
"Lang, bangun!. Bangun Lang!!" Samar-samar kudengar suara Rangga memanggilku sembari menepuk-nepuk pipiku.
Perlahan ku mulai membuka mata menatap sekeliling ku.
"Baaa!!" seru Barra mengagetkan aku
"Sial, bukannya bidadari yang gue lihat pertama kali malah memedi!!" jawabku membuat Rangga terkekeh
"Ada noh, bidadari di depan," tunjuk Rangga pada seorang gadis yang duduk di ruang tamu sendirian
"Siapa?" tanyaku menelisik
"Lo liat aja sendiri," jawab Rangga
"Umang?"
"Bukan. Kalau boleh gue kasih saran lebih baik lo jauhin Umang. Dia bukan manusia seperti kita. Asal tahu kemarin saat kita jalan-jalan ke candi Singosari tiba-tiba lo pingsan di depan arca Dewi Prajna Paramita, dan kau tahu kamu pingsan selama dua hari, dan selama dua hari juga tuh cewek mondar-mandir kemari buat jengukin lo!" jawab Rangga
"Tapi Umang itu manusia, buktinya lo juga bisa lihat dia kan, dan orang-orang juga bisa lihat dia,"
"Kamu jangan dibutakan cinta Lang. Kan lo sendiri yang bilang kalau Umang datang dari abad ke 12 dan dia sudah punya suami, jadi walaupun dia tidak bahagia dengan suaminya lo juga gak berhak ikut campur urusan rumah tangga mereka apalagi jadi pebinor. Mending yang pasti-pasti aja deh, karena gak mungkin juga lo bisa nikah sama Si Umang. Lebih baik lo lihat dulu siapa yang dua hari ini mencemaskan lo!" ujar Rangga
Karena penasaran gue langsung berjalan menuju ke ruang tamu, memastikan siapa gadis itu.
"Uma??"
"Mas sudah sadar?" tanya gadis itu sumringah
"Alhamdulillah, btw thanks ya sudah bolak-balik kemari buat jengukin gue,"
"Sama-sama Mas, lagian ini gak sebanding dengan kabaikan Mas melunasi hutang-hutang Lik Suki. Oh iya aku bawain makanan buat Mas dan juga Ka Rangga." Uma membuka sebuah rantang yang ada disampingnya
"Wah enak nih!" celetuk Rangga menghampiri kami
"Mending kalian makan sekarang mumpung masih hangat," Umang membuka rantang satu persatu membuat aroma wangi masakannya menggoda perutku yang memang sudah keroncong setelah dua hari tidak terisi.
"Wah enak banget masakan kamu Uma, sering-sering aja lo pingsan atau sakit Lang, biar si Uma sering datang kemari bawain makanan!" ucap Rangga sambil terkekeh
"Hmmm,"
__ADS_1
Uma hanya tertawa melihat aku yang langsung melotot kearah Rangga.
"Kamu gak makan dek?" tanyaku pelan
"Sudah Mas,"
"Gimana keadaan kalian sekarang, apa Ki Parjiman masih mengganggu keluarga kamu?" tanyaku memecah keheningan
"Alhamdulillah, sekarang Ndoro Parjiman tidak pernah datang ke rumah lagi, dan Bu Lik juga gak marah-marah lagi,"
"Syukurlah, btw kamu masih nyopet?" tanyaku penasaran
"Sudah nggak Mas, sekarang aku sudah bekerja disebuah toko kelontong di pasar."
"Alhamdulillah, apa kamu tidak mau kuliah lagi?"
"Gaklah Mas, mendingan kalau aku punya duit ditabung saja,"
"Ditabung buat apa?"
"Hmmm, pasti buat nikah ya?" goda Rangga membuat kami tertawa
"Yaudah Mas antar ya?"
"Gak usah Mas," tolak Uma
**Tak, tak, tak!!
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki mendekat kearah kami.
"Umang!!" ucapku dan Rangga bersamaan
Aku terkejut melihat Umang yang kembali ke rumah ini, gadis itu menatap lekat Uma yang duduk di sampingku dengan tatapan penasaran.
"Oh iya Uma, kenalkan dia Umang!" aku segera menyuruh kedua gadis itu untuk saling bersalaman
Sekilas keduanya tidak bergeming karena hanya saling pandang.
*Author POV
__ADS_1
Kenapa gadis itu begitu mirip denganku, apa dia reinkarnasiku
Ken Umang masih menatap lekat kearah Uma Dewi yang begitu mirip dengannya, ia bahkan tidak berani menyapa gadis itu ataupun menyalaminya. Gadis itu begitu ketakutan dengan kemunculan Uma Dewi, ia takut jika Uma adalah cinta sejati Gilang. Ia sadar jika ia harus kembali ke Singosari jika dan tidak bisa menemui Gilang lagi ketika pemuda itu sudah mencintai wanita lain selain dirinya.
Hal inilah yang membuat Umang tidak suka dengan Uma, karena dianggap akan memisahkan dirinya dengan Gilang.
"Uma Dewi," Uma dia lebih dulu memperkenalkan dirinya kepada Umang dan mengukuhkan tangannya walaupun Umang tidak mau menyambutnya.
"Uma Dewi, sang Dewi Durga istri Dewa Siwa!" hanya kata-kata itu yang keluar dari mulut Umang dan kemudian masuk ke kamarnya.
"Yaudah Mas aku pulang dulu," ujar Uma menenteng rantang miliknya
"Sebentar ya, aku ambil kunci motor dulu," aku langsung bergegas menuju ke kamar dan mengambil kunci motor.
Aku segera menghampiri Uma yang sudah menungguku di depan, namun ketika aku hendak menyalakan motorku tiba-tiba Umang menarikku.
"Kanda, ada yang mau dinda bicarakan denganmu," ucap Umang serius
"Nanti saja ya Dinda, gue mau mengantar Uma pulang dulu, kasian kan kalau dia harus jalan kaki malam-malam begini,"
"Ya sudah kalau begitu Kanda jangan nyesel kalau aku mungkin tidak akan kembali lagi kesini," jawab Umang membuatku berada di pilihan yang sulit antara mengantar Uma pulang tapi Umang ngambek atau menuruti keinginan Umang tapi Uma dalam bahaya karena malam-malam pulang sendirian.
"Sudahlah Mas, Uma bisa pulang sendiri kok. Mungkin Ka Umang mau bicara penting dan lebih penting dari mengantar Uma pulang. Lagian Uma bisa pesen Ojek kalau males jalan kaki kan," jawab gadis itu dengan senyum manisnya
"Umang maaf ya, bicaranya lain kali saja. Toh kita masih bisa ngobrol kan setelah aku mengantar Uma, sedangkan Uma aku tidak bisa membiarkan dia pulang sendiri karena desa ini sangat rawan. Aku takut terjadi apa-apa jika Uma pulang sendiri tanpa pengawalan. Lagipula aku juga sudah berjanji dengan almarhum ayah Uma untuk menjaga dan melindunginya dari orang-orang jahat,"
Kulihat semburat kekecewaan di mata Umang yang langsung berlari meninggalkan kami.
"Good boy, laki-laki itu memang harus punya prinsip, setidaknya aku bangga dengan keputusan kamu kali ini Gilang, sekarang pergilah biar Umang aku dan Barra yang urus!" tukas Gilang menghampiri kami
Aku hanya mengangguk dan kemudian pergi melesat menuju ke desa Sumberawan.
"Kamu harusnya gak perlu bela-belain buat nganter aku juga kali Mas, kan aku gak enak sama ka Umang," ucap Uma memecah keheningan
"Tidak apa dek, lagian Mas sudah janji untuk melindungi dan menjaga kamu, dan Mas gak meyu menyesal untuk kedua kalinya jika terjadi sesuatu dengan kamu,"
"Makasih ya Mas, sudah menjadi pelindungku," ucap Uma merebahkan kepalanya di bahuku dan melingkarkan tangannya di pinggangku membuat desiran tidak menentu dalam dadaku.
Udara malam Singosari yang dingin begitu menusuk tubuhku. Apalagi aku tidak memakai jaket malam ini hingga angin langsung menghantam dadaku.
__ADS_1
Seperti merasakan apa yang kurasa, Uma semakin mengeratkan pelukannya, hingga membuat aku bisa merasakan sesuatu yang kenyal dan hangat menempel di punggungku membuat jantungku berdegup kencang.