
"Mama keluar yah!" Nadin mengusap punggung Nadira, setelah itu ia langsung keluar dari kamar tersebut.
("Aduh,nanti pas sampai di rumah nya,aku harus ngomong apa yah?") batin Nadira,ia bingung sendiri dengan dirinya.
Tanpa pikir panjang,ia pun langsung berjalan kaki menuju rumah Reyhan, dengan sedikit gugup ia langsung memencet bel rumah nya.
Tet...tet...tet...
Beberapa saat kemudian, pintu rumah pun terbuka,Farida yang membukakan pintunya.
"Eh,neng Dira,ayo masuk neng!" Ambu mempersilakan Nadira untuk masuk.
"Makasih Tante." ucap Nadira Sambil tersenyum.
"Euleh euleh kamu teh masih manggil Tante aja,mulai sekarang panggil nya Ambu yah,neng kan menantu ambu, berarti sudah jadi anak Ambu juga." ucap nya sambil merangkul pundak Nadira.
"I-iyah am-bu." Nadira sedikit terbata bata karena ia belum terbiasa.
"Jadi,dari tadi Reyhan teh manggil nama kamu terus,Ambu teh tadi ke rumah,tapi mungkin lagi mandi neng Dira nya." ucap Ambu.
"Iyah Ambu,tadi Dira lagi mandi." jawab nya agak canggung.
"Ya udah,ayo Ambu anterin ke kamar Reyhan." Ambu langsung membawa Nadira ke kamar Reyhan.
Ambu langsung membuka pintu kamar nya,saat mereka masuk terlihat Reyhan sedang menutup tubuhnya menggunakan selimut.
"Rey,ada neng Dira nih." ucap Ambu,namun Reyhan tak menjawab nya. "Ya udah atuh,Ambu keluar dulu yah,tadi Ambu mau ajak ke rumah sakit juga nggak mau,jadi Ambu bingung harus gimana." ucap nya.
"Ya udah Ambu,biar Dira coba bicara sama Reyhan." ucap Nadira,Ambu pun mengangguk kemudian ia langsung keluar dari kamar tersebut kemudian menutup pintu nya.
Nadira sedikit canggung,ia bingung harus berbuat apa,namun ia pun memberanikan diri untuk menghampiri Reyhan,ia duduk di tepi ranjang dengan Reyhan yang sedang membelakangi nya.
"Rey." panggil Nadira pelan,namun Reyhan tak merespon nya.
("Kenapa dia nggak Jawab yah,kenapa wajah nya juga di tutup pake selimut sih,apa aku buka aja yah,aku takut dia kenapa-kenapa.") batin Nadira.
__ADS_1
Dengan hati-hati Nadira pun membuka selimut yang menutupi wajah Reyhan,saat Nadira membukanya, terlihat wajah Reyhan yang pucat sedang menggigil kedinginan.
Nadira pun menempelkan tangannya di dahi Reyhan. "Ya Allah,kamu panas banget Rey,kita ke dokter yah!" Nadira panik.
"Nggak usah." ucap Reyhan pelan sambil menggigil.
"Tapi kamu panas banget,kalau gitu aku Panggil dokter pribadi papa ke sini yah." Nadira langsung mengambil ponselnya di saku celana nya.
Nadira pun langsung menghubungi dokter yang biasa menangani papa nya,untung saja dokternya bisa datang,sambil menunggu dokter datang, Nadira pun mengambil alat kompres ke dapur.
Saat ke dapur, ternyata Farida pun sedang ada di sana. "Mau kemana neng?" tanya Farida,saat Nadira turun dari tangga.
"Mau ambil handuk kecil sama air hangat,buat kompres dahi Reyhan,boleh Dira minta tolong sama ambu!" ucap nya sedikit panik.
"Kebetulan,Ambu baru saja mau anterin ke kamar,ini neng sudah Ambu siapkan." Ambu memberikan apa yang tadi di minta oleh Nadira.
"Makasih yah,oh Iyah,Dira baru aja hubungi dokter,kalau dokter nya datang,tolong bawa ke atas yah Ambu,kalau gitu Dira balik ke kamar lagi." ucap Nadira,ia pun langsung berjalan ke kamar karena terlalu panik.
"I-iyah neng." Farida juga ikutan panik melihat Nadira.
"Sabar Sebentar yah, sebentar lagi dokter sampai." Nadira begitu panik melihat keadaan Reyhan.
Beberapa saat kemudian,dokter pun datang bersama dengan Farida,dan langsung memeriksa kan keadaan nya.
"Bagaimana dok, bagaimana keadaannya?" tanya Nadira, setelah dokter memeriksa nya.
"Jangan khawatir, Reyhan hanya demam, setelah minum obat,panas nya pasti akan stabil lagi,saya akan memberikan obat penurun panas nya,tapi sebelum minum obat,harus makan dulu yah." dokter tersebut pun mengambil obat di tas nya. "Ini obat nya,minum tiga kali sehari,tapi malam ini boleh langsung di kasih supaya panas nya turun." dokter memberikan obat tersebut pada Nadira.
"Baik dok, terimakasih." Nadira mengambil obat tersebut.
"Sama2,kalau begitu saya pamit pulang,semoga Reyhan bisa cepat sembuh." ucap dokter tersebut sambil tersenyum.
"Biar saya antar ke depan dok!" ucap Nadira.
"Biar Ambu saja yang antar pak dokter neng,kamu di sini saja temani Reyhan,nanti Ambu balik lagi sambil mengambil makan buat Reyhan." ucap Ambu, Nadira pun mengangguk.
__ADS_1
Farida pun mengantar dokter ke depan, sementara Nadira kembali duduk di samping Reyhan.
Beberapa saat kemudian Ambu pun datang membawa sebuah nampan berisi makanan juga segelas air putih.
"Sini,biar Dira yang suapi Reyhan Ambu." Nadira mengambil makanan tersebut. "Rey,duduk yah,sini aku bantu." Nadira membantu Reyhan untuk duduk.
Ambu memperhatikan keduanya,ia sangat bahagia melihat Nadira yang begitu perhatian kepada Reyhan,Nadira begitu telaten menyuapi Reyhan.
("Alhamdulillah yaa Allah,saya teh bahagia melihat mereka seperti ini, semoga saja mereka bisa bahagia dengan pernikahan ini, walaupun mungkin pernikahan ini tidak pernah mereka inginkan,tapi semoga saja mereka bisa menjalankan dengan baik atas izin dari mu.") batin Ambu.
"Neng,Ambu boleh minta tolong?" ucap Ambu.
"Boleh,ada apa Ambu." Nadira melihat ke arah mertuanya.
"Abah kan belum pulang,dia lembur,jadi Ambu harus nunggu di ruang tamu,boleh nggak kalau neng tidur di sini temani Reyhan,Ambu nggak tega kalau harus tinggalin Reyhan sendirian." ucap Ambu.
("Duh gimana yah,masa aku nginep sih,tapi kalau aku tinggalin,aku nggak enak juga sih,dia kan suami aku,aku punya tanggung jawab buat ngurusin dia, apalagi Reyhan lagi sakit kayak gini.") batin Nadira.
"Neng keberatan yah?" tanya Ambu, melihat Nadira seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Iyah Ambu,Dira nginep di sini." jawabnya.
"Alhamdulillah,makasih yah neng,kalau begitu,Ambu keluar dulu." Ambu terlihat lega karena Nadira mau menemani Reyhan.
"Iyah." jawab Nadira,Ambu pun langsung keluar dari kamar tersebut.
Nadira kembali melihat ke arah Reyhan. "Makan lagi yah." ucap Nadira.
"Udah." jawab Reyhan pelan, wajah nya tampak pucat.
"Tapi makanan nya belum habis,habisin yah,biar aku suapi lagi." ucap Nadira,Reyhan pun menggeleng.
"Ya sudah, kalau gitu, minum obat dulu yah." Nadira membuka bungkus obat,lalu ia memberikan nya pada Reyhan.
Setelah memberikan obat pada Reyhan, Nadira pun berniat untuk menyimpan piring ke dapur,namun saat Nadira berdiri, Reyhan pun langsung menarik tangan nya.
__ADS_1