BUKAN KEN AROK

BUKAN KEN AROK
Melepas Rindu


__ADS_3

"Bar, Umang dimana?" tanyaku sedih


"Umang pergi,"


"Kemana?"


"Ke hatimu, eeeaaa!!"


"Jangan bercanda deh, dimana dia Bar?" tanyaku lagi


"Jawab yang benar Bar, kasian dia lagi galau kehilangan orang yang dia cintai," jawab Rangga


"Dia pergi Lang, lagian kamu lama banget sih ninggalin dia, sampai seminggu gak pulang, gak ada kabar. Ingat cewek itu butuh kepastian, mskanya dia pergi dari rumah ini karena tidak ada kejelasan dari kamu," jawab Barra membuatku semakin sedih.


Kenapa Umang pergi disaat aku sudah mulai sayang dengannya.


"Sudahlah bro jangan sedih terus. Mati satu tumbuh seribu!" Rangga mencoba menghiburku


"Iya Bro, kan gak asyik kalau kamu itu punya pacar duluan sedangkan kita berdua masih jomblo, iya gak Ran?" ujar Barra membuatku semakin kesal


"Kamu kan udah pernah nikah Bar, jadi bisa ngomong kaya gitu, dan Rangga juga udah pacaran sama Yeni, lah gue seumur hidup belum pernah pacaran, masa baru ada cewek yang gue suka udah ditinggal sama dia, uwaaa!!"


"Dih lebay, makannya bagi lelaki sejati cinta bukan untuk dipendam dalam hati, tapi untuk dinyatakan dengan berani, halalkan dan nafkahi!!" ujar Barra seperti Mario Neduh


" Betul tuh kata si Bar-bar, tumben lo pinter Bar," sahut Rangga


"Iya harusnya gue ngomong sama Umang kalau gue tuh sayang sama dia, tapi aku terlalu nyaman dengan friend zone jadi ya, kaya gini deh. Nyesel gue sumpah,"


"Tukang cilok tukang mainan, ngopi dulu yuk teman-teman!" ucap Barra menarik lenganku


"Bener tuh, daripada galau gak jelas mending ngopi biar kita happy lagi," tambah Rangga menarikku masuk kedalam rumah.


Pagi mulai menjelang, ku lihat Rangga masih terlelap di ranjangnya. Aku langsung bergegas kekamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah rapi aku pergi menuju ke kampus untuk menyelesaikan skripsiku.


Hari ini benar-benar membosankan, mungkin karena seharian ini aku tidak melihat Umang membuatku sangat merindukan gadis aneh itu.

__ADS_1


Selain bosan, hari ini benar-benar membuatku gila, belum pernah aku merasakan begitu merindukan seseorang seperti ini. Bayangan Umang benar-benar menyiksaku, mau ngopi gak jadi gara-gara di cangkir ada mukanya Umang, gak tega gue mau minumnya.


Nonton Berita di TV tiba-tiba presenternya berubah jadi si Umang. Sampai mau boker aja Si Umang muncul di jeding ( bak mandi). Anj*r benar-benar parah tuh bocah ngikutin gue sampai ke toilet.


"Kanda, kaki kamu sakit ya?" tanya Umang


"Sotoy lo, bukan kaki gue yang sakit tapi hati gue yang sakit!"


"Jadi bisa jalan dong?" tanya Umang


"Bisalah, jangankan jalan marathon juga gue kuat!"


"Yaudah jalan yuk?" goda Umang membuat aku mupeng


"Nyok," gadis itu tertawa mendengar jawabanku dan berlari menghilang membuatku semakin geregetan.


Sekarang aku baru tahu alasannya kenaoa Dilan suka bilang jangan rindu karena rindu itu berat. Oh my God kenapa aku jadi begini.


"Ya Tuhan Jika Umang memang jodohku maka dekatkanlah dan jika dia bukan jodohku maka jauhkanlah,"


"Yaelah cengeng banget lo Lang, sekarang tuh gak jaman nunggu takdir, tapi yang bener tuh menjemput takdir. Mending daripada lo menghayal gak jelas disini, mendingan lo kejar Umang dan nyatakan perasaan lo," tutur Rangga


"Ke rumahnya lah, bila perlu lamar sekalian dia,"


"Rumahnya kan di Kerajaan Singosari, dan dia itu hidup di Abad ke 12, itu berarti kalau aku mau ketemu dengan dia harus melewati lorong waktu Ran,"


"No problem, lo kan sakti jadi aku yakin lo bisa menembus dimensi waktu, pakai kekuatanmu itu untuk menemui dia,"


"Tapi dia itu kan istrinya Ken Arok, masa aku harus jadi Pebinor sih, ogah ah aku gak mau yang bekas, aku mending cari yang ori aja,"


"Jangan salah Lang, Janda itu lebih berpengalaman dan mereka itu lebih HOT,"


"Tapi Umang belum janda, makanya aku dilema,"


"Yaudahlah lupain aja Umang lagian gak bagus merebut bini orang, tar lo kena Karma. Kasian banget lo Lang, sekali jatuh cinta sama istri orang,"


"Sekarang mending kita jalan-jalan yuk, masa selama gue di sini lo gak pernah ajak gue jalan-jalan. Padahal setahuku di Singosari ini banyak terdapat candi-candi peninggalan kerajaan Singosari. Kuy ajak gue kesana," pinta Rangga

__ADS_1


Aku langsung mengiyakan ajakan Rangga, dan siang itu juga kami berboncengan menuju ke Candi Singosari.


Setibanya disana bukannya disuguhi pemandangan indah Candi melainkan adegan pemalakan yang dilakukan oleh Janaka kepada para pedagang kaki lima disekitar Candi.


Tentu saja hal ini membuat gue berang, ternyata dia belum jera juga. Sepertinya gue harus kasih pelajaran dia supaya menjadi preman. Segera ku parkirkan motorku dan bergegas menghampiri Janaka.


Ku tarik lelaki itu dan ku lesatkan tinju kearahnya, tidak lupa tendangan maut juga ku lepaskan ke dagunya dan yang terakhir dengkulan ke ulu hatinya hingga lelaki itu tumbang seketika.


"Dengar Janaka, jika ku lihat sekali lagi kau memalak atau didepanku maka tidak akan ku biarkan kau hidup, aku akan membunuhmu dengan ajian Waringin Sungsang agar kau hancur bagaikan debu!" setelah mengancamnya aku menghempaskan tubuh lelaki itu hingga terjungkal ke tanah.


"Gila lo Lang, sadis bro!" ucap Rangga menepuk pundakku


Ku rangkul Rangga melangkah menuju ke area Candi. Setelah membeli tiket seharga lima ribu rupiah, kami segera mengisi buku tamu dan kemudian menikmati segarnya udara di kawasan itu.


Karena terletak diantara Gunung Tengger dan Gunung Arjuno membuat daerah ini sangat sejuk.


Setelah puas berswafoto kami melangkah masuk kedalam candi untuk melihat-lihat arca yang ada disana sembari belajar sejarah.


Ketika memasuki bagian dalam Candi kurasakan sesuatu yang aneh disana. Tiba-tiba saja relief-relief candi berubah menjadi dinding istana yang sangat megah dan tidak asing lagi. Ya Candi Singosari tiba-tiba berubah menjadi Istana kerajaan Singosari, ku cari Rangga disana tidak ada, yang ada hanyalah aku seorang diri.


"Rangga!!" aku terus mencarinya sembari memanggil-manggil namanya. Langkahku terhenti ketika melihat Umang sedang bersedih menatap kearah kaputren.


"Kau kenapa Dinda?" tanyaku menghampirinya


"Kanda kau lihat disana!" Umang menunjukkan seorang lelaki sedang bermain bersama seorang wanita dengan seorang anak balita.


Lelaki itu sangat mirip denganku, dan wanita itu sama dengan Intan.


"Apa dia Ken Arok dan Ken Dedes?" tanyaku penasaran


"Benar Kanda, dia sepertinya lebih peduli dengan Permaisurinya daripada seorang selir sepertiku, bawa aku pergi dari sini Kanda. Aku tidak mau hidup sebagai bayang-bayang Ken Dedes, aku ingin hidup bahagia bersamamu," Ken Umang menatapku membuat desiran-desiran yang membuatku tidak bisa berpaling darinya. Rasanya bagaikan tersengat listrik ketika gadis itu memelukku erat, membuat jantungku berdegup kencang.


Dibawah purnama kami masih saling berpelukan, melepaskan kerinduan yang begitu membuncah di hatiku.


"Bawa aku pergi Kanda, aku ingin menjadi milikmu seutuhnya,"


"Tapi Dinda, kau ditakdirkan bukan untukku. Kau adalah belahan Jiwa Ken Arok dan dia sangat mencintai dirimu walaupun ada Ken Dedes disampingnya, cintanya padamu tidak akan pernah luntur percayalah. Walaupun aku juga mencintaimu saat ini tapi aku tidak bisa mengambil milik orang lain, karena aku tidak mau melakukan kesalahan yang sama yanh dilakukan oleh Arok ketika merebut Ken Dedes dari Tunggul Ametung. Jika kamu percaya takdir, simpan dalam hati. Karena jika kau benar-benar belahan jiwaku maka suatu saat hati kita akan bertemu!" ucapku sembari melepaskan pelukannya.

__ADS_1


Aku tidak mau terlalu larut dalam suasana yang bisa membuatku menginginkan sesuatu yang lebih dari Umang, karena bagaimanapun juga aku adalah lelaki normal yang bisa saja tergoda dengan wanita secantik Umang. Aku segera menjauh darinya dan meninggalkannya pergi.


__ADS_2