Bukan Pacar Rahasia

Bukan Pacar Rahasia
60.Menjelaskan semua nya


__ADS_3

Nadira menutup mulut dengan kedua tangannya,ia tak percaya dengan apa yang Desi ucapan barusan, ucapan Desi membuat nya seakan-akan di sambar petir yang langsung menggetarkan seluruh tubuhnya.


"A-apa,aku nggak salah dengar kan Des?" Nadira mencoba untuk meyakinkan pendengaran nya.


"Aku malu untuk mengakui ini Ra,tapi aku tak mau jika menyembunyikan ini sendirian,aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi Ra, hidup ku hancur,tak ada lagi tempat ku untuk berkeluh kesah, walaupun aku juga minta,hanya kamu saja yang tau soal ini." Desi meneteskan air matanya.


Nadira masih tidak percaya atas apa yang baru saja ia dengar langsung dari mulut Desi,namun seperti saat ini Desi sangat membutuhkan seseorang yang bisa menyemangati nya,ia butuh sandaran agar ia bisa sedikit lebih lega ketika ada seseorang yang mau ia ajak bicara.


Nadira memegang tangan Desi. "Aku janji Des,aku tidak akan mengatakan ini kepada siapapun,hanya aku dan kamu yang tau,akan aku pastikan itu." ucap Nadira.


Namun sepertinya bukan hanya itu yang menjadi beban Desi saat ini,namun ia bingung harus bagaimana caranya memberitahu Nadira kalau ia telah mengkhianati nya,dan itu sedang ia pikirkan.


"Tapi Ra,ada satu hal lagi yang harus kamu tau, walaupun mungkin saat kamu tau hal ini,aku nggak yakin kamu bakal maafin aku atau enggak,karena ini adalah kesalahan ku,tapi sebelum aku katakan,ada satu hal yang ingin aku tanyakan!." Desi menatap wajah Nadira.


"Apa?" tanya Nadira penasaran.


"Kenapa sampai saat ini kamu masih mempertahankan hubungan mu dengan Arfan, sementara kamu sudah menikah dengan Reyhan?" tanya Desi tiba-tiba.


Desi sangat penasaran dengan jawaban Nadira,karena pertanyaan itulah yang membuat nya bisa sedikit lega ketika menceritakan semuanya.


"Sebenarnya aku sudah mencoba untuk memutuskan Arfan,tapi dia selalu menganggap itu sebagai candaan,dan jujur saja,aku sedang memikirkan bagaimana caranya untuk memutuskan hubungan ku dengan Arfan." ucap Nadira.


"Apa kamu memutuskan dia karena sudah tidak mencintainya lagi,atau hanya karena kamu sudah menjadi istri Reyhan?" tanya Desi.


"Dua dua nya benar,dan lebih tepatnya,aku tak pernah mencintai Arfan,aku hanya mengagumi nya saja,karena dulu mungkin aku terpesona dengan ketenaran nya di sekolah." ucap Nadira.

__ADS_1


("Entah kenapa aku merasa lega mendengar nya,aku sangat bahagia ternyata kamu tidak mencintai laki laki seperti Arfan Ra.") batin Desi.


Desi terdiam sejenak,ia sedang memikirkan bagaimana caranya agar Nadira tidak terkejut dengan apa yang akan ia ucapkan,walaupun Desi tak tau Nadira akan marah atau tidak padanya nanti.


"Lalu apa yang akan kamu katakan lagi,bukanya aku sudah menjawab pertanyaan mu?" tanya Nadira.


"Sebenarnya aku..." Desi terlihat gugup. Desi menghela nafas panjang. "Aku sudah pernah tidur dengan Arfan,maafin aku Ra,aku tau aku salah." Desi sangat merasa bersalah.


Nadira membulatkan matanya,ia tak percaya dengan apa yang baru saja keluar dari mulut Desi,Nadira berdiri,kemudian ia mundur perlahan,ia memegang dadanya, jantung nya terasa ingin copot,langkah nya terasa berat.


"Maafin aku Ra!" Desi bersujud di hadapan Nadira.


Nadira sepertinya sangat shock mendengar perkataan Desi,ia masih belum bisa berkata kata,mulut nya seperti terkunci rapat,ia pun tak tau harus bagaimana.


Walaupun Nadira memang tidak mempunyai perasaan lagi pada Arfan,tapi entah kenapa mendengar Desi pernah tidur dengan nya,itu sangat membuat tubuhnya lemas.


"Kenapa harus kamu Des,kenapa harus sama kamu? hiks hiks hiks." Nadira menangis terisak.


Sebenarnya ia tak peduli dengan Arfan,namun ia kecewa pada Desi,kenapa harus ia yang menjadi korban Arfan,padahal Desi adalah salah satu sahabat terbaik nya.


"Aku tak punya pilihan lain waktu itu Ra,apalagi,Arfan juga memaksa ku,Bahkan dia mengancam ku kalau dia akan mengatakan pada semua orang bahwa aku seorang p*****r,aku terpaksa melakukan itu Ra, sungguh,aku pun sangat merasa bersalah pada mu waktu itu." Desi menghapus air matanya.


Nadira mencoba untuk tenang,namun sepertinya ia tak sanggup untuk berkata apa apa,ia pun lebih memilih untuk keluar dari ruangan itu,ia hanya takut salah bicara dan malah akan menyakiti Desi nantinya.


"Ra tunggu Ra,Nadira!" Desi terkulai lemas, badannya ambruk di lantai melihat kepergian Nadira. "Maafin aku Ra,hiks hiks hiks." Desi menangis terisak.

__ADS_1


Sementara di tempat lain,terlihat Reyhan begitu heran melihat Nadira yang baru keluar dari ruangan tersebut dengan air mata yang menetes di pipi nya.


"Ada apa Ra?" Reyhan panik.


"Ayo kita pulang!" ajak Nadira,ia langsung berjalan menuju mobilnya.


"Terus Desi gimana,tadi dia kan ke sini bareng kita?" Reyhan menjadi bingung.


"Kalau kamu mau temenin Desi silahkan,aku mau pulang sekarang!" ucap Nadira.


"Eh tunggu Ra,Iyah aku pulang sama kamu." Reyhan langsung berlari,karena walau bagaimanapun, istrinya lah yang paling penting untuk sekarang.


Sementara di tempat yang sama,ada seseorang yang memperhatikan keduanya,namun sepertinya pria tersebut hanya melihat wajah Reyhan saja,ia tak bisa melihat jelas wajah Nadira.


"Itu Reyhan kan,sama siapa dia,siapa yah cewek yang sama dia tadi,atau jangan jangan dia punya pacar rahasia lagi,secara dia kan orang nya kayak tertutup gitu soal masalah pribadi,walaupun dia terkenal banget di sekolah." gumam pria tersebut.


Yah, pria tersebut adalah Arfan, kebetulan dia sedang ada di tempat yang sama,namun di ruangan yang berbeda dengan mereka,ia pun tak mengetahui jika di dalam ruangan tersebut masih ada Desi,kalau ia tahu,entah bagaimana reaksinya nanti.


Tapi ternyata benar,tak lama kemudian,Desi keluar dari ruangan tersebut,matanya sembab karena menangis tadi,Arfan pun langsung menghampiri Desi saat melihat nya.


"Hai cantik,darimana saja?" Arfan memasang wajah menggoda.


"Jangan halangi aku!" Desi melanjutkan langkahnya,namun Arfan tetap menghalangi jalannya.


"Nggak usah buru-buru,mau kemana sih?" Arfan memegang tangan Desi.

__ADS_1


"Lepaskan!" Desi menghempaskan tangan nya. "Jangan pernah ganggu aku lagi!" Desi menunjuk ke depan wajah Arfan sambil menatap nya dengan tajam, setelah itu ia langsung pergi dari tempat tersebut.


Arfan terdiam melihat tatapan mata Desi yang sangat tajam,sepertinya dia menyimpan kemarahan yang besar padanya,sampai Arfan pun tidak bisa berkutik lagi.


__ADS_2