Bukan Pacar Rahasia

Bukan Pacar Rahasia
41.Sifat Arfan


__ADS_3

"A-aku." Desi gugup,ia sangat bingung,ia tak menyangka akan menghianati Nadira, sahabat nya sendiri.


Tanpa menunggu jawaban dari Desi,Arfan langsung menghentikan mobilnya di depan sebuah hotel,ia pun langsung memesan kamar di sana,mau tidak mau Desi pun mengikuti nya,ia tak ada pilihan lain lagi, semua yang ia lakukan demi adiknya.


"Ayo!" Arfan memegang tangan Desi.


Desi yang memang memiliki wajah yang cantik dan bentuk tubuh yang bagus, membuat siapa pun akan tergoda olehnya,dada nya yang cukup besar membuat para lelaki hidung belang terpesona, apalagi,di usia nya yang masih muda,membuat nya selalu jadi incaran para laki-laki yang membutuhkan jasa nya.


Beberapa saat kemudian, mereka sampai di dalam kamar hotel,namun entah kenapa,Desi merasa tidak nyaman, hatinya merasa bersalah ketika akan melakukan pekerjaan nya.


"Kenapa kau diam, sepertinya kau belum pandai melakukan pekerjaan mu ini, apakah kau selalu begini pada klien mu?" tanya Arfan,saat Desi hanya terdiam di sisi tempat tidur.


"A-aku nggak bisa menghianati Nadira, sepertinya aku benar benar nggak bisa melakukan ini,boleh kan kalau aku keluar dari sini?" ucap Desi tiba-tiba.


"Hahaha,jangan munafik kamu,selama ini kau sudah memberikan tubuh mu pada pria lain,lalu kenapa dengan ku tidak bisa, bukan kah sama saja." Arfan malah tertawa.


"Tapi kau pacarnya Nadira,jelas itu berbeda." jawab Desi.


"Aku tidak peduli, sekarang kita sudah ada di sini,dan kau juga sudah sepakat untuk ikut dengan ku tadi,jadi kau tidak bisa meninggalkan ku seenaknya,kau harus melakukannya dengan baik." Arfan mendekat kan wajahnya.


("Aku tidak menyangka,Arfan ternyata laki laki seperti ini, Nadira pasti sudah di bodohi oleh nya selama ini, bagaimana ini,maafkan aku Ra,aku minta maaf.") batin Desi.


Arfan sepertinya sudah tak bisa menahan hasratnya,ia pun langsung merengkuh tubuh Desi,dan mereka pun langsung melakukan nya.


Beberapa saat kemudian, setelah mereka melakukan nya,Desi pun cepat cepat memakai pakaian nya kembali.


"Mau kemana sayang,kenapa cepat sekali, padahal aku suka dengan pelayanan mu? bukankah kau juga akan menemani ku sampai pagi,kenapa harus pergi secepat ini?" ucap Arfan, melihat Desi yang sedang memakai baju nya.


"Aku harus segera pulang." Desi sangat merasa bersalah.


Arfan mengambil dompetnya,ia mengeluarkan beberapa lembar uang dan memberikan nya pada wanita yang telah membuat nya seakan-akan terbang melayang.


"Ini bayaran untuk mu." Arfan memberikan uang pada Desi.

__ADS_1


"Aku pergi." Desi langsung mengambil uang nya,lalu ia pun keluar dari kamar tersebut.


Arfan hanya tersenyum melihat kepergian Desi. "Sepertinya aku harus meminta pelayanan mu lagi,aku tidak peduli kau berteman baik dengan Nadira,karena aku pun yakin,kau tidak akan mengatakan nya karena kau pasti takut dengan ancaman ku,hehehe." Arfan tertawa licik.


Sementara Desi,saat di depan hotel,ia buru-buru memberhentikan taksi, Sepenjang perjalanan ia hanya menangis,ia tak habis pikir dengan apa yang baru saja ia lakukan,ia sangat menyesal dengan perbuatan nya.


"Agak cepet yah pak bawa mobil nya!" ucap Desi,ia menghapus air matanya.


Beberapa saat kemudian,ia pun sampai di rumah nya,desi yang hanya hidup dengan adiknya pun kini hanya tinggal sendirian di rumah,karena adiknya harus menjalani perawatan di rumah sakit, biasanya setelah pulang sekolah,ia langsung ke rumah sakit,dan malam nya,ia langsung ke klub malam.


Desi bergegas ke kamar nya,ia langsung buru-buru mengambil sebuah obat kontrasepsi di dalam laci kamar nya, biasanya ia sering membawa nya di dalam tas, untuk berjaga jaga,namun tadi, sepertinya ia lupa membawa nya.


Desi memang biasa melakukan nya, setelah ia melakukan pekerjaannya nya,ia langsung meminum obat itu,ia pun tak mau sesuatu hal terjadi padanya,ia tak mau kalau sampai ia hamil di saat ia belum menikah.


Setelah selesai meminum obat,ia pun langsung pergi ke kamar mandi, untuk membersihkan dirinya,saat itu ia hanya bisa menangis,ia tak tau apa yang akan terjadi kalau sampai Nadira tau semuanya,ia sangat menyesal telah melakukan nya.


"Suatu saat nanti,aku akan bicara padamu Ra, walaupun aku tak tau itu kapan, semoga saja kamu bisa memaafkan ku." gumam Desi.


Sementara di tempat lain,terlihat Nadira sedang memegang ponselnya,namun dari tadi,ia hanya memandangi nya saja.


"Reyhan lagi ngapain yah?" gumam Nadira,ia mengigit bibir bawahnya.


("Kenapa aku terus kepikiran Reyhan sih dari tadi?") batin Nadira.


Saat Nadira sedang melamun, tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu kamarnya.


Tok... tok... tok...


"Masuk!" ucap Nadira.


Ternyata Nadin yang mengetuk pintu,ia pun langsung menghampiri Nadira.


"Kamu udah selesai mandi nya?" tanya Nadin, melihat handuk kecil yang dililitkan di kepala Nadira.

__ADS_1


"Udah mah." jawab Nadira.


"Tadi mama Panggil Panggil kamu nggak jawab, kayaknya kamu lagi mandi,jadi nggak kedengaran." ucap Nadin.


"Memang nya ada apa mah?" Nadira sedikit heran.


"Itu,Bu Farida baru saja kesini,katanya Reyhan demam." ucap Nadin.


"Hah,terus sekarang gimana?" Nadira terlihat sangat panik.


"Hehehe, sepertinya kamu sudah mulai jatuh cinta padanya, syukurlah,mama seneng lihat nya." Nadin malah terkekeh melihat ekspresi Nadira.


"Mama ih." Nadira terlihat malu malu mendengar ucapan mama nya.


"Kamu sebagai istrinya, alangkah baiknya jika kamu jenguk dia,kasian, walaupun ada orang tuanya yang mengurus,tapi sekarang kamu kan sudah jadi istri nya,jadi kamu punya tanggung jawab untuk mengurus nya." Nadin memegang tangan Nadira.


"Jadi,Dira harus kesana mah,tapi,masa Dira nyamperin cowok sih mah,malu lah." ucap Nadira.


"Sayang,kamu kan istri nya,ngapain harus malu,kalian sudah halal,tidak salah sedikit pun jika seorang istri ke rumah Suami nya, apalagi suamimu sedang butuh kamu di samping nya." ucap Nadin.


("Hmm aku hampir lupa kalau sudah punya suami,aku masih belum percaya kalau aku sudah menikah.") batin Nadira.


"Loh,kok malah ngelamun?" tanya Nadin.


"Ya udah mah,nanti Dira ke rumah Reyhan, sebentar Dira siap siap dulu." ucap nya.


"Ya sudah,kalau gitu mama keluar yah,maaf mama nggak bisa nemenin,tadi papa minta mama pijitin dia." ucap Nadin.


"Ya udah nggak papa mah." ucap Nadira.


"Mama keluar yah!" Nadin mengusap punggung Nadira, setelah itu ia langsung keluar dari kamar tersebut.


("Aduh,nanti pas sampai di rumah nya,aku harus ngomong apa yah?") batin Nadira,ia bingung sendiri dengan dirinya.

__ADS_1


__ADS_2