BUKAN KEN AROK

BUKAN KEN AROK
Terjebak 2


__ADS_3

"Kanda!!!" teriak Umang begitu tiba didepan rumah Gilang


"Kanda, buka pintunya!!" teriak Gadis itu sembari menggedor-gedor pintu rumah Gilang


"Ngapain kamu datang malam-malam kesini, pakai acara teriak-teriak segala. Nanti kalau tetangga curiga gimana?" aku langsung menariknya masuk kedalam rumah.


"Memangnya kenapa kalau tetangga tahu aku datang malam-malam?" tanya Umang kesal


"Aku takut mereka berpikir negatif tentang kita, apalagi sekarang mereka tahu aku cuma tinggal berdua dengan Rangga, tentu saja mereka akan curiga jika ada perempuan datang ke rumah ini, apalagi malam-malam terus teriak-teriak. Aku takut mereka mengira kau datang untuk meminta pertanggung jawaban dariku, karena aku sudah menghamili mu,"


"Apa!!" teriak Umang sembari menampar wajahku.


*Plak!!


"Aduuh, kok aku ditampar sih Dinda,"


"Makannya jangan suka pikiran kotor, aku datang kesini mau minta bantuan sama Kanda bukan minta pertanggung jawaban dari Kamu," cibir Umang


"Itu jan hanya andaikata dinda bukan sebenarnya, iish kamu baperan sekarang. Memangnya kamu mau minta tolong apa?"


"Masa kau tidak peka sih Kanda?" ucap Umang mendorong tubuhku


"Peka apa sih?, gimana mau peka nanti aku ngomong salah lagi,"


"Issh kanda, pakai kekuatanmu!" seru Umang


"Buat apa?"


"Tatap mataku," pinta Umang mendekatkan wajahnya dan menatapku lekat


"Hmmm, gak ada apa-apa," jawabku membuat Umang semakin marah dan kembali menamparku


"Awww, sakit Dinda kenapa kau menamparku lagi, memangnya apa salahku,"


"Kamu memang benar-benar gak peka Lang, kalau cewek bilang seperti itu berarti tandanya ia minta dicium, kenapa kamu gak peka sih," bisik Rangga


Aku langsung mengangguk dan mendekati Umang dan berusaha menciumnya, tetapi Umang malah mendorong tubuhku hingga terjungkal.


"Awww, apa aku salah lagi?" tanya ku mencoba bangkit


"Kenapa kau malah mendengarkan ucapan Rangga Lang, kau tidak bisa melihat kalau yang didepanmu itu adalah Uma Dewi yang sedang dirasuki oleh Ken Umang," ujar Barra membantuku berdiri


"Darimana kau tahu Bar?" tanyaku penasaran


"Tatap matanya, jika kau memang punya indra keenam kau akan bisa melihat Umang sedang terpenjara di tubuh Uma. Dan dia hanya bisa menguasai tubuh Uma jika gadis itu sedang tertidur, karena energi positif Uma terlalu banyak sehingga Umang tidak bisa menguasai jiwanya saat gadis itu terjaga. Umang bisa terperangkap selamanya disana karena mereka memang memiliki kesamaan, Uma terlalu lemah tapi di memiliki energi positif yang sangat kuat sedangkan Umang sangat kuat tapi energi positifnya lemah itulah yang membuatnya susah keluar dari tubuh Uma." papar Barra


"Kali ini aku setuju dengan Bar-bar, untuk itulah aku datang kemari untuk meminta bantuan mu keluar dari tubuh Uma,"


"Sebenarnya apa yang membuatmu bisa masuk kedalam tubuh Uma?" tanyaku penasaran

__ADS_1


"Jadi ini semua karena Bayu, aku tidak tahu kenapa dia sangat ingin bertemu denganku sampai mengadakan ritual pemanggilan di tempat tinggalku Candi Telih. Karena aku tidak tahan dengan aroma kembang tujuh rupa dan juga hio Cina makanya aku keluar. Beruntungnya ia tidak mengenaliku karena aku memakai baju orang biasa dan dia menyangka aku adalah Uma. Bayu mengantarku ke rumah sakit karena dia tahu Lik Suki sedang di rawat. Di rumah sakit kami berpapasan dengan Uma aku sempat mendorongnya dan kemudian aku mendekati Uma untuk menyuruhnya mencari jalan lain tapi semakin aku mendekat kearahnya sukmaku malah tersedot masuk kedalam tubuhnya," jawab Umang


"Lalu bagaimana aku bisa menolongnya?" tanyaku kepada Barra


"Hanya Rangga yang bisa menolongnya," jawab Barra


"Why always me?" tanya Rangga mengangkat kedua tangannya


"Karena lo dukun!!" seruku bersamaan dengan Barra


"Anj*r, lo juga keles, cuma bedanya gue dukun sakti lo dukun abal-abal Lang. Atau istilahnya lo dukun karbitan wkwkwkw," jawab Rangga meledekku


"Hmmm, iyain ajalah daripada ngambek," jawabku


"Ran, tolong aku, pelase!!. aku gak mau terperangkap disini, aku susah bergerak dan juga kekuatanku menghilang setelah aku ada di tubuh Uma," cicit Umang


"Makanya jangan suka dekat-dekat dengan titisan mu, kau bisa selamanya di dalam tubuh Uma dan tidak bisa keluar, karena kalian sebenarnya adalah satu jiwa," Rangga memegang tangan gadis itu dan melihat garis tangannya. Ia kemudian memegang ubun-ubun Umang dan memejamkan


matanya.


Lelaki itu sekuat tenaga mencoba menarik keluar Sukma Umang tapi selalu gagal.


"Benar-benar susah dilepaskan karena kalian sudah menyatu," berikan aku waktu untuk bersemedi malam ini, aku akan berusaha mencari wangsit untuk mengeluarkan sukmamu Umang." sahut Rangga


"Baiklah Ran," jawab Umang sedih


"Sekarang kau yang akur dengan Uma ya, jangan sakiti Uma. Kau juga harus jaga sikap saat jadi Uma, karena Uma adalah wanita yang anggun dan santun bukan bar-bar sepertimu," aku mengusap lembut rambutnya mencoba menenangkan Umang


"Kau benar, tumben sekarang kamu pinter sayang," ucapku sembari mencium keningnya


"Ehemm, inget teman, jangan sampai kau melukai hati teman-temanmu yang jomblo!" goda Rangga


"Iyeh, berisik lo!!"


"Sekarang mending aku antar kamu pulang atau ke rumah sakit?" tanyaku lirih


"Ke rumah sakit aja, kasian Uma sedang menjaga Lik Suki disana," jawab Umang


"Emangnya Lik Suki sakit apa?"


"Aku kurang tahu Kanda, nanti kau tanya saja sama Uma." jawab Umang


"Yaudah sekarang naiklah," ajakku


Umang langsung bergegas duduk dibelakangku.


"Rasanya gimana naik motor Kanda, apa seperti naik Kuda?" tanya Umang membuatku terkekeh


"Hmmm, anggap saja kau sedang naik kuda,"

__ADS_1


"Tapi aku takut kanda," jawab gadis itu


"Jangan takut kan ada aku, sekarang pegangan yang erat dan tutup mata,"


Umang langsung menuruti perintahku bahkan ia memelukku sangat erat hingga membuatku sedikit tidak nyaman.


"Jangan terlalu kenceng juga pegangannya honey, perut Babang Gilang atit, biasa aja pegangannya," aku mengendorkan pegangan tangan Umang, sebenarnya aku ingin sekali menertawakan sikap norak Umang saat naik motor. Tapi aku tidak tega aku takut ini pertama kalinya ia naik motor makanya bisa ku maklumi kalau dia ketakutan.


"Sekarang pejamkan matamu, nanti kau baru membukanya saat sudah sampai,"


"Baik Kanda,"


Aku langsung menyalakan motorku dan mengendarainya dengan kecepatan sedang.


"Kanda pelan-pelan aku takut!!" seru Umang sambil memelukku erar


"Hhmmm, iya,"


Dua puluh menit kemudian kami sudah sampai di rumah sakit.


"Buka matamu Dinda, kita sudah sampai," aku kaget ketika mendapati Umang ternyata tertidur diatas motor


"Hmmm, bagaimana aku mengantarnya masuk kedalam sedangkan kamar Lik Suki aja aku tidak tahu dimana,"


"Gilang Oii!!" seru seorang lelaki mendekatiku


"Kenapa Uma bisa bersamamu?" tanya Janaka kaget


"Dia habis kerumahku untuk minta tolong,"


"Apa dia minta tolong padamu untuk meminjami uang guna membayar operasi Lik Suki?" tanya Janaka membuatku kaget,


Ternyata kau sedang mengalami kesulitan keuangan Uma, kenapa kau tidak bilang padaku, bukankah alu sudah mengatakan padamu untuk tidak sungkan meminta bantuan dariku, kenapa kau begitu keras kepala dan tertutup dengan ku Uma.


"Eh, iya." jawabku gugup


"Kalau kau tidak punya uang jangan dipaksakan, biar aku yang akan membantunya. Aku akan pinjam uang kepada bos Garda, aku yakin dia akan membantuku," jawab Janaka


"Santuy, sekarang tunjukan dimana ruang perawatan Lik Suki, kasian Uma butuh istirahat


"Anyelir 313," Janaka kemudian berusaha merebut tubuh Kinan dariku.


"Sini biar aku aja yang bawa Uma kedalam," kata Janaka berusaha menarik Uma


"Tidak bisa, aku yang berhak mengantarnya karena almarhum Ayahnya sudah menitipkan padaku!!" sahutku lantang


"Gak bisa biar aku saja!" seru Janaka kembali menarik Uma, sehingga terjadilah aksi saling tarik-menarik tubuh Umang yang sedang tertidur hingga gadis itu bangun.


"Hentikan!!" seru Uma

__ADS_1


"Tidak usah sok baik deh, aku bisa jalan sendiri, jadi please jangan rebutin aku!" seru Uma berjalan masuk kedalam rumah sakit membuatnya langsung berjalan keluar untuk segera pulang.


Namun sepertinya Dewi Fortuna sedang berpihak padaku, tiba-tiba tubuh Uma tergelincir dan hampir jatuh. Aku segera berlari dan menariknya kepelukanku sehingga ia tidak jadi jatuh, tentu saja hal ini membuat Janaka kesal dan cemburu.


__ADS_2