
Tiba-tiba beberapa orang bersenjata api bermunculan dan mengepungku.
"Semuanya siap!!!"
"Tembak!!!" seru Parjiman
"Tembak saja kalau kalian bisa, karena kalian tidak akan bisa membunuhku. Bahkan sebelum peluru itu mengenai tubuhku kalian yang akan mati terlebih dahulu," aku segera menelungkupkan tanganku dan membaca mantera membuat semua anak buah Parjiman ketakutan dan meninggalkan posisinya.
"Semuanya tetap ditempat dan jangan ada yang beranjak, pakai kapas dan tutup telinga kalian rapat-rapat, karena ajian Sirep itu tidak akan berfungsi jika kalian tidak mendengar kan manteranya!!" seru Parjiman membuat semua anak buahnya langsung menyumbat telinga mereka.
Aku hanya tersenyum melihat kepanikan mereka, walaupun aku tahu ini akan terjadi, toh aku juga cuma pura-pura membaca mantera Ajian Sirep Megananda hanya untuk menakuti mereka.
"Sekarang tembak!!!" perintah Parjiman lagi
"Aaaarrrrggghhh!!!"
Aku sengaja berteriak keras untuk mengeluarkan kelelawar dari mulutku untuk menghalau semua anak buah Parjiman yang ingin menembak ku.
Aku terkejut kenapa kini tidak keluar ratusan kelelawar lagi dari mulutku, aku benar-benar panik tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan.
"Hahahaha!!!"
Hanya suara tawa keras Parjiman yang terdengar di gedung itu bukan ribuan kelelawar yang datang untuk menyelamatkan aku.
"Kenapa, kau sedih karena tidak keluar kelelawar dari mulutmu. Apa kekuatanmu sudah menghilang, dan kau takut mati sekarang!!" seru Parjiman menghampiriku
"Seorang titisan Ken Arok Raja Singosari ternyata cuma seorang penakut, dia takut mati setelah kekuatannya menghilang. Hahaha!!!" suara tawa keras Parjiman terdengar bergema membuatku semakin geram mendengarnya.
Kau harus kuat Rangga, aku akan membalaskan dendam mu kepada Parjiman yang sudah meracuni mu, walaupun aku harus mati.
*Buuugghh!!
Ku Lesatkan tendangan kearah Parjiman hingga membuat lelaki itu sempoyongan.
__ADS_1
"Barang kau menyerangku, maka bersiaplah untuk mati," ancamnya
"Sudah cukup kesabaran ku anak muda, kali ini kau harus mati," tambah Parjiman
"Tembak dia sekarang!!" serunya membuat semua anak buahnya bersiap menarik pelatuk pistolnya masing-masing.
Aku berharap semoga ada keajaiban datang membantuku kali ini.
*Hyaaat!!!.
Aku meluncur menggunakan kakiku melakukan sleding untuk menjatuhkan mereka yang ada di depanku.
*Bruugghhh!!
*Dor, dor, dor!!
Aku menggunakan jasad tubuh anak buah Parjiman untuk melindungi tubuhku dari tembakan anak buah Parjiman.
Sebisa mungkin ku gunakan teknik mempertahankan diri untuk menyelamatkan nyawaku.
Tentu saja sekuat apapun aku dan pertahanan diri yang kumiliki tidak akan mampu melawan anak buah Parjiman yang jumlahnya ratusan. Aku sudah tahu mustahil bagi diriku untuk mengalahkannya seorang diri. Tapi aku akan berusaha semampuku untuk mengalahkan mereka semua untuk Rangga.
"Buuugghh!!!
Sebuah tendangan keras Parjiman berhasil mengenai pipiku, membuatku terhempas ke samping. Ia menyeringai dan kembali melesatkan tendangan beruntun ke dadaku hingga tubuhku jatuh menghantam bangku-bangku yang ada di sana.
"Bangun, lawan aku Gilang!!" teriak Parjiman menghampiri ku dan menyeretku. Ia menjambak rambutku dan menyeringai didepanku.
"Ternyata tanpa kekuatanmu kau cuma seorang berandal kecil yang tidak apa-apanya Gilang," Kali ini Parjiman melayangkan tinjunya kepadaku.
*Buuugghh!!!!
Aku terjatuh tak berdaya di lantai. Ku rasakan tubuhku yang remuk dan tidak ada kekuatan lagi untuk bangkit.
__ADS_1
Samar-samar kulihat seorang lelaki berdiri didepan ku, ia terlihat gagah dengan rambut sebahu yang berkibar tertiup angin, memakai baju kerjaan.
Aku begitu mengenalnya, dan aku tahu kini dia menghampiriku karena aku sedang sekarat.
"Maafkan aku Gilang, waktuku sudah habis untuk membantumu karena kau sudah melaksanakan tugasmu dengan baik. Kau sudah berhasil mengalahkan Bayu Segara secara ksatria. Tidak seperti aku yang mengalahkan Tunggul Ametung dengan cara licik. Aku bangga padamu karena di kehidupan ini aku benar-benar menjadi seorang ksatria sejati yang tidak pernah menjadi pengecut atau menggunakan cara licik untuk menyingkirkan musuh-musuhku.
Terima kasih Gilang. Aku tahu kau tidak ingin menjadi diriku karena Kau Bukan Ken Arok, kau adalah Gilang Wasesa Putra Dhanu Wasesa yang sangat tangguh dan tidak terkalahkan. Bangkitlah dan lawan mereka dengan kekuatan mu, aku yakin kamu bisa mengalahkan mereka dengan kekuatanmu sendiri," ujar Ken Arok tersenyum padaku
Ku lihat sosoknya perlahan menghilang dari pandanganku. Entahlah setelah lenyapnya Ken Arok dari pandanganku, ku rasakan tubuhku terasa ringan dan aku merasakan seperti ada kekuatan baru dalam tubuhku. Aku kembali bangkit dan berdiri lagi, ku edarkan pandanganku kearah Parjiman dan anak buahnya yang siap menghabisi ku
"Aish, kau masih bisa bangun rupanya!, ternyata kau benar-benar tangguh juga, tapi jangan lupa lawan mu terlalu banyak anak muda, jadi lebih baik kau lari dan jagalah temanmu itu, agar kau bisa melihatnya ketika dia menghembuskan nafas terakhirnya," Parjiman berjalan mendekatiku
" Kau tidak sendirian Gilang, Kami datang membantumu!!" seru Janaka bersama anak buahnya.
Aku tersenyum simpul menatap kedatangannya yang bagaikan hujan di musim kemarau, benar-benar aku butuhkan.
"Cih, kau pikir dengan membawa preman pasar ke sini kau bisa mengalahkan aku Jak," sindir Parjiman menertawakan Janaka
"Kau salah Bos, karena bukan cuma preman pasar yang ku bawa kemari tapi juga preman yang paling di takuti di Singosari akan menghajar mu," jawab Janaka memberikan jalan untuk Gardapati yang memasuki ruangan itu.
"Gardapati!!" Aku benar-benar tidak menyangka dia akan datang membantuku
"Garda, untuk apa kau datang kesini, apa kau ingin melawan temanmu sendiri untuk membantu berandalan yang sudah membunuh guru kita??" tanya Parjiman
"Tentu saja aku datang untuk membantu Gilang. Dia sudah menyelamatkan nyawaku dari tangan Ki Jarot, dan Rangga yang sudah kau racun itu sudah menyelamatkan istriku dari Akina Jaran goyang kiriman Aku Jarot juga. Apa orang seperti itu masih bisa disebut guru??, dan aku justru senang Gilang membunuhnya karena dia juga berusaha untuk membunuhku hanya karena menginginkan kalung sakti milik Gilang. Jadi aku terpaksa akan melawan mu jika kau berusaha membunuh Gilang, karena aku harus melindungi orang yang sudah berjasa dalam hidupku," jawab Gardapati membuat Parjiman murka padanya
"Baiklah Garda, mulai sekarang kau adalah musuhku karena sudah berani membantu Gilang. Semuanya serang mereka!!" Parjiman memberikan perintah kepada anak buahnya untuk melawan anak buah Gardapati
Pertempuran sengit terjadi di gedung tua itu, kini aku kembali berhadapan dengan Parjiman, aku memang sengaja ingin menghabisi lelaki tua itu seorang diri. Dan sepertinya Gardapati dan Janaka tahu dan mempersilahkan aku untuk menghadapinya seorang diri.
"Majulah brengsek!!" seru Parjiman
Aku bergerak maju, dan kemudian melesat maju untuk menyerangnya, begitupun dengan Parjiman yang langsung berlari kearah ku untuk menyerang ku.
__ADS_1
Ia mengarahkan pukulan kearah ku dan aku langsung menepisnya, kami berdua saling beradu tenaga dalam. Kami berdua terpental setelah beradu tenaga dalam, ku lihat lelaki itu mengeluarkan belati dari balik bajunya dan berlari kearah ku.
Aku langsung melesatkan tendangan ku kearahnya hingga ia terhempas ke lantai, ku tarik kerah bajunya dan kembali ku lepaskan pukulan ku kepadanya hingga membuatnya babak belur dan terakhir aku mengambil pisau yang tergeletak di lantai dan segera ku tusukkan ke jantungnya hingga ia tidak bernapas lagi.