
Barra langsung menyambar tubuh Rangga dan membawanya pergi menjauh dari tempat itu begitu melihatku melesat sembari mengepalkan tanganku kearah makhluk-makhluk itu.
*Duaaarrr!!
Sebuah ledakan dahsyat bergemuruh membuat gelombang listrik yang maha kuat hingga membuat bumi bergetar dan pohon-pohon disekitar tumbang.
Kulihat mahluk-mahluk itu mati dan hancur menjadi debu.
"Busyeet!!, mantul banget!!" seru Rangga mengangkat tubuhku dan berputar-putar hingga kami berdua terjungkal ke tanah.
"Apa kalian sudah lupa dengan tujuan kalian datang kemari?" tanya Barra ketika melihat kami berdua tertawa terpingkal-pingkal
"Uma!!" kami berdua langsung bangkit, dan berlari menuju ke lapangan bola volley.
"Masih sama, belum ada tanda-tanda kehidupan," keluh Rangga
"Cobalah pakai kesaktian mu untuk menghancurkan pagar gaib itu," ucap Barra
"Pagar gaib yang digunakan berwarna emas yang berarti untuk menangkal, dan mengembalikan serangan yang akan diterima . Karena pada Pagar gaib jenis ini memiliki kekuatan menghancurkan dan mengembalikan kembali kepada pengirim apa Yang diterimanya tersebut. Jadi aku tidak bisa menyerangnya dengan Ajian sakti yang ku miliki, karena serangannya akan berbalik ke kita." jawabku
"Kau benar Lang, mungkin jalan satu-satunya yang bisa masuk dan menerobos ke rumah Bayu adalah orang biasa, yang tidak memiliki ilmu supranatural seperti kita. Ternyata Bayu benar-benar cerdas, dia tahu tidak akan menang melawan kita menggunakan kekuatannya. Oleh karena itu dia melawan kita menggunakan otaknya. Kita juga harus melawannya menggunakan tak-tik jitu, gunakan otak mu Lang jangan ototmu!" ujar Rangga
"Nah itulah kelemahan gue Ran, kalau masalah adu kekuatan gue jagonya tapi kalau masalah otak gue gak ada isinya,"
"Paling otaknya Gilang isinya cuma mesum gak jauh beda sama Lo Ran!" seru Barra
"Loh kok, kamu kok ngomong gitu Bar!!" cibirku
"Emang salah?" tanya Barra
"Gak sih, semuanya benar!" jawabku mengacungkan jempol padanya
"Itu mah berlaku buat Gilang aja, gue gak ya. Otak gue itu cerdas bahkan lebih cerdas dari Albert Einstein, so sekarang kalian berdua harus mengikuti strategi ku untuk melawan si Bayu Dosen jahat itu," tukas Rangga
__ADS_1
"Siapa Bos!!" seruku bersamaan
"Sekarang telpon Jak, suruh dia datang kemari dan tidak usah mengejar Parjiman ke Malang," tutur Rangga
"Tapi kalau Uma ada di sana bagaimana?"
"Tidak mungkin, Parjiman hanya sebagai pengalihan isu. Kalau Uma ada di sana tidak mungkin rumah Bayu Segara sampai di pasang pagar gaib berwarna emas, dia sudah ketakutan kau akan menghajarnya. Oleh karena itu dia melibatkan Parjiman sebagai kuda hitam agar kita tidak mengejarnya, apalagi kata Jak Parjiman juga yang menculik Uma. Dia sangat cerdas memakai Parjiman karena kita tahu bandot tua itu yang dulu mengejar-ngejar Uma untuk di jadikan istri ke tiganya. Sekarang kita fokuskan ke rumah Bayu Segara dulu, karena insting dukun gue bilang Uma ada di sini, setelah itu kita baru urus Parjiman. So buruan telpon Jak sebelum dia jauh." titah Rangga
Aku segera mengambil ponselku dan memberikannya kepada Rangga.
"Wew, kenapa gue juga yang nelpon dia!!" Rangga mengembalikan ponselku
"Gak diangkat Ran,"
"Huft, dasar payah!!, gue juga yang harus turun tangan!" cibir Rangga, matanya mendadak langsung melotot ketika melihat nama Janaka dalam ponselku
"What!!, Orang paling nyebelin!, parah Lo ngasih nama orang seganteng Jak seperti itu, wkwkw," Rangga terkekeh melihatnya
"Kenapa, masalah buat Lo?"
"Halo Lang, ada apa!" seru Janaka
"Lo gak usah ke markas Parjiman. Karena Uma ada di rumah Bayu, Lo harus segera menuju lokasi yang gue share, GC!"
"Ok, siap!!"
Sambil menunggu Janaka dan anak buahnya aku, Rangga dan Barra berdiskusi menyusun rencana untuk menyelamatkan Uma di atas pohon. Memang ide Rangga ada-ada saja, mengadakan diskusi di atas pohon padahal aku ingin sekali ngobrolnya di atas genteng tapi dia menolaknya dengan alasan lebih aman di atas pohon.
"Jadi setelah Janaka berhasil masuk ke rumah Bayu, Barra langsung membantunya dengan cara merasuki salah satu anak buah Jak. Kamu bertugas mengawasi mereka dari luar, aku akan mencoba membuka pagar gaib setelah Barra dan Jak masuk kedalam rumah itu,"
"Baik Ran,"
Dua puluh menit kemudian, Janaka dan anak buahnya sudah tiba. Mereka tampak kebingungan mencari kami yang berada di atas pohon.
__ADS_1
Kami langsung melompat dari pohon menghampiri Janaka dan anak buahnya.
"Astaga, aku kira kalian adalah setan. Lagian kenapa harus bersembunyi di pohon malam-malam seperti ini kaya Kuyang aja!" cibir Janaka
"Bukan kuyang Jak, itu hantu cewek. Kalau cowok namanya Suanggi!" jawab Rangga
"Terserah kalian saja, yang jelas aku harus gimana?" tanya Janaka
Coba kali lihat lapangan Volley dan pohon bambu kuning itu. Apa kau bisa lihat ada rumah diarea itu?" tanya Rangga
"Cuma orang buta yang gak bisa lihat rumah di samping lapangan bola volley yang di halamannya ditumbuhi pohon bambu kuning," ledek Janaka
"Sue Lo, pakai ngatain kita buta. Gue santet mati Lo!" gerutu Rangga
"Sorry Mbah, emangnya kalian gak bisa lihat rumah itu?" tanya Janaka penasaran
"Anj*r gue dipanggil Mbah, memangnya setua itukah aku??. Muka unyu-unyu gini masa dipanggil Mbah, benar-benar penghinaan," cibir Rangga membuat Janaka dan anak buahnya tertawa mendengarnya
"Kita gak bisa lihat karena memang rumah itu diberi pagar gaib, jadi hanya rakyat jelata yang bisa melihatnya, sedangkan orang sakti seperti kita tidak bisa melihatnya karena si Bayu takut dengan kita," jawabku lantang
"Diih sombongnya," sahut Janaka
"Yaudah, mendingan kamu masuk dan cari Uma di sana. Santuy Lo gak usah takut karena Barra akan membantu kamu menghadapi Bayu. Dan kami berdua akan memantau kamu dari sini. Kalau Lo sekiranya sudah merasakan tidak sanggup melawan Bayu berteriaklah tau lambaikan bendera putih, supaya aku bisa mengaktifkan mode off permainan gamenya, " ucap Rangga
"Janc*k!!, memangnya kau kira lagi main game pakai mode off segala, btw Barra itu siapa??. Bukannya kalian cuma berdua??" tanya Janaka
"Barra itu makhluk gaib peliharaan Gilang, makanya Lo harus hati-hati sama dia." bisik Rangga membuat Janaka mengernyitkan keningnya dan menatap aneh ke arahku
"Kenapa kiat-kiat, awas jangan lama-lama kalau menatap gue bisa jatuh cinta nanti," ledekku
"Diih najis, gue masih normal keles!" cibir Janaka. Ia berjalan menuju ke rumah Bayu.
Aku langsung memukul salah satu anak buah Janaka hingga pingsan, kemudian Barra segera memasuki tubuhnya.
__ADS_1
Sementara itu Rangga langsung bersemedi untuk mengikuti kemana perginya Janaka dan anak buahnya.