
"Hmmm, jadi kau yakin akan pergi ke sana sendirian?" tanya Rangga cemas
Rangga memang begitu mencemaskan ku setelah aku memberi tahukannya tentang rencanaku berduel dengan Bayu Segara malam ini. Sama seperti Umang yang juga memiliki firasat tidak baik, Rangga pun demikian.
"Ran, nanti kalau aku kalah dari Bayu dan aku mati, maka aku minta kau harus menguburkan jenazah ku di samping makam ayahku Dhanu Waseso."
"Jangan ngaco, kau tidak akan mati dalam pertarungan itu, paling cuma sekarat aja. Lagian ada aku dan Barra tidak akan membiarkan kamu mati cepat, apalagi mati dalam keadaan jomblo," jawabnya meledek
"Kok kamu tahu aku bakal sekarat?"
"Cuma nebak Lang, maklumlah namanya juga dukun sakti, feeling ku biasanya sih gak salah. Nanti aku juga akan ikut bersamamu mendampingi mu, jaga-jaga saja. Aku takut terjadi sesuatu denganmu, bolehkan aku ikut,"
"Boleh saja Ran, tapi ingat kau jangan membantuku dulu sebelum aku benar-benar mengijinkan kamu membantuku,"
"Ok siap,"
"Btw Bar-bar diajak ga?" tanya Rangga
"Gak usah diajak juga nanti dia nongol, dia itu udah punya ikatan batin sama gue, jadi dia bakal muncul kalau gue dalam bahaya. walaupun dia suka telat datangnya kaya polisi India, wkwkwkw." jawabku terkekeh
"Hmmm, baiklah jadi bagaimana kalau kita berangkat sekarang?" ajak Rangga
"Kuy,"
Kami kemudian berjalan keluar meninggalkan rumah. Ketika kami tiba di halaman depan rumah aku terkejut melihat Ken Umang sudah berdiri disana dengan memakai baju kebesarannya lengkap dengan pedang di tangannya. Kami berdua tertawa melihat penampilannya yang begitu mirip dengan tokoh Mantili dalam film saur sepuh. Hanya tinggal naik kuda saja maka sama persis dengan adegan di film kolosal itu.
"Mau kemana bu malam-malam begini bawa pedang, awas loh kena razia satpol pp kalau kondangan bawa-bawa pedang?" goda Rangga, membuat ku terkekeh
__ADS_1
Namun gadis itu tetap acuh tak bergeming.
"Ijinkan aku ikut bersamamu Kanda?" ucapnya lirih
"Jangan Dinda berbahaya, kau dirumah saja, aku tidak mau terjadi sesuatu denganmu. Ini adalah urusan antar lelaki dan perempuan tidak boleh ikut campur. Kamu tidak perlu ikut campur apalagi mengorbankan dirimu untuk membantuku, biarlah Rangga yang akan ku tumbalkan jika aku dalam bahaya nanti!"
"Anj*r, kenapa gue yang jadi tumbal!!" seru Rangga kaget
"Kan tadi lo sendiri yang ngomong katanya tidak akan membiarkan aku mati, jadi gak salah dong kalau saat aku kepepet kau akan ku jadikan tumbal untuk melawan Bayu Segara,"
"Tapi gak sampai mati juga kali, masa gue harus mati dalam keadaan jomblo sih,"
"Seorang sahabat sejati akan rela mengorbankan apapun demi sahabatnya, termasuk nyawanya sendiri Ran,"
"Suee, giliran gue suruh berkorban nyawa buat lo, sedangkan si Umang malah di suruh diem-diem di rumah, kau memang jahat Lang, aku benci sama kamu, aku jijik!!" ucap Rangga dengan nada meledek
"Yaudah lo mending di rumah saja Dinda, dengarkan apa kata Kanda Gilang, lagian kalau nanti lo mati nanti susah mau dikuburin dimana, kalau disini takutnya suami kamu gak ngijinin. Kalau diantar ke Singosari naik apa coba, repot kan?" ledek Rangga
Umang langsung merajuk, ia kemudian masuk kedalam rumah dan meninggalkan kami. Sementera aku dan Rangga bergegas menuju ke Alas Lali Jiwo menggunakan sepeda motor.
Suasana malam di kawasan hutan Lali Jiwo begitu mencekam, apalagi disini banyak suara serangga hutan dan lolongan serigala menambah suasana menjadi lebih menakutkan.
Beruntungnya malam ini langit begitu cerah bermandikan bintang-bintang dan rembulan bersinar dengan terangnya sehingga membuat kawasan hutan yang tanpa penerangan menjadi terang benderang.
Seorang berbadan tegap dengan baju serba hitam datang mendekati kami.
Bayu segara sudah datang, ia tersenyum simpul menatapku.
__ADS_1
Kini kami berdua sudah berhadapan, laksana dua jawara yang siap bertanding.
"Kau benar-benar seorang ksatria sejati Gilang. Sudah ratusan tahun aku menunggu pertemuan ini, sudah ratusan tahun pula aku menunggu kelahiranmu titisan Ken Arok." tiba-tiba aku seperti melihat orang asing dalam diri Bayu Segara.
"Sudah lama aku menunggumu untuk bisa membalaskan dendam padamu, yang dulu mengalahkan aku dengan cara yang licik. Malam ini aku ingin menantangmu untuk berduel secara jantan layaknya seorang kesatria, bukan menggunakan seorang wanita untuk menyingkirkan rivalnya!!" ujar Bayu Segara dengan tatapan yang begitu familiardan aku sangat mengenal tatapan itu.
Aku seperti kembali ke abad dua belas dimana aku adalah seorang prajurit yang bernama Ken Arok dan sedang berhadapan dengan Akuwu Tumapel bernama Tunggul Ametung.
Kami berdua seketika berubah menjadi seorang ksatria dari abad dua belas yang sudah siap bertanding di tengah-tengah hutan.
Angin berhembus kencang, tiba-tiba sebuah kilat menyambar tubuh Bayu Segara, hingga tubuhnya seperti dialiri arus listrik. Aku hanya mengucek-ngucek mataku untuk memastikan apa yang ku lihat adalah nyata.
Bayu Segara kini sudah menjelma seperti seorang ksatria dalam tokoh di video game, matanya biru seperti sorot lampu, baju kemejanya kini berubah menjadi baju perang khas seorang ksatria di era kerajaan Singosari.
Seseorang berambut panjang, berbadan kekar dan tampan datang menghampiriku dengan senyumannya yang khas membuatku sedikit tercengang. Dia adalah pria yang kutemui di tepi jurang Hutan Lali Jiwo, ketika sedang berusaha bunuh diri, dan lelaki itu adalah Ken Arok. Dia benar-benar datang membuat aku benar-benar tidak percaya dengan apa yang kulihat.
"Aku datang untuk menyelesaikan urusan kita Akuwu, aku tidak mau Gilang menanggung semua karmaku. Sebagai seorang kesatria sejati aku tidak akan berbuat curang, dan aku juga ingin menyelesaikan urusan kita yang belum selesai. Cukuplah kesalahanku dimasa lalu membuatku menyesalinya seumur hidupku. Bahkan tujuh keturunanku juga sudah mendapatkan kutukan atas dosa-dosaku, dan aku tidak mau hal itu terulang kembali. Malam ini aku ingin berduel secara jantan denganmu agar jiwaku tenang," Setelah berkata seperti itu lelaki itu langsung mendekatiku dan menyatukan tubuhnya denganku.
Aku merasakan kekuatan yang kuat kini merasuk kedalam tubuhku.
Kini aku berubah menjadi sosok yang gagah dan kuat seperti Ken Arok Sang Raja Singosari.
Pertarunganpun di mulai Bayu langsung melepaskan pukulannya kearahku membuatku segera menghindar dan membalas serangannya. Ia menggerakkan tangannya seperti handak mengeluarkan sebuah ajian sakti untuk mengalahkanku.
*Wush!!
Tiba-tiba Bayu yang hanya seorang diri kini sll berubah menjadi banyak dan tertawa kearahku. Suara tawanya begitu menggelegar menggema memecah keheningan malam.
__ADS_1
Rupanya Bayu Segara menggunakan Ajian Bolo Sewu, dimana ia menggunakan seribu jin yang akan menemaninya dan menjaganya dari serangan musuh dengan wajah yang mirip dengannya, sehingga membuat musuh kewalahan menghadapinya.