BUKAN KEN AROK

BUKAN KEN AROK
Gardapati


__ADS_3

*Buughhh!!


"Astoge, kenapa tiba-tiba ada bintang-bintang diatas kepalaku padahal masih siang," aku memegangi kepalaku yang terasa pusing karena terkena tendangan Umang


"Kanda!!!, kenapa sih kamu malah melindungi penjahat itu!" seru Umang Kesal


"Bukan melindungi dia honey, tapi aku tidak mau dia melihat milikmu yang berharga, makannya lain kali jangan main tendang-tendangan, pukul aja kan bisa!" aku langsung jatuh terduduk di tanah untuk mengembalikan keadaanku yang oleng gara-gara terkena tendangan Umang.


Setelah aku merasakan keadaanku lumayan membaik aku segera membantu Umang yang sudah kehabisan tenaga melawan lelaki bertubuh kekal yang tidak lain adalah Gardapati suami dari Intan.


"Stop!!, kau istirahat saja Dinda, biar Kanda yang akan melawan Bango Samparan ini!!" jawabku dengan tatapan tajam kearah Gardapati


"Kau kenal dia Kanda?" tanya Umang


"Walaupun dimasa lalu dia adalah ayahku, orang yang paling aku segani karena telah berjasa dalam hidupku, tapi tidak di kehidupan ini karena kau sekarang adalah musuhku," jawabku


"Kau benar Kanda dia sangat mirip dengan ayah angkatmu Bango Samparan," sahut Umang


"Berani sekali kau memabuh genderang perang dengan Gardapati, selama ini belum ada satupun orang atau preman di Singosari yang berani menantangku!" jawab Gardapati


Lelaki itu langsung melesat maju menyerangku, dan aku tidak mau kalah dengannya. Ia melesatkan ilmu tenaga dalamnya kearahku, beruntung aku masih bisa menghindar hingga tubuhku tidak terbakar seperti pohon yang terkena serangan itu.


Lelaki itu kemudian menelungkupkan tangannya dan membaca mantera, aku hapal betul dengan mantera itu karena aku juga memiliki ajian yang sama yaitu ajian Waringin sungsang. Sebuah ajian yang akan membuat siapa saja yang terkena akan kehilangan kesaktiannya karena semua ilmu kanuragannya akan tersedot olehnya.


Aku langsung membaca mantera ajian megananda untuk menggagalkan ajian Waringin Sungsang milik Gardapati, setelah semuanya jatuh tidak sadarkan diri aku langsung berlari meninggalkan tempat itu.


"Kenapa kau tidak membunuhnya Kanda?" tanya Umang


"Tidak sempat Dinda, lelaki itu terlalu sakti lagian aku tidak mau membuat Intan menjadi janda, makannya aku hanya membuatnya tidur saja," .


Karena sibuk melarikan diri aku sampai lupa dengan Uma Dewi, bagaimana keadaannya sekarang.


"Dinda aku pamit untuk mengecek keadaan Uma dulu sebentar, kamu tunggu disini saja ok?"


"Uma itu siapa Kanda?"


"Dia anak dari ayah angkat ku dan dia sekarang sedang membutuhkan pertolonganku,"

__ADS_1


"Pergilah Kanda, hati-hati!" seru Umang melambaikan tangannya kepadaku


Aku kan melesatkan motorku menuju ke desa Sumberawan. Setibanya disana aku langsung bertanya kepada warga dimana rumah Lik Sukiyem.


Tidak butuh waktu lama seorang anak kecil mengantar aku menuju ke rumah Lik Sukiyem.


"Kenapa Ndoro datang lagi kesini, kan perjanjiannya satu bulan lagi aku baru melunasi hutang-hutangku, tapi sekarang baru dua hari kenapa sudah datang lagi?" tanya Sukiyem


"Aku sudah tidak bisa memberikan tenggang waktu lagi padamu Suki, lagian kalau nunggu sampai satu bulan juga kau tidak akan bisa melunasi hutang-hutang itu, jadi sekarang aku akan memastikan hutang-hutang kamu lunas tapi Uma harus menikah denganku minggu depan dan kau tidak bisa menolak lagi, kecuali kalau kalian mau diusir dari kampung ini!" ancam Parjiman


"Jangan begitu Ndoro, rejeki orang siapa yang tahu. Kali aja minggu besok saya dapat uang kaget dari GTV atau menang togel kan gak tahu juga," jawab Sukiyem


"Aku tidak mau tahu yang jelas minggu depan Uma harus siap-siap menikah denganku titik, dan mulai sekarang rumah ini akan dijaga oleh anak buahku, dan jika Uma akan pergi maka dia akan dikawal oleh anak buahku," seru Parjiman


"Aku gak mau Bu Lik, Uma gak mau menikah dengan Ndoro Parjiman!" ucap Uma


"Gimana nduk, kita tidak punya pilihan lain. Kecuali kita punya uang lima puluh juta buat bayar dia," jawab Sukiyem pasrah


"Memangnya berapa hutangnya?" tanyaku ketika tiba di rumah Lik Sukiyem


"Mas Gilang!" Uma langsung berlari mendekatiku


"Seratus juta, emangnya kau bisa melunasinya!" jawabnya angkuh


"Lah kok nambah lagi Ndoro, bukannya lima puluh juta hutang saya," balas Sukiyem


"Lima puluh juta itu hutangnya saja, bunga dan biaya administrasi dan kerugianku selama bertahun-tahun jadi Lima puluh juta, jadi totalnya seratus juta."


"Astaghfirullah banyak banget bunganya Ndoro, padahal saya dulu ngutangnya cuma tiga puluh juta, dan rumah saya juga sudah buat bayar tapi belum lunas juga," jawab Sukiyem


"Rumah gedek kamu itu cuma seharga sepuluh juta, beruntung aku masih menghargai lima belas juta, jadi jangan ngelunjak!" sahut Parjiman


"Baik, berikan aku waktu sehari, besok aku akan melunasi hutang-hutang Lik Suki beserta bunga-bunganya," jawabku meyakinkan


"Baiklah, aku memberimu waktu sampai besok malam. Jika kau tidak bisa melunasi hutang-hutang Sukiyem, maka Uma harus bersedia menjadi istri ketiga ku," ujar Parjiman


"Ok deal," jawabku yakin

__ADS_1


"Deal," kami berjabat tangan dan kemudian Parjiman dan anak buahnya pergi meninggalkan kediaman Lik Suki.


"Mas Gilang kok main deal-deal saja, memangnya uang sebanyak itu Mas dapat darimana?" tanya Uma ragu


"Kau tidak usah khawatir Uma, jangankan cuma seratus juta sehari satu milyar semalampun aku bisa mendapatkannya untukmu," jawabku sombong


"Jangan sombong kamu Gilang, paling itu uang dari hasil garong kan," cibir Sukiyem


"Yang penting aku bisa menyelamatkan Uma dari jerat Bandot tua itu, daripada aku cuma diam tanpa usaha dan membiarkan Uma menikah dengan orang yang tidak ia dicintai tentu akan membuat aku lebih merasa bersalah."


"Hmmm, bener juga sih, yaudah aku doakan kamu bisa mendapatkan hasil rampokan yang banyak malam ini!" celetuk Lik Suki


"Tentu saja Lik, thengkyu ya sudah didoain!" jawabku lirih


"Kalau bukan untuk menyelamatkan Uma dari rentenir itu aku ogah mendoakan kamu Gilang," cibir Sukiyem meningalkan kami berdua


"Btw keadaan anak tadi gimana?, apa mereka baik-baik saja?" tanyaku


"Untuk sementara mereka aman, karena aku sudah menyembunyikan mete di tempat yang aman, tapi aku tidak tahu jika mereka beroperasi lagi. Takutnya Janaka akan menangkap mereka lagi," jawab Uma


"Mereka itu copet?" tanyaku penasaran


"Anak-anak itu bekerja sebagai pengamen jalanan, tapi kadang-kadang merangkap jadi peminta-minta juga. Dan hasil mereka ngamen dan meminta-minta harus disetorkan kepada Janaka, makanya jika mereka tidak mendapatkan hasil yang banyak maka Janaka akan menghukum mereka seperti tadi siang," terang Uma


"Oh jadi begitu, terus kalau Gardapati itu siapa?" tanyaku lagi


"Gardapati?" tanya Uma melotot


"Iya Gardapati itu siapa?"


"Kamu ketemu dia Mas?" tanya Uma tidak percaya


"Bukan hanya ketemu, tadi aku berduel dengannya,"


"Terus dia kalah dari Mas?"


"Belum kalah, Mas yang melarikan diri dari dia,"

__ADS_1


"Astaghfirullah Mas, dia itu Preman paling sakti dan paling di takuti di Singosari. Selama ini belum pernah ada yang bisa mengalahkan dia. Dan semua orang sakti yang melawannya akan binasa ditangannya. Asal kau tahu Mas semua preman disini akan menyetorkan hasil kerja mereka kepada dia, dan dia sama sekali belum pernah terjamah oleh polisi karena kesaktiannya," Uma menjelaskan dengan panjang lebar


"Tentu saja dia itu sakti Uma, karena dia punya ajian Waringin Sungsang, tapi tenang saja, aku yakin bisa mengalahkan dia!"


__ADS_2