BUKAN KEN AROK

BUKAN KEN AROK
Pertarungan Sengit 2


__ADS_3

Bersiap-siaplah Gilang, serangan yang lebih dahsyat akan datang!" seru Rangga, ia berjalan keluar menuju halaman rumah.


"Sepertinya disini cukup luas untuk melawan para demit itu!" tambah Rangga


Bumi seakan berguncang, menyambut derap langkah puluhan mahluk gaib yang memasuki pelataran rumah Aki Janitra. Suara gemuruh angin ditambah lolongan suara anjing dan burung hantu membuat suasana malam semakin mencekam.


Alunan suara Ki Jarot menyanyikan kidung Lingsir Wengi membuat bulu kuduk berdiri.


Rangga beringsut mundur ketika melihat puluhan Mahluk gaib yang kini mulai mengepungnya.


"Rupanya para penghuni Gunung Kawi sedang menyambut kedatangan kita Lang!" Rangga langsung duduk bersemedi untuk memanggil lelembut peliharaannya guna melawan makhluk astral yang sudah bermunculan didepannya.


"Lawan mereka!!" perintah Rangga kepada anak buahnya


Semua anak buahnya langsung mengangguk dan melawan mahluk-mahluk kiriman Ki Jarot.


Rangga tidak tinggal diam ia juga membantu melawan mahluk-mahluk astral yang jumlahnya semakin banyak.


"Lang kok mahluk itu gak pada nyerang lo?" tanya Rangga


"Tentu saja, karena selama aku memakai kalung ini, semua demit, lelembut ataupun makhluk astral yang bermaksud jahat padaku tidak akan bisa melihatku,"


"Anj*r, pantesan lo dari tadi diem-diem bae, sepertinya anak buahku tidak akan menang melawan para dedemit dari Gunung Kawi itu, tidak hanya kalah jumlah tapi kesaktian juga, mending kita panggil Barra saja untuk membantu kita," ujar Rangga


"Bagaimana kalau aku musnahkan mereka dengan ajian sirep Rumekso Ing Wengi,"


"Jangan Lang, terlalu mudah, jadi kesannya kita tidak beraksi sama sekali. Lagipula kalau lo pakai kidung itu anak buah guebjuga bakalan ikut mati kan, jangan deh susah kan nyari pasukan gaib itu, mending lo panggil Barra aja biar seru!" ujar Rangga


"Baiklah aku akan memanggilnya." sahutku


"Tapi tidak ada sesaji disini?" ujar Rangga


"Santuy, gue bisa manggil dia tanpa sesaji," jawabku


"Anj*r, bagaimana caranya?" tanya Rangga


"Pakai Kidung Lingsir Wengi,"


"Gila lo, sekarang lo mainannya kidung kaya dalang aja,"


"Dari dulu juga gue mainannya Kidung Ran, lo aja yang gak nyadar,"

__ADS_1


"Yaudah soklah, gasken!"


"Bentar gue ngopi dulu!!"


"Jiaah, suasama genting gini masih aja kepikiran ngopi, udah ngopinya nanti saja kasian anak buah gue udah pada sekarat melawan penghuni Gunung Kawi!"


"Gak bisa Bro, kalau mau berkidung itu butuh tenaga dan kekuatan, tidak bisa sembarangan, makannya gue perlu ngopi setidaknya untuk menambah rasa percaya diri gue kalau suara gue itu lumayan bagus,!"


"Anj*r, kebanyakan gaya lo!" seru Rangga membuatku semakin terkekeh.


Aku langsung memusatkan pikiran dan konsentrasi, kutarik nafas dalam-dalam dan ku hembuskan perlahan.


🎵Lingsir wengi sliramu tumeking sirno [Menjelang malam, dirimu(bayangmu) mulai sirna]


Ojo Tangi nggonmu guling [Jangan terbangun dari tidurmu]


awas jo ngetoro (Awas, jangan terlihat (memperlihatkan diri)]


aku lagi bang wingo wingo [Aku sedang marah dan gelisah]


jin setan kang tak utusi  [Jin setan ku perintahkan]


dadyo sebarang [Jadilah apapun juga]


Kepulan asap putih mulai memenuhi halaman rumah dan berubah menjadi sosok pemuda tampan yang sudah asing lagi, Barra, iya dia sudah datang.


"Tumben lo manggil gue gak pakai sesaji, sudah miskin lo!" seru Barra meledekku


"Iyeh, duitku udah habis buat bayar hutang!!" jawabku ketus


"Jasihan banget lo Lang, jadi rampok tapi nggak kaya kaya," goda Barra


"Biarinlah gue gak kaya harta asalkan gue kaya dengan cinta dan kasih sayang, eeeaaa!!"


"Astoge bukannya cepat-cepat maju ke medan perang membantu anak buah gue malah ngerumpi di sini kaya emak-emak!" cibir Rangga yang langsung menarik lengan Barra untuk segera membantu anak buah Rangga melawan lelembut penghuni Gunung Kawi.


"Lo mau ngapain Ngga?" tanyaku penasaran melihat Rangga yang sudah duduk bersemedi


"Lawan kita sudah datang, kau mau pilih yang mana!" seru Rangga


"Lawan siapa lagi?" tanyaku bingung

__ADS_1


"Tuh lihat dibelakang mu!"


Aku langsung menoleh dan kulihat Ki Parjiman dan Gardapati sudah datang menantang kami.


Aje gile, gue harus melawan dia lagi, padahal kemarin gue baru saja kabur untuk menghindari ajian Waringin Sungsang miliknya.


"Lawan mereka berdua Lang, gue mau melawan sutradara dibalik pertempuran sengit ini," ujar Rangga


"Emang siapa sutradaranya Ngga?"


" Mbah Surip, atau Mbah Mbah Mijan atau entah siapapun dia, yang jelas ia merupakan Dukun sakti yang mengendalikan para demit dan juga dua orang bandit tua itu So lo harus menang melawan tuh dua bandit tua itu. Biar gue yang melawan aktor intelektual dibalik serangan tengah malam ini,"


"Kok gak adil ya, masa lo lawan satu aku lawan dua?" protesku membuat Rangga menggelengkan kepalanya


"Coba gak adilan mana sama Bar-bar yang melawan puluhan makhluk astral?" tanya Rangga


"Gue kan bandinginnya sama lo, kenapa jadu bawa-bawa Barra,"


"Sama saja Lang semuanya mendapatkan jatah sama rata sesuai kemampuannya, asal lo tahu gue bukan cuma melawan satu dukun, tapi banyak. So jangan kecewakan gue, habisi mereka,"


"Ok, siap!!"


Rangga kembali duduk bersila dan memejamkan matanya, sedangkan aku langsung maju menghampiri AKi Parjiman dan Gardapati.


"Kita selesaikan urusan kita yang belum kelar anak muda!" ucap Gardapati mengeluarkan sebuah wesi aji miliknya.


Begitupun dengan Parjiman yang langsung mengeluarkan sebuah belati dari balik bajunya, sedangkan aku akan melawan mereka dengan tangan kosong.


*Wuushhh!!


Gardapati segera melesat kearahku seperti terbang dan melesatkan pukulannya kepadaku. Ternyata dia memang bukan orang sembarangan terbukti ia memiliki ilmu meringankan tubuh atau ajian Kijang Kencono. Ajian yang bisa membuat pemiliknya memiliki kecepatan lari secepat kijang seperti terbang, bahkan ia bisa berjalan diatas air.


Tentu saja kecepatannya membuat aku kewalahan dan terus menghindari serangannya. Begitu juga Ki Parjiman yang melesatkan tenaga dalamnya kearahku membuat aku juga harus lebih waspada menghadapi keduanya.


"Atur konsentrasi mu Le, pancing emosi keduanya dan gunakan batu mustika yang kau punya untuk melawan mereka," tiba-tiba saja Kakek leluhurku atau penjagaku muncul dan memberikan wejangan kepadaku untuk menghadapi dua lelaki sakti itu.


Ku buka mulutku lebar-lebar, hingga keluarlah sebuah cahaya yang membuat kedua bandit itu langsung beringsut mundur menjauh dariku. Melihat keduanya lengah aku langsung mengambil batu mustika dibalik kemejaku. Ku usap batu mustika itu dengan tanganku, hingga berubah menjadi sebuah keris yang bersinar di tanganku.


Gardapati yang memang terobsesi untuk membunuhku, langsung melesat kearahku menghunuskan keris saktinya ke leherku.


Tiba-tiba saja aku langsung berteriak dan ribuan kelelawar keluar dari mulutku dan menyerang Gardapati dengan beringas.

__ADS_1


"Kekuatan apa yang dimiliki pemuda itu, dia benar-benar sakti dan tidak bisa diremehkan!!" gumam Parjiman menatap lekat kearahku


__ADS_2