BUKAN KEN AROK

BUKAN KEN AROK
Perpisahan


__ADS_3

"Kamu kenapa Ran?" tanya Barra


"Lagi mau bikin surprise buat Uma," jawab Rangga


"Memangnya kamu suka sama Uma?" tanya Barra


"Tidak, aku cuma ingin membuat si Gilang menyatakan perasaannya kepada Uma, sebelum aku mengeluarkan Umang dari tubuhnya," jawab Rangga


"Oh begitu,"


"Yuhuu,"


"Halo Ran, apa kabar?" sapa Janaka


"Ya seperti biasa masih tampan dan rupawan, btw ngapain Lo kemari sok akrab lagi," sahut Rangga membuat Janaka terkekeh mendengarnya


"Eleh, masih gantengan juga aku, asal Lo tahu Ran gue ini cowok terkece di Singosari," bisik Janaka


"Diih, sombong, baru juga ganteng level kecamatan, gue yang gantengnya sampe dunia gaib, biasa aja." sahut Rangga


"Jelas aja Lo ganteng se alam gaib Ran, saingan Lo Gondoruwo sama Buto ijo pastilah kamu juaranya, coba kalau saingannya sama aku, pasti aku juaranya, hehehe," sahut Janaka tertawa kecil


"Asal Lo tahu ya Gondoruwo itu ganteng-ganteng, bahkan lebih ganteng dari Lo," jawab Rangga


"Fake, boong!" cibir Janaka


Rangga segera menghampiri pemuda itu dan mengusap matanya.


"Tunjukkan dirimu Bar!" seru Rangga


Barra berdiri tepat didepan Janaka sambil tersenyum manis.


"Anj*r ganteng banget, siapa Lo?" tanya Janaka terpukau


"Kenalin Barra Gondoruwo terganteng se jagat raya," jawab Barra membuat mereka terkekeh


"Gimana, masih merasa sok Ganteng?" tanya Rangga


"Iyeh, nyerah deh, daripada di santet mending iyain aja apa kata Mbah dukun," sahut Janaka membuat Rangga langsung menoyor kepalanya


"Sue!!!"


"Btw mendingan kita cepat jalankan misi kita, soalnya aku sibuk, mau nganter bos keluar kota," ucap Janak


"Ok, Lo ajak Uma ke tempat tongkrongan Lo, tar gue nyusul sama Gilang," jawab Rangga


"Ok, siap," Janaka segera pergi meninggalkan Rangga


"Lang, kita jalan-jalan nyok!" ajak Rangga

__ADS_1


"Nyok," kami bertiga bergegas pergi menuju ke sebuah kedai yang dipenuhi oleh muda-mudi yang sedang bercinta.


"Ngapain kita kemari Ran?" tanyaku Penasaran


"Gue janjian sama Uma," jawab Rangga


"Mau ngapain?"


"Ngasih ini, hadiah kecil sekalian mau ngucapin terima kasih karena sudah menjaga gue selama di rumah sakit,"


"Diih, salah alamat Lo. Yang jagain Lo dua puluh empat jam nonstop itu gue, Samapi gue gak tidur gara-gara lo, bukannya si Uma."


"Tidak masalah sekalian gue mau nembak dia, mudah-mudahan dia mau jadi pacar gue," jawab Rangga membuat aku kaget


"What nembak Uma, gak salah Lo, kan Lo tahu Uma gebetan gue kok tega sih Lo nikung gue," aku benar-benar gak habis pikir dengan Rangga kali ini. Aku benar-benar marah karena dia sudah berani menikung ku.


"Bukannya Lo sukanya sama Umang, bukan Uma. So gak salah doank kalau gue menyatakan perasaan aku ke Uma, ingat bro yang namanya cewek itu butuh kepastian dan ketegasan bukan hubungan tanpa status kasian Uma. Makanya aku akan menyatakan perasaan ku lebih dulu, dan aku harap Uma juga suka sama gue."


"Gak boleh, Lo gak boleh nyatain perasaan Lo ke Uma," Aku berusaha menahan Rangga agar tidak mendekati Uma yang mulai menyadari kedatangan kami


"Kenapa tidak boleh, semua orang berhak menyatakan perasaannya ke aku karena aku masih sendiri, jadi kenapa kau melarangnya?" ucap Uma membuatku tercengang


"Tentu saja Rangga tidak boleh mengungkapkan perasaannya kepada kamu, Karena aku menyukaimu duluan jauh sebelum Rangga mengenal kamu. Aku sudah mulai menyukaimu saat kita pertama kali bertemu, saat kau merawat ku waktu aku sakit.


Sampai aku meminta nomor ponselmu saat aku akan pergi ke Jakarta tapi kau tidak pernah memberikannya sampai sekarang. Dulu aku pikir, aku cuma mengagumimu karena wajahmu sangat mirip dengan seorang wanita yang selalu menolong ku saat aku dalam bahaya, sehingga aku menganggap itu bukan cinta tapi obsesi semata, tapi belakangan ini aku sadar kalau aku benar-benar menyayangi kamu apa adanya bukan karena kau mirip dengan Uma bukan juga Karena amanah dari ayahmu agar aku menjaga dan melindungi kamu. Sepertinya kita memang sudah ditakdirkan oleh Tuhan untuk bersatu, karena aku merasa memiliki ikatan yang kuat dengan dirimu. Karena engkau aku bisa melupakan Umang dan mulai menyukai Uma Dewi apa adanya, jadi aku mohon sama kamu untuk menerima cintaku, dan mari menua bersamaku. Aku akan berusaha membahagiakan dirimu dan melindungi mu sampai akhir usiaku,"


"Kenapa begitu lama kamu menungguku, kenapa kau tidak pernah menyatakan perasaan mu dari dulu. Coba kalau kau mengatakannya dari dulu mungkin kita sekarang sudah menikah dan punya anak," jawab Uma


Uma hanya tersenyum sambil menatapku.


"Gimana, diterima gak?" tanya Rangga penasaran


"Hmmm, Karena Uma juga sayang sama Mas Gilang, jadi aku tidak bisa menolaknya," jawab Uma tersipu-sipu


"Yeaaahhh!!!" Aku langsung berteriak bahagia dan memeluk Uma erat


"Akhirnya misi gue berhasil!!" seru Rangga sembari melompat-lompat


"Stoop!!!" Lik Suki segera berlari dan memisahkan aku dan Uma


"Jangan main peluk-pelukan dulu sebelum resmi jadi suami istri!" cibir Lik Suki


"Kok, buru-buru banget Lik langsung nikah, kan aku maunya pacaran dulu!" jawabku mencoba bernegosiasi dengannya


"Gak boleh pacaran tanpa ada ketegasan untuk menikahinya. Enak saja Lo bisa pegang-pegang Uma gratisan. Kasian nanti suaminya dapat sisa kamu. Pokoknya aku harus tanya dulu sama kamu supaya aku tahu kamu ini beneran cinta gak sama si Uma!" ucap Luk Suki lagi


"Cinta dong Lik, emangnya perlu bukti apa untuk membuktikan kalau aku ini benar-benar suka sama Uma?" aku balik bertanya


"Nikahi dia,"

__ADS_1


"Siap, tapi jangan sekarang Lik, aku harus ngumpulin dulu duitnya, kan nikah itu butuh biaya,"


"Ok, tapi aku minta maharnya dua ratus juta, bisa gak kamu membayar maharnya?" tanya Lik Suki membuat kami semua menggelengkan kepalanya


"Aish, ini mau nikahin anak apa jual anak sih, matre!!" cibir Rangga


Mendengar ucapan Rangga Lik Suki segera memukulnya menggunakan sendalnya.


*Buuugghh!!


"Awww!!!, sakit tahu Lik," keluh Rangga


"Bocah sotoy, Aku ini bukan matre tapi realistis, lagian mahar itu juga bukan buat saya tapi buat Uma. Dia bisa memakainya untuk modal membina rumah tangga. Membeli Rumah, dan membuka usaha sehingga setelah menikah mereka tidak lagi bertengkar hanya karena masalah uang belanja. Mungkin itu terdengar klise, katanya menikah itu karena cinta bukan karena uang itu benar tapi alangkah bahagianya jika kita menikah dan banyak uang karena untuk membahagiakan pasangan kita butuh uang. Jangan sampai karena kekurangan uang kita kehilangan pasangan kita," ucap Lik Suki


"That's right baby, tapi gak usah curhat juga keles," sahut Rangga merangkul Lik Suki


"Sok akrab Lo," jawab Lik Suki


"Biarin!!" sahut Rangga


"Yaudah aku terima mahar dua ratus jutanya, santuy semalam juga dapat itumah," jawabku enteng


"Jangan bilang Lo mau maling lagi, ingat aku mau maharnya dari uang halal bukan hasil maling atau merampok orang," sahut Lik Suki


"Santuy Lang, gue yang kasih, dijamin uang halal," jawab Rangga


"Emangnya Lo punya?" tanyaku penasaran


"Diih jangan tanya, sebagai dukun milenial yang sudah sangat tersohor di Indonesia, duit gue terlalu banyak Lang, kalau cuma ngasih Lo dua ratus juta mah kecil. Asal Lo tahu duit Barra yang kemarin itu nyolong dari brankas gue, ngaku Lo!!" jawab Rangga membuat Barra nyengir kuda


"peace!!" sahut Barra


"Thanks Ran, Lo emang sahabat sejati gue, I love you," aku langsung memeluk Rangga erat


"Love you too,"


**Bruuughhh!!


Tiba-tiba kami dikagetkan dengan Uma yang tiba-tiba jatuh pingsang.


Ku lihat sesuatu keluar dari dalam tubuhnya.


"Umang!!" aku melihat Ken Umang keluar dari tubuh Uma


"Kanda sepertinya sudah saatnya aku pergi, kau sudah menemukan cinta sejati mu, sayangi dia dan jangan sakiti dia," ucapnya sedih


"Selamat tinggal Kanda," ucapnya sambil tersenyum


Perlahan tubuhnya mulai menghilang dari pandanganku membuat aku sedih harus kehilangan dia.

__ADS_1


"Ikhlaskan dia, lagian Lo udah punya Uma, ingat pesannya kau harus mencintai dia dan tidak boleh menyakitinya," bisik Rangga


***********THE END******


__ADS_2