BUKAN KEN AROK

BUKAN KEN AROK
Jelous


__ADS_3

Ku buka perlahan-lahan mataku yang masih terasa berat, samar-samar kulihat seseorang tersenyum didepan ku.


"Bawa!!" seru Rangga sambil tersenyum simpul ke arahku


"Akhirnya kau bangun juga Lang, setelah pingsan selama dua hari," Rangga langsung memelukku erat


"Kangen, pengin petuk," ucap Barra menghampiriku


"Btw Uma dimana?" tanyaku pelan


"Ada di rumahnya," jawab Rangga


"Syukurlah,"


"Assalamualaikum," sapa Uma lembut


"Waalaikum salam,"


"Kamu kenapa Bar, mundur-mundur gitu," tanya Rangga


"Panas kalau dengar dukun jawab salam, wkwkwk," sahut Barra sambil terkekeh


"Sue Lo!!"


"Kalian bicara dengan siapa?" tanya Uma kaget


"Biasalah, sepupunya Gilang yang sudah jadi arwah penasaran suka datang kesini. Katanya sih mau jemput dia, tapi gak jadi karena Gilang masih Jomblo," bisik Rangga sambil terkekeh


"Duduklah, aku akan meninggalkan kalian supaya bisa ngobrol lebih santai," tambah Rangga meninggalkan tempat itu


"Terima kasih ka Rangga," jawab Uma


"Sama-sama Dek," jawab Rangga melambaikan tangannya kearahku


Tidak lama kemudian aku lihat Janaka datang ke ruang perawatanku, tapi sayangnya Rangga langsung menghadangnya agar tidak menggangu aku dengan Uma.


"Kenapa aku tidak boleh masuk Ran, kan aku cuma mau jenguk Gilang sebentar," cicit Janaka


"Sementara Gilang belum boleh di jenguk dulu, karena sedang di periksa oleh dokter, nanti tiga jam lagi baru bisa di jenguk," Rangga berusaha mendorong Janaka agar tidak bisa masuk ke dalam ruangan itu


"Tapi tadi aku lihat Uma masuk ke sana," sergah Janaka


"Pengecualian untuk wanita cantik boleh menjenguk karena bisa membawa aura positif yang bisa mempercepat proses penyembuhan Gilang, tapi khusus lelaki tidak boleh, aku juga tidak tahu kenapa dokter bilang seperti itu," bisik Rangga membuat Janaka yang penasaran terus berusaha untuk melihat kedalam ruang perawatan Gilang.


"Bagaimana keadaan Mas, apa sudah baikan?" tanya Uma pelan

__ADS_1


"Hmmm, sebenarnya sih belum, karena di dadaku masih sakit," sengaja ku buka dadaku agar Uma percaya setelah melihat bekas luka yang menghitam akibat pukulan Ajian Lebur Saketi milik Bayu.


"Pasti sakit sekali ya, maafkan Uma ya Mas. Gara-gara Uma Mas sampai terluka parah. Aku janji akan merawat Mas sampai sembuh, apalagi sekarang Lik Suki sudah sehat. Aku yakin dia akan mengijinkan aku untuk merawat Mas disini," ucap Uma membuatku berbunga-bunga


"Benarkah?"


"Iya, aku akan merawat Mas sampai sembuh," jawab Uma lagi


"Tapi apa tidak merepotkan,"


"Tidak, lagian kalau tidak ada Mas, aku pasti tidak akan bisa pulang,"


Sepertinya Uma benar-benar menepati janjinya, ia bahkan rela tidur di rumah sakit menemani aku. Kadang aku kasian padanya karena sudah dua hari ini ia terus menjagaku di rumah sakit walaupun kadang gantian dengan Rangga. Tapi bagaimanapun juga aku tidak bisa memungkiri keberadaan Uma di sisiku membuatku merasa senang. Dan aku mulai merasakan benih-benih cinta mulai tumbuh dan berkembang dalam hatiku.


*Tak, tak, tak!!


Seorang perawat masuk membawakan makan siang untukku.


"Silahkan makan siangnya," Perawat itu meletakkan makanannya di atas meja


"Terima kasih,"


"Sama-sama," ia kemudian pergi meninggalkan kami.


"Biar Uma yang siapin, tangan mas masih sakit kan?" Uma dengan cekatan menyuapiku membuatku merasa senang dan betah lama-lama berada di sini, walaupun sebenarnya aku sudah tidak sakit lagi tapi aku ingin terus berada di rumah sakit agar Uma selalu bersamaku, merawat ku, menjagaku, menyuapiku.


"Sekarang minum obatnya," ucap Uma membuatku tersadar dari lamunan, ia segera memberikan obat padaku.


"Sepertinya aku harus keluar sebentar untuk membeli sesuatu," ucap Uma


"Iya, silakan," Ia segera keluar dari kamarku


Dan aku bisa berjalan-jalan sebentar untuk melepaskan penat karena harus berakting pura-pura sakit didepan Uma. Walaupun sebenarnya aku sudah pulih dan sehat wal Afiat, tapi demi dekat dengan Uma aku harus terus berakting sakit aga ia terus menemani ku.


"Selamat siang Tuan Gilang, sepertinya anda sudah sehat?" tanya seorang dokter yang tiba-tiba masuk kedalam ruang perawatanku


"Iya, aku sudah sehat dok,"


"Apa dada mu sudah tidak sakit lagi?"


"Alhamdulillah sudah tidak, walaupun ada bekas hitam disini, tapi sudah tidak sakit lagi. Bahkan aku sudah bisa berlari lagi,"


"Apa kau sudah tidak mengalami sesak nafas lagi?"


"Masih, tapi cuma kalau ketemu orang yang aku cintai," ucapku lirih membuat dokter itu terkekeh mendengarnya

__ADS_1


"Aish, anda sedang terserang virus bucin rupanya, yasudah kalau begitu anda boleh pulang hari ini dan ini resepnya bisa ditebus sebelum pulang,"


"Terima kasih dokter,"


Ia tersenyum dan tersenyum meninggalkan aku.


"Hmmm, ternyata dia sudah boleh pulang rupanya. Tapi kenapa di setiap ada Uma dia selalu berpura-pura seolah-olah masih sakit. Tapi untungnya aku sudah merekam percakapannya dengan dokter itu, jadi dia tidak bisa memaksa Uma untuk tetap menjaganya di rumah sakit ini," ucap Janaka lirih


Ia langsung menyergap Uma ketika melihat gadis itu akan memasuki bangsal perawatanku.


"Apa kamu mau menginap disini lagi malam ini?" tanya Janaka


"Iya, aku akan menjaganya sampai dia benar-benar sembuh," jawab Uma


"Tapi dia sudah sembuh Uma, bahkan aku dengar tadi dokternya sudah memberikan izin kepadanya untuk pulang hari ini,"


"Ehemm!!" Rangga segera menghampiri mereka berdua yang sedang berbincang di Selasar


"Ada apa ini ribut-ribut disini?" tanya Rangga


"Akh, dia juga pasti sudah tahu kalau sebenarnya Gilang itu sudah sehat, dan boleh pulang hari ini, " jawab Janaka


"Masa sih, kok aku gak tahu," Rangga segera masuk kedalam menanyakan kepadaku


"Apa benar kau sudah noleh pulang hari ini?" tanya Rangga


"Ehh, sebenarnya aku belum sembuh, tapi karena aku kasihan sama Uma yang tiap hari harus merawatku disini, jadi aku terpaksa meminta pulang cepat pada dokter walaupun sebenarnya dokter bilang aku masih harus dirawat sehari lagi disini," aku berusaha berakting sebagus mungkin agar Uma percaya kalau aku benar-benar sakit.


"Jangan bohong, aku punya buktinya kalau dokter mengatakan bahwa kamu sudah sehat dan mengizinkan kamu pulang !" ancam Janaka


"Cepetan, keluarkan ajian Sirep Megananda milikmu dan hapus videonya," bisik Rangga


Aku langsung mengangguk dan merapalkan mantera ajian Sirep Megananda, hingga membuat merek langsung berjatuhan di lantai. Segera ku ambil ponsel milik Janaka, beruntungnya ponselnya tidak memakai kata sandi yang rumit sehingga aku bisa dengan mudah menghapus videonya, kemudian aku keluar sebentar dan masuk lagi ketika mereka sudah sadar.


"Hah, kenapa videonya tidak ada, pasti kamu memakai ajian sirepmu untuk menghapus videonya bukan?" hardik Janaka


"Sudahlah Jak, walaupun Mas Gilang sudah boleh pulang aku akan terus merawatnya sampai dia benar-benar kembali sehat, dan luka di dadanya bisa sembuh total, sekarang pulanglah, nanti Bos Garda marah kalau kau sering ke sini saat jam kerja," Janaka akhirnya menuruti perintah Uma dan pergi meninggalkan kami di antar oleh Uma.


"Kau pasti kesal bukan dengan Gilang?" tanya Parjiman menghampiri Janaka


"Aku bisa membantumu mendapatkan Uma dan menyingkirkan Gilang untuk selama-lamanya!" bisik Parjiman


"Bagaimana caranya?" tanya Janaka


"Berikan obat ini pada Uma, bilang padanya ini obat herbal yang akan menyembuhkan luka Gilang dengan cepat," tambah Parjiman

__ADS_1


"Apa ini racun?" tanya Janaka


"Tentu saja, dan orang yang meminum ini akan mati dalam waktu satu jam," jawab Parjiman meninggalkan Janaka


__ADS_2