
Sepertinya yang dikatakan Umang benar tentang Bayu Segara, dia bukanlah lawan yang bisa diremehkan.
Dengan ajian bolo sewu ini membuat aku kebingungan mencari mana Bayu setara yang asli.
Aku terus melakukan serangan kepada Bayu segara tapi sia-sia, mereka terlalu banyak dan aku benar-benar sulit membedakannya.
*Bugghhh!!
Sebuah tinju melesat diwajahku, bukannya sekali tapi berkali-kali hingga tubuhku jatuh tumbang ke tanah.
Rangga berlari kearahku ketika sebuah pedang melesat kearahku.
"Gilang awas!!" serunya sambil mendorong ku kesamping.
Tubuhku langsung terpelanting ke samping dan tidak terkena sabetan pedang Bayu Segara.
Aku langsung bangkit untuk memastikan keadaan Rangga, syukurlah ternyata ia bisa tidak terkena sabetan pedang pusaka Bayu Segara karena ia menangkisnya dengan keris saktinya.
" Cari satu Yang asli, dan dia adalah yang menyerang lo!!" seru Rangga memberikan kerisnya kepadaku .
"Dari mana kau tahu Ran?" tanyaku penasaran
"Bukankah kau pernah bilang kalau kau memiliki kalung sakti yang mana apabila kau memakainya maka makhluk halus atau dedemit yang akan berbuat jahat kepadamu maka mereka tidak akan bisa melihatmu," jawab Rangga
"Lo benaran Ran, kenapa aku tidak terpikirkan hal itu," aku menggaruk-garuk rambutku yang tidak gatal sembari menatap Bayu segara dan Bolo Sewunya.
Aku menggerakkan tanganku dan kemudian memusatkan konsentrasi untuk mengenali yang mana dari seribu bayangan itu yang merupakan Bayu segara yang asli.
"Pancing dia, jika perlu pancing dia agar menyerangmu dengan menggunakan Ajian Waringin Sungsang untuk menakutinya!" seru Rangga lagi
"Tenang saja, kau tidak perlu takut karena selain Bayu, semua demit itu tidak bisa melihat mu apalagi menyerang mu," tambah Rangga
Aku hanya mengangguk, mengiyakan semua perintah Rangga. Baiklah aku akan segera melakukan semua perintah Rangga. Segera ku kepalkan tanganku dan segera ku tarik nafas dalam-dalam untuk bersiap merapalkan kidung Waringin Sungsang yang akan mematikan sang lawan. Tiba-tiba terdengar suara burung gagak seperti mengisyaratkan sesuatu yang buruk akan terjadi, daun daun bergoyang dan disusul dengan angin kencang dan kilat yang menyambar membelah langit.
##SUN AMATEK AJIKU WARINGIN SUNGSANG,
WAYAHIPUN TUMURUNA,
NGAUBI AWAK MAMI,
TUR TINUTING BALA,
PINACAK SUJI KEMBAR,
PIPITU JAJAR MARIPIT,
ASRI YEN SIYANG,
ANGKER KALANE WENGI.
__ADS_1
DUK SAMANA AKEMPAL KUMPULING RASA, NETRAKU DADI DINGIN,
NETRA NINGSUN EMAS,
PUPUTIHE MUTYARA,
IRENG-IRENG WESI MANIK,
CEPLOKING NETRA,
WALIKER UDA RATIH.
IDEP INGSUN KEKENCANG BANG RURUWITAN,
ALISKU SARPA MANDI,
KIWA TENGEN PISAN,
CUPAKKU SURYA KEMBAR,
KEDEPKU PAN KILAT TATIT,
KANG MUNGGENG SIRAH,
WESI KEKENTEN ADI.
RAMBUT KAWAT SINOMKU PAMOR ANGLAYAP,
KUPINGKU SALAKA,
PILINGAN INGSUN GANGSA,
IRUNGKU WESI DUAJI,
PASU KULEWANG,
PIPIKU WESI KUNING. # #
Bayu membelalakkan matanya ketika mendengar sebuah kidung yang begitu mematikan, hingga seluruh bajunya terlepas dari tubuhnya saat kidung itu mulai bergema.
"Ajian Waringin Sungsang!!, aku harus segera mencegahnya menyelesaikan kudung itu kalau tidak mau mati sia-sia," batin Bayu segara
Lelaki itu kemudian menggerakkan tangannya dan dan mengitariku yang sedang duduk bersila sembari berkidung.
Sebuah kilatan berwarna biru keluar dari tangannya dan dilepaskannya kearahku.
*Wuushh!!
Laksana sebuah perisai tiba-tiba sebuah cahaya putih menutupi seluruh tubuhku hingga ajian Galap Ngampar yang dilesatkan oleh Bayu Segara tidak mengenai tubuhku dan justru berbalik menyerangnya hingga tubuh Bayu menghitam seperti terkena kilatan Petir.
__ADS_1
"Kau memang sakti Gilang, tapi aku tidak bisa mengalah denganmu begitu saja apalagi, malam ini adalah hari yang sudah kutunggu ratusan tahun untuk membalas dendam padamu Arok," ujar Bayu segara yang kali ini lebih memilih ajian Serat Jiwa untuk mempertahankan diri dari dahsyatnya Ajian Waringin Sungsang.
"Setidaknya dengan Ajian ini aku masih bisa menahan Ajian maha Dewa itu," Ia kemudian mengembangkan tangannya dan menggerakkannya dan kemudian tubuhnya melesat ke angkasa seperti terbang ke angkasa, setelah tubuhnya sudah terisi dengan kekuatan yang membuat tubuhnya bersinar, ia kemudian turun menukik sembari melesatkan pukulannya kearahku.
**Duuaaaasttt!!!
Sebuah suara dahsyat terdengar membuat gelombang getaran dahsyat setelah dua kekuatan besar saling beradu.
Bayu terpental hingga membentur pohon, karena kuatnya kekuatan ajian serat jiwa miliknya, yang sudah mencapai level enam membuat pohon itu roboh seketika setelah terbentur oleh tubuhnya.
"Kenapa dia belum selesai berkidung juga, apa Arok benar-benar akan membunuhku juga kali ini!!" gumam Bayu
"Stop!!, ngapain kalian malam-malam di pinggir hutan!!" teriak seorang petugas polisi hutan yang sedang berpatroli
"Atau jangan-jangan kalian ini adalah maling kayu yang akhir-akhir ini mencuri dikawasan hutan ini!" hardik lelaki itu lagi membuat Bayu berusaha bangkit dan berdiri
"Ini lagi, malam-malam malah berkidung bikin orang ketakutan saja!, berhenti atau akan ku siram pakai air!" ancam lelaki itu mengeluarkan botol minumnya.
"Ngeyel nih anak!!" teriak petugas lain yang langsung mengguyurkan air dari botol minumnya membuatku akhirnya menghentikan kidungku.
Memang ketika aku sedang berkidung aku sedang tidak sadarkan diri karena sukmaku sudah menyatu dengan roh leluhurku yang ikut terpanggil saat aku sedang berkidung.
"Nj*r, kenapa jadi basah gini!" keluhku sembari membersihkan bekas air yang menempel di bajuku.
"Makannya jangan suka berkidung malam-malam pamali, apalagi di tepi hutan, bikin kita merinding saja!" jawab petugas Perhutani
"Kita ini lagi latihan ilmu kanuragan kami Bapak polisi yang terhormat, jadi please pergi jauh-jauh dari sini, atau kau akan kena sasaran ilmu santet mau!" hardik Rangga menakut-nakuti tiga orang polisi hutan tersebut
"Hiii, ngeri kali mending kita cabut saja dari sini daripada mati sia-sia karena terkena santet!" ucap petugas itu berlari meninggalkan kami.
"Arok, aku ingin mengajukan negosiasi denganmu?" tanya Bayu menyunggingkan senyumnya
"Katakanlah Akuwu!" jawabku mantap
"Eh, sejak kapan nama kamu ganti jadi Arok Lang?" tanya Rangga penasaran sembari mengacak-acak rambutnya
"Kau belum tahu sahabatku, oh iya aku lupa memberi tahukan mu kalau aku ini Adalah Ken Arok Raja Singosari. Aku sengaja datang ke abad ini untuk berduel dengan Akuwu Tumapel Tunggul Ametung untuk menyelesaikan dendam lama kami. Karena aku dulu menyingkirkannya dengan cara licik, yaitu membunuhnya saat dia sedang tidur. Di tahun ini dengan restu Sang Hyang Widhi Wasa kami berdua diterlahirkan kembali. Untuk itulah aku jauh-jauh datang dari abad ke 12 untuk memenuhi permintaan Tunggul Ametung untuk berduel dengan ku, sebuah perjalanan panjang yang aku lalui melintasi dimensi waktu hanya untuk menebus kesalahan masalalu dan juga penyesalanku karena telah menyebabkan tujuh keturunanku terkena kutukan Empu Gandring untuk menebus karmaku dimasa lalu!"
"Ck, ck, tua banget lo. Tapi ingat Lang gue bukan anak kecil yang bisa lo boongin," cibir Rangga tetap tidak percaya
Ken Arok hanya tersenyum simpul menatap Rangga yang masih tidak mempercayainya.
"Mana buktinya kalau kamu itu Ken Arok Raja Singosari seperti yang aku dengar dalam pelajaran sejarah," tantang Rangga
"Baiklah Ki Sanak, aku akan membuktikannya kepadamu,"
Tiba-tiba angin berhembus kencang, Ku angkat tanganku keatas seperti menunghu sesuatu yang akan jatuh dari langit. Sebuah senjata melesat dari angkasa dan langsung ku tangkap. Keris itu mengeluarkan sinar biru seperti kilat yang mengarah ke langit.
"Keris Empu Gandring!" seru Rangga mengucek-ngucek matanya
__ADS_1