
Pagi Hari
Reyhan terbangun mendengar suara adzan, ketika ia bangun ia tersenyum melihat Nadira masih tertidur pulas di pelukan nya.
"Ra,kita sholat subuh dulu yah!" Reyhan mengelus rambut Nadira.
Mendengar ada seseorang yang memanggil nya, Nadira pun terbangun,namun ia lupa kalau dirinya menginap di rumah Reyhan, yang lebih mengejutkan lagi,saat ia membuka matanya,tangannya sedang melingkar di pinggang Reyhan.
"A-aku." Nadira gugup,ia langsung melepaskan tangannya.
Saat Nadira melepaskan tangannya,Reyhan malah menarik tangan Nadira supaya kembali memeluk nya. "Kenapa?" Reyhan tersenyum.
"Bu-bukan nya tadi kamu ngajak sholat subuh." Nadira mencari alasan yang tepat.
"Hmm,ya sudah,ayo!" Reyhan pun bangun dari posisi tidurnya, Nadira pun mengikuti nya.
Saat Nadira bangun,ia begitu terkejut ketika melihat ada noda darah di seprai yang ia tiduri dari semalam.
("Apa semalam kita melakukannya? tapi aku nggak ingat apa apa.") batin Nadira.
"Jangan bilang kalau semalam kita..." Nadira tidak melanjutkan ucapannya,ia sedang menerka nerka dengan apa yang sedang ia pikirkan.
"Maksud kamu apa Ra?" ucap Reyhan terlihat bingung,ia pun melihat ke arah seprai yang terdapat bercak darah.
"Kita?" Nadira terlihat gugup.
Reyhan malah tertawa kecil melihat ekspresi Nadira,lalu ia menghampiri nya, Reyhan mendekati wajah Nadira, dengan spontan Nadira pun memejamkan matanya.
("Duh, Reyhan mau ngapain sih,kok makin dekat gini.") batin Nadira.
"Aku tidak melakukan apa apa padamu semalam,coba kamu ingat ingat,apa ini jadwalnya kamu datang bulan." Reyhan berbisik di telinga Nadira.
Seketika wajah Nadira memerah seperti kepiting rebus mendengar perkataan Reyhan,ia pun baru sadar kalau ternyata memang hari ini jadwal nya ia datang bulan.
Nadira sangat malu,karena ia sudah berpikir bahwa semalam Reyhan telah meminta hak nya sebagai seorang suami, yang membuat nya semakin malu adalah ketika ia memejamkan matanya,dan berpikir jika Reyhan akan mencium nya,tapi kenyataannya ia hanya berbisik dan memberitahu nya.
("Mampus deh,kenapa aku bisa berpikir sejauh itu sih,malu banget.") batin Nadira.
"Tapi kalau kamu mau,nanti aku bisa melakukan nya." Reyhan masih berbisik ke telinga Nadira,membuat tubuh Nadira merinding.
__ADS_1
"A-aku,biar aku cuci seprei nya nanti di rumah." Nadira gugup,ia langsung menggulung seprei nya setelah itu,ia langsung keluar membawa seprei tersebut dengan sedikit berlari.
Reyhan hanya tersenyum melihat tingkah istri nya itu. "Lucu sekali,kenapa dia bisa berpikir seperti itu,ah sudahlah kasian juga dia pasti sangat malu tadi,hehehe." Reyhan tertawa kecil.
Sementara Nadira,ia buru buru keluar dari rumah Reyhan dengan membawa seprei,ia bisa sedikit lega karena saat ia keluar dari kamar Reyhan,tidak ada satu orang pun yang melihat,ia tak bisa membayangkan jika mertuanya melihat saat ia membawa seprei, mereka pasti berpikir macam-macam terhadap nya.
Kini ia baru saja sampai di dalam rumah nya,namun baru saja ia bernafas lega sambil mengusap dadanya di balik pintu, tiba-tiba Nadin memanggil nya.
"Ra,kamu bawa apa?" tanya Nadin heran, melihat Nadira membawa sebuah kain yang lumayan besar yang di gulung di tangan nya.
"I-itu mah." Nadira gugup.
("Aduh aku harus jawab apa yah sama mama?") batin Nadira.
"Coba mama lihat!" Nadin menghampiri Nadira,lalu ia mengambil seprei yang di pegang Nadira.
"Jangan mah." ucap Nadira panik,namun Nadin tetap mengambil nya.
"Ini seprai,kenapa kamu bawa seprai Ra?" Nadin heran namun ia terus memperhatikan seprai tersebut. "Bercak darah,eemm apa kalian?" Nadin terkejut kemudian ia mengembalikan lagi seprai tersebut ke tangan Nadira,lalu ia menutup mulutnya karena saking terkejutnya.
"Enggak mah bukan,mama jangan salah paham,tadi saat bangun tidur Nadira juga kaget kenapa ada bercak darah,tapi Nadira Ingat kalau hari ini jadwal Nadira datang bulan,makanya Dira bawa seprei nya kesini,soalnya nggak enak kalau harus di cuci sama mama nya Rey." ucap Nadira menjelaskan,ia tak mau mama nya salah paham.
"Oh datang bulan, kirain mama, kalian sudah itu." Nadin tersenyum malu.
Nadin memperhatikan langkah Nadira,ia pun menghembuskan nafasnya. "Hmm paling tidak,mama sudah tidak khawatir lagi melihat kamu sudah mulai mau menerima Reyhan Ra,eemm tapi aku lupa tidak menanyakan keadaan Reyhan tadi,haduh,aku terlalu panik tadi." Nadin menepuk jidatnya.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.
Reyhan baru saja keluar dari kamarnya,ia sudah rapi menggunakan baju seragam nya,ia berjalan menuju ke arah meja makan.
"Rey,kamu kok sudah pake baju seragam,memangnya kamu teh udah sembuh?" tanya Ambu,saat menyimpan nasi goreng di meja makan.
"Udah Ambu,Rey udah sehat kok,lagian sebentar lagi ujian,Rey nggak mau ketinggalan pelajaran." Reyhan duduk.
"Ya sudah kalau memang kamu sudah enakan,eemm Dira mana,kenapa nggak keliatan?" tanya Ambu.
"Dira udah pulang,subuh tadi Ambu." jawab Reyhan.
"Loh kenapa Ambu nggak tau yah."Ambu sedikit heran.
"Tadi mungkin Ambu lagi sholat,soalnya Nadira pulang setelah adzan subuh." Reyhan menyendok kan nasi ke mulut nya.
"Oh,ya sudah." ucap Ambu.
"Eemm Ambu,Rey boleh minta tolong!" ucap Reyhan.
"Boleh,minta tolong apa nak?" tanya Ambu.
"Nanti tolong pasangin seprei baru di kamar Rey." ucap nya.
"Loh bukannya kemarin baru Ambu ganti, biasanya juga tiga hari baru ganti yang baru kan?" Ambu sedikit heran.
"Iyah Ambu,tapi seprei yang kemarin di pasang Ambu, di bawa Dira, soalnya ada noda darahnya." ucap Reyhan.
"Hah,kalian abis gitu semalam,aduh Ambu seneng pisan,Abah cepetan kesini, sebentar lagi kita akan punya cucu." Ambu terlihat sangat senang.
"Bu-bukan Ambu,bukan gitu." Reyhan terlihat gugup saat Ambu memanggil ayah nya.
"Ada apa Ambu,pagi pagi sudah teriak teriak." Abah langsung menghampiri mereka.
"Kita akan segera punya cucu bah, Rey sama dira sudah." Ambu menempelkan dua jari telunjuk nya.
"Nggak bukan bah,Ambu salah paham,maksud Rey tadi pagi Nadira datang bulan,jadi darahnya kena Seprei sedikit,bukannya habis gitu,Ambu ini pikiran nya kemana mana." Reyhan menjelaskan nya.
__ADS_1
"Kalau pun memang kalian teh melakukan nya,Abah teh malah seneng Rey,kalian kan sudah menikah,jadi nggak apa apa." Abah malah tersenyum.
"Tapi memang belum pah,kita belum siap." ucap Rey sedikit malu dengan percakapan nya itu.