
Barra melesatkan kerisnya ke angkasa dan menarik tubuhnya ketika angin ****** beliung itu menggulungnya.
Gelombang Dahsyat tercipta ketika kekuatan keris sakti Barra beradu dengan dahsyatnya ajian serat Jiwa membuat bumi bergetar, bahkan semua yang ada di luar bangunan itu bisa merasakan goncangan kedahsyatannya.
"Berhasil!!" Rangga langsung membuka matanya dan tersenyum kearah ku.
"Apanya yang berhasil?" tanyaku penasaran
"Barra berhasil membuka pagar gaibnya, sekarang saatnya kita beraksi!" ajak Gilang
"Yoi bro, saatnya kita bantai Si Bayu Segara itu!!" aku langsung menggendeng Rangga menuju ke rumah Bayu
"Kita mau ngapain Lang pakai gandengan segala?" suara Janaka mengagetkan aku dan langsung membuat aku menoleh ke arahnya.
"Anj*y, kenapa gue jadi salah gandeng gini," aku langsung melepaskan tangan Janaka.
Membuat semuanya tertawa melihat ekspresi linglung ku.
"Come on Ran!!"
"Ayem coming!!" Rangga berlari menghampiriku menuju kediaman Bayu yang sudah mulai terlihat jelas.
Ku lihat Barra dan Janaka masih bertarung sengit dihalaman rumahnya.
"Cari Uma, biar gue yang akan menghadapi Bayu Segara!!" Barra langsung mengangguk dan pergi meninggalkan kami
"Kalian keren juga, bisa menghancurkan pagar gaib ku, tapi apa kau kira bisa mengalahkan aku. Dulu kau boleh mengalahkan aku tapi tidak saat ini Gilang!" seru Bayu Segara
Tiba-tiba ia mengurung kami berdua dengan pagar gaibnya agar Rangga dan Barra tidak bisa membantuku.
__ADS_1
"Kita lihat aja, apa kau akan menang melawan aku tanpa bantuan dari kedua teman-temanmu itu," ucap Bayu tersenyum licik
"Tanpa mereka aku pun bisa mengalahkan kamu Bayu, bersiaplah akan ku kirim kau menemui leluhur mu Tunggul Ametung di neraka!!" Aku langsung melesatkan tenaga dalamku kearahnya
*Jrashhh!!
Bayu langsung melesatkan tubuhnya ke angkasa seperti burung yang terbang tinggi ke angkasa.
Dia menguasai ajian Saifi Angin yang bisa membuat orang bergerak cepat seperti angin, melesat secepat kilat dan terbang tinggi menghindari serangan musuh-musuhnya.
Kekuatannya sudah jauh meningkat berbeda saat pertarungan kami yang pertama kali di pinggir hutan Lali Jiwo. Aku tidak bisa meremehkannya lagi.
"Kenapa kau diam tidak menyerang Gilang, apa kau takut dengan ajian Saifi Angin milikku, kau akan terkejut lagi dengan ajian yang akan mempersembahkan kepadamu sebagai hadiah pertemuan kita yang kedua ini Ken Arok," ia menyeringai dan kemudian menggerakkan tangannya mengitari ku.
Aku tahu dia sedang mengeluarkan ajian sakti miliknya, dan aku juga perlu waspada. Ku arahkan mataku untuk melihat arah gerakannya.
Ia mulai menggerakkan tangannya seperti hendak melesatkan sebuah pukulan kearah ku, tangannya tiba-tiba berubah menjadi kobaran api yang siapa melesat menghantam ku.
Hawa panasnya sudah mulai ku rasakan walaupun ia berada seratus meter dariku.
Aku tidak mau mati terbakar oleh pukulan Lebur Saketi, waktuku tidak banyak untuk bisa mengeluarkan ajian Waringin sungsang andalanku, aku bisa saja mati terkena pukulannya saat aku sedang menyayikan kidung Ajian Waringin Sungsang yang begitu panjang. Sepertinya aku harus menghentikannya untuk sesaat sebelum aku meleburkan sukmanya menggunakan ajian Waringin Sungsang.
Segera ku pusatkan pikiranku agar bisa berkonsentrasi untuk melantunkan ajian Sirep Megananda untuk menghentikan sementara pergerakan Bayu Segara.
Betapa terkejutnya aku ketika aku sudah selesai membaca mantera ajian Sirep Megananda Bayu tidak juga tertidur, bahkan ia malah tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi kebingungan di wajahku.
"Kau memang sakti Gilang, tapi sayangnya kau sangat bodoh. Aku sudah pernah kalah menghadapi mu sekali, dan itu sudah cukup bagiku untuk mengetahui semua ajian sakti milikmu. Dan aku sudah berusaha keras mencari dan mempelajari ajian sakti untuk menandingi ilmu Kanuragan mu. Tapi sayangnya aku salah Ajian Waringin Sungsang milikmu adalah ajian paling sakti uang tidak ada tandingannya, dan akhirnya aku menggunakan kecerdasanku untuk mengalahkan kesaktian mu." Bayu Segara melepas penyumbat telinganya membuatku terkejut bukan main.
"Kau terkejut bukan, ajian Sirep Megananda yang terkenal sangat sakti cuma dikalahkan oleh kapas penyumbat kuping," ucapnya meledek
__ADS_1
"Itulah sebabnya kenapa Tuhan Kita meninggikan derajat orang-orang berilmu, karena orang berilmu tinggi sangat mudah mengalahkan orang-orang sakti. Ia mengalahkan mereka bukan dengan melakukan puasa, Pati Geni, tapa Pendem, puasa mutih berhari-hari yang begitu menyiksa diri, atau mendatangi tempat-tempat keramat untuk mendapatkan wangsit atau bisikan gaib. Mereka mengalahkan orang sakti itu menggunakan otaknya, dan itu sangat mudah dan tidak perlu tumbal ataupun sesaji. Jadi sekarang bersiap-siaplah untuk menyesali kelahiran mu untuk kedua kalinya di muka bumi ini Ken Arok!!" Bayu melesat secepat kilat sembari menghantamkan pukulannya kepadaku.
*Buuugghh!!!!
"Aaarrgghh!!!" aku mengerang begitu keras membuat burung-burung langsung berterbangan meninggalkan sarangnya, kurasakan hembusan angin seketika berhenti. Hawa panas begitu menyiksa tubuhku, ku rasakan tubuhku seperti sedang terpanggang di atas bara api yang sedang menganga.
Samar-samar kulihat ribuan kelelawar berterbangan kearah Bayu Segara ketika lelaki itu hendak melesatkan pukulannya untuk kedua kalinya kearahku.
Kau begitu bodoh Gilang, bukankah kau sudah melihat para Suanggi yang tidak terpengaruh dengan ajian Sirep Megananda milikmu, karena kuping mereka disumbat dengan kapas, tapi kenapa kau melakukan hal yang sama pada Bayu yang sudah tahu kelemahan ajian Sirep itu.
Pakai kerismu untuk membunuhnya, lakukan seperti dulu kau menghabisi Akuwu Tumapel Tunggul Ametung, karena kematian mereka memang sudah digariskan mati ditangan mu. Jika dulu Akuwu Tumapel mati ditusuk keris Empu Gandring maka Bayu Segara akan mati dengan keris itu juga.
Tanpa berpikir panjang aku keluarkan keris dari dalam tubuhku dan mengangkatnya ke angkasa. Tiba-tiba suasana malam berubah semakin mencekam, lampu-lampu mendadak padam sebuah Kilat melesat menyambar kearah ku membuat tubuhku bergetar dialiri arus listrik yang membuat tubuhku menjadi merasa lebih kuat. Aku mulai berdiri tegap menatap kearah Bayu Segara yang masih menghalau ribuan kelelawar dengan Ajian lebur Saketi miliknya.
Angin berhembus kencang membuat pepohonan tumbang dan terbawa dalam pusaranya.
Tiba-tiba sebuah Keris melesat menuju kearahku.
*Wuuushh!!
Keris itu berhenti didepan ku dan segera menyatu dengan keris milikku. Kini Wesi aji itu bersinar terang dan aku sudah siap untuk menghunuskannya ke jantung Bayu Segara agar dia tidak bereinkarnasi lagi di kehidupan yang akan datang.
*Hyyyaaattt!!
Aku berlari kearah Bayu Segara dan bersiap untuk menghunuskan kerisku padanya.
Segera ku ayunkan kerisku dan kutusukan ke jantungnya hingga membuat lelaki itu langsung jatuh tersungkur ke tanah.
"Kau curang Gilang, aku masih sama dengan Ken Arok yang dulu membunuhku. Sekarang kau membunuhku disaat aku sedang lengah menghadapi para kelalawar milik lelurmu itu.
__ADS_1
Kau akan terus hidup dalam penyesalan Gilang, sama seperti Ken Arok leluhurmu itu," ucap Bayu menghembuskan nafas terakhirnya.
"Tidak Kanda, kali ini kau sudah mengalahkanya sebagai seorang kesatria. Kanda prabu tidak akan menyesal lagi karena kau sudah bertanding secara jantan dengannya, aku bangga padamu Kanda," Uma tersenyum didepan ku membuat ku sedikit lega