
"Keris Empu Gandring!" seru Rangga mengucek-ngucek matanya
"Kau benar-benar bukan Gilang!!" Rangga beringsut mundur menjauhi kami
"Katakanlah apa permintaanmu Akuwu?" ku ulangi pertanyaan itu sekali lagi
"Aku tahu kau terlahir sebagai ksatria yang memiliki kesaktian ilmu Kanuragan yang tak tertandingi, dan aku pasti kalah jika menghadapi mu dengan ilmu ku yang cuma seujung jari, untuk itulah aku menawarkan duel dengan menggunakan tangan kosong tanpa senjata dan tanpa Ajian?" ucap Bayu Segara
"Baiklah aku setuju!" Ku lempar keris Empu Gandring dan menancap disebuah pohon.
Rangga langsung berlari mendekati keris yang tertancap di pohon jati itu.
"Wah benar-benar keren, ini baru mahakarya agung seorang empu legendaris," Rangga berusaha mencabut keris itu berkali-kali namun selalu gagal.
"Anj*r kenapa susah sekali mencabutnya, padahal sudah ku gunakan semua kekuatanku, benar-benar bukan keris sembarangan," keluh Rangga yang kemudian duduk dan menyaksikan pertarungan sengit antara Gilang dan Bayu Segara.
"Kau sudah meremehkan aku Arok, kau tidak tahu bukan kalau aku ini terlahir sebagai seorang pelatih taekwondo di kampus," gumam Bayu Segara tersenyum sinis ke arahku yang jatuh tersungkur karena tendangannya.
Kini keduanya kembali saling serang untuk membuktikan siapa yang terbaik diantara mereka dan keluar sebagai seorang pemenang.
Dua kali pukulanku meleset tidak mengenai sasaran, Bayu hanya tersenyum mengejek seakan menunjukkan padaku bahwa aku bukanlah lawan berat untuknya. Tentu saja hal itu membuat aku semakin kesal dan menghujamkan tinjuku berkali-kali ke wajahnya akan tetapi hasilnya nihil, dan semua itu sia-sia saja hanya membuat aku kelelahan karena tenagaku terkuras habis untuk melakukan serangan yang tidak berarti.
Rupanya taktik memancing emosi yang dipakai Bayu sukses membuatnya berada diatas angin karena. Ia tertawa puas melihatku kelelahan dan seegera melancarkan serangannya kearahku
**Wushhh!!
**Braakkk!!!
Sebuah tendangan melesat menghantam tubuhku hingga jatuh aku sempoyongan dan menghantam pohon.
Bayu kembali melompat kearahku dan kembali melepaskan tendangannnya kearahku.
"Aaarrrggghh!!" burung-burung langsung berterbangan meninggalkan pepohonan ketika mendengar teriakanku
Masih belum puas melihatku yang sudah terkulai tidak berdaya, Bayu menyunggingkan senyumnya dan kemudian mengangkat tubuhku dan melemparnya ke batang pohon sengon terbesar disana.
__ADS_1
**Buuughh!!
Ku rasakan tubuhku benar-benar remuk, dan tulang-tulang ku seakan patah.
**Ting-ting!!
"Stop, waktunya istirahat dulu!!" seru Rangga berlari menghampiriku dan menghentikan Bayu yang akan melesatkan tinjunya kewajahku.
"Kamu jangan bodoh Gilang, aku tahu kekuatan beladirimu, kau bisa mati kalau melanjutkan pertarungan ini dengan tangan kosong. Sudahlah pakai kembali ajian saktimu untuk melawan manusia sadis itu. Aku rasa dia juga tahu kelemahan mu makanya ia meminta kau melawannya dengan tangan kosong," ucap Rangga sembari membantuku duduk
"Aku sudah tahu itu Ran, tapi biarkan kali ini aku menang dengan caraku sendiri. Dengan kekuatanku bukan karena bantuan jin ataupun ajian sakti milikku. Aku yakin setiap ilmu itu ada kelemahannya, dan sehebat apapun dia aku yakin bisa mengalahkannya."
"Ck, jangan sombong Lang ingat kau tidak punya basic ilmu taekwondo, yang lo punya itu ajian sakti dan kidung sakti. Bahkan kau kalah saat melawan Janaka apalagi melawan orang seperti dia. Menurut penglihatan ku dia itu seorang atlet taekwondo atau pelatih, karena gerakannya sangat rapih dan tidak terbaca," ucap Rangga
"Sotoy!!" jawabku enteng
"Kau lupa Lang, kalau aku ini seorang dukun yang bisa karakter orang atau profesinya hanya dengan melihat aura wajahnya, dan bukannya kemarin aku juga sudah bilang kalau kau tidak akan mati dalam pertempuran ini tapi hanya sekarat,"
Kali ini aku setuju dengan pendapat Rangga, dia memang dukun sakti yang sudah tidak diragukan lagi.
"Terus gue harus gimana?"
"Sekarang dengerin kata matan atlet Taekwondo, kau harus mengontrol emosi kamu, jangan terfokus untuk menjadi pemenang saat bertanding karena akan membebani kamu sendiri, sehingga kamu akan dengan mudah dikuasai oleh emosi. Lakukan yang terbaik untuk dirimu sendiri, persembahkan yang terbaik seolah-olah ini pertandingan terakhir kamu, ingat!!, jangan berharap menang!!" tutur Rangga seperti seorang pelatih sungguhan
"Baik suhu, aku akan melakukan semua yang suhu katakan, thanks sudah jadi penasehat dan juga penyemangat gue," jawab sambil terkekeh
"Suhu, suhu!!, emang muka gue kaya termometer makannya dipanggil suhu." ujar Rangga membuat aku terkekeh
"Jangan bercanda, serius!!" seru Rangga menoyor kepalaku
"Beraninya kau menyentuh kepala Raja Singosari, apa kau sudah bosan hidup anak muda!" aku berusaha berakting untuk menakut-nakuti Rangga
"Maaf Yang mulia," ucap Rangga membuatku menahan tawa
"Kirain Gilang sudah kembali normal, eh ternyata masih ketempelan," ucap Rangga lirih
__ADS_1
"Apa Kamu bilang!!" hardikku semakin geli melihat ekspresi wajah ketakutan Rangga
"Eehhh, gak papa kok, Ganbate!!" serunya sembari mengepalkan tangannya memberikan semangat kearahku
Kini aku kembali berdiri berhadapan dengan Bayu Segara, sekarang aku lebih memilih menerima serangan daripada menyerang terlebih dahulu.
"Serang gue bodoh!!" hardik Bayu Segara dengan mata memerah
"Gue sudah lemas Bay, sekarang hue pasrah aja, karena gue sudah tidak punya tenaga untuk menyerangmu lagi," ucapanku membuat Bayu tertawa mengejekku
"Dasar lemah!, ternyata cuma segitu kekuatan mu Ken Arok Raja Singosari, memalukan!, aku pikir kau lawan yang tangguh, tapi ternyata kau tidak lebih dari seorang pecundang!" hardik Bayu yang kini bersiap melesatkan pukulannya, dua kali strike dilancarkan olehnya dan aku berhasil menangkisnya.
Lelaki itu mulai meradang ketika semua serangannya berhasil aku patahkan.
"Brengsek!!, kau benar-benar meremehkan aku!" teriak Bayu sembari melepaskan tendangan high kick, segera ku bungkukkan tubuhku untuk menghindari tendangan high kick darinya.
Dan saatnya aku melesatkan tendangan ku, sengaja aku menendang dari samping hingga mengenai wajahnya hingga darah segar muncrat dari mulutnya.
Setelah berhasil, aku langsung melompat untuk melakukan teknik flying smashing elbow (menyikut sambil melompat) yang diarahkan ke kepala Bayu . Sikutan yang keras mampu membuat lelaki itu memekik keras dan tumbang seketika.
"Bagus Gilang, Lanjutkan!!!" teriak Rangga sembari melompat kegirangan
Aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan inj, sekarang saatnya melepaskan tendangan mautku ke dadanya.
***Bruuugghhh
Tubuh Bayu langsung roboh seketika ke tanah, aku langsung melesat mencabut keris Empu Gandring yang tertancap di pohon dan berniat menusukkannya ke tubuh Bayu Segara.
"Jangan Kanda!!, hentikan!!" teriak Umang yang berlari mendekatiku
"Jangan bunuh dia Kanda, kau jangan mengulangi kesalahanmu di masa lalu!" cegah Umang menurunkan keris yang ada di tanganku
"Tapi dia bukan suami Ken Dedes lagi Dinda!, dan aku membunuhnya dengan jantan karena kami berduel," belaku
"Berduel dengan tangan kosong kanda, bukan dengan senjata, aku mohon jangan bertindak tidak adil lagi. Jadilah ksatria sejati, yang mengampuni lawannya yang sudah tidak berdaya karena itu tidak akan mengurangi kharisma mu kanda," ucap Umang membuat ku sadar bahwa apa yang akan aku lakukan tadi adalah sebuah kesalahan.
__ADS_1
"Tentu Dinda," Aku langsung memeluknya yang selalu memperingatkan aku untuk menjadi seseorang yang lebih baik.
"Awas Kanda!!" seru Umang ketika melihat Bayu mengambil keris sakti Empu Gandring dan berniat menghujamkannya ke punggungku.