Bukan Pacar Rahasia

Bukan Pacar Rahasia
53.Pertengkaran


__ADS_3

"Cukup! aku sudah capek mendengar kalian selalu bertengkar seperti ini saat sedang ada di rumah,apa kalian nggak bisa,sekali aja bicara baik baik,apa kalian nggak sadar,aku stress mendengar kalian berteriak teriak seperti ini terus,hiks hiks hiks." Sarah berdiri sambil berteriak kemudian ia duduk kembali, kemudian ia meneteskan air matanya.


Dani dan Sari langsung terdiam,baru kali ini mereka mendengar Sarah berteriak seperti itu pada mereka.


"Kalian egois, hiks hiks hiks." Sarah menunduk sambil memegang kepalanya.


Dani tak tega melihat putrinya menangis seperti itu,ia pun langsung menghampiri Sarah, sedangkan Sari hanya berdiri mematung memperhatikan keduanya.


"Sayang,maafin papa yah." Dani memeluk Sarah.


"Papa terlalu memanjakan anak kita itu,makanya dia jadi cengeng begini." Sari malah berkata seperti itu.


"Apa kamu bilang!" Dani langsung berdiri lalu dia menghampiri Sari. "Apa kamu tidak punya perasaan,kamu bisa bicara seperti itu saat anak kita seperti ini, justru seharusnya kamu sadar,Sarah kurang kasih sayang dari kamu,bisa bisa nya kamu bilang begitu." Dani tak habis pikir dengan istrinya.


"Cukup! aku mohon cukup,hiks hiks hiks." Sarah berteriak,ia pun langsung berlari sambil menutup telinganya ke kamar,lalu membanting pintu nya.


"Tuh lihat kan,kamu terlalu memanjakan nya,bisa di lihat bagaimana kelakuan nya,dia jadi seperti itu,banting pintu seenaknya." Sari mendelik tajam ke arah Dani.


"Apa kamu tidak sadar yang kamu katakan? dia begitu karena kamu,seharusnya kamu sebagai istri diam di rumah,dan urus anak kita,bukannya sibuk mengurus karir mu sendiri." Dani terlihat emosi.


"Jadi,sekarang kamu malah nyalahin aku, bukannya kamu juga sibuk dengan bisnis mu,bisa bisa nya hanya menyalahkan ku." Sari tidak terima dengan ucapan Dani.


"Aku, walaupun sibuk tapi tetap masih ingat pada anak kita,tidak seperti mu yang sangat jarang sekali pulang." Dani membela diri.


"Halah,paling juga pulang cuma sehari,gitu aja bangga, sudahlah, kamu memang selalu menyalahkan ku,apa apa aku selalu salah di matamu, padahal aku keja begini juga untuk kita." ucap Sari.


"Untuk kita,atau hanya agar kamu bisa bebas bermesraan dengan pria lain di luaran sana?" Dani mendelik tajam ke arah Sari.


Baru kali ini Dani berani mengatakan hal itu,sudah sejak lama,saat Dani tau perselingkuhan Sari,ia masih belum mau membahas ini,itu semua ia lakukan karena ia ingin mempertahankan rumah tangga nya,ia tak mau rumah tangga nya rusak jika ia membongkar penghianatan istrinya, walaupun memang istrinya yang membuat kesalahan.

__ADS_1


Namun mungkin saat ini,Dani sudah tidak kuat lagi, emosi nya sudah sangat memuncak sehingga ia berani untuk berkata seperti itu,ia sudah tak memikirkan bagaimana kedepannya setelah ia mengatakan hal itu.


"Ma-maksud kamu apa?" Sari terlihat gugup.


"Sepertinya aku tak usah menjelaskan nya lagi padamu,jelas kamu tau apa yang aku maksud!" Dani menunjuk ke depan wajah Sari, setelah itu ia langsung pergi ke kamarnya.


("Apa mas Dani tau aku mempunyai pria lain selain dia,tapi dari mana dia bisa tau, padahal aku selalu bermain aman dengan nya.") batin Sari.


"Mas, dengerin aku dulu mas!" Sari berteriak,namun Dani tak menggubris nya,ia pun langsung mengejar Dani.


"Ka-kamu mau kemana?" Sari terkejut melihat Dani membawa koper nya.


"Aku mau menenangkan dulu pikiran ku,aku hanya berharap semoga kamu bisa berubah, walaupun aku tak terlalu yakin,aku hanya titip Sarah sementara,jaga dia dengan baik." Dani langsung pergi dengan membawa koper nya.


"Jangan pergi mas,aku mohon!" Sari menarik jas yang di pakai Dani.


"Lepaskan!" Dani pun langsung melepaskan tangan Sari dari pakaian nya, setelah itu ia melanjutkan langkahnya.


Sementara di kamar,Sarah sedang menangis sambil menutup kedua telinganya,namun tetap saja, pertengkaran kedua orang tuanya masih saja terdengar jelas.


Namun, beberapa saat kemudian,ia tak mendengar lagi percekcokan di antara keduanya,hanya terdengar suara Sari yang berteriak di luar.


"Kenapa suara papa nggak kedengaran lagi." Sarah tampak penasaran, karena ia tak mau terjadi sesuatu pada papanya,ia pun langsung keluar lagi dari kamar nya.


Saat Sarah keluar,ia hanya melihat Sari sedang duduk sambil menunduk di sofa ruang tengah, terlihat Sari sedang memijit pelipisnya.


"Papa mana mah?" tanya Sarah sambil menghapus air matanya.


"Papa pergi,dia bawa koper nya." ucap Sari.

__ADS_1


"Kenapa papa bawa koper,papa pergi kemana mah,hiks hiks hiks." Sarah menangis mengetahui papa nya pergi dari rumah.


"Diam! jangan bikin Mama tambah pusing!" ucap Sari,kemudian ia pergi menuju kamar nya.


"Ini semua salah mama,mama nggak pernah ada waktu buat kita,mama selalu sibuk dengan dunia mama sendiri." ucap Sarah.


Sari pun menghentikan langkahnya. "Jadi,kamu juga nyalahin mama,kenapa kamu nggak salahin papa kamu juga hah?" Sari tak terima dengan ucapan Sarah.


"Setidaknya papa selalu punya waktu buat Sarah,papa juga selalu perhatian kalau ada di rumah,tidak seperti mama yang cuek dan dingin sama Sarah, sebenarnya mama sayang nggak sih sama Sarah?." Sarah kini mengatakan apa yang selalu ia pendam.


Sari berjalan pelan ke arah Sarah. "Sepertinya mama tak perlu jawab pertanyaan mu!" Sari pun langsung berjalan ke arah kamar nya, sambil menghapus air matanya,Mendengar pertanyaan Sarah,entah kenapa ia langsung meneteskan air matanya.


Melihat mama nya sudah masuk ke dalam kamarnya,Sarah pun langsung menelpon papa nya,ia sangat khawatir saat mendengar papa nya pergi dari rumah dengan membawa koper nya.


Namun, walaupun beberapa kali Sarah menelpon,tapi telponnya tidak di angkat,entah apa yang membuat papa nya tidak menjawab telpon dari Sarah,namun itu malah membuat Sarah menjadi khawatir.


"Mungkin papa butuh waktu untuk menenangkan diri nya." gumam Sarah.


***


Sementara di tempat lain,terlihat Reyhan dan Nadira sedang berada di kamar yang sama, mereka saling terdiam satu sama lain.


"Ra,Rey?" ucap mereka secara bersamaan.


"Kamu duluan aja!" ucap Nadira.


"Apa kamu menyesal dengan pernikahan ini?" tanya Reyhan,ia menatap wajah Nadira dengan lembut.


("Entah menyesal atau tidak,tapi yang pasti aku merasa beruntung karena mengenal mu, walaupun pertemuan kita terkesan singkat,namun yang pasti sepertinya tuhan tidak pernah salah dalam menentukan takdir.") batin Nadira.

__ADS_1


"Kenapa malah diam,apa pertanyaan ku membuat mu tersinggung,atau ada yang salah? tanya Reyhan saat Nadira terdiam.


__ADS_2