
"Bagaimana hasil semedi mu Ran?"
"Sepertinya susah mengeluarkan Ken Umang dari tubuh Uma, kalaupun aku bisa kita harus mengeluarkannya di hari wetonnya Uma, dan itu masih sekitar dua minggu lagi," jawab Rangga
"Memangnya tidak bisa dipercepat, aku kasian lihat Uma yang kelelahan karena setiap dia tidur Umang malah menggunakan tubuhnya untuk berbuat konyol,"
"Tidak bisa Lang, itupun aku belum tahu berhasil atau tidak,"
"Gimana Bar?"
"Kalau menurut penerawangan ku sebagai sesama mahluk astral, Umang tidak akan bisa keluar dari tubuh Uma. Karena mereka sebenarnya adalah satu jiwa hanya saja mereka berada dari dimensi berbeda. Dan aku yakin Umang akan berterima kasih dengan Uma nanti, karena dialah yang bisa membawa Umang kembali keasalnya," jawab Barra
"Bagaimana bisa begitu Bar?" tanyaku penasaran
"Kau akan menemukan jawabannya dua minggu lagi," jawab Barra membuatku kecewa
***********
Sementara itu Janaka mempersiapkan sebuah cincin untuk mengungkapkan perasaannya kepada Uma.
"Aku harus mengungkapkannya malam ini," Janaka berjalan mendekati kediaman Uma
*Tok, tok, tok!!
Uma segera keluar dan melihat siapa yang datang.
"Tumben, malam-malam datang pasti ada hal penting bukan?" tanya Uma
"Iya, aku ingin mengungkapkan sesuatu yang sangat penting malam ini," jawab Janaka
"Katakanlah,"
*Dreet, dret, drett!!
Janaka segera mengangkat ponselnya.
"Sebentar," ucap Janaka menjauh dari Uma
"Ada apa!"
"Bos, kita diminta oleh Bos Garda untuk menjemputnya di Bandara sekarang," jawab anak buah Janaka
Sial, kenapa Bos pulang disaat aku akan menyatakan perasaan ku pada Uma, gagal lagi kan ,
"Sepertinya aku mengatakannya lain kali saja, karena aku harus menjemput Bos Garda sekarang juga," ujar Janaka kecewa
"Ok, tidak masalah. Lagian kau bisa mengatakannya lewat telepon jadi gak usap repot-repot datang kemari,"
"Iya,"
"Tunggu!!" Uma segera berlari menghampiri Janaka
"Ada apa?" tanya Janaka penasaran
Uma segera mengambil jaket Janaka yang tergeletak di motornya dan memakaikannya.
"Kau harus pakai jaket kalau naik motor, ingat udara malam tidak baik untuk kesehatan. Jangan lupa makan yang banyak agar tetap sehat, karena kalau kamu sakit aku akan sedih," ucap Uma
"Benarkah kau akan sedih ketika aku sakit?" tanya Janaka berbinar-binar
"Tentu saja, karena kalau kau sakit tidak ada yang bisa aku sakit," jawab Uma sambil terkekeh
__ADS_1
"Isshh, kirain kau sedih beneran ternyata cuma bohongan," Janaka segera memakai helmnya
"Jangan ngambek dong Jak, tapi beneran aku sedih kalau kamu sakit karena tidak akan ada yang membantu aku lagi, gantian jagain Lik Suki, tidak ada yang menggangu pekerjaan ku. Kamu adalah satu-satunya sahabat terbaikku, jadi jangan sakit kamu harus tetap sehat supaya bisa terus membantuku, semangat!" ucap Uma membuat Janaka tersenyum tipis padanya
Jadi selama ini kau hanya menganggap ku hanya sebagai teman, padahal aku berharap kau bisa menyukai ku sama seperti aku yang selalu mencintaimu dari kecil sampai sekarang,
Janaka hanya bisa menelan ludahnya untuk menghilangkan rasa kecewanya ketika mengetahui bahwa Uma masih saja menganggapnya sebagai teman.
"Yaudah aku pulang dulu," Janaka berpamitan
"Iya, hati-hati!" Uma melambaikan tangannya kepada Janaka
**********
"Bagaimana?" tanya Parjiman
"Beres Bos, Jak sedang menuju ke mari untuk mengambil mobilnya," jawab anak buah Janaka
"Good, jangan lupa bawa dia muter-muter dulu untuk mengulur waktu, setelah itu bilang padanya kalau Garda batal pulang hari ini setelah ia sampai," ucap Parjiman
"Siap Bos,"
Parjiman segera memerintahkan kepada anak buahnya untuk segera mendatangi kediaman Uma.
*Braakkk!!
Uma terkejut ketika melihat beberapa orang berpakaian hitam dan menggunakan tutup kepala mendobrak rumahnya, mereka bahkan langsung menodongkan pisau di lehernya.
"Dimana kau menyimpan uangnya!" gertak penjahat itu
"Uang apa, aku tidak punya uang!" jawab Uma
Kanda, cepatlah datang. Aku tahu kau bisa mendengarkan suara hatiku!!
"Uang apa, aku tidak punya uang. Kau salah kalau merampok disini, aku orang miskin yang tidak punya apa-apa. Kalau kau mau merampok rampoklah Ndoro Parjiman orang terkaya di Singosari!" jawab Uma membuat lelaki itu marah dan langsung Menamparnya.
*Plaaakk!!!
"Awww, kenapa aku sekarang bisa merasakan sakit ditampar, sebenarnya apa yang terjadi padaku," ucap Umang kaget
"Kau beraninya menamparku!" seru Uma
Ia segera menghampiri lelaki itu dan melesatkan pukulannya.
*Buugghh!!
"Oh, sejak kapan aku jadi bisa beladiri," ucap Uma kaget
"Dasar jal*ang!!, beraninya kau memukulku!!" seorang lelaki langsung memukul Uma hingga ia sempoyongan dan hampir pingsan.
"Segera periksa kamarnya, cari uang itu!!" perintah laki-laki itu
Semuanya langsung menggeledah kamar Umang dan kamar Lik Suki.
"Percuma kalian geledah rumah ini, aku tidak punya uang!!" seru Uma
"Benar Bos, kami tidak menemukan apa-apa di kamarnya, tidak ada uang disana!" ucap seorang anak buah Parjiman
"Saya juga sama Bos," jawab yang lainnya
"Apa kau sudah menggunakan uang itu!!" gertak Parjiman
__ADS_1
"Uang apa!!"
"Uang yang Gilang curi dariku!!" hardik Parjiman, Uma yang ketakutan melihat lelaki itu langsung mengangguk.
"Iya, uang itu sudah aku bayarkan untuk biaya operasi Lik Suki," jawab Uma gemetar
Parjiman kemudian mengambil ponselnya dan menghubungi Bayu.
Ia sengaja keluar dari rumah agar Uma tidak mendengar ucapannya.
"Uma sudah memakai uang itu, terus bagaimana?" tanya Parjiman
"Kau tunggu saja disana, aku akan pura-pura menyelamatkan Uma," jawab Bayu
Tidak lama kemudian Bayu datang untuk menolong Uma. Ia langsung menghajar anak buah Parjiman dan semuanya lari tunggang langgang dari tempat itu.
"Kau tidak apa-apa Uma?" tanya Bayu
"Iya Pak, aku baik-baik saja. Bagaimana bapak tahu aku sedang di rampok?" tanya Uma
"Aku kebetulan lewat sini setelah mengunjungi rumah temanku di desa sebelah. Aku langsung menghentikan mobilku ketika melihat banyak orang memakai baju hitam-hitam dan memakai penutup kepala di depan rumahmu." jawab Bayu
"Terima kasih Pak, aku gak tahu apa jadinya jika bapak tidak datang menolongku," sahut Uma
"Sekarang lebih baik kau menginap di rumahku untuk sementara waktu. Aku merasa rumah ini tidak aman, apalagi pintunya rusak karena di dobrak. Besok baru aku akan mengantarmu pulang dan aku janji akan memperbaiki pintu rumahmu," ujar Bayu
"Baik pak," Uma segera mengikuti Bayu masuk kedalam mobilnya.
Kena kau Ken Umang, kau pikir bisa mengalahkan Bayi Segara.
Lelaki itu segera melesatkan mobilnya meningalkan rumah Uma.
Sementara itu Janaka merasa curiga ketika anak buahnya hanya mengajaknya berputar-putar di jalan raya bukan pergi ke Bandara.
"Hentikan mobilnya!!" seru Janaka
"Sebenarnya apa mau kalian, kenap tidak segera menuju ke Bandara tapi malah berputar-putar tidak jelas!!" hardik Janaka
"Sabar Bos, kita sedang mencari jalan ke Bandara," jawabnya gugup
"J*ncuk!!, bahkan anak kecil juga tahu kalau mau ke bandara itu tinggal lurus saja ikuti jalan arteri bukannya muter-muter jalan kampung!!" sahut Janaka memukul kepala anak buahnya
*Dret, dret, dreet!!
"Halo bos ada apa?" tanya anak buah Janaka mengangkat ponselnya
"....."
"Baik, bos," jawabnya sembari mematikan ponselnya.
"Bos Garda tidak jadi pulang malam ini, katanya pesawatnya delay sampai besok." ucap lelaki itu membuat Janaka curiga.
Benar-benar mencurigakan, tadi menyuruhku pulang menjemput Bos di bandara, terus aku cuma diajak muter-muter, dan sekarang malah gak jadi pulang, benar-benar aneh.
"Sejak kapan Bos Garda lebih memilih menelpon mu daripada aku!" Ia kemudian mengambil paksa ponselnya dan memastikan siapa yang menelpon anak buahnya.
"Parjiman!!" Janaka membelalakkan matanya ketika mengetahui bahwa Parjiman yang menelponnya.
Ia kemudian mengambil alih kemudi dan segera meluncur menuju ke rumah Uma.
"Beraninya kalian bersekongkol dengan Parjiman untuk menculik Uma!!" hardik Janaka ketika mendapati rumah Uma yang berantakan
__ADS_1