BUKAN KEN AROK

BUKAN KEN AROK
Menghadapi Suanggi


__ADS_3

"Dasar sotoy, gak tahu rumahnya aja sok-sokan mau kesana. Btw ada yang tahu gak dimana rumah Bayu Segara!" seru Rangga


Semuanya terdiam tidak ada yang menjawab.


"Aiish, bagaimana kita akan beraksi alamat rumahnya aja gak tahu, amsyong!, akhirnya gue juga yang harus bergerak!" cibir Rangga


Ia kemudian duduk bersila dan memejamkan matanya.


Ia memusatkan pikirannya untuk mencari kediaman Bayu melalui mata batinnya.


"Gimana Ran, sudah ketemu alamat rumahnya,"


"Nantilah aku telpon Ayu Ting Ting, buat nanyain dimana alamat rumahnya, seperti lagunya, 🎶dimana, dimana, dimana, kuharus mencari si Uma, rumahnya si Bayu tak tahu dimana, aku tak bisa melihatnya🎶, " jawab Rangga sembari menyayikan lagu alamat palsu


"Aish, ditanya malah nyanyi," cibirku memukulkan saputangan kepadanya


"Hmmm, jadi seperti yang Barra katakan, rumah Bayu itu di tutupi pagar gaib sehingga tidak bisa dilacak. Tapi tenang saja sebagai dukun milenial yang cerdas aku sudah tahu jalan menuju ke sana walaupun aku tidak tahu rumahnya yang mana. Tapi disitu ada sebuah tanda yang akan menunjukkan kita kepada rumah itu yaitu pohon bambu kuning yang begitu banyak dan lapangan bola volley." Jawab Rangga


"Kalau begitu Lo yang bawa motornya, kan Lo tahu jalan menuju ke sana," aku segera memberikan kunci motor padanya.


"Why always me?" tanya Rangga


"Because you are a Shaman," jawabku sambil terkekeh


"Aren't you?" jawab Rangga meledekku


"Sue!!" jawabku membuat Rangga terkekeh


"Kuy jalan!!" aku menepuk pundaknya


"Berangkat!!" Rangga langsung melesatkan motornya menuju ke kediaman Bayu.


Sepuluh menit perjalanan, Rangga menghentikan motornya disebuah lapangan bola volley yang dikelilingi oleh pohon bambu kuning.


"Aku tidak bisa mendeteksi keberadaan Uma melalui mata batinku, penglihatan ku berhenti disini," ucap Rangga


"Coba aku akan menggunakan chemistry ku dengan Umang untuk melacak keberadaannya melalui telepati ku," jawabku membuat Rangga terkekeh mendengarnya


"Memangnya Umang itu alien punya telepati, parah Lo!!" cibir Rangga


Ketika kami masih asyik mengobrol tiba-tiba seseorang mendekati kami.


"Sepertinya anda bukan warga sini?" tanya lelaki itu curiga


"Benar kami dari desa sebelah, sedang kebingungan mencari rumah Pak Bayu Segara Dosen di Universitas Singosari, kebetulan saya mahasiswanya," aku menunjukkan kartu mahasiswaku padanya


"Oh, rumah Pak Dosen bukan disini, kalian salah jalan," jawab lelaki itu.


"Tapi Pak Bayu bilang rumahnya di dekat lapangan volley," sahut Rangga


"Benar, tapi lapangan bola volley ada dua di desa ini, yang pertama ada disini dan yang kedua ada didekat kantor kelurahan," jawabnya begitu meyakinkan


"Kira-kira bapak bisa menunjukkan tempatnya?" tanyaku memohon


"Baiklah, mari ikuti aku," lelaki itu menuntun kami menuju ke suatu tempat.


Aku mulai curiga dengannya ketika ia membawa kami begitu jauh, dari tempat sebelumnya. Dan aku merasakan ada sesuatu yang tidak beres dengan lelaki ini.


Karena penasaran aku langsung menarik pundak lelaki itu.


Kami terkejut ketika melihat wajah lelaki itu yang berubah menyeramkan. Ia berubah menjadi sosok makhluk tinggi besar berbulu dan bertaring.


"Kita di jebak Lang!" seru Rangga


"Aku bingung kenapa makhluk itu bisa melihatku, padahal biasanya makhluk halus yang Ingin berbuat jahat padaku tidak bisa melihatku, tapi kenapa dia bisa melihatku?" ucapku lirih


"Hahahaha!!" Makhluk itu tertawa terbahak-bahak


"Dia bukan makhluk halus Gilang, dia manusia biasa seperti kita dia hanya memiliki ilmu hitam yang disebut Suanggi. Namanya memang asing karena ilmu hitam ini ada di daerah Indonesia timur, dan banyak dukun-dukun di daerah itu yang mempelajari ilmu hitam Suanggi ini," ucap Rangga


"Ilmu Suanggi adalah salah satu ilmu hitam yang telah menjadi legenda dari ilmu hitam yang berada di Indonesia timur. Bagi masyarakat timur tentunya ilmu ini adalah ilmu hitam paling tinggi di wilayahnya. Orang yang mengamalkan ilmu ini dipastikan akan berubah menjadi sosok makhluk yang mengerikan dan menyeramkan. Oleh karena itu dia bisa melihatmu," tambah Rangga


"Bagaimana kau bisa tahu Ran?" tanyaku

__ADS_1


"Tentu saja karena gue dukun sakti," jawabnya lantang


"Yaudah kalau gitu Lo aja yang melawannya, sok lah gasken," aku mempersilahkan Rangga untuk melawannya


"Kami tidak bermusuhan denganmu, jadi kembalilah ke daerah asalmu," ucap Rangga


"Tapi Sa (saya) sudah ditugaskan untuk membunuh kalian," jawabnya dengan mata yang sudah merah menyala


"Berapa kau dibayar oleh Bayu Segara?" tanya Rangga


"Dia memberiku uang yang banyak dan sebuah tumbal untukku," jawab Suanggi


"Tumbal apa?" tanya Rangga lagi


"Kalian berdua tumbalnya," jawabnya langsung menyerang Rangga, pemuda itu berusaha menghindar dari serangan makhluk yang ingin memakannya hidup-hidup itu.


Ia bergerak sangat cepat, bergelantungan di pohon dan mulai mengeluarkan bola-bola api untuk menyerangnya.


"Gilang, bantu gue! jangan diam aja!!" teriak Rangga


"Bantu apaan?" tanyaku


"Pakai ajian saktimu, atau kidung andalanmu,"


"Ok, tunggu sebentar!!" Sementara aku bersiap-siap untuk berkidung, makhluk itu justru semakin beringas dan terus menyerang Rangga dengan kuku-kukunya yang tajam.


"Gilang cepat!!, karena ada yang datang lagi!" seru Rangga


Benar saja yang dikatakan Rangga makhluk menyeramkan itu mulai berdatangan menyerang kami. Memang menurut mitosnya mereka biasanya akan membunuh korbannya secara berkelompok dan kemudian memakan daging korbannya.


Seperti kelelawar mereka berterbangan dan juga bergelantungan di pohon-pohon.


Kini mereka tidak hanya menyerang Rangga tetapi juga menyerang ku.


Aku segera duduk bersila dan melantunkan kidung rumekso ing wengi.


Ana kidung rumekso ing wengi


Teguh hayu luputa ing lara 


jim setan datan purun


paneluhan tan ana wani


niwah panggawe ala


gunaning wong luput


geni atemahan tirta


maling adoh tan ana ngarah ing mami


guna duduk pan sirno


Aku berusaha untuk tetap berkonsentrasi memusatkan pikiran dan berkidung dengan merdu meskipun makhluk itu terus menyerang ku. Mereka menggigiti tubuhku karena seperti singa yang sedang memangsa hasil buruannya.


Rangga berusaha untuk menyingkirkan makhluk-makhluk itu dari tubuhku.


*Jraasshhh!!


Sebuah Cahaya putih keluar dari tubuhku dan membuat semua makhluk-makhluk itu terhempas dari tubuhku.


"Pantas saja ajiannya tidak berfungsi dengan baik rupanya mereka memakai penyumpal telinga agar mereka tidak mendengar kidung mu Gilang, pakai ajian Lain!!" seru Rangga


Aku langsung membuka mataku dan menatap wajah para Suanggi yang sangat menyeramkan dan siap menyerang ku dan Rangga.


"Pakai ajian Waringin Sungsang milikmu Lang!!" seru Barra yang baru saja tiba di sana.


"Telat Lo, kenapa baru datang!" cibir Rangga


"Lah kan tadi kalian sendiri yang menyuruhku untuk diam menjaga Lik Suki di Rumah Sakit, terus siapa yang harus disalahkan coba?" tanya Barra


"Lo!!" jawab aku dan Rangga kompak

__ADS_1


"Kok gitu,"


"Iya, dimana-mana demit selalu salah, dukun yang bener!" cibir Rangga membuat Barra memonyongkan bibirnya


"Sue!!" Kami berdua tertawa mendengarnya


"Udah Lang buruan, kamu nunggu apalagi, cepat keluarkan jurusnya!" perintah Rangga


"Ok, hadang mereka dulu!" jawabku


Aku langsung mekuk kaki kananku sedangkan lutut kiri ku sentuhkan ke tanah. Ku kepalkan kedua tangan, dengan mata terpejam merapal mantra.


#Bismillahi Rohmani Rohiim


SUN AMATEK AJIKU WARINGIN SUNGSANG,


WAYAHIPUN TUMURUNA,


NGAUBI AWAK MAMI,


TUR TINUTING BALA,


PINACAK SUJI KEMBAR,


PIPITU JAJAR MARIPIT,


ASRI YEN SIYANG,


ANGKER KALANE WENGI.


DUK SAMANA AKEMPAL KUMPULING RASA, NETRAKU DADI DINGIN,


NETRA NINGSUN EMAS,


PUPUTIHE MUTYARA,


IRENG-IRENG WESI MANIK,


CEPLOKING NETRA,


WALIKER UDA RATIH.


IDEP INGSUN KEKENCANG BANG RURUWITAN,


ALISKU SARPA MANDI,


KIWA TENGEN PISAN,


CUPAKKU SURYA KEMBAR,


KEDEPKU PAN KILAT TATIT,


KANG MUNGGENG SIRAH,


WESI KEKENTEN ADI.


RAMBUT KAWAT SINOMKU PAMOR ANGLAYAP,


BATUK SELA CENDANI,


KUPINGKU SALAKA,


PILINGAN INGSUN GANGSA,


IRUNGKU WESI DUAJI,


PASU KULEWANG,


PIPIKU WESI KUNING. #                             


Tubuhku bergetar hebat, kulit yang terbuka di sela baju terlihat mengelam. Bak Baterai yang sudah di cas kini tubuhku sudah terisi kekuatan maha dahsyat yang siap dilepaskan kearah musuh.


Perlahan kubuka kedua mata ku, menatap tajam ke arah Makhluk-makhluk itu. Aku mengembangkan kedua tangan untuk sepersekian detik kemudian ku lesatkan tubuhku terbang ke angkasa menciptakan sinar panas maha dasyat kebiruan di seluruh tubuhku.

__ADS_1


Barra langsung menyambar tubuh Rangga dan membawanya pergi menjauh dari tempat itu begitu melihatku melesat sembari mengepalkan tanganku kearah makhluk-makhluk itu.


*Duaaarrr!!


__ADS_2