Bukan Pacar Rahasia

Bukan Pacar Rahasia
31.Putus Asa


__ADS_3

"Ada yang mau aku bicarakan sama kamu!" Sarah terlihat gugup.


"Kenapa sih,ada apa? kenapa kamu gugup gini?" Arfan semakin heran.


"Arfan,apa kamu beneran sayang sama aku?" tanya Sarah.


"Kamu ini kenapa sih, yah jelas aku sayang sama kamu,kita kan udah pacaran lama,jadi,kamu tidak perlu mempertanyakan nya lagi." Arfan merasa bingung dengan pertanyaan Sarah.


("Sepertinya Arfan beneran cinta sama aku,aku harus memberitahu nya sekarang,aku nggak mau kalau sampai dia tahu Nanti setelah perut ke sudah membesar.") batin Sarah.


Sarah mengambil sebuah benda di dalam tas nya,laki ia memberikan nya ke pada Arfan.


"Apa ini." Arfan mengambil sebuah testpack di tangan Sarah, kemudian ia melihat nya.


Arfan membulatkan matanya tak percaya dengan apa yang ada di tangan nya,hasil testpack itu menunjukkan dua garis mewah,Arfan tentu tau apa arti dari hasil tes tersebut.


"Maksudnya?" Arfan meyakinkan apa yang ia lihat.


"Aku hamil Fan,dan ini anak kamu." Sarah memegang perutnya yang masih rata.


"Tidak tidak,itu pasti bukan anak ku,kita selalu memakai pengaman saat berhubungan,jadi sepertinya itu bukan anak ku." Arfan langsung berdiri,ia tak menerima ucapan Sarah.


Sarah menatap Arfan dengan tajam,ia meneteskan matanya,ia tak mau mengakuinya. "Ini anak kamu Fan." Sarah menghapus air matanya.


"Aku tidak percaya,itu pasti anak orang lain,kamu berani melakukan nya dengan aku,berarti kamu juga bisa melakukan nya dengan orang lain,karena jika dengan ku,aku selalu bermain aman." ucap Arfan.


Plak!

__ADS_1


Sarah menampar pipi Arfan,ia tak percaya Arfan akan berkata seperti itu,padahal ia sangat percaya kalau Arfan mencintai nya,dan akan bertanggung jawab atas apa yang sudah ia lakukan.


"Apa yang kamu lakukan." Arfan memegang pipi nya yang terasa panas.


Sarah menatap tajam ke arah Arfan. "Teganya kamu berkata seperti itu, setelah apa yang sudah aku berikan terhadap mu,aku sudah memberikan seluruh cintaku, seluruh hidup ku,bahkan aku rela memberikan tubuh dan kehormatan ku padamu,tapi kenapa kamu malah berkata seperti itu, seolah-olah aku hanya seorang wanita murahan yang bermain dengan banyak laki-laki,kau keterlaluan Arfan." Sarah meneteskan air matanya.


"Ta-tapi aku tak bisa menerima kenyataan ini,kita ini masih sama-sama sekolah,kita tidak mungkin membesarkan janin yang ada di dalam perut kamu ini." ucap Arfan.


"Terus bagaimana,apa yang harus aku lakukan hiks hiks hiks." Sarah menangis terisak.


"Gu*urkan kandungan mu." Arfan memegang tangan Sarah.


Sarah membulatkan matanya, ia tak percaya dengan apa yang baru saja Arfan ucap kan. "Tidak,aku tidak bisa lakukan itu,itu sangat berbahaya." ucap Sarah.


"Lantas,kamu mau nya bagaimana? pokonya aku tidak mau tau,aku tidak akan mengakui nya,lebih baik kita putus,aku tidak mau lagi ada urusan dengan mu." Arfan pergi meninggalkan Sarah.


"Tunggu!" Sarah memegang tangan Arfan.


"Lepaskan,aku mau pergi." Arfan menghempaskan tangannya.


"Kau tidak bisa seperti ini,kau tidak bisa membuang ku begitu saja,setelah apa yang kau perbuat,jangan tinggalkan aku Fan!" Sarah memohon.


"Gu*urkan jika kamu masih ingin aku bersama mu." ucap Arfan ia pun langsung naik ke mobil,lalu melajukan mobilnya.


Sarah tertegun melihat kepergian Arfan,air matanya menetes, tubuhnya ambruk ke tanah, hatinya hancur,tak ada lagi yang ia harapkan sekarang, seseorang yang ia anggap sebagai belahan jiwanya, sebagai seseorang yang bisa membuat nya bahagia, seseorang yang tempatnya untuk mencurahkan semua kasih sayang nya,kini telah pergi dengan begitu saja.


Arfan tidak memperdulikan perasaan nya,ia sangat kehilangan harapan nya,harapan nya telah hancur bersamaan dengan Arfan yang tiba-tiba meninggal kan nya di kala ia sedang membutuhkan seseorang yang bisa membuat nya tenang.

__ADS_1


Sarah pun naik ke dalam mobilnya,ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi sambil Terus menangis.


Beberapa saat kemudian langit pun sudah gelap,ia mengehentikan mobilnya di dekat jembatan, kemudian ia keluar dari mobil tersebut,ia berjalan dengan gontai ke arah sisi jembatan.


"Sekarang tak ada lagi harapan untuk ku,aku sudah kehilangan cintaku,aku tidak bisa hidup seperti ini,aku lebih baik mati, daripada harus menderita seperti ini." Sarah memanjat ke pagar jembatan,ia memejamkan matanya,namun pada saat ia akan melompat, tangannya di tarik oleh seseorang sehingga tubuhnya terjatuh ke pelukan pria tersebut.


"Hiks hiks hiks." Sarah menangis terisak di pelukan pria tersebut.


("Maafkan aku Ra,aku terpaksa memeluk Sarah,aku hanya ingin menenangkan dia,karena dia sepertinya sedang dalam masalah yang besar.") batin Reyhan.


Yah,pria tersebut adalah Reyhan,ia berniat untuk pergi ke sebuah minimarket dengan menggunakan gojek,namun ternyata ia melihat Sarah,teman satu sekolahnya sedang berada di sisi jembatan,ia pun langsung menghampiri nya tadi.


Reyhan melepaskan pelukannya. "Hei, apa yang sedang kau lakukan di sini,kenapa kau berniat untuk bunuh diri,kau tau bukan, bunuh diri adalah perbuatan yang paling di benci oleh Allah,kau tidak boleh melakukan nya." ucap Reyhan.


"Aku sudah putus asa,tidak ada lagi harapan untuk aku hidup, hidup ku sudah hancur,sudah tidak ada lagi orang yang menyayangi ku,jadi buat apa aku hidup hiks hiks hiks." Sarah menangis.


"Kau tidak boleh berkata seperti itu,kau ingat,masih ada Allah yang menyayangi mu,kau tidak boleh putus asa seperti ini,lebih baik,aku mengantarkan mu pulang sekarang,ayo." Reyhan membantu Sarah berdiri.


"Aku tidak mau pulang, hiks hiks hiks." tangis Sarah pecah.


"Kamu tenang kan dulu dirimu,jika memang kamu tak mau pulang,aku bisa mengajak ku ke rumah ku dulu, bagaimana?" ucap Reyhan,Sarah pun mengangguk.


"Biar aku yang bawa mobilnya." ucap Reyhan,ia membantu membukakan pintu mobil untuk Sarah, setelah itu,ia langsung masuk ke dalam mobil dan melaju kan mobilnya.


Di dalam mobil,Sarah terus menangis,ia tak henti hentinya meneteskan air matanya, Reyhan pun tampak bingung harus bagaimana.


"Menangis lah,jika memang itu bisa membuat mu menjadi sedikit lebih tenang!" ucap Reyhan dengan lembut,ia sangat kasihan melihat teman nya ini, walaupun mungkin mereka tidak begitu akrab, Bahkan mungkin tak pernah bertegur sapa,tapi mereka saling mengenal, walaupun tak pernah berkenalan secara langsung saat di sekolah.

__ADS_1


__ADS_2