
"Gimana Ran, apa kita kasih pelajaran anak buah Aki Parjiman atau kita binaskan saja?"
"Bantai saja Lang," jawab Rangga, dan kamipun langsung turun dari motor menghadang mereka.
Kami sengaja berdiri menghadang anak buah Parjiman yang membututi kami.
Mereka kemudian turun dari motornya dan melingkar mengepung kami.
"Cih tidak disangka, ternyata kalian peka juga!" celetuk salah seorang dari mereka
"Jangan banyak bacot kalian maju semuanya!" tantangku lantang
Semua anak buah Parjiman langsung maju kearah kami, aku dan Rangga langsung melesat melancarkan serangan demi serangan kearah mereka hingga mereka berhasil kami lumpuhkan dalam sekejap.
"Itu baru pemanasan bangs*t!" seru Janaka yang datang bersama puluhan anak buahnya yang jumlahnya lebih banyak dua kali lipat
"Anj*r , ini terlalu banyak Lang, kita bisa mati sia-sia disini," seru Rangga
"Gimana dong Ran, apa kita perlu telpon polisi buat bantuan kita,"
"Gila lo Lang, kalau telpon polisi paling nyampenya kalau kita udah sekarat atau udah mati, mending lo pakai ilmu gaib mu itu deh biar kita bisa kabur dari mereka!" seru Rangga
"Gak bisa Ran, gue lom mandi besar!" jawabku sambil terkekeh
"Emangnya lo abis ngapain sampai harus mandi besar segala!!"
"Biasalah lo kayak gak tahu aja, mimpi ke Surga bro!"
"Anj*r, najis lo!!" cibir Rangga
"Panggil Barra!!"
"Lo aja yang panggil, pakai kidung aja, susah kalau pakai sesaji, gak bawa gue!" jawab Rangga
"Gak bisa juga Bro, syarat berkidung juga sama harus suci, gue belum sucikan!"
"Anj*r, lo bener-bener bangs*t Lang!" keluh Rangga yang langsung maju melawan
"Sorry Honey,"
"Udah gc bantu gue, jangan diem aja!" seru Rangga
Aku langsung maju melesatkan pukulanku kearah anak buah Janaka.
"Lawan kamu itu aku!" Janaka langsung melesatkan pukulannya kearahku hingga mengenai wajahku.
__ADS_1
Ku lihat lelaki itu membuka kemejanya, sehingga menampakkan tubuhnya yang kekar dipenuhi tato, lehernya yang jenjang dan begitu kuat membuatku semakin bergidik.
Ia mengeratkan giginya dan menyeringai kearahku.
"Aku penasaran dengan keahlian beladirimu c*k, kemarin aku belum sempat menjajal kemampuan mu karena keburu bos besar datang!" seru Janaka mengeratkan kedua tangannya dan berjalan maju kearahku
"Anjr*t, nih orang tingginya berapa, busyet dah tinggi banget udah gitu otot-otot tangannya keker banget, ini mah sekali tinju mamp*s gue," gumamku sembari mempersiapkan mental untuk melawannya
"Wew, ini baru pertarungan sebenarnya, MMA lewat, ini kayak lagi nonton SMACK DOWN live, kita rehat dulu guys, lihat pertarungan yang lebih seru!" ujar Rangga membuat semuanya berhenti dan duduk untuk menonton pertarunganku dengan Janaka
"Ayo Gilang, keluarkan semua jurus leluhurmu, jangan permalukan gue sebagai penasehat spiritual lo!" seru Rangga
"Nj*r Si Rangga benar-benar nyebelin banget deh!!" aku langsung melesatkan pukulan ku kearahnya, namun bukannya ia kesakitan malah tanganku yang sakit.
Aku langsung berpikir untuk maju menyeruduk lelaki itu dengan kepalaku, agar bisa merobohkannya. Lagi-lagi dia hanya menyeringai tanpa sedikitpun merasa kesakitan, ia justru mengangkat tubuhku dan membantingnya ke tanah hingga tulang-tulangku terasa remuk.
*Aaarrrggghh!!!
Rangga langsung berlari menghampiriku ketika aku mengerang kesakitan.
"Sabar Lang, lo harus pancing emosinya, semakin ia bersemangat untuk menghabisimu maka semakin mudah kau mengalahkannya, trust me it works!" ucap Rangga menyemangati ku
"Yang bener lo, gue ragu sama kemampuan dukun kaya lo," seruku mencoba bangkit dan berdiri, ku tatap lekat lelaki itu dan ku pusatkan semua pikiranku agar aku bisa berkonsentrasi untuk membaca gerakannya dan juga membaca apa yang dipikirkan oleh Janaka.
Ia sangat berang dan berusaha untuk menyerang balik kearahku dengan membabi buta. Beruntungnya aku bisa membaca arah pukulannya, hingga aku bisa menghindarinya. Lelaki itu semakin marah karena aku terus menghindar tanpa melawannya.
**Buuuggghhh!!
Sebuah pukulan Janaka berhasil mengenai wajahku dan aku langsung jatuh ke tanah, lelaki itu menyeringai puas kearahku.
"Dasar ayam sayur, beraninya kau menantangku!" hardiknya, ku lihat ia bersiap-siap untuk menjatuhkan tubuhnya untuk menindih ku, dan aku juga sudah bersiap berguling ke samping untuk menghindarinya.
**Buughhh!!
Lelaki itu terlihat sangat murka dan berdiri mendekatiku.
Sepertinya yang dikatakan Rangga si dukun milenial benar, dengan memancing kemarahannya maka Janaka semakin berambisi untuk menghabisi ku dan itu membuat tenaganya terkuras habis.
Dan inilah saatnya babang Gilang melakukan pembalasan, aku langsung melesatkan tendangan maut ku kearah dadanya, hingga membuatnya terpenting ke belakang. Tidak mau menyia-nyiakan kesempatan langka ketika melihat Janaka sudah tidak berdaya aku langsung mendengkul dagunya, hingga darah segar keluar dari mulutnya.
Tiba saatnya serangan pamungkas yaitu menyikut punggungnya hingga ia jatuh tersungkur ke tanah.
Tiba-tiba Rangga berlari kearah kami dan mendekati Janaka.
"5, 4, 3, 2,1, Ko!. Dan pemenangnya adalah Gilang!!" seru Rangga mengangkat tanganku diiringi tepuk tangan anak buah Janaka
__ADS_1
"Kenapa kalian diam saja serang dia!!" seru Janaka
Para preman itu langsung bangkit dan menyerang kearah kami, membuat aku dan Rangga mau tidak mau terpaksa harus melawannya.
Rangga langsung berlari dan naik keatas motornya membuatku merasa sebal, karena aku pikir dia mau melarikan diri meninggalkan aku seorang diri.
"Woii, mau kemana lo, jangan tinggalkan gue!!" seruku membuat Rangga hanya menjulurkan lidahnya meledekku.
Tapi aku salah, ternyata Rangga memakai motor itu untuk menabraki anak buah Janaka yang berjumlah puluhan hingga berjatuhan.
"Keren kan gue, makannya jangan suudzon dulu jadi orang," seru Rangga mengusap hidungnya
"Uyee!!" jawabku sembari melesatkan tendangan kearah seseorang yang hendak melancarkan serangannya kearah Rangga.
**Buughhh!!
"Thanks bro!"
"Sama-sama, sekarang kita apain monster ini?" tanya Rangga
"Biarkan saja dia, kasian anak istrinya kalau kita bunuh dia!"
"Tumben lo bijak Lang,"
"Baru sadar lo kalau gue bijak,"
"Diih kepedean,"
"Sudah kuy pulang, kasian Umang dirumah sendirian," ajakku
"Cie yang keringetan pacar!!" goda Rangga
"Umang itu bukan pacar gue, tapi belahan jiwa gue, eeeaaa!!"
"Diih ngarep!!" cibir Rangga
"Udah jalan jangan debat mulu!"
"Berangkaat!!" Rangga segera melesatkan motornya meninggalkan kota Singosari yang mulai gelap.
Sementara itu Gardapati sudah tiba di rumah Parjiman bersama seorang lelaki tua berambut gondrong dan tidak terurus.
"Silahkan masuk Aki Jarot!" Parjiman mempersilahkan lelaki tua itu masuk ke rumahnya.
"Kau baru saja menerima tamu seorang dukun sakti dari Jakarta dan seorang rampok sakti yang tidak pernah gagal dalam menjalankan aksinya," ucap Ki Jarot membuat Parjiman dan Gardapati tercengang
__ADS_1