Bukan Pacar Rahasia

Bukan Pacar Rahasia
64.Terbuai


__ADS_3

"Ada aku di sini,kamu tidak perlu khawatir,aku tak akan pernah membuat mu kecewa,aku berjanji akan menjaga mu, yang sudah terjadi, biarlah terjadi,tapi yang pasti aku akan melindungi mu dari siapapun, semoga dengan adanya kejadian ini,kamu menjadi sadar bahwa Arfan bukan laki laki yang baik untuk wanita baik seperti mu." Reyhan mengelus rambut Nadira.


"Hiks hiks hiks." Nadira menangis terisak.


Reyhan membiarkan Nadira menangis di pelukannya,ia ingin membuka Nadira sedikit lebih lega.


Setelah beberapa saat kemudian, Nadira pun mulai tenang, tangisnya sudah tidak terdengar lagi,ia melepaskan pelukannya sambil menghapus air matanya.


"Sudah tenang sekarang?" Reyhan menatap wajah Nadira, Nadira pun mengangguk.


"Terimakasih,sekarang aku sudah jauh lebih tenang." Jawab Nadira.


"Syukurlah." Reyhan tersenyum.


("Sekarang hatiku jauh lebih tenang, ternyata benar,jika dengan menceritakan semuanya pada Reyhan,hatiku bisa jadi lega.") batin Nadira.

__ADS_1


"Eemm boleh kan kalau malam ini aku menginap di sini?" tanya Reyhan,saat melihat jam dinding yang sudah sangat larut malam.


"Tidurlah,aku mau ke kamar mandi dulu!" Nadira berdiri, kemudian ia langsung berjalan ke arah kamar mandi.


Reyhan menguap, nampak nya ia memang sudah mengantuk,hari ini terasa melelahkan,banyak sekali hal hal yang terjadi dan itu cukup membuat nya merasa terkejut.


Karena sudah tidak kuat lagi menahan kantuknya, Reyhan pun langsung naik ke atas tempat tidur, kemudian ia berbaring,dan benar saja,tak lama kemudian ia pun langsung terlelap dalam tidurnya.


Nadira baru saja keluar dari kamar mandi,saat ia melihat ke atas tempat tidur,ia melihat Reyhan yang sudah berbaring dan terlelap, Nadira pun tersenyum melihat Reyhan, wajah nya yang tenang membuat hatinya merasa damai saat menatap nya.


Nadira menatap wajah tampan Reyhan sambil tersenyum, saat itu,ia terkejut ketika tiba tiba tangan Reyhan melingkar di pinggang nya,namun entah kenapa ia merasa senang walaupun hatinya merasa dag-dig-dug tidak karuan.


("Aku beruntung memiliki suami seperti kamu Rey,kamu adalah anugerah terindah yang Tuhan berikan.") batin Nadira.


***

__ADS_1


Pagi Hari


Desi yang sedang berbaring di ranjang pasien membuka matanya perlahan,saat ia bangun,ia terkejut ketika ada sebuah tangan kekar yang memegang tangan nya.


("Om dani,apa dia menjaga ku semalaman.") batin Desi.


Dani tampak nya sedang tertidur pulas di samping ranjang dengan posisi duduk,lalu kepalanya bersandar ke ranjang pasien,di lihat dari tidurnya yang nyenyak, sepertinya semalam dia tidak tertidur.


Desi melepaskan tangannya dari genggaman Dani perlahan, agar ia tak mengganggu tidurnya, kemudian ia mencoba untuk bangun dari posisi tidurnya,ia merasa badannya kini sudah segar kembali setelah di suntikan cairan infus.


Desi memperhatikan wajah laki laki yang ada di samping nya itu,ia tak tau, sebenarnya apa yang di inginkan oleh laki laki itu, sehingga seakan-akan tuhan selalu mempertemukan mereka lagi tanpa di duga.


Desi pun tak tau kenapa,namun saat laki laki itu mengetahui tentang dirinya,ia bisa sedikit lebih tenang dari biasanya,Bahkan,ia yang bisa marah saat ada seseorang yang mencari tau tentang dirinya dengan cara sembunyi-sembunyi,tapi ia tak bisa marah pada laki laki di samping nya ini.


("Entah sebuah kebetulan atau bukan tentang pertemuan kita ini,tapi kenapa kau begitu bersikeras untuk melindungi ku,apa yang harus aku lakukan,jika suatu saat aku terbuai oleh perhatian mu itu?") batin Desi.

__ADS_1


__ADS_2