Bukan Pacar Rahasia

Bukan Pacar Rahasia
45.Curiga


__ADS_3

"Nggak bukan bah,Ambu salah paham,maksud Rey tadi pagi Nadira datang bulan,jadi darahnya kena Seprei sedikit,bukannya habis gitu,Ambu ini pikiran nya kemana mana." Reyhan menjelaskan nya.


"Kalau pun memang kalian teh melakukan nya,Abah teh malah seneng Rey,kalian kan sudah menikah,jadi nggak apa apa." Abah malah tersenyum.


"Tapi memang belum bah,kita belum siap." ucap Rey sedikit malu dengan percakapan nya itu.


"Ya sudahlah,oh Iyah bukannya kata Ambu,kamu teh semalam sakit,tapi kok sekarang udah rapi pake seragam sekolah?" Abah sedikit heran.


"Rey udah sembuh bah,udah sehat sekarang." jawab Rey.


"Bagaimana nggak cepet sembuh bah,orang bobo nya di kelonin sama istri,hehehe." Ambu terkekeh.


"Bener juga,Abah teh seneng ngeliat kalian berdua sekarang, walaupun awalnya Nadira terlihat keberatan dengan pernikahan ini,tapi sepertinya sekarang dia sudah mulai menerima." ucap Abah sambil tersenyum.


"Iyah bah, alhamdulilah,Rey akan membuat dira nyaman dengan Rey,dan bisa menerima Rey sebagai suaminya." ucap Reyhan.


"Abah sama Ambu hanya bisa mendoakan,semoga kalian bisa bahagia." ucap Abah.


"Aamiin." Reyhan mengusap wajahnya.

__ADS_1


***


Sementara di tempat lain,terlihat Sarah dan juga papa nya sedang bersiap untuk sarapan bersama di meja makan,Sarah bisa sedikit bahagia karena ia bisa di temani oleh papa nya.


"Silahkan pak,non Sarah." bi Ani baru saja selesai meletakkan nasi goreng dan juga telor ceplok di atas meja makan.


"Terimakasih bi." Dani tersenyum.


"Sama sama pak,kalau begitu saya permisi ke belakang dulu." ucap bi Ani,Dani pun mengangguk.


Sarah yang memperhatikan kedua nya pun langsung mengambil nasi goreng tersebut ke dalam piring nya.


"Papa bakal lebih lama kan di rumah?" tanya Sarah.


"Oh," ucap Sarah sambil mengangguk.


Namun baru saja Sarah menyendok kan nasi ke mulut nya,ia merasa mual,ia pun langsung berlari ke kamar mandi.


Hoek hoek hoek

__ADS_1


Mendengar suara Sarah yang sedang muntah muntah di kamar mandi pun, menjadi sebuah pertanyaan untuk Dani,entah kenapa ia merasa sikap Sarah sedikit aneh dari semalam.


("Kenapa sikap Sarah jadi aneh yah,sejak semalam,aku lihat lihat dia sedikit aneh, tidak seperti biasanya.") batin Dani.


Karena penasaran,Dani pun menghampiri Sarah,karena takut terjadi apa-apa. "Kamu nggak papa kan nak?" tanya Dani.


"Nggak papa pah." jawab Sarah gugup.


"Kalau kamu lagi sakit,nggak usah masuk sekolah dulu,kamu istirahat aja yah." Dani sedikit cemas melihat Sarah.


"Tapi pah, beberapa hari lalu,Sarah udah izin,masa sekarang nggak masuk lagi." ucap nya.


"Nggak papa,biar papa yang telpon wali kelas kamu." ucap Dani.


"Nggak usah pah,Sarah sekolah aja, soalnya Sebentar lagi ujian,Sarah nggak mau ketinggalan pelajaran." ucap nya.


"Ya sudah,kalau memang mau nya seperti itu,nanti biar papa anterin ke sekolah yah, kalau papa ada waktu nanti papa jemput lagi." Dani mengelus rambut Sarah.


"Makasih pah,kalau gitu,aku ngambil tas ke kamar dulu yah,biar nanti sarapan di sekolah aja." ucap Sarah,Dani pun mengangguk.

__ADS_1


Sarah pun langsung berjalan menuju kamarnya, sedangkan Dani masih bergelut dengan pikirannya sendiri.


("Sepertinya aku harus bertanya sama bi Ani,karena hanya dia yang ada di rumah saat aku tak ada.") batin Dani.


__ADS_2