malam


__ADS_3

Malam ini aku berniat melancarkan aksiku di rumah Bandot Tua bernama Parjiman yang sudah memeras keluarga Uma. Tapi sebelumnya aku perlu menyelidiki dimana rumahnya.


Ternyata lelaki itu benar-benar orang penting di Singosari ini, karena merupakan adik dari camat Singosari. Bahkan rumahnya yang bak Istana berdiri megah tidak jauh dari alun-alun kota Singosari.


Sebelum pulang ke rumah aku sempatkan untuk menghitung hari pasaran untuk melakukan aksiku malam ini. Sebenarnya aku ingin sekali bertobat dari dunia rampok ini, dan hidup sebagai manusia biasa. Akan tetapi takdir membawaku kembali ke lembah hitam ini, aku terpaksa harus merampok lagi demi menyelamatkan Uma.


Ternyata menurut perhitunganku rumah Si Parjiman tidak bisa dijadikan mangsa malam ini, tapi rumah disebelahnya yang sesuai dengan perhitungan hari pasaran. Sekilas kedua rumah itu memang tidak jauh berbeda, sama-sama megah dan mewah. Dan aku baru tahu ternya rumah itu dalah rumah istri kedua Parjiman, sedangkan yang tidak bisa aku rampok adalah rumah istri tua lelaki itu.


Selesai dari alun-alun aku langsung pulang ke rumah, perutku yang sudah kelaparan langsung menuntunku ke meja makan.


"Honey kamu masak apa?" tanyaku ketika tiba di rumah


"Hmmm, kamu lihat aja semuanya sudah aku hidangkan di meja," jawab Umang mengajakku ke meja makan


"Anj*y, ini masakan sayur semuanya, lauknya mana honey?" tanyaku bingung manakala yang tersaji di atas meja makan hanya sayuran hijau.


"Tenang kanda, aku sudah memasak ayam bakar buat kamu," Umang segera bergegas ke dapur dan kembali lagi dengan membawa satu ekor ayam bakar.


"Wew, yummy!!" aku langsung menyantap sajian ayam bakarnya.


"Kamu pinter masak ternyata Dinda,"


"Iya dong kanda, kan ayam bakar makanan favorit kamu,"


"Oh gitu, yaudah ayo mabar jangan hanya ngeliatin aku makan aja,"


"Mabar itu apa kanda?"


"Makan bareng,"


"Oh makan bareng ya?"


"Yuhuu, sini aku suapin biar lebih romantis,"


"Iih kanda, malu ah," jawab Umang tersipu-sipu


Malam ini aku bersiap untuk melakukan aksiku yang sudah ke susun rapi.

__ADS_1


Kupersiapkan semua yang ku butuhkan untuk melancarkan aksiku lengkap dengan sesaji. Entahlah kenapa aku berpikiran kalau malam ini adalah malam terberat sepanjang sejarah hidupku.


Setelah selesai membaca Ajian sirep megananda, aku langsung masuk kedalam rumah mewah yang menjadi target operasi ku malam ini.


Aroma khas melati dan hio Cina begitu khas di rumah ini. Ternyata istri kedua ki Lurah adalah seorang penari Ronggeng. Tentu saja itu bisa aku lihat dari satu kamar yang berisi peralatan karawitan dan juga satu lemari penuh dengan baju-baju khas seorang penari ronggeng. Belum lagi foto-foto yang terpajang di dinding kamar.


Karena di kamar pertama tidak aku temukan harta benda aku beralih kekamar kedua, ternyata kamar ini bukan kamar sembarangan karena merupakan kamar pemujaan, aku bisa melihat dari sesaji yang ada disudut kamar dan juga hio Cina yang terpasang di depan kamar.


Aku menuju ke kamar ketiga yaitu kamar yang berada di tengah-tengah antara ruang pemujaan dan juga tempat peralatan ronggeng.


Seorang wanita tengah tertidur pulas diatas ranjangnya, aku berjalan perlahan agar tidak membangunkannya.


Kali ini aku harus mengambil lebih banyak uang agar bisa melunasi hutang-hutang Lik Suki. Tapi sayangnya pemilik rumah ini tidak banyak menyimpan uang tunai dan lebih memilih menyimpan perhiasan di dalam lemarinya. Tentu saja aku tidak bisa berbuat banyak selain mengambil perhiasan yang ada dan segera keluar dari kamar itu.


Setibanya di rumah aku langsung menghitung jumlah buang yang kudapat hari ini, ternyata cuma ada lima puluh juta. Itu berarti aku harus menjual semua perhiasan itu ke pasar agar bisa mendapatkan uang tunai, karena tidak mungkin aku membayar hutang dengan perhiasan emas yang akan membuat Parjiman curiga kepadaku.


Matahari mulai bersinar menyinari bumi Singosari, ketika Umang bangun aku langsung meminta tolong padanya untuk menemaniku ke menjual perhiasan-perhiasan hasil rampokan ku semalam.


"Ok kanda, aku akan membantumu tapi tunggu aku mandi dulu ya?"


"Ok," aku menunggu Umang mandi hingga tertidur di bangku ruang tamu.


Suara gebrakan meja mengagetkan aku, yang langsung terbangun ketika mendengar suara itu.


"Bangun woii!!" ucap seorang yang begitu familiar ditelingaku.


"Rangga!!" teriakku ketika melihat sosok dukun milenial yang begitu tampan


"Gilang!!" Rangga langsung memelukku seperti sepasang kekasih yang sedang melepaskan kerinduannya.


"Bagaimana kau bisa sampai ke sini Ran?" tanyaku penasaran


"Barra yang mengantarku kemari," jawab Rangga


"Pantas semalam aku tidak melihat dia, ternyata dia tour guide lo semalam?" tanyaku sambil terkekeh


"Yoi,"

__ADS_1


"Kanda, aku sudah siap!" seru Umang yang keluar dari kamarnya


"Aje gile, baru beberapa hari kau tinggal disini sudah punya istri aja, kapan kawinnya, kok gak ngundang-ngundang gue?" tanya Rangga


"Dia bukan bini gue Rangga, tapi pacar aku," jawabku sambil terkekeh


"Gila lo, masih pacaran sudah tinggal serumah, emangnya gak di razia sama Pak Rt?" tanya Rangga


"Mana ada yang berani merazia rumah Gilang si rampok budiman, yang ada mereka justru segan sama gue,"


"Oh gitu,"


"Yoyoy, yaudah aku tinggal dulu ya Ran, lo istirahat saja dulu, kalau mau makan pesen aja warteg sebelah, maklum Dinda Umang belum masak," ucapku sambil terkekeh


"Sue, kirain kalau mau makan tinggal ambil aja, eeh malah suruh beli sendiri!" cibir Rangga membuat aku semakin terkekeh.


Aku langsung menggandeng lengan Umang dan berjalan meninggalkan rumah menuju ke Pasar tradisional.


***********


"Apa!!, rumahmu kemalingan!!" seru Parjiman terkejut mendengar laporan Sundari istrinya


"Iya, semua perhiasanku raib. Dan sepertinya malingnya bukan orang sembarangan karena dia bekerja sangat rapih dan tidak meninggalkan jejak." sahut Sundari


"Tenang saja sayang aku pasti akan tahu siapa pencuri itu yang sudah berani mengacak-acak istanaku!" Parjiman segera keluar bersama anak buahnya menemui Gardapati yang tidak lain adalah kaki tangannya.


"Ada apa Ndoro datang menemui aku?" tanya Gardapati


"Aku ingin kau menegecek semua toko emas yang ada di Singosari ini, dan segera cari tahu siapa yang menjual emas dalam jumlah yang banyak hari ini. Aku tahu kau bisa melakukan tugas ini dengan baik karena kau memiliki banyak anak buah yang bisa kau ketahkan untuk mencari siapa pencuri yang sudah menjarah rumah Sundari semalam," papar Parjiman


"Jadi rumah Ndoro kemalingan juga, kebetulan rumahku juga kemarin mengalami hal yang sama, dirampok oleh seseorang yang begitu cerdik sehingga aku saja tidak bisa mengendus kedatangannya," jawab Gardapati


"Apa!!, bahkan dia juga bisa merampok rumah preman yang paling di takuti di Singosari!!" seru Parjiman tidak percaya


"Banar sekali Ndoro, aku juga penasaran dengan garong yang memiliki ilmu sirep tingkat dewa itu," sahut Gardapati


"Baiklah Garda, aku tunggu kabar baik darimu," Parjiman meningalkan Gardapati di markasnya.

__ADS_1


Sementara itu Gilang yang cerdik menjual perhiasannya sedikit demi sedikit di toko emas yang berbeda agar tidak terendus oleh polisi, bahkan ia juga menjual emas curiannya ke kampung sebelah hingga ke kota Malang untuk menghindari kejaran polisi.


__ADS_2