
Pagi-pagi sekali Uma sudah datang ke rumah Gilang untuk membuatkannya sarapan pagi.
"Uma, bisakah aku meminta dua gelas kopi hitam spesial," cicit Rangga
"Baik Ka, tunggu sebentar ya," jawab Uma
"Yuhuu, thanks Uma," Rangga segera masuk kedalam kamarnya.
Tidak lama kemudian Janaka datang membawa buah untuk Gilang.
"Halo Bro, apa kabar?" sapa Janaka
"Baik Bro, silahkan duduk,"
Janaka segera duduk di samping Gilang dan tidak berapa lama kemudian Uma datang dengan membawa dua gelas kopi.
"Thanks Uma, kamu pengertian banget sudah menyiapkan kopi untuk kami berdua tanpa diminta," aku langsung mengambil nampan dari Uma dan menyajikan kopinya di meja.
"Tapi itu bukan buat kalian, itu kopi Ka Rangga," ucap Uma tidak enak hati
"Akh, tidak masalah kau bisa membuatnya lagi bukan," sahutku enteng
"Baiklah, nikmati saja kopinya," Utama tersenyum dan pergi meninggalkan kami
"Boleh numpang kebelakang sebentar," ucap Janaka
"Gak boleh,"
"Jangan pelit gitu dong Lang, walaupun kau tidak suka denganku gara-gara kita mencintai gadis yang sama, tapi kamu harusnya bersikap gantle sebagai seorang laki-laki. Bagaimana kalau kita bersaing secara sehat, siapapun yang nantinya akan dipilih oleh Uma kita tidak boleh marah, benci ataupun dendam, Ok?" ujar Janaka
"Ok, yasudahlah go!!"
Janaka bergegas masuk kedalam sembari menyunggingkan senyumnya.
Sesampainya di belakang bukannya ke toilet Janaka justru segera menemui Uma dibelakang.
"Uma, aku bawa obat herbal buat Gilang, tolong seduh sekarang ya, kata penjualannya paling bagus diminum sebelum sarapan soalnya," pinta Janaka
"Ok Jak, btw terima kasih sudah perhatian sama Mas Gilang," jawab Uma
"Tentu, kan Gilang sudah menolong kamu jadi sudah seharusnya gue juga harus baik sama dia," jawab Janaka tersenyum kecut kearah Uma
Ia kemudian kembali ke depan dan pamit pulang kepadaku.
Rangga yang sudah tidak sabar karena menunggu kopinya, terpaksa menuju ke dapur untuk mengecek ke dapur apa Uma sudah membuatnya atau belum.
__ADS_1
Senyumnya mengembang ketika melihat dua gelas berisikan kopi yang tercium sangat harum baunya.
"Thanks Uma," Rangga segera membawanya menuju ke kamarnya.
"Bar-bar, ngopi nyok!" serunya sambil menyeruput kopinya
"Wah, rasanya enak juga kopinya," Rangga meneguknya lagi hingga habis
"Barra gak mau ngopi?" tanya Rangga
"Yaudah kalau gak mau, biar gue habisin kopinya," Tambah Rangga
"Eits, enak saja, minggir Lo!" Barra segera meneguk kopinya hingga habis sekali teguk.
"Kita ke depan nyok, kasian Gilang sendirian," Rangga segera menarik Barra keluar kamarnya
Tiba-tiba ia merasakan kepalanya sakit, mual dan memuntahkan sesuatu dari mulutnya, ia kemudian kejang dan mengeluarkan busa dari mulutnya.
"Rangga, kamu kenapa Ran, Rangga!!" aku segera menggendong tubuh Rangga dan membawanya ke kursi.
"Dia kenapa?" tanya Uma
"Kalau dilihat gejalanya dia sepertinya keracunan, kau jaga rumah aku akan membawanya ke rumah sakit," aku segera berganti pakaian dan membawa Rangga ke rumah sakit
"Tunggu Mas, minumkan air lemon ini untuk menetralisir racunnya," cegah Uma, ia memberikan segelas air lemon dan aku langsung meminumkannya kepada Rangga
"Makasih dokter," Aku mengantarkan dokter itu sampai depan pintu.
"sebenarnya apa yang dia makan atau minum sehingga dia bisa keracunan seperti ini?" tanyaku penasaran
"Kita cuma minum kopi dari Uma," jawab Barra
"Tunggu, maksudnya Rangga seperti ini setelah meminum kopi buatan Uma?"
"Yoi,"
"Berarti Uma penyebab semua ini," Aku langsung keluar untuk menginterogasi Uma di rumah. Namaun takdir mempertemukan kami di depan pintu ruang perawatan.
"Apa yang kau masukan di dalam kopi Rangga?" tanyaku penuh penekanan
"Sebenarnya, aku belum membuatkan kopi untuk Rangga, dia salah ambil. Yang dibawa Rangga itu bukan kopi untuknya, tetapi obat herbal yang diberikan oleh Janaka untuk kamu dan satunya adalah kopi ku. Aku sengaja membuatkan obat herbal itu terlebih dahulu, karenaJak bilang obat itu akan terasa khasiatnya jika diminum sebelum sarapan. Dan ketika aku meletakanya di atas meja, Rangga mengira kalau itu adalah kopi untuknya dan langsung membawanya ke kamarnya. Dan ketika aku akan memberi tahukan Rangga dia sudah kejang-kejang," jawab Uma merasa bersalah.
Aku segera pergi meninggalkan rumah sakit untuk mencari Gilang, karena aku tahu dialah penyebab semuanya ini. Dan aku tahu sebenarnya sasarannya bukan Rangga tapi aku.
*Buugghhh!!
__ADS_1
Aku langsung menghajarnya tanpa henti ketika melihatnya di dekat terminal.
"Kenapa kau ingin membunuhku Jak, apa yang membuatmu ingin menyingkirkan aku dari muka bumi ini. Apa kau takut jika Uma akan lebih memilihku daripada dirimu?, bukankah kau sendiri yang bilang kalau kita harus bersaing secara sehat, tapi kenapa kau malah berbuat curang seperti ini. Dengarkan aku!!, aku tidak akan membiarkan kamu hidup jika terjadi sesuatu terhadap Rangga!!" ancamku sembari melepaskan pukulan ku kepadanya.
"Aku minta maaf Lang, aku menyesal!!" seru Janaka bersimpuh di kakiku
"Kau bilang menyesal!!" kembali ku Lesatkan tendangan ku hingga ia terjungkal dan berlumuran darah
"Aku akan menerima penyesalan mu dan perminta maafkan Lo jika itu bisa membuat Rangga sembuh, tapi kalau tidak bukan maaf yang akan Lo terima tapi kematian. Karena nyawa harus di bayar dengan nyawa!!" ancam ku
"Please Gilang maafkan aku!!. Aku menyesal telah termakan hasutan Parjiman untuk membunuhmu, tapi aku janji akan melakukan apapun untuk kesembuhan Rangga," cicit Janaka kembali bersimpuh di kakiku
"Kalau begitu, bawa aku menemui Parjiman!"
"Baik," Janaka segera menyuruhku naik keatas motornya dan melesat menuju ke markasnya.
Dia menghentikan motornya disebuah bangunan tua yang terlihat dijaga ketat oleh para kaki tangan rentenir itu.
"Kau tidak perlu ikut, aku tidak akan melibatkan dirimu dalam urusan pribadiku. Pergilah!!" aku sengaja menyuruh Janaka pulang karena aku takut Parjiman akan menyakitinya,
"Tapi Lang, kalau kau sendirian kau bisa kalah melawan anak buah Parjiman yang berjumlah ratusan. Izinkan aku untuk membantumu untuk menebus kesalahanku padamu," cicit Janaka
"Tidak perlu, terima kasih atas bantuanmu," Aku segera bergegas masuk menuju ke markas Parjiman
Beberapa orang kaki tangan Parjiman segera menghadang ku di pintu masuk.
"Minggir, atau kalian mati!!" ancam
ku
Mereka menyeringai dan tidak takut dengan peringatan ku.
"Baiklah kalau kalian mau mati aku akan mengabulkannya," Ku Lesatkan pukulanku ke arah mereka hingga mereka berjatuhan satu persatu.
Sepertinya yang dibilang Janaka benar adanya semakin aku masuk kedalam bangunan itu semakin banyak anak buah Parjiman yang menyerang ku. Tapi seberapapun banyaknya mereka itu tidak akan mengurungkan niatku untuk mengalahkan Parjiman.
Rasanya aku sudah seperti monster yang siap menghabisi musuh-musuhnya.
Langkahku terhenti ketika seorang lelaki tiba-tiba muncul menodongkan senjata api kearahku.
"Oh, ternyata aku kedatangan tamu agung dari kerajaan Singosari. Sayang sekali rencana ku gagal untuk membunuhmu dengan cara halus dan kasihan dukun sakti temanmu itu yang harus sekarat dan mungkin tinggal menunggu waktu saja untuk mati. Dan kau juga akan segera menyusulnya Gilang, karena kau sudah mengantarkan nyawamu sendiri ke sini. Aku ingin tahu apa seorang titisan Ken Arok Raja Singosari akan kebal terhadap senjata api," ucap Parjiman menyeringai
Tiba-tiba beberapa orang bersenjata api bermunculan dan mengepungku.
"Semuanya siap!!!"
__ADS_1
"Tembak!!!" seru Parjiman