BUKAN KEN AROK

BUKAN KEN AROK
Siasat


__ADS_3

Malam yang ditunggu-tunggu pun tiba, Ki Jarot mengajak Bayu Segara dan juga Gardapati menuju ke Coban Putri.


Kurang lebih empat puluh lima menit perjalanan dari Singosari menuju ke tempat wisata Coban Putri cukup membuat ketiganya kelelahan.


Setibanya disana mereka tidak langsung menuju ke area Coban. Ki Jarot menginstruksikan untuk mendatangi Coban itu pada malam hari hingga tidak ada lagi pengunjung di area itu.


Suara gemericik air terjun dan semilir angin menambah suasana malam semakin syahdu.


Malam semakin larut dan Ki Jarot mulai menabur kembang setaman di area pemandian Coban itu juga tidak lupa membakar kemenyan dan meletakkan sesaji diarea itu.


Suara serangga hutan dan bunyi burung kokok beluk membuat suasana malam semakin mencekam.


"Sudah hampir pagi, tapi tidak ada tanda-tanda Ken Dedes muncul di area pemandian," ucap Gardapati gelisah


"Kita harus sabar Garda, bahkan Joko Tarub harus menunggu berhari-hari sampai berbulan-bulan agar bisa melihat bidadari kayangan turun mandi dan mencuri pakaiannya, jika malam ini Ken Dedes belum terlihat maka kita akan datang kesini lagi Selasa Kliwon yang akan datang," jawab Ki Jarot


"Tapi itu akan lama lagi Guru," jawab Bayu Segara


"Kesabaran akan membawa kita pada kemenangan, jadi jangan suka mengeluh!" hardik Ki Jarot membuat kedua muridnya terdiam


*Srak, srak, srak!!!


Tiba-tiba terdengar suara seperti orang berjalan melewati semak belukar, kabut tebal tiba-tiba menyelimuti kawasan pemandian.


Mereka menatap lekat kearah Coban dari balik semak-semak, kini kabut sedikit demi sedikit mulai menghilang tersibak hembusan angin malam. Dari kejauhan terlihat jelas seorang wanita cantik sedang berendam di area pemandian di temani oleh beberapa orang dayang.


Ketiganya tercengang ketika menatap dengan jelas wajah wanita itu .


"Intan!!" seru Gardapati mengucek-ngucek matanya. Ia bahkan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Tidak mungkin, kenapa malam-malam begini Intan keluyuran di tempat ini," ucap Gardapati melangkah mendekati pemandian namun, Ki Jarot segera menariknya.


"Jangan gegabah, dia bukan istrimu. Tapi Arwah dari Ken Dedes. Mungkin Intan itu adalah reinkarnasi dari Ken Dedes, selain wajah mereka sama, nasib mereka juga tidak jauh berbeda. Jika dulu Ken Dedes tidak bahagia karena menikah dengan orang yang tidak ia cintai, Intan juga sama. Dia tidak bahagia karena kau menikahinya hanya untuk menutupi bisnis gelapbmu dibalik nama besar Ustadz Sholeh," ucap Ki Jarot membuat Gardapati langsung diam seribu bahasa.


"Sekarang kita sudah tahu siapa titisan Ken Dedes, jadi sudah saatnya kita pulang," tambah Ki Jarot


"Sudahlah jangan diambil hati ucapan Aki Jarot, dia memang suka begitu. Kau tak perlu kesal kalau memang ucapannya itu tidak sesuai dengan kenyataan. Karena bahagia tidaknya Intan hanya dia yang tahu, tidak seorangpun tahu termasuk kamu suaminya." ujar Bayu memberikan dukungan kepada sahabatnya

__ADS_1


Bayu melesatkan mobilnya menembus kegelapan malam menuju ke Singosari.


Hari sudah menjelang pagi tapi Gardapati belum bisa memejamkan matanya, kata-kata Ki Jarot masih terngiang-ngiang di telinganya, membuatnya susah tidur.


"Sepertinya ucapan Aki benar, Intan tidak bahagia bersamaku. Bahkan aku jarang sekali menemaninya di rumah, komunikasi pun jarang. Bahkan aku dan anakku tidak pernah bertegur sapa," Gardapati masih ingat dimana Intan sampai memohon dan bersujud di kakinya agar lelaki itu mau datang ke sekolah putranya karena ia selalu diejek tidak punya bapak oleh teman-temannya.


Lelaki itu kemudian bersiap-siap untuk pergi kerumah sakit melihat kondisi putranya.


*********


"Apa kau bilang Ran, kau mengantar wanita bernama Intan ke rumah sakit karena anaknya sakit?"


"Iya, memangnya kenapa?" tanya Rangga penasaran


"Sudah berapa lama?"


"Dua hari yang lalu Gilang, sekarang aku .au menjenguknya karena tadi aku telpon dia ternyata anaknya masih dirawat karena terserang DBD,"


"Aku ikut,"


"Tapi kamu jangan sampai suka sama dia Lang, dia jatah gue. Ingat lo sudah Punya Umang dan Uma,"


"Iya,"


"Gilang," Intan terkejut melihat kedatanganku bersama Rangga


"Darimana kau tahu aku dirumah sakit?" tanya Intan


"Dari Rangga," jawabku singkat


"Jadi Rangga itu teman kamu?" tanya Intan lagi


"Iya," Aku terlihat kaku dengan Intan, mungkin karena aku memang sedang menghindarinya dan aku tidak mau benih-benih cinta lama bersemi kembali diantara kita.


Aku akhirnya keluar membiarkan Rangga dan Intan ngobrol. Ketika aku keluar ku lihat seorang lelaki menatap kami penuh curiga dari kejauhan.


Dia adalah Gardapati suami Intan, buru-buru aku menarik Rangga untuk pulang. Aku tidak mau lelaki itu berpikir macam-macam tentang hubungan Rangga dan Intan.

__ADS_1


"Kenapa kau tidak bilang kalau kau itu temannya Intan?" tanya Rangga kecewa


"Dia itu bukan hanya temanku Ran, tapi karena dialah aku kembali ke sini, aku ingin memastikan apakah dia sudah menikah atau belum dan aku berharap kalau dia belum menikah dan aku yang akan menjadi suaminya. Tapi Tuhan berkehendak lain kami tidak berjodoh karena dia sudah menikah dan punya anak, rasanya aku kecewa dan ingin kembali ke rumah Ka Fitri. Tapi aku akhirnya sadar hidup bukan hanya untuk bersedih dan meratap, tapi aku harus bangkit untuk meraih sesuatu yang belum aku dapatkan yaitu cita-cita dan cinta, untuk itulah aku menetap disini untuk meraih gelar Sarjana dan mencari siapa cinta sejati ku disini,"


"Tapi apa kau masih ada perasaan dengan dia?" tanya Rangga


"Tidak usah khawatir Ran, kau tahu kan siapa yang aku cintai saat ini?"


"Hmmm, aku harap kau benar Lang,"


"Trust me, "


"Sure,"


Ki Jarot tersenyum simpul ketika mendengar ucapan Gilang dan Rangga dari kejauhan, lelaki itu sengaja mengikuti keduanya saat melihat mereka menjenguk Bima putra Gardapati di rumah sakit.


"Sekarang aku tahu bagaimana mengalahkan Gilang," gumam Ki Jarot menyeringai, ia segera kembali ke bangsal perawatan Bima setelah mengikuti Gilang dan Rangga.


"Bagiamana keadaan Bima?" tanya Gardapati


"Sudah mendingan , tapi karena trombositnya masih lemah jadi belum boleh pulang dulu," jawab Intan


"Kebetulan aku bawa angkak dan juga jambu biji. Keduanya bagus untuk meningkatkan trombosit darah. Semoga setelah memakan itu Bima bisa segera pulang," ucap Bayu Segera


"Terima kasih Tuan Bayu,"


"Sama-sama,"


"Lagian ada aki juga disini, kenapa kau tidak minta bantuan dia untuk menyembuhkan anakmu Garda. Apa kau meragukan kesaktian gurumu dalam mengobati orang sakit?" tanya Bayu Segara, membuat Gardapati sungkan


"Tapi Tuan, mohon maaaf, Bima bukan sakit karena kesambet atau kesurupan yang harus diobati oleh seorang dukun, tapi dia terserang Demam berdarah dan itu hanya bisa disembuhkan oleh dokter," jawab Intan lirih


"Lancang sekali mulutmu Intan!!" seru Gardapati, ia sangat marah kepada wanita itu dan menganggap ucapannya itu menghina gurunya.


Sebuah tamparan pun mendarat di wajah Intan, membuat wanita itu hanya tertunduk dan meminta maaf kepada Ki Jarot.


"Maaafkan atas kelancangan saya Aki, tapi sungguh bukan maksud saya untuk meragukan kesaktian Aki," ucap Intan bersujud di bawah kaki lelaki itu.

__ADS_1


"Sudahlah kau tidak perlu seperti ini," ucap Ki Jarot tersenyum sinis menatap kemarahan Gardapati


__ADS_2