
#CERITA INI HANYALAH CERITA FIKSI BERDASARKAN SEJARAH, NAMA TOKOH DAN KARAKTER DALAM CERITA INI HANYA FIKTIF, JIKA TERJADI KESAMAAN CERITA ATAU NAMA TOKOH ITU HANYA KEBETULAN SAJA#
"Bagaimana ini bisa terjadi?" tanya Janaka yang mengunjungi Gardapati di rumah sakit
"Aku tidak tahu Janaka, yang jelas Mas Garda semalam menyuruhku tidur, dan dia bilang akan menjagaku dan Bima, itu saja," jawab Intan semakin panik
"Sepertinya kita harus meminta bantuan Ki Jarot, karena aku yakin apa yang dialami oleh Tuan disebabkan oleh ilmu gaib," ucap Janaka membuat Intan membelalakkan matanya.
"Tapi dokter belum selesai memeriksanya, jadi jangan kamu menghubungi Ki Jarot terlebih dahulu. Aku takut Mas Garda memang benar-benar sakit dan perlu perawatan medis," jawab Intan
"Baik Ibu,"
"Kalau kau capek, kau boleh istirahat, aku bisa menangani semuanya sendirian," ucap Intan
"Baiklah Ibu, nanti malam saya akan datang lagi untuk menjaga tuan," ucap Janaka meningalkan tempat itu.
Beruntungnya Bos mempunyai istri setia dan sangat kuat seperti Intan, coba kalau wanita lain pasti sudah minggat atau bunuh diri menghadapi sikap keras Bos,
Janaka melesatkan motornya menuju ke tempat pangkalannya.
Seperti biasa lelaki itu kemudian menarik upeti atau pajak kepada semua pedagang pasar dan juga pedagang kaki lima disekitar pasar dengan dalih untuk membayar uang keamanan. Selain itu Janaka juga biasanya mengambil uang setoran dari para pengemudi angkot, bus dan juga tukang ojeg.
Semua hasil tarikannya selalu ia setorkan kepada Gardapati selaku Bos Besar tang menguasai wilayah Singosari.
"Kenapa hari ini hasil upeti sangat sedikit dan berkurang lima puluh persen dari biasanya, padahal aku tahu Intan sedang butuh uang banyak untuk biaya berobat Bima dan juga Bos," keluh Janaka sembari menghitung uang hasil upetinya.
"Kenapa?, sepertinya kau sedang dalam masalah?" tanya Parjiman menghentikan motornya.
"Iya Ki, hari ini hasil upeti menipis. Padahal Intan sedang butuh banyak uang untuk biaya berobat Bima dan juga Bos Garda," jawab Janaka
"Apa kau bilang, Garda sakit, apa aku tidak salah dengar?" tanya Parjiman dengan nada tidak percaya
"Benar Aki, dia sekarang sedang dirawat di rumah sakit Harapan," sahut Janaka
"Dia sakit apa?" tanya Parjiman
"Belum tahu, yang jelas dia koma sekarang, dan tim medis sedang menanganinya. Aku merasa kalau dia itu bukan sakit biasa tapi seperti terkena santet atau guna-guna. Jadi aku mohon padamu Aki tolong kau beritahu Ki Jarot kalau Bos Garda sedang sakit dan butuh bantuannya, aku yakin cuma dia yang bisa menolongnya," jawab Janaka
"Baiklah kalau begitu, aku akan segera ke rumah sakit untuk menjenguknya. Nanti aku juga akan menelpon Aki Jarot agar dia mau menjenguk Gardapati di rumah sakit," ucap Parjiman berpamitan. Ia kemudian melesatkan motornya menuju ke rumah sakit.
*************
"Kanda!" seru Umang mendekatiku dan juga Rangga yang sedang adu panco
__ADS_1
"Hmmm,"
"Aku mau mangga," ucap Umang membuat aku dan Rangga langsung membulatkan mata kami
"Kamu sudah apakan dia Lang?" tanya Rangga curiga
"Jangan bercanda deh, emangnya ada yang salah kalau Umang mau mangga,"
"Bukan salah Gilang, tapi mencurigakan apalagi Umang terlihat gendut sekarang, aku curiga dia sedang....," Rangga tidak melanjutkan ucapannya tetapi malah memperhatikan Umang dari ujung kepala sampai kaki
"Ayolah Kanda, tidak usah didengerin ucapan Rangga. Yang penting aku lagi pengin banget mangga muda, untuk menghilangkan rasa mualku," ucap Umang membuat Rangga langsung melotot kearahku
"Apa kau merasa mual, terus pusing dan ingin muntah?" tanya Rangga penuh selidik
"Iya," jawab Umang dengan santainya
"Owh, sudah berapa lama?" tanya Rangga lagi
"Baru dua hari ini, kalau kemarin aku masih bisa nahan sekarang aku sudah tidak bisa menahan lagi. Ayo Kanda cepat panjat pohon mangganya dan petik satu untukku," ucap Umang membuat Rangga langsung mendorong tubuhku.
*Hueek, hueek!!
Umang memegangi perut dan mulutnya kemudian ia berlari masuk kedalam rumah.
"Gak mungkin Umang hamil, tidur bersama saja kami tidak pernah gimana mau hamil?" jawabku
"Tapi pelukan pernah kan?" tanya Rangga menelisik, dan aku hanya mengangguk.
"Ingat Lang apa yang dikatakan oleh Kekeyu dan menjadi viral, kalau pelukan dalam waktu yang lama bisa menyebabkan kehamilan, dan sekarang itu terbukti pada Umang," tambah Rangga
"Jangan ngaco deh, wanita hamil itu jika terjadi pembuahan didalam perutnya setelah berhubungan badan dengan lawan jenis. Tapi kalau cuma pelukan dan tidak ngapa-ngapain tentu saja tidak akan hamil, walaupun pelukannya seribu tahun lamanya,"
"Eleh, pandai kali sekarang mengelak. Sudahlah forget it, yang penting sekarang kamu harus panjat tuh pohon terus petik mangga sebanyak-banyaknya, supaya anaknya Umang tidak ileran," bisik Rangga
"Tapi aku gak bisa manjat pohon Ran,"
"Hmmm, giliran manjat cewek aja kamu bisa, tapi disuruh manjat pohon ogah. Udah jangan banyak alasan cepat naik!!" Rangga membungkukkan badannya dan aku langsung naik ke atasnya.
"Busyeet, berat banget badan lo Lang, kayaknya kelamaan di sini tubuh lo bukannya tumbuh keatas malah melebar ke samping," goda Rangga sambil terkekeh
"Sue lo!!" Aku langsung naik diatas dahan dan mencari mangga yang sudah mulai ranum. Setelah berhasil memetiknya, aku langsung memberikannya kepada Rangga
"Petik yang banyak Lang, gue juga mau!" seru Rangga
__ADS_1
"Dasar celamitan!!" gerutu ku
Ketika aku hendak memetik mangga lainnya tiba-tiba saja dahan yang aku injak patah dan akupun terjatuh dari atas pohon.
**Bruughhh!!!
"Awww!!" teriakku membuat Umang langsung berlari mendekatiku.
"Kamu gak papa Kanda?" tanya Umang mencemaskan aku
"Gak papa sih cuma kakiku keseleo kayaknya," jawabku lirih
"Yaudah bawa ke tukang urut saja nyok," jawab Rangga
"Mana ada, mendingan bawa gue ke rumah sakit aja deh, soalnya kakiku robek,"
"Diih manja, luka cuma sedikit aja minta kerumah sakit, padahal dikasih air ludah juga sembuh," gerutu Rangga
"Pokoknya aku mau ke rumah sakit titik," rengekku membuat Rangga langsung menyalakan motor dan mengantarku pergi ke rumah sakit.
Entahlah, kenapa hari ini aku begitu ingin ke rumah sakit, padahal kakiku juga cuma keseleo dan luka kecil. Tapi aku merasakan ada yang butuh bantuanku disana.
*********
Parjiman menatap lekat kearah Gardapati yang terbaring di brankarnya.
Ia kemudian menyentuh ubun-ubun lelaki itu dan memejamkan matanya, namun tidak lama kemudian Ki Jarot yang baru tiba di tempat itu langsung menyingkirkan tangan Parjiman.
"Biarkan aku saja yang memeriksanya," ucap lelaki itu, membuat Parjiman langsung mundur agar tidak menghalanginya.
Tidak akan ku biarkan kau tahu kalau aku sedang menahan sukma Gardapati,
Lelaki itu tersenyum sinis menatap Gardapati yang masih terkulai di ranjangnya.
Sesampainya di rumah sakit Rangga tersenyum ketika bertemu dengan Intan, ia langsung melambaikan tangannya kearah Intan dan membuatku hilang keseimbangan dan terjatuh.
"Kyaaaa!!"
**Bruuughhh!!
"Eeehh, maaf Lang sengaja," ucap Rangga pura-pura bersalah.
Intan berjalan pelan mendekati kami dan bukannya menolongku ia malah tertegun menatap Rangga sembari senyum-senyum tidak jelas membuat Aku dan Rangga kebingungan. Apa yang terjadi dengan Intan kenapa dia menjadi agresif dengan Rangga.
__ADS_1