BUKAN KEN AROK

BUKAN KEN AROK
Pertarungan Sengit 3


__ADS_3

Gardapati yang memang terobsesi untuk membunuhku, langsung melesat kearahku menghunuskan keris saktinya ke leherku.


Tiba-tiba saja aku langsung berteriak dan ribuan kelelawar keluar dari mulutku dan menyerang Gardapati dengan beringas.


"Kekuatan apa yang dimiliki pemuda itu, dia benar-benar sakti dan tidak bisa diremehkan!!" gumam Parjiman menatap lekat kearahku


"Bangs*t , ilmu apa yang kau pakai anak muda!" gerutu Gardapati menghalau para kelelawar yang terus menyerangnya


Sekarang giliran Parjiman yang mengarahkan tenaga dalamnya kearahku, aku langsung menangkisnya dengan menggunakan keris ditangan ku.


Entah kenapa aku merasakan aku bukanlah Gilang melainkan sosok lain yang sangat sakti mandraguna bila sedang bertarung.


"Kanda, kau sudah datang!" seru Ken Umang menatap dari kejauhan


"Siapa kau sebenarnya?" tanya Parjiman


"Aku adalah Gilang putra dari Dhanu Subroto, murid Aki Janitra,"


"Cih pantas saja kau menjadi seorang rampok yang ulung, ternyata kau adalah anak dari Raja Rampok," ujar Parjiman memasukkan kembali belati miliknya


Lelaki itu kemudian menggerakkan tangannya seperti sedang mengeluarkan jurus saktinya.


Hawa panas menjalar cepat. Pusaran angin tercipta dari sekeliling tubuh Parjiman, pusaran tersebut tercipta sebagai bentuk pengembangan Ajian Bayu Bajra yang dipadu dengan Serat Jiwa milik Gardapati yang mulai bergabung dengan lelaki itu setelah berhasil menghalau ribuan kelelawar yang menyerangnya. Ajian Bayu Bajra sanggup melipatgandakan kekuatan Ajian Serat Jiwa. Bagai badai yang berputar memusat, menciptakan gemuruh dan meruntuhkan ranting dan dahan di sekitar kedua lelaki itu berdiri.


Aku tidak mau kalah , Ku tekuk kaki kananku sedangkan lutut kiri ku sentuhkan ke tanah. Ku kepalkan kedua tangan, dengan mata terpejam merapal mantra.


#Bismillahi Rohmani Rohiim


SUN AMATEK AJIKU WARINGIN SUNGSANG,


WAYAHIPUN TUMURUNA,


NGAUBI AWAK MAMI,


TUR TINUTING BALA,


PINACAK SUJI KEMBAR,


PIPITU JAJAR MARIPIT,


ASRI YEN SIYANG,


ANGKER KALANE WENGI.


DUK SAMANA AKEMPAL KUMPULING RASA, NETRAKU DADI DINGIN,


NETRA NINGSUN EMAS,

__ADS_1


PUPUTIHE MUTYARA,


IRENG-IRENG WESI MANIK,


CEPLOKING NETRA,


WALIKER UDA RATIH.


IDEP INGSUN KEKENCANG BANG RURUWITAN,


ALISKU SARPA MANDI,


KIWA TENGEN PISAN,


CUPAKKU SURYA KEMBAR,


KEDEPKU PAN KILAT TATIT,


KANG MUNGGENG SIRAH,


WESI KEKENTEN ADI.


RAMBUT KAWAT SINOMKU PAMOR ANGLAYAP,


BATUK SELA CENDANI,


PILINGAN INGSUN GANGSA,


IRUNGKU WESI DUAJI,


PASU KULEWANG,


PIPIKU WESI KUNING. #                             


Tubuhku bergetar hebat, kulit yang terbuka di sela baju terlihat mengelam, daya penuh tenaga telah berkumpul siap untuk dilepaskan. Perlahan kubuka kedua mata ku, menatap tajam ke arah Parjiman dan Gardapati. Lalu ku kembangkan kedua tangan untuk sepersekian detik kemudian ku lesatkan tubuhku terbang ke angkasa menciptakan sinar panas maha dasyat kebiruan di seluruh tubuhku.


Parjiman dan Gardapati sedikit terhenyak namun konsentrasinya segera pulih, saat tubuh berselaput ajian maha sakti, kesadaran tak lagi dapat dimiliki sepenuhnya, tubuh dapat bergerak sendiri tanpa kendali, menyerang secara penuh ke lawan yang dituju. Dalam satu tarikan nafas, tiba-tiba tubuhku yang mengambang di angkasa menyeruak turun memburu, dalam kecepatan laksana kilat tubuh ini bergerak penuh tenaga. Kedua tangan tanganku yang sudah mengembang telah merubah gerak menjadi cengkeraman yang menakutkan dan siap menerkam mangsanya.


Tanah bergetar, satu pohon tumbang tak kuasa menahan dasyatnya hawa pertempuran.


Untuk menghadapi Ajian Serat Jiwa aku harus berusaha menghindar dari sentuhan tangan lawan, setidaknya itulah pesan Jay ketika mengajarkan aku ajian Waringin Sungsang sebagai lawan Ajian serat Jiwa.


Karena sedikit saja aku terkena sentuhan musuhku maka tubuhku akan hancur menjadi serbuk abu. Tentu saja aku harus ekstra hati-hati dan waspada, karena aku menyadari betapa dahsyatnya ajian Serat Jiwa ini. Karena Ki Janitra sudah pasti mengetahui itu, Dan kini aku melihat sendiri betapa dahsyatnya Ajian Serat Jiwa tingkat sempurna yang dimiliki oleh Gardapati apalagi dipadu padankan dengan ajian Bayu Bajra yang mampu melipat gandakan kekuatan ajian itu. Aku juga tidak tahu kenapa malah memilih menyerang langsung ke arah keduanya dengan aAjian Waringin Sungsang bukannya menggunakan Ajian Sirep Megananda untuk membuat mereka tidak sadarkan diri dan mengirim mereka kembali ke asalnya.


Kedua lelaki itu bersiap menahan gempuran, serangan dariku. Ajian Bayu Bajra yang dilepas mengawali Serat Jiwa telah pudar terhempas kerasnya Waringin Sunsang. Serat Jiwa siap menghanguskan tubuhku tapi sayangnya aku tidak mudah untuk mereka tumbangkan. Gardapati begitu murka ketika serangannya selalu meleset, ia kini bak api yang telah membara, siap membakar siapa saja yang mendekat apalagi menyentuhnya. Kedua tangannya membentuk perisai, hawa panas kian menyebar. Tanah yang dipijak telah menghitam.


Sebuah dentuman dahsyat yang tak ubahnya sebuah raungan mengawali benturan ajian Serat Jiwa dengan Waringin Sungsang.

__ADS_1


*DAAAASSSSSTTTT….!!!


Benturan maha dahsyat tercipta diiringi gemuruh yang menerbangkan benda apapun dalam radius dua meter. Dua tubuh digjaya tersebut terpental beberapa meter, menghempas, luruh dan jatuh ketanah. Kulihat Gardapati dan Aki Parjiman sudah tidak berkutik lagi, mereka sudah tidak punya kekuatan lagi untuk melawanku kembali.


"*****, tubuhku benar-benar remuk kali ini," Aku mencoba bangkit dengan sisa-sisa tenaga yang kupunya.


"Kanda pasti haus ya, untung Umang bawakan kopi hitam kesukaan Kanda, minum dulu mumpung masih panas kanda," ujar Umang membawakan segelas kopi hitam untukku.


*Byuurr!!


Mataku yang sudah lelah dan sayu setelah melakukan pertarungan sengit, mendadak melotot ketika menyeruput kopi hitam buatan Umang.


"Anj*r kok rasanya pait Dinda, kamu gak kasih gula ya?" tanyaku sembari menyemburkan kopi itu


"Iya Kanda, emang sengaja supaya kanda langsung semangat lagi bertarungnya, lagian kalau kanda mau kopinya manis minumnya sambil lihat Dinda saja dijamin langsung manis," jawab Umang sembari tertawa kecil


"Hmmm, mulai ganjen nih," ucapku sembari mencubitnya manja


"Bagi dikit kopinya Lang, gue juga haus nih," seru Barra yang menghampiriku.


"Nih, buat lo aja Bar, kamu pasti haus kan setelah bertempur melawan puluhan para demit penunggu Gunung Kawi?"


"Tau aja lo Bro, lo memang benar-benar solmet gue Lang," Barra langsung meneguk habis kopi itu


"Gimana enak kan?" tanyaku


"Super sekali," jawab Barra sambil terkekeh


"Btw kenapa lo kemari bukannya para demit itu belum lo kalahin semuanya?"


"Gue capek Lang, gue lelah. Sepertinya aku butuh istirahat dulu untuk memulihkan tenaga ku. Kamu bantu aku dong buat ngalahin Aki Sarpenaka dan kawan-kawannya. Mereka itu makhluk apa sih kuat banget, kalau bisa gunakan ajian yang membuat mereka langsung mati dan kirim mereka kembali ke asalnya!" pinta Barra membuatku berpikir sejenak kira-kira ajian apa yang tepat untuk mengalahkan mereka.


"Aha!, aku punya ide!" seruku bahagia


"Apa Lang?" tanya Barra penasaran


"Udah lo duduk manis saja disini, biar gue yang akan menghabisi mereka semua!"


"Sapi betina makan dukuh, siap Bosku!" jawab Barra


"Nj*r, udah bisa berpantun dia!" seruku sembari terkekeh, aku langsung duduk bersemedi membaca mantera ajian sirep Megananda untuk menghentikan pertarungan antar demit itu.


Setelah aku selesai berkidung, peperangan antar demitpun berhenti, tiba-tiba suasana menjadi hening dan tak ada suara selain hembusan angin malam yang menerpa wajahku.


Anj*r, kenapa semuanya pada tidur, bahkan Barra, Rangga, dan Uma juga tidur. Astaga aku sampai lupa kalau Ajian sirep ini akan membuat manusia dan demit langsung tertidur, dan aku lupa itu. Tentu saja aku langsung menghampiri Rangga yang juga tidak sadarkan diri, aku lupa jika dia sedang bertanding dengan dukun sakti yang menciptakan peperangan ini. Aku langsung duduk bersila dibelakang Rangga dan menyentuh pundaknya, aku harus menolong Rangga, gue gak mau terjadi sesuatu dengan Rangga hanya karena baku salah memakai ajian sirep.


"Tunggu aku Rangga, tunggu Babang Gilang datang menolongmu!!"

__ADS_1


__ADS_2