
"Eemm anak Ambu ini teh paling bisa kalau bikin Ambu nya semangat,ayo atuh ah kita siapkan bahan-bahan,biar besok teh nggak terlalu ribet." ucap Ambu.
"Iyah Ambu, Reyhan bantu apa dulu?" tanya Reyhan.
"Ini aja, tolong ayak tepung nya, supaya nanti pas di bikin adonan gampang mencampur nya." ucap Ambu memberikan instruksi pada putra nya.
"Iyah Ambu." Reyhan pun langsung mengikuti instruksi Ambu,ia sangat semangat membantunya.
Setelah selesai membantu di dapur, Reyhan pun langsung masuk ke kamar nya, tiba-tiba ia teringat Nadira, mau menanyakan kabarnya pun,ia tak memiliki nomor ponselnya, akhirnya ia pun tertidur dengan pulas.
***
Pagi Hari
Sarah sudah siap dengan pakaian seragam sekolah nya,ia pun langsung keluar dari kamarnya,saat ia keluar,ia melihat bi Ani sudah berada di meja makan, sepertinya sedang menyiapkan sarapan untuk Sarah.
Saat Sarah menghampiri nya, terlihat bi Ani seperti canggung,Sarah pun tau kenapa bi Ani seperti itu,dan tebakan pasti benar,yang kemarin masuk ke dalam rumah nya adalah bi Ani.
"Sarapan nya sudah siap non,bibi permisi ke belakang dulu." bi Ani yang terlihat canggung pun langsung berjalan saat ia mempersilakan Sarah untuk sarapan.
"Bibi?" panggil Sarah.
Bi Ani pun menghentikan langkahnya. "I-iyah non." jawab bi Ani dengan gugup.
"Duduk dulu,saya mau bicara." ucap Sarah.
"Mau bicara apa non?" bi Ani pun langsung duduk.
"Apa bibi yang kemarin sore masuk ke dalam rumah?" tanya Sarah.
"Eemm bibi." bi Ani terlihat sangat bingung.
__ADS_1
"Jika memang benar,apa bibi tau apa yang saya lakukan?" tanya Sarah,bi Ani pun hanya mengangguk.
"Bi, selama ini bibi yang menemani saya di sini,saya sudah tidak dipedulikan lagi oleh orang tua saya,jadi saya harap bibi tidak akan memberitahu kepada siapapun tentang apa yang bibi ketahui,saya mohon bi,saya tidak mau kalau sampai orang tua saya tau." ucap Sarah.
"Tapi non,apa non tidak merasa bersalah atas perbuatan non itu,bibi sampai sampai tak percaya kalau non Sarah bisa sampai melakukan hal itu dengan den Arfan,bibi nggak mau nanti terjadi hal yang tidak di inginkan,jadi bibi mohon,non Sarah harus berhenti berbuat seperti itu,itu hanya akan merugikan non Sarah sendiri." ucap bi Ani.
"Saya berjanji, tidak akan mengulangi nya lagi,tapi saya mohon,bibi jangan bilang sama mama papa kalau nanti mereka pulang!" ucap Sarah.
"Baiklah non,jika non Sarah berjanji tidak akan mengulangi nya lagi,bibi juga tidak akan memberitahu ibu sama bapak,asal non Sarah bisa tepati janji itu,dan mulai sekarang,jika ada den Arfan main ke sini,bibi tidak akan pulang dulu sebelum den Arfan pulang,bibi nggak mau kejadian seperti itu lagi." ucap bi Ani.
"Iyah Bi,aku janji." ucap Sarah.
"Jika memang begitu bibi tidak akan bicara pada siapapun,bibi juga nggak mau non Sarah kenapa Napa, karena bibi sudah diberi amanah untuk menjaga non Sarah, walaupun mungkin bibi sudah gagal menjaga amanah itu." bi Ani merasa bersalah.
"Ini bukan salah bibi,tapi aku yang salah,aku yang tidak bisa menjaga diriku,jadi aku hanya minta bibi untuk tidak memberi tahu siapa pun,hanya itu bi." ucap Sarah.
"Baik non,kalau begitu bibi kebelakang dulu,non Sarah sarapan, setelah itu berangkat ke sekolah." ucap bi Ani.
Bi Ani pun langsung pergi dari sana, sedangkan Sarah sedang berpikir dengan semua ucapan bi Ani tadi.
("Sepertinya memang aku yang salah, perbuatan ku itu sudah di luar batas wajar,aku juga sebenernya takut,tapi hanya Arfan lah yang bisa membuat ku bahagia,entah kenapa aku tak bisa jauh dari nya,bahkan aku rela menyerahkan semuanya padanya.") batin Sarah.
Setelah Sarah yakin dengan keputusan nya,ia pun langsung sarapan,namun baru saja,ia menyuapkan makanan ke mulutnya,ia merasa mual.
"Huweeek." Sarah pun langsung berlari ke kamar mandi,ia muntah di sana. "Aduh kenapa sih, kayaknya aku nggak enak badan,apa aku nggak usah sekolah dulu kali yah,badanku tiba-tiba nggak enak gini." gumam Sarah.
Bi Ani yang mendengar Sarah muntah muntah di kamar mandi pun merasa cemas,ia langsung menghampiri nya.
Tok...tok...tok...
"Non,non sarah kenapa?" bi Ani mengetuk pintu kamar mandi.
__ADS_1
Pintu kamar mandi pun terbuka. "Nggak papa bi, kayaknya aku nggak enak badan aja,aku nggak masuk sekolah dulu sekarang kayaknya,hawa nya tuh mual gitu,aku juga nggak bisa makan, nyium bau nasi tuh enek aja gitu." ucap Sarah.
Deg
Bi Ani yang mendengar perkataan Sarah pun terkejut, sebagai seorang wanita yang sudah berpengalaman,ia pun paham apa yang sedang di alami oleh Sarah,ia yakin kalau Sarah sedang hamil, tapi ia pun tak bisa memastikan nya dulu,sebelum ada bukti nyata nya.
("Nggak mungkin kan kalau non Sarah hamil,tapi jika memang hubungan mereka tidak hanya dilakukan kemarin saja,ada kemungkinan juga kalau non Sarah hamil,eemm aku teh jadi bingung,tapi kalau memang benar,aku harus segera antisipasi, sebelum semuanya jadi semakin buruk.") batin bi Ani.
"Non?" tanya bi Ani pelan.
"Iyah Bi." ucap Sarah ia memegang kepalanya yang terasa pusing.
"Apa non Sarah dan den Arfan melakukan nya tidak hanya hari kemarin saja?" tanya bi Ani ragu.
"Memang nya kenapa bi?" tanya Sarah.
"Jawab saja." bi Ani penasaran.
"Hmm,sudah hampir tiga bulan ini." ucap Sarah terpaksa mengatakan nya.
"Apa?" bi Ani terkejut.
"Memang nya kenapa bi?" tanya Sarah heran.
"Bibi takut kalau non Sarah hamil." ucap bi Ani ragu.
"Hahaha,bibi ini ada ada saja,saya ini hanya masuk angin,lagi pula,kami selalu pakai pengaman,jadi sepertinya tidak mungkin kalau aku hamil,udah ah,saya mau istirahat dulu di kamar." ucap Sarah,merasa lucu dengan ucapan Bi Ani.
"Tapi non,apa non Sarah udah telat datang bulan?" tanya bi Ani.
Sarah mengehentikan langkah nya,ia merasa terkejut dengan perkataan bi Ani,ia berpikir sejenak,bahwa memang dua bulan ini ia belum datang bulan,ia pun tak mengingat ke sana.
__ADS_1
Sarah membalikkan tubuhnya kebelakang, menghadap bi Ani. "Iyah Bi,tapi saya kan sudah bilang,kami melakukan memakai pengaman,jadi tidak mungkin kan?" Sarah terlihat panik, walaupun ia mencoba untuk menggubris kecurigaan nya itu.