
"Iyah." jawab Nadira singkat.
"Eemm kamu udah sarapan?" tanya Reyhan.
"Udah." lagi lagi Nadira menjawab dengan singkat.
("Nadira masih gugup, apa karena semalam yah,tapi nggak papa lah,toh kita juga sudah menikah,jadi sepertinya wajar saja kalau aku hanya memeluk nya seperti itu.") batin Reyhan.
"Maafkan aku jika semalam aku membuatmu tak nyaman,aku harap kau tak marah padaku karena hal itu." ucap Reyhan sambil melajukan mobilnya.
"Bukan begitu,aku cuma butuh waktu aja,aku masih canggung,kita juga kan baru bertemu beberapa Minggu jadi aku belum terbiasa,ku harap kau mengerti." ucap Nadira,namun kini ucapan nya sedikit lembut,tidak ketus seperti biasanya.
"Aku mengerti,aku akan berusaha untuk lebih bersabar lagi,aku paham kau masih belum bisa menerima ku, karena kau juga masih mencintai Arfan,kau tak perlu khawatir,aku tidak apa apa,kau yakinkan saja dulu hatimu, karena walaupun aku memang mencintai mu,tapi aku tak akan memaksamu." ucap Reyhan dengan sangat lembut.
("Reyhan begitu tulus mencintai ku,apa aku yang terlalu kasar terhadap nya, maafkan aku Rey, karena hati memang tak bisa dipaksakan,aku tak tau kedepannya akan seperti apa,tapi untuk saat ini,hatiku masih untuk Arfan.") batin Nadira.
Arfan pun melajukan mobilnya, sampai akhirnya mereka sampai di depan sekolah,saat mereka turun dari mobil,teman teman Nadira sudah standby untuk menyambut Sahabatnya dan juga idola nya itu.
"Hai Rey,eemm kenapa makin hari kamu makin ganteng aja sih, kegantengan kamu itu kayak apotik tutup tau." ucap Desi, yang melihat ke arah Reyhan sambil tersenyum.
"Maksudnya?" Reyhan terlihat bingung.
"Gak ada obat,hehehe." Desi tertawa dengan lelucon nya.
"Kamu ada ada saja, dapat pribahasa dari mana itu, hehehe?" Reyhan tertawa kecil mendengar celotehan Desi.
"Ada deh." ucap Desi senyum senyum sendiri.
__ADS_1
"Ih kamu mah gitu,pake menggombal segala sama Aa Reyhan,Susi teh kan bekum ada bahan buat menggombal,jadi gak bisa bales kamu dong,hmm." ucap Susi yang tak suka dengan rayuan Desi kepada Reyhan.
"Makanya,gak usah nyiapin bahan,dengan melihat wajahnya saja,sudah bisa mengungkapkan nya,tidak perlu cari kata kata yang sulit." Desi tersenyum sendiri melihat wajah Reyhan.
("Kenapa dia sangat terlihat tampan saat sedang tertawa seperti itu,eemm dia memang ganteng sih,pantas saja mereka pada menyukainya, apalagi dia selalu ramah kepada siapapun.") batin Reyhan.
"Ya udah,yuk masuk, bentar lagi bel masuk." ucap Reyhan.
"Ra ayo!,kenapa malah melamun." ucap Desi yang melihat Nadira masih mematung.
"I-iyah ayo!" Nadira pun langsung melangkah maju, mengikuti mereka dari belakang.
Akhirnya mereka pun tiba di kelas,saat bel masuk,Bu Neni,wali kelas pun masuk dan langsung berdiri di depan.
"Selamat pagi anak-anak?" ucap Bu Neni.
"Pagi Bu." ucap para murid dengan serentak.
"Iyah Bu." sahut semua murid dengan kompak.
"Besok,kita akan mengadakan bazar amal,jadi,nanti kalian di bagi menjadi beberapa kelompok, kegiatan nya adalah, kalian harus menjual aneka makanan apa saja,dan dana nya berasal dari uang kas kelas ini,jadi nanti di bagi bagi saja,dan hasil dari penjualan nya,akan kita sumbangkan ke panti asuhan,dan kita yang akan mengantarkan nya kesana nanti, bagaimana,ada yang mau di tanyakan?" tanya Bu Neni.
"Makanan nya beli atau buat sendiri Bu?" tanya Desi sambil mengacungkan tangan.
"Untuk lebih menghemat waktu,lebih baik beli saja di pasar,jadi kalian bisa menjual nya melebihi harga di pasar, misalkan harga makanan nya seribu kalian bisa jnujual dengan harga dua ribu, bagaimana masih ada yang ingin ditanyakan lagi?." ucap Bu Neni.
"Saya izin bertanya Bu,tempat untuk berjualan nya di mana,dan juga bagaimana cara kita memberi tahu kepada orang orang yang akan membeli dagangan kita, kalau kita sedang mengadakan bazar amal." tanya Reyhan sambil mengangkat tangan nya.
__ADS_1
"Pertanyaan yang sangat bagus,ibu suka dengan cara kamu bertanya,jadi begini,kita akan mengadakan bazar di lapangan sekolah kit,dan supaya para customer tau kita sedang mengadakan bazar,ibu sudah menyiapkan brosur untuk kalian bagi bagikan kepada orang orang di sekitar,ini, brosur nya." Bu Neni memperlihatkan brosur kecil di tangan nya.
"Apa hanya kelas kita saja yang mengadakan bazar amal ini teh Bu?" tanya Susi.
"Untuk besok Iyah,jadi nanti akan bergiliran, waktunya supaya tidak menggangu pelajaran yang lain, bagaimana kalian mengerti." ucap Bu Neni.
"Mengerti Bu." ucap para murid dengan serentak.
"Baiklah, karena siswa ibu ada dua puluh lima orang,jadi kalian di bagi menjadi lima kelompok dengan masing-masing kelompok terdiri dari lima orang, untuk siapa siapa nya bisa kalian tentukan sendiri, silahkan kalian berdiskusi dulu." ucap Bu Neni,ia duduk di kursi nya.
Para murid pun menentukan siapa yang akan menjadi anggota kelompok nya, sepertinya Nadira tidak mau satu kelompok dengan Reyhan karena ia masih merasa canggung kalau harus berdekatan.
Nadira,Desi,Susi memilih dua orang di belakang nya untuk menjadi anggota kelompok nya, sedangkan Reyhan,ia bersama Suci dan juga tiga orang di Belakangnya, begitu pun tiga kelompok lainnya,mereka telah menentukan masing masing.
"Bagaimana,apa kalian sudah menentukan anggota kelompok nya?" tanya Bu Neni kembali berdiri.
"Sudah Bu." ucap para murid serempak.
"Baiklah, kalau begitu,ini brosur nya ambil oleh ketua kelompok kalian." Bu Neni memberikan brosur itu menjadi lima bagian,dan masing masing mendapatkan lima puluh brosur setiap kelompok nya.
"Baiklah,sudah semuanya, sekarang kalian ke luar sekolah, kalian bagi bagikan brosur tersebut kepada orang orang yang lewat,atau orang orang sekitar sini." ucap Bu Neni.
"Baik Bu." para murid pun langsung berjalan keluar untuk membagi kan brosur kepada orang orang sekitar.
Hari ini cukup panas,para murid pun sedang membagi kan brosur mereka kepada pengendara atau orang yang berjalan melewati sekolah nya,Bu Neni juga tidak menyarankan mereka jauh jauh menyebar kan brosur tersebut supaya tidak terlalu membutuhkan waktu yang lama.
Bu Neni pun memantau dari kejauhan,ia ingin tahu siapa saja yang di nilai nya bagus sebagai petugas marketing, karena ini adalah bagian dari cara pembelajaran untuk mereka ke depannya.
__ADS_1
"Duh panas banget yah,nanti Susi teh jadi item kalau gini." Susi menutupi wajahnya dengan brosur yang ia pegang.
"Susi,kasih atuh itu brosur nya sama orang yang lewat,kamu mah malah di jadikan kipas seperti itu." ucap Desi kesal dengan sahabat nya ini.