BUKAN KEN AROK

BUKAN KEN AROK
Misi Berhasil


__ADS_3

#CERITA INI HANYALAH CERITA FIKSI BERDASARKAN SEJARAH, NAMA TOKOH DAN KARAKTER DALAM CERITA INI HANYA FIKTIF, JIKA TERJADI KESAMAAN CERITA ATAU NAMA TOKOH ITU HANYA KEBETUL


AN SAJA#


"Aduh!!, siapa yang berani memasang pagar gaib disini sampai membuat aku kejedot. Kurang ajar beraninya membuat ketampanan gue berkurang gara-gara benjol terbentur pagar gaib. Sepertinya ada yang sengaja memasang pagar gaib agar aku tidak bisa menyelamatkan Gilang, dasar Ki Jarot brengsek. Belum tahu dia kalau sedang berhadapan dengan dukun Tazmania ( Tampan, sakti mandraguna dan imut abiis, wkwkw!!). Sekarang tamatlah karier perdukunan lo Aki, karena gue bakal mengobrak-abrik sarang gaibmu ini!!" ucap Rangga tersenyum simpul.


Ia langsung menggerakkan tangannya dan melepaskan tenaga dalamnya untuk mendobrak pagar gaib yang dibuat oleh Ki Jarot.


*Duaarrr !!!!


Dalam sekali hentakan semuanya hancur sampai membuat dinding gua bergetar.


Rangga berjalan memasuki gua, ia mengedarkan pandangannya mencari dimana keberadaan Gilang dan juga Barra.


"Aaarrrggghh!!!"


Rangga mencari sumber suara teriakan itu, dan berlari kearah mulut gua.


"Suaranya disini, tapi tidak ada siapapun di sini," gumamnya, ia kemudian duduk bersemedi dan membaca mantera.


Tiba-tiba ia melihat ribuan monyet yang mengerubuti seseorang yang sedang menggelinjang kesakitan di tanah.


"Gilang!!!" teriak Rangga Ketika ia akan menerobos masuk mendekati Gilang monyet-monyet itu justru menyerangnya.


"Cih, ternyata aki-aki itu menggunakan sukma orang-orang yang menjadi tumbal pesugihan untuk menjadi budaknya!!" umpat Rangga


Ia segera menelungkupkan tangannya dan mulutnya komat-kamit membaca mantera.


*Wusshh!!


Tiba-tiba beberapa makhluk berbadan besar dan berbulu berdatangan di tempat itu.


"Habisi monyet-monyet itu!" seru Rangga


Mahluk astral itu langsung mengangguk dan menyerang monyet-monyet itu dengan brutal, mereka bahkan tidak segan memakan binatang jadi-jadian itu.


Sementara itu Rangga segera mendekatiku dan memegang kakiku.


"Hadeeh, gimana ini keturunan Raja Singosari kok kena santet, dasar payah!" ledek Rangga


Ia kemudian menggerakkan tangannya seperti sedang mengusir sesuatu dari atas kepala sampai kaki sembari membaca mantera.

__ADS_1


Tiba-tiba saja tubuhku terasa sangat panas dan aku langsung merasa mual ingin muntah.


*Huek, huek, huek!!!


Aku terperanjat ketika melihat apa yang aku muntahkan.


Puluhan jarum, paku keluar dari mulutku.


"Kau terkena santet lepas, tapi sekarang sudah aku keluarkan semuanya. Jadi sekarang saatnya kita mengalahkan Ki Jarot yang sudah membuatmu seperti ini," ujar Rangga


Aku langsung bangkit dan menstabilkan kondisi tubuhku.


"Baiklah saatnya pembalasan!!" Ku tarik nafas dalam-dalam dan memusatkan pikiranku. Segera ku senandungkan sebuah kidung untuk mengobati santet dan mengembalikannya kepada si pengirimnya.


Setelah selesai berkidung tiba-tiba angin berhembus kencang dan sebuah keris keluar dari tubuhku dan bersinar.


Segera kuambil keris itu dan menyerang Ki Jarot, lelaki itu menyeringai dan melesatkan ajian tenaga dalamnya, akan tetapi ajaibnya kekuatannya selalu berbalik menyerangnya membuat lelaki itu akhirnya kewalahan sendiri melawan kekuatannya.


Aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan dan langsung menghunuskan keris ku kepada Ki Jarot hingga lelaki itu ambruk ke tanah.


*Aaarrrggghh!!!


Sebuah erangan keras mengakhiri nyawa Ki Jarot, setelah lelaki itu tidak bernapas lagi semua monyet-monyet yang sedang menyerang Rangga dan anak buahnya langsung lenyap, begitu juga dengan makhluk-makhluk astral yang menyerang Barra semuanya menghilang seperti ditelan bumi.


"Kamu juga keren sekarang Bar, pasti lo habis semedi ya?" tanyaku pelan


"Yuhuu, semenjak kekalahanku melawan Ki Sapernaka aku bertekad untuk menambah ilmu Kanuragan ku agar tidak bisa dikalahkan oleh demit abal-abal lagi, tengsin dong masa Pangeran Demit kalah sama lelembut kaleng-kaleng," tukas Barra menyombongkan diri


"Iyeh, Pangeran mah bebas dan harus selalu menang dalam setiap pertarungan atau kalau kalah akan turun tahta jadi pangkalan, eeaaa!!" sahutku sambil terkekeh


"Sue lo!" cibir Barra


"Sekarang saatnya kita pulang," ucap Rangga


"Ada seseorang yang harus kita tolong duku sebelum kita pulang," jawabku


"Siapa?" tanya Rangga


"Tuh," aku langsung menunjuk kearah Gardapati yang masih dilindungi oleh kekuatan supranatural yang menyekapnya.


"Serahkan ke gue," Rangga berjalan mendekati sebuah pagar gaib yang menyerupai sebuah bejana itu. Ia berkali-kali mencoba meruntuhkan pagar gaib itu tapi tetap saja tidak berhasil.

__ADS_1


"Sue, kenapa gak bisa hancur sih, padahal pagar gaib di pintu gua aja berhasil gue hancurkan, tapi kenapa yang ini susah banget. Gue nyerah Lang, lo aja coba." ucap Rangga menyerah dan duduk di tanah melihat kearahku yang mulai mendekati Gardapati.


Bismillah....


"Nyonggo lagune urip.''


"Sukmoku pancen wis dadi qadha lan qahdare rogoku ! masio sewu mekso nyingkirne ora bakal iso nggeser ! rausah engkress amargo Gustine Murah tur Welas Asih."


Aku berusaha berkidung meminta bantuan leluhurku untuk membuka pagar gaib yang mengurung sukma Gardapati.


Aku melihat Gardapati terbujur kaku di dalam sebuah bejana pagar gaib. Ia duduk bersemedi seperti mayat hidup. Matanya terpejam namun kedua tangannya ada didepan dada, dilipat seperti orang yang sedang bersemedi. Jedua telapak tangannya bertumpu pada lengan bagian atas.


Kedua tangannya disilang dan telapak tangannya berdiri bertumpu pada lengan bagian atas. Tangan kanan bertumpu pada yang kiri dan tangan kiri bertumpu pada tangan kanan.


Dan aku baru tahu kenapa Pagar Gaib yang mengurung Gardapati susah dihancurkan ternyata ada penjaganya disana. Yang mengerikan dia dijaga oleh dua orang pasukan bayangan. yang satu adalah makhluk tingi besar berwarna hijau bertaring dan satunya lagi adalah mahkluk tinggi besar berwarna merah dengan kepala botak dan wajah yang menyeramkan dipenuhi darah.


Ku keluarkan keris ku yang masih bersinar untuk menghabisi dua makhluk astral itu. Karena mereka tidak melihatku jadi aku bisa dengan mudah membunuh mereka.


Setelah berhasil mengalahkan kedua mahluk itu aku membawa sukma Gardapati dan memberikannya kepada Rangga.


"Kita harus meninggalkan tempat ini buru-buru sebelum Gardapati meninggal karena menunggu kita terlalu lama." ucap Rangga


Ia kemudian memegang tanganku, membuatku sedikit canggung.


"Emangnya kita mau kemana Ran, pakai Gandengan segala kaya mau nyebrang aja," ledekku membuat Rangga tersenyum kecut kearahku


"Mau kondangan, puas lo!!" cibirnya membuatku terkekeh


"Ayo Bar, kita jalan!" seru Rangga


"Nyok," jawab Barra memegangi pundak kami, dan membawa kita menembus dimensi waktu melakukan perjalanan gaib untuk bisa pulang kembali ke dunia manusia.


* Cling !!


Tiba-tiba aku sudah berada di rumah sakit tepatnya di ruang perawatan Bima.


Aku segera bangun dan membuka mata begitu juga dengan Rangga.


"Alhamdulillah, akhirnya kita bisa kembali lagi ke dunia yang penuh dosa ini dengan selamat dan tidak berkurang kadar kegantengan gue," ucap Rangga sambil terkekeh


"Darimana sih kalian, hampir dua hari tidur gak bangun-bangun gak ada kabar. Katanya mau mengobati bos Garda dan Intan eeh malah baru muncul sekarang. Terus kalau bos Garda tidak bisa ditolong lagi gimana?" tanya Janaka begitu bawel seperti seorang cewek

__ADS_1


"Santuy, serahkan semuanya kepada Ki Rangga di dukun Juita ( Jomblo imut dan tampan). Ki Rangga, mengatasi masalah tanpa masalah!!" ucapnya membuat kami semua terkekeh mendengarnya


__ADS_2