BUKAN KEN AROK

BUKAN KEN AROK
Mencari Ken Dedes


__ADS_3

#CERITA INI HANYALAH FIKSI BERDASARKAN SEJARAH, NAMA TOKOH DAN KARAKTER DALAM CERITA INI HANYA FIKTIF, JIKA TERJADI KESAMAAN CERITA ATAU NAMA TOKOH ITU HANYA KEBETULAN SAJA#


"Sekarang aku akan mencoba hidup mandiri Mas, hidup tanpa bergantung lagi padamu, karena aku tahu aku bukanlah wanita terpenting dalam hidupmu. Hmmm, aku tahu kau menikahi aku hanya karena Iba melihat seorang wanita yang sudah seperti seorang ratu tapi tidak jadi menikah, kau hanya ingin menyelamatkan nama baik ayahku saja yang merupakan orang yang berjasa dalam hidupmu," Intan menelan ludahnya berusaha menerima kenyataan pahit jika suaminya sampai saat ini belum bisa mencintainya.


Ia kemudian menatap lekat putranya yang terbaring lemah di ranjangnya.


"Kau bahkan tidak pernah menggendong putramu seumur hidupmu apalagi mengusap rambutnya atau sekedar memeluknya," wanita itu menyeka air matanya dan menyambar tas kecil di meja riasnya.


Ia menggendong putranya dan membawanya ke depan rumah.


"Kau sudah besar rupanya, bakan sekarang ibumu keberatan saat menggendongmu nak," ucap Intan mengelus lembut putranya.


"Biarkan Bima jalan saja Bu, kasian ibu pasti capek," ujar Bima ketika melihat Ibunya berkeringat menggendongnya menuju ke jalan raya.


**Cit!!


Rangga menghentikan motornya karena tidak tega melihat Intan kesusahan menggendong putranya menuju jalan raya yang letaknya lumayan jauh dari rumahnya.


"Naiklah!" seru Rangga


"Tidak usah terima kasih," tolak Intan


"Apa tampang gue mirip orang jahat, makannya lo nolak bantuan gue," ujar Rangga


"Bukan begitu, hanya saja...." belum selesai Intan menjawab pertanyaannya Rangga langsung turun dan menarik Bima dari gendongan Intan


"Panas sekali badannya, sepertinya dia harus segera dibawa ke rumah sakit," ucapnya membuat Intan semakin khawatir


"Iya, aku memang akan membawanya ke rumah sakit," Intan segera mengambil kembali Bima dari gendongan Rangga


"Naiklah, aku akan mengantarmu ke rumah sakit. Jangan menolak lagi atau anakmu tidak tertolong karena telat dibawa ke rumah sakit," seru Rangga


"Iya," Intan langsung duduk dibelakang Rangga


"Pegangan yang kenceng, karena Valentino Rossi akan meluncur ke sirkuit," ucap Rangga sambil terkekeh


"Jangan ngebut, aku takut anakku kenapa-napa," jawab Intan


"Justru kalau aku tidak ngebut anakmu bisa kenapa-napa, makannya kamu harus menurut denganku!" ucap Rangga


"I..i..ya," jawab Intan membuat Rangga langsung melesatkan motornya menuju rumah sakit terdekat.


Setibanya di rumah sakit Rangga langsung menggendong Bima menuju ke ruang UGD.


"Biar aku saja yang membawanya," ucap Rangga mengambil Bima dari gendongan Intan dan membaringkan tubuh balita itu ke ruang UGD.


"Silahkan kalian menunggu di luar, supaya kami bisa segera mengambil tindakan," ucap seorang dokter


"Baik," Rangga segera menggandeng Intan menuju ke luar

__ADS_1


"Eeh, maaf," tutur Rangga ketika Intan melepaskan tangannya


"Iya, terima kasih Tuan sudah membantu saya membawa putraku ke sini," ucap Intan


"Sama-sama, gue Rangga," ia mengulurkan tangannya dan Intan segera menyambutnya


"Intan,"


"Yaudah kalau lo butuh bantuan gue telpon saja ke nomor ini, gue selalu siap siaga untuk membantumu," ucap Rangga memberikan nomor ponselnya


"Terima kasih," Intan kemudian menyimpan kartu nama Rangga


"Baiklah kalau begitu aku pamit pulang dulu," ucap Rangga malu-malu


"Iya, sekali Terima kasih dan hati-hati," jawab Intan


Rangga berjalan perlahan meninggalkan selasar UGD sembari sesekali menoleh kearah Intan yang duduk di depan ruang UGD.


"Dia cantik banget, tapi sayang istri orang," gumam Rangga terus menatap kerah Intan


"Kalau di film atau sinetron sih kalau dia noleh saat gue menatapnya berarti jodoh, coba aja gue tungguin kali aja dia noleh berarti dia jodoh gue," ucap Rangga penuh harap


"Ayo noleh, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, Yes!!!" Rangga berteriak kegirangan ketika melihat Intan menoleh kearahnya dan tersenyum.


"Gila, senyumnya manis banget, bikin hati gue meleleh," gumamnya sembari memalingkan wajahnya


"Yes, yes, yes!!" teriaknya sembari terus melompat-lompat kegirangan.


"Berisik!!, kau tahukan kalau ini rumah sakit. Tempatnya orang sakit, jadi aku mohon jangan buat kegaduhan atau sepatuku akan melayang lagi di wajah mu!" hardik seorang perawat mengambil sepatunya di tangan Rangga.


"Anj*r galak benget perawatnya!" umpat Rangga lirih


"Apa kamu bilang!" perawat itu kembali mendekati Rangga kare mendengar umpatannya


"Oh tidak, aku tadi cuma keceplosan ngomong kalau kamu itu perawat Singa,"


"Singa kau bilang aku Singa!!" hardik perawat itu kesal hendak memukul Rangga


"Sabar dong jangan marah dulu Singa itu sama dengan selalu imut walaupun galak abis!!" jawab Rangga kemudian lari meninggalkan perawat itu yang marah dibuatnya


*********


"Semua persiapan sudah lengkap Guru," ucap Gardapati


"Baiklah, kau boleh pergi sekarang, biarkan aku dan Bayu berdua disini. Karena ini adalah acara sakral dan tidak boleh banyak orang disini." ucap Ki Jarot


"Baik Guru," Gardapati mengajak Janaka untuk meninggalkan ruangan itu.


"Tuan, tadi siang Ibu telpon memberitahukan kalau Bima sedang sakit," ucap Janaka lirih

__ADS_1


"Hmmm, terima kasih atas informasinya, pulanglah malam ini kau tidak perlu menjaga Bayu, tapi besok kau harus kembali lagi kesini," jawab Gardapati


"Baik Tuan," Janaka segera meninggalkan Gardapati yang berdiri menerawang menatap langit-langit rumah sakit.


**Dreet, dreet, dreet!!


Intan segera mengangkat ponselnya, ia terkejut ketika tahu suaminya menghubunginya.


"Ada apa dia menelponku malam-malam seperti ini," batinnya


"Halo, assalamu'alaikum Mas," sapa Intan


"Waalaikum salam, kamu ada dimana?" tanya Gardapati


"Aku ada di rumah sakit Harapan, kebetulan Bima sakit demam berdarah dan harus dirawat dirumah sakit, maaf aku belum sempat memberitakan kamu. Mas sekarang sudah sampai rumah ya, tunggu aku akan pulang untuk mengantarkan kunci untukmu,"


"Tidak perlu, kau ada di ruang apa?, kebetulan aku juga berada di rumah sakit Harapan,"


"Apa Mas sakit?" tanya Intan penasaran


"Aku tidak sakit, hanya menjenguk Bayu disini,"


"Syukurlah, aku ada di ruang Kenanga 115,"


"Baiklah, aku akan kesana," sahut Gardapati mematikan ponselnya.


*******


Sementara itu Aki Jarot sudah memulai ritualnya dengan membakar kemenyan di ruangan itu.


Ia kemudian duduk bersemedi didepan Bayu Segara sambil membaca mantra untuk memanggil arwah.


Hening suasana rumah sakit membuat suasana menjadi lebih menyeramkan ketika Ki Jarot menyanyikan kidung Lingsir wengi. Suara kidung terdengar begitu menyeramkan dan membuat buluk kuduk berdiri bagi yang mendengarnya.


*Tak, tak, tak!!


Tiba-tiba terdengar derap langkah menuju ke bangsal perawatan Bayu Segara, asap putih mengepul mengisi seluruh ruangan itu.


Sesosok lelaki berbadan kekar memakai baju khas kerajaan sudah berdiri didepan Ki Jarot.


"Ada apa kau manggil ku aki?" tanya lelaki itu


"Kau sudah datang Akuwu, aku hanya ingin kau memberi tahu dimana Ken Dedes tinggal?" tanya Ki Jarot


Lelaki itu hanya tertawa mendengar pertanyaan Ki Jarot.


"Untuk apa kau ingin tahu tentang istriku,"


"Kami ingin mencari anakmu Anusapati, karena hanya dialah yang bisa membunuh Ken Arok atau Gilang,"

__ADS_1


Lelaki itu semakin keras menertawakan Ki Jarot.


"Bagaimana Dedes bisa tahu anaknya jika di kehidupan ini mereka tidak lagi menjadi ibu dan anak, asal kau tahu yang bisa mengalahkan Arok Bukan Anusapati tapi Ken Dedes sendiri. Memang Anusapati yang membunuh Arok tapi sebenarnya Ken Arok mati karena kutukuan Keris Empu Gandring dan penyebabnya adalah Ken Dedes, jadi kalian tidak perlu mencari Anusapati putraku, tapi temuilah Ken Dedes istriku. Dia ada disekitar kalian, dan sangat dekat. Jika kau ingin tahu paras Ken Dedes maka datanglah ke Coban Putri pada malam Selasa Kliwon, bawa kembang setaman dan taburkan disana, maka kamu bisa melihat Ken Dedes yang sedang mandi di sana," tutur Lelaki itu kemudian menghilang


__ADS_2