
"Tunggu aku Rangga, tunggu Babang Gilang datang menolongmu!!"
Segera Ku letakkan lenganku di pundak Rangga dan ku pusatkan seluruh pikiran agar aku bisa konsentrasi untuk mencari keberadaan Rangga.
Sukma ku sudah melesat meninggalkan ragaku yang masih terdiam bersama Rangga dan yang lainnya.
*Wusshh!!
Hembusan angin membawa sukma ku menuju ke sebuah tempat yang begitu gelap tanpa penerangan, ku lihat seorang lelaki tua tengah mengangkat sukma Rangga yang jatuh terkulai di lantai.
"Sekarang akan ku jadikan kau budak ku anak muda, dan kau tidak akan bisa kembali lagi ke duniamu. Inilah balasannya jika kau berani melawan Ki Jarot!" ucapnya dengan sombong.
"Tidak semudah itu kau bisa membawa temanku Aki!" aku langsung melesat dan menghadang langkah lelaki itu.
"Cih, akhirnya kau datang juga bocah kepara*t!. Keturunan terakhir Raja Singosari yang sedang menjalani karma leluhurnya, kau begitu sakti tapi sayangnya kau juga sangat bodoh anak muda. Aku tahu kau menuruni semua kesaktian Aki Janitra, lelaki tua yang begitu sakti mandraguna karena dia adalah satu-satunya manusia yang memiliki kesaktian sama seperti Ken Arok. Tapi aku tidak akan takut denganmu apalagi gentar untuk menghadapi ajian Waringin Sungsang milikmu itu!!" ujar Ki Jarot dengan seringai di wajahnya.
"Aku tidak kenal denganmu Aki, jadi aku juga tidak punya urusan denganmu, jadi lepaskan temanku, dan akupun akan melepaskan dirimu," aku mencoba bernegosiasi dengan lelaki tua itu
"Sombong sekali kau anak muda, bahkan pertemuan ini sudah lama ku nantikan. Mendapatkan lawan yang seimbang dengan ilmu kanuragan yang mumpuni merupakan sebuah kehormatan bagiku. Bahkan Aki Janitra gurumu itu adalah musuh bebuyutan ku, tapi sayangnya seumur hidupku aku belum pernah sekalipun bisa mengalahkannya, dan sekarang saatnya aku membalaskan kekalahan ku denganmu!!" ujar Ki Jarot
Lelaki itu langsung mencabut keris yang tertancap di atas sesaji dan kemudian menusukan ke telapak tangannya. Sekejap darah segar mengucur dari telapak tangannya dan ia hanya tersenyum sinis sembari mengucurkan darahnya ke keris itu.
Ia kemudian menancapkan kembali keris itu keatas sesaji dan duduk bersila sambil merapalkan matera.
Tiba-tiba angin kencang berhembus membuatku tersedot masuk kedalam pusaranya, tubuhku berputar-putar didalam pusara angin put*ng beliung yang sangat dahsyat hingga tubuhku terlempar kesebuah halaman istana yang sangat megah.
Aku merasakan tubuhku remuk redam setelah terlempar ke dinding Istana dengan sangat keras.
Seorang lelaki bertubuh kekar dengan memakai baju kerajaan datang menghampiriku.
"Akhirnya kau datang juga Arok, sudah lama aku menunggumu disini untuk membalas dendam karena kau sudah mengambil istriku!" hardik laki-laki itu.
"Tunggul Ametung!"
"Benar sekali Arok, rupanya kau masih mengenaliku!" Lelaki itu mengatur nafas sambil merapal mantra
Kedua lengannya berdenyut keras, dan ia menatap sinis kearahku. Ia kemudian melesat sebuah serangannya kearahku, membuatku harus menghindari semuaa benturan demi benturan tangan kosong namun penuh tenaga dalam yang begitu menguras tenagaku.
Kewalahan menghadapi serangan tenaga dalam lelski itu membuat nafasku memburu dan terdengar jelas hingga membuat Tunggul Ametung terkekeh mendengarnya.
Kini tiba saatnya aku membalas serangan Tunggul Ametung, kupasang kuda-kuda dalam posisi setengah duduk telah dikukuhkan, dada kiriku mulsi berdenyut dan membiru, satu pukulan telak ku lesatkan kearahnya hingga ia tak sanggup mengelaknya. Masih untung sepersekian detik kepalan tanganku belum menyentuh dadanya, hingga ia masih bisa selamat dari sjian Waringin sungsang milikku. Walaupun ia telah berhasil menangkis dengan mengerahkan lebih dari setengah tenaga dalam yang dimilikinya tapi tetap saja ajian Waringin Sungsang sulit untuk ditaklukkan.
__ADS_1
Kami masih terus berduel, dengan nafas memburu mulai tertata, aku kembali menghantamkan pukulanku kearahnya hingga tubuhnya terpental puluhan meter dariku.
Jika saja dia bukan orang sakti mungkin tubuhnya sudah hancur menjadi debu ketika terkena pukulanku.
Semestinya menghunus senjata menjadi urutan selanjutnya dalam duel, namun aku lebih memilih saling takar kekuatan untuk langsung melakukan adu ajian kanuragan.
Serangkaian ajian kanuragan sempurna yang dimiliki oleh Tunggal Ametung sudah dikeluarkan. Akuwu Tumapel tersebut giat mengolah jiwa, berguru menempa diri kepada beragam guru. Namun tetap saja sesuai dengan karmanya ia harus mati di tangan Ken Arok, jika dulu Arok membunuhnya dengan Keris Empu Gandring, akan tetapi aku memilih mengalahkannya dengan menggunakan Ajian Waringin Sungsang sama seperti aku mengalahkan Gardapati dan Ki Parjiman.
Kini larik nafas, kuda-kuda dan rapal mantra Ajian Waringin Sungsang sudah ku mulai.
Ajian Waringin Sungsang merupakan ajian paling hebat dalam dunia persilatan. Ilmu kanuragan tersebut memiliki kekuatan yang dahsyat, siapa pun yang terkena serangan ajian ini akan terserap tenaga kesaktiannya kemudian lumpuh seketika.
AjianWaringin Sungsang diciptakan oleh Sunan Kalijaga guna memerangi para pendekar zaman penganut ilmu hitam pada zaman dahulu. Ajian ini diyakini sebagai puncaknya ilmu kanuragan yang dimiliki pendekar pada zaman dahulu. Untuk mendapatkal ajian ini, tentunya seseorang harus melakukan tirakat terlebih dahulu.
Aku mempelajari ajian ini dari Aki Janitra tanpa tujuan apapun saat itu, hanya karena aku sungkan menolak penawaran dari Jay yang bersikeras ingin menurunkan ajian sakti ini padaku.
Selesai membaca mantera, tubuhku bergetar hebat, hingga baju yang kupakai semua robek karena dahsyatnya kekuatan tenaga dalam yang kini sudah merasuki tubuhku dan siap untuk ku lesatkan. Perlahan kubuka kedua mata ku, menatap tajam ke arah Tunggul Ametung yang bersiap menyerangku dengan keris di tangannya. Kini tubuhku yang sudah terisi penuh dengan energi yang maha dahsyat meluncur kearah lelaki itu dan ku lesatkan sebuah kilatan cahaya berwarna biru kearahnya hingga tubuh Akuwu itu meledak menjadi butiran debu.
*Daaassst!!!
Tanah bergetar seperti gempa menahan dahsyatnya kekuatan ajian Waringin Sungsang.
Kini tubuhku terlempar kembali kesebuah pusaran angin yang membawaku melintasi lorong waktu menuju ke tempat Ki Jarot berada.
*Aaarrrggghh!!"
Kurasakan tubuhku begitu remuk setelah aku jatuh dari ketinggian.
Kulihat ruangan itu sudah kosong, tidak ada lagi Ki Jarot disana yang ada hanya Rangga yang mulai membuka matanya.
"Kita dimana Lang?" tanya Rangga, ia berusaha bangkit dan duduk disampingku
"Kayaknya kita lagi ada di Neraka deh, soalnya banyak sesaji disini, kalau di Surga kan gak ada sesaji yang ada bidadari, eeeaaa!!"
"Jangan bercanda, dimana Ki Jarot?" tanya Rangga
"Mungkin dia sudah mati atau melarikan diri,"
"Gawat, kita harus segera kembali sebelum terjadi sesuatu dengan Cewek dari abad 12 itu,"
"Maksudmu Ken Umang?"
__ADS_1
"Yoi, emangnya siapa lagi cewek yang ada di rumah kamu itu?"
"Gak ada sih cuma Umang doang, emangnya dia kenapa?"
"Aku takut dia diculik oleh Ki Jarot dan dijadikan istrinya kaya di film-film itu,"
"Gak mungkinlah, jangan kebanyakan halu kamu!"
"Bisa saja Lang, soalnya Ki Jarot itukan orang sakti, jadi saat kau sedang melawan makhluk gaib kirimannya bisa saja ia menculik Umang dan membawanya ke Gunung Kawi," jawab Rangga membuat aku ketakutan, karena bagaimanapun juga aku sudah terlanjur sayang dengan Umang dan tidak mau kehilangan gadis itu.
Aku langsung memejamkan mataku untuk kembali ke ragaku.
"Oii, mau kemana, tunggu aku!" seru Rangga yang langsung mengejarku.
**Buugghhh!!
Setibanya di rumah Aki Janitra aku tersentak melihat rumah itu sepi, tidak ada satupun demit ataupun Umang disana.
"Sudahlah jangan sedih, kalau umang memang jodoh kamu dia pasti kembali!" ucap Rangga menghiburku yang sedang sedih
"Halo guys, akhirnya kalian kembali juga, kirain kalian keok melawan dukun sakti dari Gunung Kawi itu," ujar Barra menghampiri kami
"Sembarangan lo kalau ngomong, mana ada yang bisa menandingi duo duku,"
"Duo duku apa lagi tuh?" tanya Barra
"Dukun keren dan unyu-unyu, eeaaa!!" jawab Rangga sambil tertawa
"Diiih, dasar alay!!"
"Bar, Umang dimana?" tanyaku sedih
"Umang pergi,"
"Kemana?"
"Ke hatimu, eeeaaa!!"
"Jangan bercanda deh, dimana dia Bar?" tanyaku lagi
"Jawab yang benar Bar, kasian dia lagi galau kehilangan orang yang dia cintai," jawab Rangga
__ADS_1
"Dia pergi Lang, lagian kamu lama banget sih ninggalin dia, sampai seminggu gak pulang, gak ada kabar. Ingat cewek itu butuh kepastian, mskanya dia pergi dari rumah ini karena tidak ada kejelasan dari kamu," jawab Barra membuatku semakin sedih