BUKAN KEN AROK

BUKAN KEN AROK
Bertemu Uma


__ADS_3

Sepulang dari Kampus gue langsung menuju ke Desa Sumberawan untuk mencari Uma kembali. Beruntungnya hari ini aku bawa motor butut peninggalan si Jay jadi tidak perlu repot-repot naik bus yang banyak copetnya itu.


Aku berhenti sejenak di sebuah SPBU untuk mengisi bahan bakar yang sudah menipis.


Ketika sedang mengisi bahan bakar aku melihat copet yang kemarin mengambil dompetku. Aku langsung mengejar perempuan yang langsung naik kedalam bus penumpang itu. Tidak berapa lama ia keluar dengan gayanya yang khas, membiat aku bisa menebaknya kalau dia baru saja berhasil mendapatkan mangsa.


**Ciit!!!


Ku hentikan motorku didepan gadis itu.


"Kembalikan dompet gue woii!!" seruku sembari mendekati gadis itu, yang berusaha berlari menjauh dariku.


Setelah memastikan gadis itu tidak meronta, aku langsung membuka topi dan kacamata hitam yang selalu dipakainya.


Betapa terkejutnya aku ketika menatap wajah gadis itu, walaupun sudah tidak bertemu dengannya selama kurang lebih delapan tahun, tapi aku yakin kalau dia itu adalah Uma yang selama ini aku cari.


"Uma!!"


Tanpa berpikir panjang aku langsung memeluknya, hingga membuat gadis itu meronta karena mengira aku adalah orang jahat yang akan berbuat tidak senonoh dengannya.


"Lepasin gak atau aku teriak, kalau lo mau memperkosa aku!" ancam Uma sambil terus meronta, namun aku tidak menghiraukannya .


Entahlah aku merasa bersalah ketika melihat keadaan Uma yang sekarang, benar-benar kurang perawatan.


"Tolo,_" baru saja gadis itu akan berteriak minta tolong aku langsung membungkam mulutnya.


"Jangan teriak Uma, aku Gilang. Mas Gilang kamu sudah datang," ucapku melepaskan pelukanku, menatap lekat kearahnya.


"Kamu beneran Mas Gilang?" tanya Uma tidak percaya


"Iya, kenapa aku tambah ganteng ya, makannya kamu gak kenal aku lagi," ledekku membuat Uma tertawa


"Bukan itu, tapi kok Foto di KTP sama aslinya beda banget. Makanya aku gak tahu kalau itu punya Mas Gilang," Uma kemudian memberikan dompetku dan aku langsung membuka KTP ku.


"Iya emang beda ya, di KTP jelek banget maklum masih Ori gak pake filter, padahal aslinya ganteng banget gak ketulungan kaya babang Mimin Ho,"


Uma hanya tertawa mendengar ucapanku.


"Lee Min Hoo kali bukan Mimin Ho Mas,"


"Iya sih kayaknya, maklum gak hafal artis Korea, btw kamu sekarang sudah pindah rumah ya, kok gak bilang-bilang sih,"


"Iya, Bu Lik sudah menjual rumah itu kepada seorang rentenir bernama Parjiman, untuk membayar hutang tapi malah gak lunas-lunas juga hutangnya sampai sekarang," jawab Uma


"Uma juga minta maaf karena semua uang di dompet Mas sudah habis ku pakai," imbuhnya sedih


"Its Ok Uma, gak masalah, nanti Mas bisa cari lagi kok, santuy!"


**Bugghhh!!!


Tiba-tiba seorang anak kecil menabraku.

__ADS_1


"Kaka, tolong Wulan, dia diperas lagi sama Janaka," ucap anak itu pada Uma


"Dimana dia," jawab Uma


"Ada di dekat terminal," anak itu kemudian menarik Uma membawanya pergi dariku


"Anj*r dikacangin gue," gumamku


Aku langsung melesatkan motorku mengejar Uma dan anak kecil itu.


"Kuy naik!" ajakku ketika menghampiri keduanya


Anak itu menuntunku menuju ke sebuah terminal bus Singosari, disana kulihat seorang lelaki berbadan kekar tengah menganiaya seorang anak kecil.


"Dasar bencong, beraninya menganiaya anak kecil," aku segera menghampiri lelaki itu dan menghajarnya hingga jatuh tersungkur


"Kalau berani cari lawan yang seimbang c*k!" aku kembali melesatkan pukulan kearahnya.


"Jangan ikut campur kau, kecuali kau sudah bosan hidup," jawab lelaki itu sembari bangkit dan melepaskan tendangannya kearahku, beruntungnya aku bisa menghindari serangannya.


Tidak berapa lama beberapa orang preman bermunculan dan bersiap mengeroyokku.


"Ternyata, lo gak sendirian rupanya!!" aku menyuruh Uma untuk pergi dari terminal bersama anak-anak itu.


"Siapa kau beraninya ikut campur dengan urusan Janaka!" ucap seorang yang keluar berbadan kekar dengan dipenuhi tato di lengannya


"Cih, nama Janaka tapi kelakuan kaya Rahwana!" sahutku membuat lelaki itu menyunggingkan senyumnya.


"Gue Gilang, gue juga asli dari Singosari, hanya saja gue baru beredar lagi setelah delapan tahun berkelana mencari emak gue!"


"Jangan bohong, sudah habisin saja dia!!" seru preman-preman lainnya


"Kalian ini anak kemarin sore aja sok-sokan, sini maju kalau berani!" tantang ku


Mereka kemudian merangsek maju menyerangku, aku sedikit kewalahan melawan banyaknya preman yang terus berdatangan menyerangku. Beruntungnya aku bisa membaca setiap gerakan mereka setidaknya aku masih bisa mengelak dari serangan yang bertubi-tubi mengarah kepadaku.


*Buugghh!!


Sebuah tendangan berhasil membuatku jatuh terhempas menabrak sebuah angkot yang terparkir tidak jauh dari tempat kami berkelahi.


"Kanda kamu tidak papa?" tanya Umang yang datang menolongku


"Anj*y, di era milenial gini masih ada panggilan Kanda, benar-benar kolot!!" ejek preman-preman itu sembari menertawakan kami


"Kenapa kau kesini honey, sudah pulang saja, bahaya kalau kamu disini!"


"Tidak kanda, kau butuh bantuanku sekarang untuk itulah aku datang kemari," jawab Umang


"Anj*r romantis sekali pasangan ini, bagaimana kalau kita habisi saja keduanya!" seru yang lainnya


"Bantai saja!!" tambah yang lainnya membuat Umang geram

__ADS_1


Gadis itu kemudian berdiri dan maju menyerang para berandal kampung itu seperti tokoh dalam drama kolosal Mantili dalam serial Saur Sepuh.


Aku tidak mau tinggal diam melihat Umang bertarung sendirian melawan para bandit-bandit kampung itu.


Sebuah tendangan maut berhasil aku lesatkan hingga membuat beberapa orang preman itu langsung berjatuhan.


Ternyata jurus-jurus yang diajarkan oleh Jay lumayan berhasil juga untuk melawan mereka.


Sejenak aku terkesima melihat keahlian beladiri Umang yang mampu menjatuhkan puluhan preman-preman itu dengan sekali pukulan.


"Awas kanda!!" teriak Umang sembari melesatkan tendangan membuat aku langsung menutup mataku karena tidak mau melihat bagian sensitif Umang yang terlihat saat melesatkan tendangannnya kearah musuh-musuhnya.


"Lain kali kalau mau berantem pakai celana panjang ya, jangan pakai rok!" bisikku lirih


"Emangnya kenapa Kanda,"


"Pokoknya jangan pakai Rok, bahaya bisa soalnya,"


"Bahaya kenapa kanda?" tanya Umang lagi


"Pokonya bahaya, karena bisa bikin tegang!"


Umang masih terus menghajar musuh-musuhnya dengan pukulan dan tendangannnya, dia benar-benar bukan wanita biasa tapi seperti seorang pendekar.


Aku yang sudah kelelahan karena harus melawan preman satu kampung terpaksa beristirahat sejenak untuk bernapas, lagipula Umang juga sangat kuat dan tidak butuh bantuan gue kayaknya.


Ku kibaskan daun jati kering yang ada di sampingku untuk mengipasi tubuhku yang terasa sangat gerah.


**Buugghhhh!!


"Awww!!" tiba-tiba seorang lelaki bertubuh gempal turun dari sebuah mobil dan melepaskan tendangannya kearah Umang hingga ia jatuh tersungkur didepanku.


"Kamu tidak apa-apa Dinda?" tanyaku khawatir


"Makanya kanda jangan diem saja, bantu aku!" seru Umang


"Iya honey, sudah kamu istirahat saja dulu, biar Kanda yang menghadapi lelaki itu!" aku segera berdiri dan menghampiri lelaki itu yang sekilas mirip dengan suami Intan.


"Majulah kepar*t jangan jadi pengecut kau!!" seru lelaki itu melesatkan pukulannya kearahku.


Aku langsung menghindari setiap serangannya yang tidak bisa diprediksi. Lelaki ini benar-benar kuat, mungkin dia adalah ketua dari preman-preman itu, karena kemampuan bela dirinya tidak bisa dianggap remeh.


Dua kali aku terkena pukulannya hingga membuat wajahku babak belur, dan kali ini ia la bersiap melesatkan tendangan mautnya kearahku.


"Minggir Kanda!!" ku lihat Umang langsung melompat dan melesatkan tendangannnya kearah lelaki itu.


Oh My God, tendangan Umang begitu tinggi hingga membuat dalamannya kelihatan. Aku tidak akan membiarkan lelaki itu melihat harta berharga milik Umang. Aku langsung berlari kearah lelaki itu dan menutup matanya yang membelalak kearah Umang.


"Jangan lihat-lihat, ingat istri dirumah!!" ucapku sambil menutup matanya


*Buughhh!!

__ADS_1


"Astoge, kenapa tiba-tiba ada bintang-bintang diatas kepalaku padahal masih siang," aku memegangi kepalaku yang terasa pusing karena terkena tendangan Umang


__ADS_2