BUKAN KEN AROK

BUKAN KEN AROK
Menyempurnakan Kedigjayan


__ADS_3

"Kenapa kau kembali?" tanyaku menghampiri Umang yang duduk melamun didepan rumah


"Bukankah aku sudah pernah bilang, aku akan datang jika kau dalam bahaya, dan aku akan pergi untuk selamanya jika kau sudah mendapatkan cinta sejati mu." jawab Umang


"Bukankah aku aman-aman saja sekarang, tapi kenapa kau datang, justru kemarin kau malah pergi meninggalkan aku,"


"Kau tidak tahu bahaya besar sedang mengintaimu saat ini, makannya aku datang. Kanda juga akan tahu sebentar lagi,"


"Tapi bukannya mereka itu sudah pada keok ya, terus siapa lagi musuhku itu Dinda?"


"Aku tidak bisa memberi tahu mu sekarang Kanda, biarlah waktu yang akan menjawabnya, aku gak mau nanti dibilang sotoy sama kamu,"


"Diih baper,"


"Btw, kanda sudah mandi belum sih kok ada aroma, asem-asem gimana gitu," ucap Umang membuat aku tersenyum kecut kearahnya


"Belum, hehehe," jawabku sambil tertawa kecil


"Diih pantesan, udahan mandi dulu sana atau mau aku mandiin?"


"Mau,"


"Tapi boong!!" seru Umang langsung mendorongku menuju ke kamar mandi


"Sue,"


*************


Sementara itu di kediaman Gardapati, Intan terlihat telaten mengobati luka-luka suaminya.


*Tok, tok, tok!!


Intan menghentikan sejenak kegiatannya dan bergegas membukakan pintu rumahnya.

__ADS_1


"Saya Bayu temannya Garda, apa dia ada di rumah?"


"Ada, silahkan masuk Mas," Intan segera mempersilahkan tamunya duduk, kemudian masuk ke kamarnya untuk memberitahukan suaminya.


"Ada Mas Bayu ingin bertemu dengan Mas," ucap Intan


Gardapati langsung bangkit dan berjalan ke ruang tamu.


"Siapa yang berani membuat penguasa Singosari babak belur seperti ini?" tanya Bayu dengan nada mengejek


"Seorang anak muda bernama Gilang, dia benar-benar sakti karena memiliki ajian Waringin Sungsang tingkat sempurna," jawab Gardapati


"Bukankah kau juga memiliki ajian yang serupa, kenapa kau tidak melawannya dengan ajian itu?"


"Aku mempelajari ajian itu belum sampai pada tingkat sempurna, mungkin setelah aku pulih aku akan menyempurnakan ajian ini agar aku bisa membalaskan dendam ku kepada pemuda itu,"


"Kenapa aku jadi penasaran dengan pemuda itu, dimana aku bisa menemui lelaki itu?" tanya Bayu


"Kau bisa menemuinya di kediaman Aki Janitra, dia tinggal disana,"


"Benar sekali, dia mewarisi semua ilmu kanuragannya, bahkan yang lebih hebat lagi dia memiliki kalung sakti Panca Sukma milik rampok legendaris Dhanu Waseso,"


"Pantas saja dia bisa melibasmu dengan mudah, ternyata dia begitu sakti,"


"Apa maksudmu datang kemari Bayu?" tanya Gardapati


"Aku ingin bertemu dengan guru, aku ingin menyempurnakan ajian serat Jiwa milikku, bukankah kau juga baru menguasai ilmu itu di level ke enam saja, kenapa kau tidak menyempurnakannya hingga level sepuluh. Level yang sempurna dan aku yakin ajian serat jiwa yang dsempurna bisa mengalahkan ajian Waringin Sungsang yang terkenal tak terkalahkan itu. Bagaiman kalau malam ini kita temui Ki Jarot di Gunung Kawi?" ajak Bayu Segara


"Baiklah, tunggu sebentar aku akan berganti pakaian dahulu," Gardapati kemudian masuk kedalam kamarnya untuk berganti pakaian


"Kau mau pergi lagi Mas?" tanya Intan


"Mungkin aku akan pergi dalam waktu lama, jika kau butuh sesuatu mintalah bantuan kepada Janaka,"

__ADS_1


"Kenapa kau selalu meninggalkan kami, tidakkah kau bisa bermalam dua hari saja, kasian Bima dia masih kangen dengan bapaknya,"


"Sudahlah Intan, jangan menghalang-halangiku lagi. Kau tahukan aku tidak pernah berbuat macam-macam. Aku pergi juga untuk mencari nafkah dan semuanya itu untuk kalian juga, untuk kamu dan juga Bima. Tunggu aku di rumah," Gardapati mengusap lembut rambut istrinya dan pergi meninggalkan ruangan itu bersama Bayu Segara.


"Halo Janaka, aku ingin berpesan padamu untuk menjaga Intan selama aku pergi, dan ingat kau harus memegang kendali selam aku pergi," ucap Gardapati kepada Janaka melalui telepon selulernya.


Laju kendaraan Bayu melesat menerobos gelapnya suasana malam kota Singosari.


Hanya butuh waktu dua puluh lima menit, Bayu akhirnya menghentikan mobilnya disebuah gubuk yang berada di kaki Gunung Kawi, tempat di desa Balesari.


Seorang lelaki tua datang menyambut kedatangan mereka, dan dua lelaki itu langsung memberi salam dan hormatnya kepada sang Guru.


"Kalian ingin menyempurnakan Ajian Serat Jiwa, itu sangat susah, karena banyak orang yang tidak kuat melakukan amalannya, karena sejatinya ajian serat jiwa tingkat kesepuluh adalah tingkat kesempurnaan hidup seseorang, dimana kau tidak boleh adigang adigung adiguna dalam menjalani hidup ini, dan itulah fase sempurna dari ajian ini, jika dalam tubuh kalian masih ada dendam dan nafsu yang masih mengusai jiwa kalian maka mustahil bagi kalian untuk menyempurnakan ajian serat jiwa ini," ucap Ki Jarot


"Jadilah seorang pendekar yang memiliki semangat juang seperti Brama Kumbara yang tidak putus asa saat ajian serat jiwanya di kalahkan oleh Ajian Waringin Sungsang milik Ki Jara, bukannya putus asa dia malah berusaha untuk berguru dan mempelajari ajian baru yang disebut Ajian Lampah Lumpuh yang akhirnya bisa mengalahkan ajian Waringin Sungsang. Kalian kalah cepat dengan Parjiman, bahkan ia sudah memulai amalan untuk mendapatkan ajian lampah lumpuh itu," papar Ki Jarot


"Apakah aku tidak bisa menambah tingkat kekuatan Ajian Serat Jiwa?" tanya Gardapati


Ki Jarot hanya tertawa mendengar pertanyaan Gardapati membuat lelaki itu sedikit kesal dibuatnya.


"Selama kau masih menjadi Raja Bandit penguasa Singosari kau tidak akan bisa Garda, sucikan dulu hati dan pikiranmu, baru kau bisa mempelajari ajian serat jiwa tingkat tujuh sampai sepuluh. Lebih baik kau sempurnakan saja ajian Waringin Sungsang milikmu itu, aku rasa itu jauh lebih sakti daripada ajian serat Jiwa," jawab Ki Jarot


"Dan kau Bayu, aku akan menurunkan sebuah ajian sakti untuk mengalahkan murid Ki Janitra itu!"


"Apa itu guru?" tanya Bayu penasaran


"Ajian Galap Ngampar, ajian ini tidak kalah sakti dengan ajian serat jiwa ataupun Waringin sungsang, kau hanya tinggal puasa empat puluh hari empat puluh malam, dan hanya dibolehkan makan jam dua belas malam, setelah itu dilanjutkan dengan puasa nglowong tujuh hari tujuh malam dimulai hari sabtu kliwon,"


"Baik guru, aku bersedia," jawab Bayu Segara


"Kau bisa memulainya malam ini juga. Untuk Gardapati tinggalah disini untuk beberapa waktu, karena aku ingin menyempurnakan ajian Waringin Sungsang milikmu. Sedangkan Bayu kau boleh melakukan amalan itu di rumah, tapi jika sudah selesai kau harus menemuiku." ujar Ki Jarot membuat kedua muridnya langsung mengangguk paham.


Gardapati berjalan masuk kedalam gubuk Ki Jarot sementara Bayu pergi meninggalkan rumah itu.

__ADS_1


Ki Jarot membawa Gardapati menuju ke belakang rumahnya, ia menyuruh Gardapati untuk masuk kedalam lubang kecil yang sudah dipersiapkan untuknya. Ia kemudian menguburnya hingga hanya terlihat kepalanya saja.


"Kau akan melakukan tapa pendem disini selama dua puluh satu hari dilanjutkan dengan puasa ngrowot selama dua puluh satu hari juga," Setelah selesai mengubur Gardapati Ki Jarot meninggalkannya sendiri di sana


__ADS_2